Judul buku : Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia
Editor : Yohanes Sehandi
Prolog : Suwardi Endraswara (Guru Besar Antropologi Sastra UNY)
Epilog : Narudin (Kritikus Sastra Indonesia)
Penerbit : Cerah Budaya Indonesia, Jakarta
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: xxvii + 350 hal
ISBN : 978 – 602 – 5896 – 25 – 5
Menulis merupakan sebuah kegiatan yang menguras imajinasi, pemikiran, dan melibatkan perenungan yang mendalam mengenai sesuatu hal yang baru maupun yang lama. Kegiatan ini melibatkan seluruh panca indra manusia. Maka wajar bila hasilnya merupakan sebuah karya yang dapat dinikmati oleh manusia. Hal ini dikarenakan manusia pembacanya memiliki panca indra yang sama dengan penulisnya.
Berangkat dari hal di atas, maka 50 penulis opini yang berasal dari berbagai latar belakang social, Pendidikan, minat, jenis kelamin, umur dan profesi serta adat istiadat, budaya, dan provinsi di Indonesia berupaya menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya dengan melibatkan seluruh panca indranya untuk berbicara melalui tulisan mengenai berbagai tema tentang puisi esai yang ditentukan oleh Panitia Lomba Penulisan Opini Puisi Esai Indonesia. Tema-tema tersebut adalah (1) eksistensi dan potensi puisi esai, (2) puisi esai dalam perdebatan, (3) angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia, (4) puisi esai, potret batin, dan isu social, (5) puisi esai dalam layer lebar, (6) puisi esai dalam Pendidikan, (7) puisi esai dan geliat sastra daerah, (8) puisi esai dari beragam tinjauan. Masing-masing penulis bebas memilih salah satu tema tersebut sebagai isi tulisannya dan bertanggung jawab penuh terhadap tulisan yang dibuatnya.
Buku antologi ini merupakan kumpulan opini yang diterima panitia mulai tanggal 20 Maret 2018 – 10 Mei 2018 dan berhasil lolos seleksi editor/panitia. Dari 62 artikel opini yang diterima editor/panitia hanya 50 artikel saja yang layak dimuat di dalam buku ini. 12 Opini yang tidak lolos seleksi itu disebabkan oleh (1) opini tidak membahas tentang puisi esai, tetapi membahas puisi atau sastra pada umumnya, (2) opini terlalu dangkal, tidak ada hal baru mengenai puisi esai, (3) tidak memberi perspektif baru yang lebih segar tentang puisi esai, (4) opini disusun secara tidak teratur, tidak logis, dan penggunaan PUEBI yang kacau-balau.
Dari 50 penulis opini yang terhimpun dalam buku ini, 35 orang penulis pria, 15 orang penulis perempuan. Mereka berasal dari 22 provinsi di Indonesia. DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Timur meloloskan tujuh penulis. Lampung ada lima penulis opini yang lolos. Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Bangka Belitung, masing-masing tiga penulis. Sulawesi Tenggara, Kalimantan utara, Kalimantan Tengah, dan Papua masing-masing dua penulis. Banten, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Bali, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Utara, dan Nanggroe Aceh Darusalam, masing-masing satu penulis.
Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum (Guru Besar Antropologi Sastra Universitas Negeri Yogyakarta) dalam prolognya mengibaratkan puisi esai sebagai sebuah telur. Para penulis opini puisi esai memandang puisi esai sebagai sebuah telur dari berbagai sudut pandang yang berbeda namun menarik. Mereka dikatakannya sedang berolah etnografi estetis. Artinya, sebagai seorang koki, para penulis opini puisi esai ini berusaha memasak opininya mengenai puisi esai dengan berbagai resep yang dimilikinya hingga tulisan yang dihasilkannya tersebut tersaji rapi, enak dinikmati. Pembaca, sebagai penikmat boleh saja menolak masakan, mengkritik, dan juga acung jempol. Setiap orang boleh berbeda untuk merasakan makanan (puisi esai).
Untuk membuat opinin mengenai puisi esai ini masih menurut Suwardi Endraswara, para penulis opini juga menggunakan konsep 3-K, yaitu (1) konten, artinya puisi itu memuat kandungan nilai, konten yang dalam dan estetis, (2) konteks, artinya puisi esai itu membawa pesan yang melingkupi berbagai hal dalam hidup ini, (3) konstruksi, artinya susunan puisi esai memang ada kekhasan. Kekhasan puisi esai ada getaran etnografis. Maka, studi sastra boleh digali dari perspektif antropologi sastra yang memandang konteks hubungan sastra dengan budaya.
Dari tiga kelompok yang dibahas oleh Suwardi Endraswara dalam prolognya, para penulis opini puisi esai termasuk ke dalam kelompok yang berpikir jernih. Mereka bukan kelompok yang mudah iri hati jika ada sesuatu yang baru. Juga bukan kelompok yang yang tidak begitu paham terhadap sesuatu yang baru, ikut-ikutan, merasa sok tahu lalu memberi adjustment yang semaunya sendiri.
Sebagai kelompok yang berpikiran jernih, mereka berupaya menerima keberadaan puisi esai atas dua dorongan. Yaitu, dorongan kreativitas dan dorongan psikologi. Dorongan kreativitas artinya mereka mengakui adanya puisi esai ini sebagai buah dari kreativitas para penyair dalam memunculkan ide baru yang berawal dari puisi Panjang (long poetry). Dorongan psikologi, yaitu keinginan mengemukakan imajinasi yang dipadu dengan opini hingga memunculkan puisi yang berbentuk naratif (narrative poetry).
Dalam bagian pertama buku ini, eksistensi dan potensi puisi esai, 13 penulis diantaranya Gunoto Saparie, Kumbo Adiguno, Bernadus B. Daya, Dhenok Kristianti, A.Y. Deliana, Rasiah, Anthony Tonggo, Heri Mulyadi, Rini Sulistiani, Hamri Manoppo, Fajar Mesaz, F.X. Purnomo, dan Bambang Widiatmoko mengakui keberadaan sebuah puisi esai di panggung sastra Indonesia sebagai ide yang luar biasa, adil dan beradab, memberi ruang yang lebih bebas untuk berimajinasi sesuai fakta. Sehingga keberadaannya diakui memperkaya khazanah kesusasteraan tanah air dan dunia. Dari keberadaannya inilah puisi esai membuka kesempatan untuk riset sastra. Inilah fakta yang harus diterima.
Selanjutnya buku ini pun memuat puisi esai dalam perdebatan. Yohanes Sehandi dalam opininya yang berjudul Kontroversi Puisi Esai 2018 menuturkan dengan Panjang lebar mengenai sejarah awal mulanya puisi esai dan perjalanan kontroversinya. Tulisannya bisa dijadikan sumber referensi bagi siapa pun yang belum mengetahui sejarah lahirnya puisi esai dan tokohnya. Usman D. Ganggang, Masrur Ridwan, La Ode Gusman Nasiru, Viddy Ad Daery, Willem Berybe sepakat melihat gonjang ganjing mengenai puisi esai ini justeru membuat puisi esai semakin dikenal masyarakat. Sehingga puisi esai berubah menjadi bola sastra yang terus menggelinding. Viddy pun mendukung hal ini dengan membahas mengenai honorarium yang sering kali menjadi topik perdebatan di kalangan sastrawan Indonesia. Mewakili kaumnya, ia mengatakan bahwa puisi merupakan karya kreatif yang melibatkan tidak hanya panca indra tapi juga pengetahuan, wawasan, dan kejernihan hati para penulisnya. Karya yang dihasilkan dalam bentuk puisi ini seharusnya juga mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang sama besarnya seperti yang diterima oleh pelukis dengan hasil lukisannya. Bukankah keduanya juga sama-sama produk kreativitas? Lalu mengapa berbeda dalam penghargaan dan apresiasi yang diberikan?
Pada bagian ketiga buku ini M.Isfridus Harapan, Satrio Arismunandar, dan Roso Titi Sarkoro mengusung tema angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia. Mengutip pendapat David Fishelov dalam The Birth of Genre di jurnal European journal of English Studies, Vol.3 No. 1, pp. 51-63 (April 1999), Satrio Arismunandar berpendapat bahwa puisi esai merupakan genre baru menurut kriteria David Fishelov.
Bagian keempat yang berisi puisi esai, potret batin, dan isu social Isbedy Stiawan ZS, Fitri Angraini Roffar, Eddy Salahuddin, Nyoto Utoyo, Neneng Hendriyani, Januarius Yohanes Tolan Igor, dan Imelda Oliva Wissang mencoba menyelami batin masing-masing mengenai beragam isu social kemasyarakatan yang terjadi di sekitarnya. Melalui berbagai hal yang terjadi di masyarakat diantaranya politik, social ekonomi, budaya, pertahanan keamanan negara, mereka berujar bahwa melalui puisi esai mereka dapat menyuarakannya dengan gamblang, indah dan mudah dipahami oleh siapa pun. Puisi esai mampu mewakili perasaan batin para penyair mengenai lingkungannya. Ia bukan hanya sebuah hasil imajinasi penyair, tetapi juga didukung oleh fakta. Sehingga keberadaannya tidak bisa dinafikan begitu saja. Dengan demikian puisi esai memiliki fungsi sebagai perekam isu social kemasyarakatan (Neneng Hendriyani), pembelajaran berbasis masalah dan ruang kepekaan (Imelda Oliva Wissang).
Karena didukung oleh fakta mengenai berbagai hal yang terjadi di masyarakat itulah maka puisi esai memiliki banyak kesempatan dan peluang untuk diangkat ke layer lebar. Setidaknya itulah isi dari bagian kelima buku ini. Pendapat ini dikemukakan oleh Eldita Listika, Yoseph Yoneta Motong Wuwur, dan Rissa Churia.
Semakin luas dan dikenalnya puisi esai di blantika sastra Indonesia mau tidak mau, terpaksa ataupun rela, seluruh insan Pendidikan terutama guru Bahasa Indonesia pasti mengupas puisi esai di dalam kelasnya. Sejalan dengan itulah maka Tri Cahyono, Lukman Juhara, dan Anto Narasoma mengusung tema Puisi Esai dalam Pendidikan. Di bagian keenam inilah dibahas mengenai kiat mengajarkan puisi esai di sekolah. Juga dibahas pula puisi esai dan gerakan literasi serta nilai edukasi siswa.
Dengan adanya isu dan perdebatan yang sangat keras dialami oleh puisi esai mendorong banyak penulis dan penyair bangun dari tidurnya. Geliat ini mendorong mereka untuk aktif kembali di daerahnya masing-masing. Bahkan melalui puisi esai pula, penulis pemula pun dapat ikut berkiprah mengangkat nama daerahnya. Beragam kegiatan menulis puisi esai pun banyak dilakukan di daerah-daerah berdampingan dengan kegiatan menulis puisi lainnya. Hal ini menjadi nyawa tulisan bagian ketujuh buku opini ini dalam tema puisi esai dan geliat sastra daerah. Contributor tulisan pada bagian ini adalah Eka Susilawati, D. Kemalawati, Anggia Budiarti, dan Muhammad Thobroni.
Pada bagian terakhir buku ini, 11 penulis mengangkat puisi esai dalam beragam tinjauan. Narudin, Handry TM, Krisantus Sehandi, Isti Nugroho, Rita Orbaningrum, Nia Samsihono, Bambang Irawan, Pinto Janir, Imam Qalyubi, Elvi Ansori, dan Raden Tita Pujiwanti meninjau sekaligus membedah puisi esai dari kacamata masing-masing. Narudin melihat puisi esai dari perspektif psikoanalisis. Handry TM melihat sosok Denny JA, Agama dan politik dalam puisi esai. Krisantus mengangkat kegelisahan PW Singer dan Denny JA. Isti mencoba mengemukakan upaya puisi esai dalam menepis ego penyair. Rita mengaitkan puisi esai dengan Gerakan Revolusi Mental. Nia secara khusus membahas catatan kaki yang terdapat dalam puisi esai. Bambang membela penyair perihal honorarium dan kemiskinan yang biasa terjadi di kalangan penyair. Pinto merekomendasikan puisi esai sebagai salah satu obat bagi bangsa yang sedang sakit. Dekonstruksi sastra modern sebagai bagian dari puisi esai coba disampaikan dengan lugas oleh Imam Qalyubi. Puisi esai, tradisi budaya, dan kearifan local diangkat Elvi Ansori. Terakhir, Tita menikmati indahnya kritik social puisi esai dalam “Sapu Tangan Fang Yin”.
(Bogor, 22 September 2018)
*Tulisan ini telah dimuat di Tribun Bali pada hari Minggu, tanggal 23 September 2018.