Pekerjaan vs Bisnis

Pekerjaan dan bisnis itu berbeda loh. Pekerjaan menurut KBBI V adalah pencaharian, pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Nafkah sendiri adalah bekal hidup sehari-hari.

Pekerjaan itu dalam bahasa sederhananya adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh orang dalam waktu yang sudah ditentukan, rutin, dan mendapatkan hasil berupa upah yang besarnya selalu tetap dan diperoleh pada kurun waktu yang telah ditetapkan secara rutin. Yaitu, gaji

Sementara bisnis adalah usaha komersial dalam bidang perdagangan. Hasilnya berupa selisih dari harga modal suatu barang yang diperjualbelikan. Umum disebut laba atau keuntungan. Laba dibagi menjadi laba bersih dan laba kotor. Laba bersih artinya hasil keuntungan yang diperoleh oleh pebisnis setelah dikurangi berbagai macam ongkos pengeluaran. Misalnya, pajak, ongkos produksi, ongkos kirim, dan lain-lain. Nah, laba bersih ini bisa juga dijadikan nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Besar kecilnya laba tidak bisa ditentukan sebelumnya. Laba tergantung pada situasi dan kondisi pasar saat transaksi bisnis terjadi. Itulah sebabnya seringkali ditemukan ada pebisnis yang merugi dan ada yang sedang kebanjiran untung.

Pekerjaan dan bisnis jelas berbeda dari penjelasan di atas. Untuk kamu yang memilih aktif bekerja di bidang pekerjaan seperti dokter, perawat, guru, polisi, dan lainnya berarti kamu menerima upah berupa pendapatan pada suatu kurun waktu tertentu dengan besar yang sudah ditentukan oleh negara. Sementara bila kamu memilih aktif bekerja di bidang bisnis maka kamu memperoleh upah atau pendapatan berupa laba dari bisnis yang kamu jalankan sendiri. Besar kecilnya tergantung dari keaktifan dan keseriusan membangun jaringan bisnis.

Itulah bedanya pendapatan dan bisnis, ya gaes. Semoga paham dan bermanfaat.

(Karadenan, 22 April 2021)

Tiga Cara Menjadi Wanita Mandiri Secara Ekonomi

Tiga cara menjadi wanita mandiri secara ekonomi adalah tips yang perlu kamu ketahui. Setelah mengetahuinya kamu memiliki pilihan mandiri, apakah akan mengikuti ketiga cara tersebut atau memilih salah satu cara yang paling kamu sukai. Apapun pilihanmu, pastikan bahwa kamu benar-benar ingin menjadi wanita mandiri secara ekonomi. 


Pertama, Percaya diri. Percaya diri adalah modal utama menjadi wanita mandiri. Tanpa ini kamu hanya berangan-angan belaka menjadi wanita mandiri. Tidak ada satupun wanita yang dikenal sejarah hidup sebagai wanita yang rendah diri, minder, dan kuper. Cleopatra, Ratu Sima, dan Tribhuana Tunggal Dewi adalah tokoh-tokoh wanita yang penuh percaya diri pada zamannya. 


Mereka menyadari betul bahwa mereka memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi pemimpin negara. Dengan melihat diri mereka sendiri mereka sadar bahwa mereka memang istimewa. Inilah yang membuat mereka begitu percaya diri memimpin rakyatnya dan menorehkan namanya dengan tinta emas sepanjang masa. 


Kedua, berpikiran terbuka. Wanita yang kuper, terbelakang, dan kuno adalah mereka yang menutup dirinya dari perkembangan zaman. Mereka hanya percaya kepada apa yang telah mereka ketahui dan jalani selama ini. Mereka tidak bisa berpikir positif terhadap berbagai hal yang baru dikenalnya. Wanita yang close minded seperti ini bisa dipastikan sebagai kelompok wanita yang sulit beradaptasi dan enggan menerima perubahan. 


Ketiga, mau mencoba. Apalah artinya keberanian bila hanya sebatas kata? Apalah artinya kesuksesan bila tidak pernah mengalami kegagalan sebelumnya? Ketika wanita memutuskan untuk maju dan mandiri secara ekonomi maka dia harus berani mencoba hal-hal baru. Berdagang, bertemu rekan bisnis, mengembangkan jaringan sosial, dan lain sebagainya adalah hal yang sulit dilakukan pada awalnya bagi para pemula di bidang bisnis. Namun, wanita yang berani mencoba akan menganggap hal itu sebagai sebuah percobaan dan ujian kecil menuju pintu suksesnya. 


Dia akan merentangkan kedua tangannya dengan bebas dan tersenyum terhadap berbagai hal baru yang belum pernah dicobanya. Dengan penuh percaya diri, berpikiran terbuka, dan keberanian yang dimilikinya dia akan melakukan semua perjalanan bisnisnya dari langkah-langkah kecil yang mungkin tidak pernah dilakukan sebelumnya. 


Nah, kamu tertarik mencoba ketiga cara menjadi wanita mandiri secara ekonomi di atas? Jangan ragu. Mulailah dari sekarang dengan bergabung bersamaku di May Way
(Karadenan, 21 April 2021)

(Sumber: Katalog May Way, Maret-Mei 2021)

Seberapa Penting Menulis Untukmu?

Seberapa penting menulis untukmu? itu adalah sebuah pertanyaan yang seringkali aku tanyakan kepada diri sendiri tiap kali akan mengikuti event-event penulisan. Jawaban spontan yang kudapatkan adalah motivasiku untuk melanjutkan atau justru meninggalkan event tersebut. Tahu kenapa? Karena bagiku menulis adalah berbagi kebaikan, harapan, dan impian. Bukan mengejar fatamorgana dan ketenaran sesaat. 


Seberapa penting menulis untukmu mungkin berbeda denganku. Keadaan dan latar belakang kehidupan kita pun tak pasti sama. Bukankah saudara kembar pun tak persis sama baik fisik maupun psikologisnya. Jadi, mengapa kita harus sama. Artinya, apapun alasanmu untuk menulis ya terima saja. Lanjutkan saja, jangan berhenti. 


Mungkin bagimu menulis itu begitu penting. Dengan menulis kamu bisa meringankan beban psikologis yang sedang kamu hadapi. Dengan menulis pun kamu bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk biaya hidupmu. Dengan menulis kamu sudah menunjukkan eksistensimu sendiri. Teruskanlah. 
Bila kamu merasa senang dengan melakukannya, jangan ragu untuk meneruskannya. Mungkin saat ini kamu belum berhasil meraih jawaban dari pertanyaan seberapa penting menulis untukmu. Jangan khawatir. Suatu saat nanti kamu akan tersenyum bahagia kala mendapati bahwa jawabanmu itu membuatmu begitu berharga. 

Antara Bijih Emas dan Kamu

Oleh Neneng Hendriyani

Ada banyak hal yang belum dan mungkin tidak dipahami oleh banyak orang termasuk penulis. Mereka ingin karyanya langsung terbit dengan cepat, mudah, dan sesuai harapan dalam waktu singkat. Ibarat emas mereka ingin langsung berkilau tanpa mau menjalani setiap prosesnya.

Emas yang berbentuk indah dan menghiasi pergelangan tangan, leher, dan beragam aksesoris lainnya berasal dari sebuah tambang yang kotor dan dekil. Mereka diangkut dari sana dengan berbagai cara dan upaya yang tak kenal letih dan juga jumlah waktu yang dihabiskan.

Laki-laki perkasa yang sudah mengambilnya dengan mengorbankan keselamatan dirinya adalah pelaku utama yang membuat bijih emas itu bisa sampai di permukaan tanah. Dengan menggunakan teknik dan cairan kimia dia dilebur dan dipisahkan dari material lain yang terkandung di dalamnya.

Setelah melewati tahap pertama itu barulah bijih emas itu dilebur dan dibentuk sesuai pesanan. Ada yang 24, 21, dan 18 karat. Jelas sekali semakin rendah karatnya semakin rendah pula kualitas bahan emasnya. Pun sebaliknya.

Emas yang telah dibentuk itu lalu dihias dengan sedikit berlian, mutiara, atau Swarovski untuk menambah kilau keindahannya. Baru lah dia siap dipasarkan.

Semakin indah dan unik desainnya harganya pun semakin mahal. Semakin umum dan biasa rancangannya maka rendah pula harga jualnya. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa diubah.

Begitulah emas sampai ke para pemakainya.

Sampai sini pernahkah kita berpikir bahwa karya kita laksana bijih emas? Dia akan bersinar dan mahal ketika kita telah melewati serangkaian tahap yang tidak enak dan menjemukan persis ketika bijih emas diangkut dari tambang dan diolah oleh para pengrajin. Apakah hasilnya akan sama antara emas muda yang memiliki karat rendah dengan emas mulia yang berkarat tinggi? Tentu tidak!

Penulis baru yang baru saja menulis kerapkali merasa tinggi hati dan terlalu percaya diri. Tanpa melihat kanan kiri, depan belakang, langsung mengirimkan naskahnya ke penerbit dengan kecongkakan yang membuat langit pun seketika mendung. Dia tak pernah berpikir apakah karyanya layak diterbitkan. Bahkan dia tak pernah berpikir apakah orang (pembaca) memahami isi karyanya dengan baik. Yang dia tahu, dia menulis, mengirim, dan harus diterbitkan dalam waktu secepatnya. Persis cerita fantasi Cinderella.

Dia tak pernah memikirkan naskahnya laksana produk yang belum melewati QC (quality control). Ada sisa benang yang harus dipotong dan dirapikan. Ini jelas memakan waktu yang tidak sedikit.

Carut marutnya naskah yang dikirim seringkali membuat editor terpaksa menenggak berpuluh-puluh obat sakit kepala saking naskahnya tidak masuk akal dan sulit dipahami. Penggunaan kalimat sederhana, majemuk bertingkat, tanda baca dan lain sebagainya jelas bukan perkara sepele dalam hal ini. Perlu kecermatan, kesabaran, dan dedikasi untuk merapikannya.

Namun bagaimana bila di sela-sela pelaksanaannya penulis justru menginterupsi dengan banyak hal yang remeh temeh? Merasa jumawa padahal naskah banyak yang kena unsur plagiat. Di sini haruskah bijih emas langsung menjadi emas batangan atau perhiasan?

Kita tidak sedang berbicara tentang pandai emas apalagi penambang liar. Kita sedang bicara tentang analogi dari sebuah proses kreatif.

Di setiap karya yang indah selalu ada tangan-tangan terampil yang penuh keikhlasan, keuletan, dan kesabaran memprosesnya agar bisa tampil seperti yang diharapkan.

Jadi, sebagai seorang teman, editor, dan juga penulis aku hanya ingin menyarankan satu hal. Pikirkanlah bila kamu berada di posisi si penambang atau pandai emas tersebut! Apakah kamu tahan dengan panasnya matahari yang membakar kulitmu saat mengayak pasir demi sebutir bijih emas? Apakah kamu tahan dengan haus dan lapar yang mendera saat tubuhmu basah bermandi lumpur dan mercury? Apakah kamu masih bisa bertahan ketika mata dan jari jemarimu ikut panas saat mulai melebur bijih itu dan membentuknya sesuai keinginan pemesannya? Apakah kamu sanggup melihat perhiasan yang kamu hasilkan lalu diakui sebagai karya orang lain tanpa menengok ke belakang? Bila tidak bisa, cukup diam dan bersabarlah. Tunggu hingga pandai emas itu mengabarimu berita gembira.

(Bogor, 28 Februari 2021;12.33 WIB)

Keuntungan Menulis Antologi

Oleh Neneng Hendriyani

Menulis bagi sebagian besar orang adalah perkara yang sulit. Meskipun memiliki banyak sekali ide di dalam kepala namun tetap saja tidak mudah menuangkannya dalam bahasa tulisan yang mudah dipahami. Akibatnya bisa jadi tambah bikin pening dan akhirnya malas. Padahal awalnya begitu semangat dan percaya diri.

Ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama tentu sjaa bergabung dengan sebuah komunitas menulis. Di dalam komunitas biasanya ada orang-orang yang sudah mahir dan bersedia berbagi pengalaman. Dengarkanlah sarannya. Amati gaya penulisannya.

Tips kedua yang paling umum dilakukan adalah menulis bersama-sama. Jenis tulisan yang dihasilkan adalah antologi. Antologi ini mengangkat satu tema yang sama dengan pilihan topik yang berbeda-beda. Sudut pandang dan gaya penulisan dari masing-masing penulis membuat antologi yang dihasilkan lebih beragam dan bermakna.

Ibarat dua sejoli, penulis antologi juga saling membantu peran masing-masing. Yang lebih baik dan mahir menulisnya membimbing teman yang belum mahir. Mereka saling mengisi celah yang kosong dan terlewatkan lewat tulisan yang dihasilkan.

Dari sisi biaya penerbitan pun antologi cenderung lebih murah. Biaya dapat disupport bersama-sama sehingga tidak membebani keuangan pribadi.

Selain itu, dari sisi marketing pun antologi lebih baik daripada buku solo. Dengan melibatkan seluruh penulis yang tergabung di dalam buku tersebut maka peluang buku itu laris manis di pasaran juga semakin besar.

Misalnya ada lima puluh penulis dalam satu antologi. Bila masing-masing berhasil menjual lima eksemplar sjaa maka total buku antologi yang dijual adalah 250 eksemplar. Ini adalah jumlah yang fantastis. Laba yang diperoleh pun lebih besar daripada bila menulis seorang diri. Karena peluang lakunya lebih besar.

Tambahan pula, lewat antologi biasanya penulis yang belum punya nama bisa ikut terkenal lantaran dia menulis dengan penulis yang sudah memiliki branding.

Nah, ayo tunggu apa lagi segera siapkan naskah terbaikmu dan terbitkan dalam antologi.

(Bogor, 9 Januari 2021)
#Day1AISEIWritingChallenge

Mas Ken dan Cerita Pagi Ini

Pagi ini Mas Ken ingin membuat brownies ubi ungu. Sebenarnya resep bolu ini berasal dari kawan dekatku yang juga sama-sama berprofesi sebagai editor. Namanya Ika Sari. Dia tinggal di Jogyakarta. Dia yang memberikan resepnya ini saat aku iseng melihat statusnya di WhatsApp. Karena kekurangan bahan maka resep yang diberikan terpaksa diubah olehku yang lalu dieksekusi anak laki-laki keduaku, Mas Ken.

Ubi ungu kukus yang kemarin sore tidak habis untuk cemilan itu dihaluskannya dengan bantuan sendok makan. Dengan tambahan sebutir telur, setengah sendok makan pengembang kue, dan tujuh sendok makan gula pasir jadilah ia adonan brownies.

Mas Ken sudah pandai dan cekatan merapikan dan menyiapkan peralatan membuat kue. Diolesinya loyang brownies dengan mentega sisa bolu sayur kemarin pagi. Dipanaskan ya oven di atas kompor. Setelah itu ia menuangkan adonan ke dalam loyang dan meletakkan loyang ke dalam oven yang sudah panas.

Senyumnya mengembang tatkala dilihatnya adonan mulai menguning. Diambilnya garpu dan ditusuknya adonan tersebut. Sayang masih lengket dan menempel di ujung garpu. Ditutupnya lagi pintu oven.

Aku memberi tahunya bahwa dia harus menunggu setidaknya 20-25 menit bila ingin mendapatkan brownies panggang yang benar-benar matang. Kecut dipandangnya jam dinding. Aku membujuknya untuk lekas mandi. Dia memang belum mandi saking semangatnya mencoba resep baru.

Sebelum membuat bolu dia sudah berjibaku di dapur sejak jam enam pagi. Dituangkannya tepung milky pudding yang kubeli di sebuah toko beberapa hari lalu. Berkali-kali dia bertanya bagaimana ini, bagaimana itu. Aku bilang, “Baca baik-baik petunjuk di kotaknya. Ikuti semuanya dengan benar. Kamu pasti bisa.”

Ternyata benar. Dia bisa melakukannya. Aku bangga dia berhasil membuatnya sendiri dengan bantuan petunjuk yang diberikan oleh produsen produk tersebut. Hasilnya, ada 5 buah gelas milky pudding yang dia letakkan di meja makan untuk menu sarapan kami bersama.

Usianya memang baru sembilan tahun dan baru kelas tiga SD. Namun, rasa ingin tahu dan keberaniannya mencoba sesuatu yang baru membuatku bangga. Inilah anak keduaku, Ken Jayawardhana.

#Day3December_AISEIWritingChallenge

Bolu Sayur Ala Pandemi

Ini kali bukanlah yang pertama aku membuat bolu. Meskipun tidak mengembang seperti pada umumnya bolu panggang tetapi rasanya tidak kalah enak dan mengenyangkan. Maklumlah. Ha ha ha.

Berawal dari sisa juicer buah dan sayur yang kuminum pagi ini bolu panggang ala Pandemi pun matang. Ya, semua bahannya ada di rumah. Tidak perlu mencari keluar dan sengaja membelinya di toko bahan kue. Cukup pakai semua bahan yang kebetulan ada di ruang dapur sederhana 1,5 x 2 meter. Dengan begitu nggak perlu repot ke luar rumah menggunakan masker dan mengambil resiko tinggi bertemu orang-orang yang tidak tahu apakah sehat atau sudah terpapar virus.

Cara membuatnya pun sederhana. Sebutir telur ditambah pengemulsi dan pengembang kue dikocok. Tak lupa masukkan gula dan margarin sesuai selera. Kocok terus hingga memutih. Takarannya sesuaikan dengan rasa manis dan gurih yang diinginkan. Setelah itu masukkan sisa juicer yang berupa ampas nanas, buncis, brokoli dan pakcoy. Ampas ini sebenarnya bukan ampas dalam arti yang sebenarnya, ya. Berhubung juice extractorku lagi ngadat jadi aku pakai juicer biasa untuk membuat jus. Maka hasil jusnya tidak sebanyak yang dihasilkan oleh juice extractor. Masih banyak nutrisi alias saripati yang tertinggal di ampas juice tadi. Nah, ampas inilah yang kugunakan sebagai tambahan bahan bolu.

Setelah semuanya diaduk rata barulah dituangkan ke dalam cetakan bolu yang sudah dilapisi mentega. Berikan irisan nanas dan parutan keju di atasnya. Lalu, panggang deh. Waktu pemanggangannya cukup 20-25 menit. Setelah matang, angkat dan dinginkan.

Mudah, kan?

#Day2AISEIWritingChallenge#december2020

Hadiah Tak Terduga

Di sela-sela kegiatan utama sebagai ibu rumah tangga dan pekerja profesional di bidang pendidikan aku masih berupaya menyisihkan waktu dan pikiran untuk menekuni hobiku. Sebuah hobi yang tidak terlalu memakan banyak biaya tentunya namun tetap menyenangkan. Apa lagi kalau bukan menulis.

Dengan menulis aku bisa curahkan semua cita-cita, keinginan, harapan, bahkan kekecewaan dalam bentuk yang positif. Tujuannya sederhana tentu saja. Yaitu berbagi pengalaman kepada sesama agar pembaca dapat mengambil hikmah dari apa yang ku tuliskan.

Sebagai ibu rumah tangga tentu saja aku seringkali merasa lelah, khawatir dan cemas. Ada saja hal yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan mulut bernyanyi seriosa tujuh oktaf. Penyebabnya kadang sepele. Anak yang terlambat bangun pagi, tidak mengerjakan ibadah salat dan mengaji, malas belajar dan asyik main game. Kadang penyebabnya juga lumayan berat. Seperti tidak ada yang membantu membersihkan rumah dan lingkungannya. Bila sudah begini ya pasti lagu-lagu lawas dengan nada-nada tinggi sudah menggema di seantero ruangan dengan luas 100 meter persegi.

Untuk menjaga agar tetap bahagia, waras, sehat dan menikmati hidup itulah aku menulis. Untuk kegiatan yang satu ini kadang aku mendapatkan apresiasi berupa hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebut saja, hadiah buku dari panitia AISEI yang baru saja memilih karya cerbungku tentang Pacar Anakku sebagai karya pilihan beberapa waktu lalu. Selain itu panggilan mengisi materi penulisan dari beberapa lembaga dan komunitas. Ada juga yang mengirimkan sejumlah koin ke rekening karena tulisanku yang dimuat di medianya. Besarnya bervariatif. Tergantung jenis tulisan dan media yang memuatnya.


(Dok. Pribadi)

Nah, pada hari ini Selasa, 17 November 2020 aku baru saja menerima sepaket hadiah buku dari PT Kuark Internasional. Paket hadiah ini sangat bermanfaat untuk anak-anakku di rumah. Isinya tentang beberapa materi berharga mengenai kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Ada tutorialnya membuat katrol tetap dan katrol majemuk. Ada juga eksperimen mengenai lilin pengusir nyamuk.

Hm, kalau kamu yang suka menghitung hadiah dari sisi uang silakan hitung sendiri deh berapa jumlah yang dikeluarkan oleh pengirim hadiah ini kepadaku. Bagiku sendiri ini adalah hadiah yang tak terhingga. Nilainya lebih tinggi dari sejumlah uang yang ditransfer ke rekening. Sepaket hadiah buku ini harganya jauh lebih mahal dari itu. Tahu kenapa? Jawabnya sederhana. Buku adalah sahabat yang paling berharga. Dia tidak pernah meninggalkanmu di kala kau menderita. Tidak pernah pula menyindir dan menyakitimu baik di depan maupun di mukamu. Dia selalu ada memberikan isinya untukmu bila kamu mau memikirkan isinya. Dia selalu setia membimbingmu menuju kebaikan.

Jadi, mari terus menulis dan biarkan hadiah-hadiah berikutnya tiba di depan rumah seperti biasanya.

#Day11NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#17nov2020
#11.23pm

Lewat Tulisan

“Ma, kok Mama nulis terus sih? Nggak bosen?” Tanyanya.
Kuusap punggungnya. Malam kian larut. Detik demi detik terus berlari mengejar pagi. Dia masih terjaga menemaniku.

“Sebentar, ya. Sebentar lagi. Ok.”

Dia masih menunggu. Mau tidak mau aku harus menjawabnya.

“Ini bukan soal setoran tulisan, Nak. Ini soal berbagi. Berbagi cerita, ide, pengalaman, impian dan juga harapan. Tulisan yang Mama tulis dan publikasikan di blog ini adalah kumpulan ide, pengalaman, impian dan harapan Mama selama ini. Ada banyak kisah yang tersebar di sini. Ada banyak informasi yang berguna di sini. Ada tentang kamu, juga yang lainnya.”

“Apa itu semua bermanfaat, Ma? Mending Mama belajar bikin kue aja deh dari YouTube. Kue buatan Mama kan bantet terus.” Bibirnya manyun.

Aku tertawa. Teringat beberapa hari lalu kue brownis yang kubuat bantet. Itu bukan kali pertama aku menghasilkan kue yang bantet. Aku sudah menonton video tutorialnya berkali-kali. Semuanya bahkan dicatat rapi. Tetapi hasilnya ya begitu terus. Tetap bantet.

Aku tak marah mendengar anakku berkata begitu. Dia belum paham. Suatu hari dia akan paham bahwa lewat tulisan kita bisa berbagi banyak hal yang bermanfaat untuk sesama.


(Dok.Pribadi)

Tulisan adalah sahabat terbaik. Dia menjadi karya yang indah saat kita menginginkannya menjadi indah. Dia bisa menjadi penasihat saat kita menulisnya dengan penuh kesadaran untuk menasihati seseorang yang kita cintai. Bahkan dia bisa menjadi wakil dari diri kita sendiri saat kita tidak bisa menyampaikannya secara langsung.

Jadi mari kita menulis dan berbagi. Lewat tulisan kita bagi kisah hidup yang bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi. Lewat tulisan kita titip harapan untuk masa depan. Lewat tulisan kita bisikkan semua harapan untuk orang-orang tersayang.

Jangan berhenti menulis. Teruslah menulis. Jangan merasa sibuk dan kehabisan ide. Ide ada di sekitar kita dengan bebasnya.

#Day10NovAISEIWritingChallenge
#gareulis
#hikmahmenulis
#lewattulisanmariberdakwah
#13nov2020
#0853pm

Hari Pahlawan Buat Mas Ken

“Ma, kok pakai baju korpri? Kan biasanya Mama nggak pernah pakai sejak mengajar dari rumah?” Dia bertanya saat aku sedang asyik mematut di depan kaca.

“Hm, hari ini Hari Pahlawan, Mas”.

“Oh. Mengapa kita harus memperingati Hari Pahlawan? Memang kalau nggak diperingati nggak boleh, ya?”

“Maksudnya?”

“Iya, apa nanti dihukum bila nggak diperingati?”

“Siapa yang hukum?”

“Aku nggak tahu. Makanya aku tanya.”

Aku bingung menjawabnya. Masa iya kujawab hari ini aku memakai seragam korpri karena kubaca pengumuman di grup pegawai. Kan nggak lucu. Apa kata dia nanti. Anak yang satu ini sangat kritis. Dia tidak akan puas mendapati jawaban yang asal-asalan.

“Mas. Kita ini kan bangsa yang beradab. Artinya mampu menghargai orang lain. Nah, kita memperingati Hari Pahlawan pada hari ini karena kita menghormati jasa-jasanya. Mereka sudah berkorban banyak agar kita bisa hidup merdeka hari ini. Kita bisa bersekolah dengan aman dan nyaman berkat jasa-jasa mereka. Coba kalau dulu mereka nggak melawan penjajah apa kita bisa sekolah? Bagaimana mau sekolah kalau penjajah melarang kita semua ke sekolah?” Aku balik bertanya.

“Kenapa mereka melarang kita sekolah? Kan di sekolah cuma belajar, Ma?” Tanyanya.

“Mas, penjajah itu nggak mau rakyat jajahannya pintar seperti kamu. Kalau rakyat jajahannya pintar mereka nggak bisa menjajah lagi.”

“Kok gitu?”

“Ya iyalah. Mau menjajah gimana kalau semuanya pintar? Semua pasti berontak kan karena tahu siapa diri mereka dan kemampuan yang mereka miliki.”

“Kalau gitu kenapa aku juga harus belajar menghapal nama-nama pahlawan? Memang penting ya, Ma menghapal nama-nama mereka? Apa kalau nggak hapal nanti nggak masuk surga?”

Aku kaget mendengarnya. Dapat dari mana itu pertanyaan model begitu. Ya, Tuhan.

“Mas, kamu menghapal nama-nama pahlawan itu disuruh siapa?” Aku balik bertanya. Ini untuk mengulur waktu sambil mencari jawaban yang tepat untuknya.

“Bu Guru lah. Kemarin dia bilang aku harus membaca kisah pahlawan. Nanti aku disuruh presentasi menjelaskan tentang kenapa dia disebut pahlawan. Eh, Ma. Tahu nggak. Aku nanti pakai voice note loh di WhatsApp buat presentasinya. Keren, kan.”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, ampun ini anak.

“Itu mah bukan disuruh menghapal nama-nama pahlawan, Mas. Tetapi disuruh baca dan pelajari soal pahlawan. Kamu mau baca ceritanya siapa?”

“Baca? Nggak, ah. Aku kan sudah nonton filmnya Sultan Agung. Itu aja yang aku jelasin nanti. Sultan Agung kan pahlawan juga.” Sorot matanya terlihat berapi-api. Aku bangga melihat kepercayaan dirinya.


(Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung_dari_Mataram)

“Eh, Ma. Mama tahu nggak kenapa Sultan Agung tetap menyerbu Batavia padahal dia juga nggak yakin menang?” Tiba-tiba dia bertanya saat aku sudah siap menyalakan mesin Vario.

“Mas, menurutmu sendiri apa?” Aku memancingnya.

“Kalau kata aku sih dia ingin membuktikan bahwa bukan hasil perjuangan yang ingin dia capai. Dia ingin menunjukkan bahwa sebagai Raja dia menolak sikap angkuh dan curang penjajah. Jadi dia menunjukkan usahanya. Ya, meskipun kalah tetapi dia hebat.” Anakku menjawabnya dengan penuh semangat.

Aku tersenyum kepadanya. Andai tidak takut terlambat aku pasti sudah membalasnya. Segera aku berpamitan. Sepanjang jalan aku kembali merenungi kata-kata anakku tadi. Bukan soal menang yang ingin dicapai oleh sang tokoh yang sangat dikaguminya. Tetapi soal semangatnya yang pantang menyerah.

Selamat Hari Pahlawan. Semoga Indonesia Jaya.

#Day09NovAISEIWritingChallenge
#haripahlawan
#sultanagung
#masken
#gareulis
#aisei
#13nov2020
#0823pm