Untuk Sang Muadzin

Oleh: Neneng Hendriyani

Tanah yang berderak
Bergetar kian hebat
Tak meruntuhkan niatmu
Tak mampu menghentikan tugasmu

Salut aku!

Subhanallah
Inilah yang kau minta
Kembali kepada Nya dengan penuh kebaikan
Kembali dalam nama Nya dengan penuh pengabdian
Kembali sebagai jiwa yang tenang
Meski kau tertinggal sendirian
Meski kau harus kehilangan

Tiada yang sia-sia
Semua sudah ada waktunya
Pasrah
Yakinlah
Ia yang kau panggil mendengarmu
Ia yang kau puja menyayangimu
Ia ingin jumpa dengan mu
Di sana di firdausNya
Kau menjadi tamu
Abadi
Dalam nama-Nya

(Bogor, 01 Oktober 2018)
—

NB: Puisi ini telah dimuat di harian POS BALI tanggal 26 Januari 2019.

SEPUCUK SURAT UNTUK ANTHONIUS

Sepucuk Surat untuk Anthonius
Oleh: Neneng Hendriyani

Tabe Kawan
Terima kasih,
Untuk ijin yang kau beri,
Langkah-langkah yang kau pandu
Di hari naas itu
28 September 2018
Kala jingga hampir sempurna di ufuk barat

Tabe Kawan,
Terima kasih
Selamat kami hingga tujuan
Bahagia kami berjumpa handai taulan
Meski hati dan jantungku tercerabut pilu
Di tengah lautan kulihat gelombang amat menakutkan
Menerjang kotamu
Meluluhlantakkan tempatmu berdiri

Maafkan aku kawan,
Tak ada yang bisa ku sampaikan
‘tuk sekadar memberi penghiburan
Air mataku tak henti mengalir
Sesak dadaku mengingatmu
Sungguh, maafkan aku merepotkanmu

Biarlah ku simpan kau dalam doa
Kala melati dan kemboja bermekaran
(Bogor, 01 Oktober 2018)

—
nb: Puisiku ini sudah dimuat di harian POS BALI, Halaman 10 pada hari Sabtu Umanis, 26 januari 2019.