BUBAT: KISAH CINTA SANG MAHARAJA
Neneng Hendriyani
Kala usia mulai bertambah
Resah hati jua jiwa
Angan melayang jauh ke segara
Meluncur bebas di samudera
Melambung tinggi ke pucuk awan
Jatuh menukik ke dalam jurang
Bertanya pada sang bayu
Juga rumput yang bergoyang:
Dimanakah gerangan Juwita pujaan
Berbagai cara ditempuh pula
Sebar telik sandi ke manca negara
Cari putri elok rupa
Kawan hidup seia sekata
Semua pergi, semua kembali
Bawa lukisan potret tuan puteri
Dari timur hingga barat
Dari utara hingga selatan negeri
Satu demi satu potret ditatap
Nanar matanya menatap
Jauh bertanya ke sanubari
Lagi dan lagi diteliti
Ah, sayang seribu sayang
Tiada yang memberinya rasa
Semua berakhir sia-sia
Hingga hati tak sadar berpaling
Merasa pilu sendiri
Jauh di dalam sukma, ia berkelana
Mencari yang ia cinta
Pada pandangan yang pertama
Disuruhnya telik sandi pergi lagi
Kini ke negeri di barat daya
Penuh harap akan bersua
Gadis manis nan jelita
Permata berharga sandingan Maharaja
Entah di mana ia berada;
Di balik bukit atau dalam istana
Berpagar ilalang atau bunga setaman
Tak pasti sungguh tiada pasti
Habis sudah masa
Habis sudah tenaga
Putus asa di puncak usaha
Takut mulai merajalela
Muncul di benak para pesuruh Raja
Hingga suatu hari tiba jua
Di sebuah negeri di barat daya
Tak sengaja bersemuka
Memandang penuh suka cita
Melirik tiada henti
Menatap tiada kedip
Terpanah cantiknya sang Puteri
Kala jumpa di taman sari
Dilukisnya segera penuh cita
Tak lupa dilapisnya dengan do’a
Hiasan kuas demi kuas potret Juwita
Semoga Maharaja sudi menerima
Lukisan diri Sang Puteri Sunda
Kala usai segera ia kembali
Dibawanya pergi menghadap Yang Mulia
Mencari puteri yang selalu ia temui
Dari Panglima hingga Mahapatih Gajah Mada
Tak lupa Ibu Suri Tribhuana juga Ramanda
Duduk bersila di balairung istana
Tak berani bersuara
Tak berani bertanya
Semua hanyut dalam sepi
Menanti sabda sang empunya hati
Ditatapnya enggan potret yang ke sekian
Seketika hatinya bergetar
Dadanya bergemuruh penuh debar
Wajahnya tersipu malu, memerah seketika
Merona meski hanya sesaat saja
Senyum manis tersungging tipis
Dibuangnya wajah ke arah lain
Hatinya berontak tak terima
Ditatapnya sekali lagi
Berharap rasa itu pergi
Tapi, semilir bayu merambat cepat di kalbu
Perlahan menyusup hangat di setiap ruang sukma
Menggelinding tajam
Menyentuh pusat rasa dan keinginan
Bangunkan hasrat tuk bersua
Satukan hati dalam suka cita
Enggan sedetikpun menunda
Rindu tiba-tiba membuncah tinggi
Ingin segera bercerita, tertawa, manja bersama
Di sana di ruang rindu tak bersela
Ah, getar itu kian mengangkasa
Membawanya terbang ke swargalaya
Bertemu para Bhatara, di puncak tertinggi Himalaya
Gelar janji Sang Ksatria
Tuk hidup bersama, setia selamanya
Lewati ribuan masa, hanya dengan Adinda saja
Ketika fajar telah tiba
Dikirimnya utusan keluar gerbang istana
Disuntingnya Sang Juwita
Disampaikannya segenggam asa
Sekerat hati penuh cinta
Tulus murni tuk Adinda
Lamaran pun resmi diterima
Hingga semua seia sekata
Bahagia itu kian terasa
Di sudut matanya semua tercipta
Di ruang angannya semua terkembang
Gadis manis Dyah Pitaloka
Bersanding bersama di singgasana
Dinantinya setiap waktu
Sejak mentari datang merayu
Bersama hangatnya belaian surya
Hingga candra menatapnya sendu
Di ujung malam ia masih terjaga
Disiapkannya pelaminan istimewa
Bertahta ribuan nilam
Jutaan kembang setaman
Tak lupa Dodot Sinebab, Kampuh Panjang Surya Gumelar berprada emas menyala
Tuk dipakai di upacara agung
Ah, sayang….
Semua hancur berantakan
Asa itu lenyap bertebaran
Ibarat debu di tanah lapang
Tak ada yang tergenggam
Ribuan impian hilang tenggelam
Jauh ke dasar lautan
Meluluh lantakkan hati nan remaja
Milik Baginda Maharaja
Tatapnya pilu
Sendu penuh haru
Pengantin yang ia nanti
Di seluruh malam panjangnya
Kini bersimbah darah di tanah celaka miliknya
Meloncat ia sekuat tenaga
Berupaya mencegah semua yang ada
Hendak direbutnya kujang yang digenggam
Diraihnya harapan yang hampir hilang
Sayang, seribu sayang
Takdir telah memenangkannya
Puteri cantik telah terluka
Sebilah senjata menancap di dada
Bersimbah darah, bermandi air mata
Menatap pilu sang Arjuna
Sempat ia menangkap tubuhnya
Hingga tak roboh menghempas tanah
Ditatapnya mata indah yang sayu
Yang pernah membuatnya jatuh cinta
Disentuhnya pipi yang ranum
Rasa dingin mulai menjalar
Diberanikannya tuk melawan
Saat maut kian dekat
Saat perpisahan kian tak terhindar
Ia berlomba demi sang cinta
Sampaikan rahasia sesakkan dada
Juga janji suci yang ia punya
Dipeluknya sekuat jiwa
Dibawanya ke dalam dada
Berharap ia masih ada
Berkata: ya. Meski sekali saja
Hanya anggukan lemah yang ia terima
Cukuplah itu baginya
Dengan deras air mata
Teriaknya pecah membahana di ketiga dunia
Tiada yang tersisa
Pun cinta yang ia puja
Kekasih yang ia nanti
Semua binasa
Terkapar tak bernyawa
Membawa pergi semua tawa
Tinggalkan jutaan luka lara
Tiada lagi yang terdengar
Bahkan desah yang tertahan
Hanya jerit luka penuh kecewa
Jua amarah
Isak tangisnya kini tertahan, hilang lenyap di tenggorokan
Hatinya pedih
Harapannya hilang
Bersama amisnya darah perawan
Tanpa noda dan dosa
Berkorban demi semua yang ia cinta
Dengan langkah gontai
Kakinya melangkah pergi
Tersaruk sepanjang jalan tak terperi
Ribuan air mata terus mengalir
Di relung-relung hatinya yang hancur berkeping
Senyumnya hilang tiada kembali
Bayangnya melampaui sinar pagi
Dibiarkannya jiwanya mati
Perlahan namun pasti
Memeluk kasihnya dalam mimpi
Berharap semua tak terjadi
Berharap semua hanya ilusi
Di Bubat, ia hilang jati diri
Juga cinta sejati
(karadenan, 02 November 2017)
Diambil dari buku Setangkup Rindu Dari Masa Lalu
Referensi: