AIR MATA DYAH PITALOKA
Oleh Neneng Hendriyani
Kala surya belumlah tinggi
Sesuatu yang dahsyat terjadi
Perang tanding satu lawan satu tak terhindari
Semua menerjang
Berkelebat, saling ayunkan tombak dan pedang
Tak terhitung banyaknya luka yang menganga
Pun tetesan darah yang membasahi tanah celaka
Saat tombak berjatuhan dan jiwa suci berguguran
Semua berpulang dengan seulas senyuman
Tunai sudah janji bakti
Tunah sudah sumpah suci
Bela pati demi nagari
Demi harga diri
Di sana, di dalam tenda
Gadis manis itu masih berdandan jua
Dibalut tubuhnya dengan jarik berprada
Warna emas menyala
Kebaya putih dikenakannya
Diletakkannya sigarnya di atas sanggul indahnya
Tanda ia seorang puteri raja
Naas, ia tak tahu apa-apa
Selain datang tuk berjumpa
Seorang ksatria gagah perkasa
Bersanding selamanya di atas singgasana
Merangkai mimpi indah bersama
Ah, kisah klasik anak manusia
Terpanah asmara
Jauh di hatinya tersimpan lukisan
Wajah sang Arjuna
Seorang Maharaja yang telah berjanji
Menjemputnya bila ia tiba
Tuk membawanya ke altar suci
Mengikat janji nan abadi
Sayang, yang dinanti belumlah datang
Seorang utusan justeru tiba mengajak perang
Puteri cantik jadi perdebatan
Hendak diserahkan sebagai upeti tanah jajahan
Sontak semua menolak
Pun Ayahanda sang Puteri berontak:
Puteriku bukan barang dagangan
Puteriku tanda kehormatan
Lebih baik kami berkalang tanah
Puteriku tak akan pernah kuserahkan
Tekad api itu bergelora
Membakar jiwa yang ada
Meluluhlantakkan semua
Hingga tiada bersisa
Utusanpun ikut terluka
Kala ia keluar tenda
Semua telah rebah bersimbah darah
Jerit tangis pun mengudara
Memanggil nama ayahanda raja
Tak perlu menunggu lama
Dicabutnya senjata
Sebuah kujang yang ia simpan di sanggulnya
sejak ia pergi tinggalkan Patih Bhunisora
dihujamkannya ke dadanya
hingga darah memerahkan warna kebayanya
ia tak lagi ingat
rasa sakit pun tak lagi melekat
hanya satu yang ia harap
dapat berjumpa dengan kekasih jiwa
sebelum menutup mata
bertanya tentang hatinya
sungguhkah ia cinta
atau cuma taktik belaka
kala maut tinggal sejengkal
lelaki itu datang
memeluk erat
membawanya ke dada
dodotnya basah
wijaya kusumanya layu
lirih masih ia dengar
bisik hatinya yang begitu pilu
betapa ia jatuh cinta
sungguh bukan taktik belaka
ia pun tak tahu apa-apa
kini, tak ada lagi ragu di kalbu
percaya cintanya abadi dan satu
lewati masa demi masa
tak kan pernah mati
meski ia tiada
senyum manis terkembang,
dalam pelukan ia berpulang
tinggalkan kekasih yang patah hati
menanti hingga jutaan tahun berganti
di Bubat, ia temukan cintanya yang sejati
(Karadenan, 02/11/2017)
TEARS OF DYAH PITALOKA
by Neneng Hendriyani
When the sun had not yet risen high,
Something momentous occurred,
A one-on-one battle, unavoidable, unfolded.
All charged forward,
Flashing, wielding spears and swords against each other.
Countless wounds gaped wide,
Blood dripped, soaking the wretched earth.
As spears fell and pure souls perished,
All returned home with a faint smile.
The oath of devotion was fulfilled,
The sacred vow was honored,
Defending to the death for the homeland,
For the sake of honor.
There, inside the tent,
The beautiful maiden was still adorning herself,
Her body draped in a golden-patterned jarik,
Its golden hue ablaze.
She wore a white kebaya,
Placing her sigar on her elegant hairbun,
A sign she was a king’s daughter.
Alas, she knew nothing,
Only that she came to meet A valiant knight,
To sit beside him forever on the throne,
Weaving beautiful dreams together.
Ah, a classic tale of humanity,
Pierced by love’s arrow.
Deep in her heart, she held a portrait,
The face of her Arjuna,
A Maharaja who had promised to fetch her upon her arrival,
To bring her to a sacred altar,
To bind an eternal vow.
But alas, the one she awaited had not come.
Instead, an envoy arrived, inviting war.
The beautiful princess became a point of contention,
To be handed over as tribute for a conquered land.
Instantly, all refused.
Her father, the king, rebelled:
“My daughter is not merchandise,
My daughter is a symbol of honor.
We’d rather be buried in the earth,
I will never surrender my daughter.”
The fiery resolve blazed,
Igniting every soul present,
Razing everything to the ground,
Leaving nothing behind.
Even the envoy was wounded.
When she stepped out of the tent,
All lay fallen, drenched in blood.
Cries and wails filled the air,
Calling the name of her royal father.
Without delay, She drew her weapon,
A kujang hidden in her hairbun
Since she left Patih Bhunisora.
She plunged it into her chest,
Blood reddening her kebaya’s hue.
She no longer remembered,
Pain no longer clung to her.
Her only hope was to meet her beloved,
Before closing her eyes,
To ask about his heart— Was his love true, or merely a tactic?
When death was but a breath away,
The man arrived,
Embracing her tightly,
Holding her to his chest.
His dodot soaked,
His wijaya kusuma wilted.
Faintly, she still heard
The anguished whisper of his heart,
How deeply he loved her,
Truly, not a mere tactic.
He, too, knew nothing.
Now, no doubt lingered in her heart,
She believed his love was eternal and true.
Through the ages,
It would never die,
Even if she was gone.
A sweet smile bloomed,
In his embrace, she departed,
Leaving a heartbroken lover,
Waiting through millions of years,
In Bubat, he found his true love.
(Karadenan, November 2, 2017)
#bubat #majapahit #galuhpakuan #sunda #jawa #puisi #dyahpitaloka #hayamwuruk #bunisora #mahapatih #gajahmada #nenenghendriyani