Oleh Neneng Hendriyani
Awalnya seperti mimpi aku bisa ke tempat ini. Yah… Belitung tidak pernah menjadi tujuan wisata bagi perjalanan karya-karyaku. Meskipun Belitung terkenal dengan pantainya yang indah dan tanah kelahirannya beberapa tokoh nasional, seperti Yusril Ihza Mahendra, Andrea Hirata, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dan Putri Indonesia 2019 entah mengapa aku kok tidak menjadikannya sebagai destinasi wisata utama tahun ini. Berbeda sekali dengan Tegal, Kudus dan Bali yang memang sudah masuk ke agenda utama kota yang wajib dikunjungi di tahun 2019. Meskipun demikian aku tak menyesal menjejakkan kaki ke negeri Andrea Hirata ini.
Dengan hanya bermodal 3,1 juta aku bisa berkunjung ke sini selama 3 hari 2 malam. Sangat mahal sebenarnya bila dibandingkan biaya yang dikeluarkan ke Singapura. He-he-he.
Hari pertama
Bersama rombongan SMA N 4 Cibinong aku berangkat menuju bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada hari Sabtu, 23 Februari 2019. Tanpa sempat sarapan di rumah lantaran bangun tidurnya kesiangan, aku naik bus wisata yang sudah menunggu di depan Masjid At Taubah SMA N 4 Cibinong tepat pukul 06.00 WIB. Mengapa harus sepagi itu berangkatnya? Wkwkk itu karena sebelumnya ada pengumuman barangsiapa telat datang maka akan ditinggal oleh rombongan dan disiapkan menyusul langsung ke bandara. Nah, daripada harus nyusul sendirian, ongkos sendiri pula lebih baik datang tepat waktu, kan. Betul, nggak?

Gambar bus wisata yang dipakai rombongan

Gambar sebagian teman-teman di SMA N 4 Cibinong
Aku berangkat bersama-sama dengan menggunakan 2 buah bus wisata. Bus pertama diisi oleh ibu-ibu guru semua. Bus kedua diisi oleh bapak-bapak guru semua. Kok dipisah ya? Aslinya nggak ada ketentuan bahwa bus pertama harus diisi oleh perempuan dan bus kedua oleh laki-laki, loh. Ini murni kesepakatan alamiah aja yang terjadi begitu saja.
Sepanjang perjalanan kami tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja tingkah laku dan guyonan teman-teman yang membuatku tertawa. Setiap kali ada yang bernyanyi serentak yang lain berjoged ria. Sungguh ini hal baru yang baru kutemui. Di tempat sebelumnya bila ada perjalanan wisata sekalipun ada yang bernyanyi tidak ada yang berani maju ke depan bersama-sama untuk berjoged. Inilah budaya baru.
Setibanya di bandara, langit memang sudah tidak cerah. Agak mendung. Maka tidak kaget saat mendengar pengumuman bahwa pesawat Sriwijaya yang akan ditumpangi kena delay di bandara Adisucipto, Yogyakarta.
Setelah menunggu hampir sejam barulah aku bisa terbang. Asli pengalaman terbang bersama burung besi yang satu ini membuat jantung dan bibirku tak pernah berhenti bergerak. Pesawat sempat mengalami beberapa kali turbulensi. Menabrak awan, berada di kepungan awan gelap disertai suara guruh dan goncangan pesawat adalah pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Saking takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan, aku sampai merekam suasana saat itu. Beruntung, Allah Maha Pelindung telah menyelamatkan kami semua. Dengan lutut yang gemetaran kami bisa turun dari pesawat dengan perasaan yang cukup tenang.

Gambar Sayap pesawat sebelah kiri
Di bawah kaki burung besi itu aku dan teman-teman disambut hujan deras. Salut untuk semua crew yang bertugas di sore itu. Mereka dengan sigap membagikan payung satu demi satu kepada setiap penumpang yang baru saja turun. Sesi foto-foto yang biasa mewarnai aktivitas turun dari pesawat urung dilakukan oleh semua penumpang. Semua seolah sepakat untuk mengambil foto kenang-kenangan saat tiba di ruang tunggu.

Gambar Bandara H.A.S. Hanandjoeddin
Bandara H.A.S. Hanandjoeddin adalah bandara kecil tempat kami pertama kali menjejakkan langkah-langkah kami. Bila ku bandingkan dengan bandara Sultan Thaha, Jambi, jelas bandara H.A.S. Hanandjoeddin ini termasuk bandara kecil. Ya, wajar sih. Bandara ini hanya melayani penerbangan domestik saja.
Agak sedikit kecewa juga sebenarnya dengan rundown acara di hari pertama ini. Seharusnya kami tidak memilih bandara ini bila ingin langsung ke Laskar Pelangi. Bukan apa-apa, jarak yang harus kami tempuh menggunakan bus wisata dari bandara ini ke SD Replika Laskar Pelangi itu jauh sekali. Butuh 2 jam perjalanan lagi. Dan karena kami mendarat pukul 4 sore, maka kemungkinan tiba di sana sudah magrib. Maka tour leader memutuskan untuk membatalkan agenda kunjungan ke sana.

Gambar aku di salah satu spot bandara
Jadi, bagi kawan-kawan yang ingin mengunjungi SD tempat Andrea Hirata bersekolah dulu, baiknya memilih bandara Manggar bukan H.A.S Hanandjoeddin. Dengan begitu kawan-kawan bisa langsung menuju ke lokasi tersebut dengan cepat dan mudah. Oh ya untuk tempat menginapnya, teman-teman bisa memilih hotel Orins yang terletak di Manggar juga.
Namun, bila sudah telanjur mengikuti rute Jakarta-Belitung via H.A.S Hanandjoeddin, kawan-kawan tak perlu kecewa. Tinggal lobi saja tour leadernya untuk langsung mengantarkan ke Danau Kaolin. Lokasi Danau Kaolin dekat sekali loh dari bandara. Hanya sekitar 5 menit saja. Jadi lebih praktis dan tidak membuang banyak waktu. Dengan begitu kawan-kawan bisa langsung melakukan tour pulau di hari kedua.
Nah, karena aku dan rombongan baru pertama kali ke Belitung apa boleh buat di hari pertama itu kami kehilangan kesempatan untuk mengunjungi Danau Kaolin dan SD Replika Laskar Pelangi. Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah restoran pribumi yang menyuguhkan makanan khas Belitung. Yaitu, Mie Belitung. Namanya juga mie, so pasti bahan utamanya adalah mie. Yang membuatnya tampil beda adalah cara penyajiannya. Di setiap piring yang digunakan sebagai wadah Mie Belitung ini, terdapat selembar daun seukuran telapak tangan orang dewasa. Penduduk pribumi menyebutnya daun Simpor. Kalau di Jawa, bentuknya mirip daun Jati. Mie dan kawan-kawannya seperti potongan tahu, potongan ketimun, beberapa lembar emping yang disusun sedemikian rupa di atas mienya. Kuahnya kental dan sedikit lengket dengan aroma kepiting yang menguar tajam. Rasanya wow banget. Buat yang menyukai sea food, ini adalah makanan pembuka yang aduhai mengundang selera. Buat yang suka pedas, tinggal tambahi sambal khas yang sudah disiapkan pramusajinya. Makanan ini didampingi oleh segelas minuman yang sangat segar dan tidak kalah maknyusnya. Yaitu, sirup jeruk kunci. Minuman ini bisa dinikmati panas maupun dingin.

Gambar Mie Belitung

Gambar Sirup Jeruk Kunci

Gambar Secangkir Kopi Belitung
Oh ya di restoran Wan Bie ini aku pun sempat menikmati secangkir kopi hitam khas Belitung. Wow, rasanya enak loh. Sayangnya, kurang panas airnya. Harganya pun murah meriah. Cuma Rp. 10.000,- per cangkir. Buat yang enggak suka dengan rasa pahitnya, bisa menambahkan sedikit susu kental manis dan gula pasir. Dijamin deh rasa kantuk selama menunggu pesawat delay langsung hilang. Cuma jangan kaget ya, malamnya pasti enggak bisa tidur cepat.
Ups selain makanan dan minunan khas Belitung, di sini juga tersedia fasilitas untuk karokean dan foto-foto. Banyak spot foto yang menarik dan instagrammable loh.

Gambar Aku di salah satu spot di Wan Bie Restaurant

Gambar Aku di salah satu spot di Wan Bie Restaurant
Sebelum cek in di Hotel Golden Tulip Essential Belitung, aku sempat mampir ke toko oleh-oleh yang juga menyediakan alat-alat dan segala perlengkapan untuk snorkeling. Ups, jangan kaget ya melihat daftar harga semua barang di sana. Mehong, bo.
Sepasang sandal jepit dibandrol sebesar Rp. 35.000. Ini adalah harga termurahnya loh. Desainnya biasa aja. Sepasang kaca mata termurahnya itu 50 ribu. Nah, di toko oleh-oleh yang aku lupa nama dan lupa ambil gambarnya ini kalian bisa memilih berbagai model kaca mata yang unik dan elegan. Dijamin bisa mengubah penampilan hingga mendekati Princess Syahrini. Hehehehe. Buat yang lupa membawa topi pantai, jangan khawatir apa lagi ngegalau ya. Di sini banyak sekali topi pantai yang cantik-cantik dengan berbagai warna dan model yang menawan. Tinggal lihat, pilih dan jangan lupa bayar yaaa. Wkwkkw. Harganya rata-rata 158 ribuan loh. So, buat yang bawa uang terbatas lebih baik jangan membeli di toko ini ya. Kamu harus sedikit bersabar.
Tidak jauh dari sini, sekitar 15 menitan dari toko ini kamu bisa menemukan berbagai topi pantai yang tidak kalah cantiknya dengan harga yang terjangkau. Yaitu, 27 ribuan. Toko yang menjualnya terletak di sebelah kiri jalan menuju hotel Golden Tulip. Di toko ini kamu juga bisa membeli perlengkapan mandi, obat-obatan dan ice cream.
Berhubung mendaratnya sudah sore, maka sepanjang perjalanan yang bisa dilihat adalah sederetan toko yang sudah siap tutup. Di Belitung jangan berharap bisa menemukan Alfamart, Indomaret, Ramayana dll yang buka hingga pukul 10 malam. Di sana paling malam mereka tutup toko rata-rata pukul 9 malam.
Tidak ada yang banyak diceritakan tentang hotel tempat ku menginap selama 2 malam. Layaknya hotel bintang tiga, hotel ini pun dilengkapi beberapa fasilitas, seperti kamar mandi yang dilengkapi toilet duduk, air panas dan dingin, televisi, pemanas air, wifi gratis, antar jemput bandara gratis, bar dan restoran.
(Bersambung)