Bogor, Lukisan Masa
Oleh Neneng Hendriyani
Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:
Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru
mengalir syahdu cerita tempo dulu:
Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,
Di antara sauh, pedati ditarik pulang
Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,
Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.
Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang
Menyisakan asap sesak dalam kenangan
Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.
Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.
Di alun-alun, anggun meliuk,
Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa
Di antara gendang dan suling ku’ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!
Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.
(Karadenan, 27 Maret 2025)
Bogor, A Painting of Time
by Neneng Hendriyani
Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
At the foot of Salak and Pangrango: Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru Flow gently,
carrying tales of old: A blue lake that never recedes,
A mirror of the sky where longing anchors,
Ripples dancing merrily, Amidst anchors,
carts pulled homeward.
Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
At the foot of Salak and Pangrango, vast rice fields stretch grandly,
The wind’s dance in the paddy sings kindly,
Sparrows and weavers chirp in joyful harmony.
Now, steel and brick rise tall, competing,
Factories grow, replacing green fields,
Leaving behind smoke and crowded memories.
Yet, far along the streets, it still lingers— The warmth of Bogor’s taro in hand,
The aroma of soto mie dancing in the air,
At bamboo tables, tradition never fades.
Time rolls on, the city transforms,
From Pajajaran to city lights that never dim at midnight.
In every face I meet, Traces of history still shine brightly in memory.
In the town square, graceful movements sway,
In tune with the Pakuan hymn stirring the soul.
Amidst drums and flutes, I’m captivated,
A woven tale: Kuta Udaya Wangsa!
Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
Still beautiful amid change,
Flowing like the ceaseless Cisadane, Preserving heritage, embracing the future,
A home for hearts seeking the way back.
(Karadenan, March 27, 2025)