Oleh Neneng Hendriyani
Wanginya begitu menusuk hidung. Bapak tak bisa berkata apa-apa saat terpaksa membawanya pulang ke rumah. Jangankan memakannya, menciumnya saja sudah membuatnya begitu menderita. Pusing tujuh keliling, katanya. Untuk meredam rasa mual yang terus menyodok ulu hatinya ia mengulum sebuah permen. Ia tak bisa menolak keinginan anak sulungnya saat meminta dibelikan buah keparat tersebut. Ingin rasanya ia menolak saat itu juga. Tapi rasa kasih sayangnya membuatnya tetap menenteng buah tersebut dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya sibuk memencet hidungnya yang tidak bangir.

Setibanya di rumah si sulung menyambutnya dengan tertawa lebar. Sesekali ia berjingkrak-jingkrak kegirangan demi dilihatnya Bapak datang dengan buah tangan yang lama diidam-idamkannya.
“Asyik, Bapak bawa durian.” Teriaknya berkali-kali.
Emak langsung berlari ke teras dan membelalakkan matanya.
“Bapak…”, mulutnya segera ditutupinya dengan telapak tangan tangan saat matanya melihat kedipan Bapak.
“Ini buat kamu,” kata Bapak dengan senyum yang mengembang.
Ada kebanggaan yang jelas tergambar di senyumnya yang tipis sore itu. Emak bisa menangkapnya meskipun hanya selintas.
Ani memeluknya erat. Diciuminya kening Bapak berkali-kali. Setelah itu ia berlari ke dalam rumah dengan membawa buah yang sudah berhasil membuat Bapak keleyengan sepanjang jalan.
Sudah lama sekali ia menginginkan buah tersebut. Tepatnya sejak musim durian tahun lalu. Saat itu seluruh temannya di sekolah bercerita tentang pesta durian yang digelar di salah satu rumah temannya. Ani tidak diperbolehkan Bapak ikut serta menghadiri acara tersebut. Bapak memang tidak suka melihatnya bergaul terlalu rapat dengan teman-teman sekelasnya yang borju. Bapak takut Ani kebawa-bawa gaya mereka. Bapak khawatir Ani menjadi anak yang boros seperti mereka. Maklumlah gaji bapak sebagai pekerja harian lepas di sebuah catering tidak besar. Hanya cukup untuk makan satu hari saja. Itu pun dengan lauk seadanya. Itu sebabnya Bapak sangat berusaha agar anak sulungnya tersebut tidak meniru gaya hidup teman-temannya yang memang berasal dari keluarga kaya raya.
Kini dengan terpaksa Bapak memenuhi keinginan Ani dengan membawa sebuah durian sepulangnya bekerja. Sejujurnya bapak keberatan membelinya. Harganya cukup mahal. Lebih dari separuh gaji harian Bapak terkuras untuk membelinya. Namun membatalkan janjinya kepada si sulung pun rasanya tidak mudah. Bapak pernah berjanji akan memenuhi keinginan Ani bila ia berhasil meraih peringkat terbaik di kelasnya. Kemarin ia menerima ucapan selamat dari wali kelasnya saat mengambil raportnya. Itulah sebabnya hari ini Bapak berusaha memenuhinya janjinya, membeli sebuah durian untuk anak tersayangnya yang telah berhasil membuatnya bangga.
“Pak, ini untuk Bapak”, Ani memberikan sebutir biji durian saat Bapak sudah duduk di kursi makannya.
“Makanlah buatmu, An. Bapak masih kenyang”, tolaknya halus.
Ani tidak menyerah. Dibujuknya Bapak berkali-kali. Ini kali diperlihatkannya betapa ia begitu menikmati manis dan legitnya daging buah tersebut dengan menjilati jari jemarinya yang belepotan daging buah durian.
“Makanlah, Nak. Bapak tidak doyan.” Akhirnya Bapak terpaksa berbohong.
Sebenarnya semasa muda dulu Bapak sangat menyukai buah ini. Namun kolesterol dan segudang penyakit lainnya membuatnya harus bertahan dari serangan bau yang begitu menggodanya. Ia hanya mampu menelan air liurnya sendiri menyaksikan Ani memakan durian di hadapannya.
Emak hanya bisa menatap Ani dan Bapak dari jauh. Sejak dulu Emak memang tidak menyukai durian. Jangankan memakannya, menciumnya saja sudah membuatnya muntah-muntah.
Ah, Ani. Andaikan bukan karena janji Bapak kepadamu tempo hari, mungkin emak sudah memasak opor ayam sore ini. Adik-adik mu bisa makan enak nanti malam. Bisik hati emak lirih.
(Bogor, 1 Maret 2019)