Cinta

Oleh: Neneng Hendriyani

Cinta, tenggelam aku dalam samudera
Kejar mimpi ke perut bumi
Dalam remang persinggahan kecup mesra ikan-ikan
Berdansa bersama rerumputan jauh di bawah
Bayang-bayang terang menanti
Kau pulang

Cinta, di bawah peraknya rembulan
Duduk aku di batu karang
Menatap puluhan perahu layar
Berharap bisa melihatmu datang
Meski tahu itu cuma khayalan

Cinta, jutaan sudah gelombang pecah berlari
Cumbui pantai berkali-kali
Tiduri pasir tak terhitung jari
Aku tetap di sini setia hingga mati

(Bogor, 2019)

Hari kedua di Belitung

Oleh: Neneng Hendriyani

Perjalanan pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2019 lalu di mulai dengan cerita menarik tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Belitung. Senangnya hatiku mendapati tour guide yang dipakai rombongan bus 2 ini sangat hapal dan tahu banyak tentang Belitung. Cara penyampaiannya juga menarik. Jadi semua yang berada di dalam bus tidak merasa digurui. Caranya bercerita begitu apik, lancar dan tersusun rapi dengan penggunaan bahasa Indonesia yang sudah sama dengan orang-orang daerah yang sudah lama hijrah ke Jakarta. Tak terdengar lagi aksen dan logat Melayunya. Padahal ia asli Melayu.

Hal pertama yang ia sampaikan adalah tentang adat istiadat yang berlaku di daerah Belitung. Di sini semua orang masih memegang adat dan budaya lama. Masih banyak yang percaya bahwa segala sesuatu yang baik bagi kehidupan mereka itu bisa diperoleh dari hasil hitung menghitung menggunakan ilmu Falak. Jadi tidak heran bila semua upacara adat yang berkenaan dengan pendirian rumah, pernikahan, dan selamatan selalu dihitung sebelumnya. Ini ditujukan untuk mendapatkan keselamatan, keberkahan dan perlindungan Allah.
Selain masih mempercayai hal tersebut, para penduduk Belitung juga masih percaya kepada kemampuan dukun bila mereka sakit. Tak sedikit orang Belitung yang memilih berobat ke dukun bila sakit. Mereka kurang percaya kepada tenaga kesehatan seperti dokter.

Hal yang menarik berikutnya adalah perihal kejujuran yang dimiliki oleh semua orang Belitung. Siapa pun yang memiliki kendaraan bermotor bisa memarkir kendaraannya dengan kunci kontak masih menggantung di kendaraannya dengan rasa aman. Tanpa rasa was-was takut hilang atau dicuri. Mereka semua sangat menghormati milik orang lain dan tidak suka mencuri. Meskipun demikian bukan berarti lantas pihak kepolisian bisa bekerja santai ya di wilayah pulau ini. Aku menemukan ada beberapa kantor kepolisian dan juga asrama tentara yang dibangun di sepanjang jalan yang kulalui.

Menurut tour guide kami, bila ada kasus pencurian biasanya polisi bekerja sama dengan dukun setempat. Dengan begitu hampir bisa dipastikan para pelaku kejahatan yang nekad berbuat jahat dan mengganggu keamanan di Belitung mudah ditangkap dan diamankan.
Selain tentang kejujuran, aku juga mencatat hal lain yang tak kalah menariknya dari penjelasan tour guide kami yang bernama Bang Yono.

Sepanjang jalan dari bandara di hari pertama aku berkunjung aku sudah melihat ikon kita Belitung yang berbeda dengan kota-kota lainnya di pulau Sumatera. Sebuah batu berukuran besar berwarna hitam diletakkan di tengah-tengah air mancur mudah sekali ditemukan oleh semua wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Bukan apa-apa. Batu ini terletak di pusat kota. Jadi siapa pun pasti melewatinya bila ingin pergi ke pusat kota. Batu besar berwarna hitam ini dipercaya sebagai batu meteorit yang pernah jatuh di wilayah Belitung beberapa puluh tahun yang lalu. Bang Yono sendiri tidak tahu persis kapan tepatnya batu yang dikenal dengan nama “SATAM” itu jatuh di Belitung. Yang pasti, semua orang Belitung selalu tak kehabisan kata-kata bila hendak menceritakan kisahnya.

Batu Satam ini lalu dijadikan barang cinderamata oleh beberapa pengrajin batu. Aku melihat hampir di setiap tempat dan pukau yang kukunjungi selalu kutemui penjual perhiasan yang menggunakan batu Satam sebagai aksesorisnya. Oh ya, kalau kalian tertarik membeli batu Satam ini kalian harus menyiapkan uang yang cukup banyak ya. Agak repot soalnya bila hanya mengandalkan kartu ATM di dompet. ATM hanya ada di beberapa tempat saja. Itu pun di pusat kota dan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Harga sebuah cincin berbatu Satam itu bervariasi. Untuk perempuan biasanya dipatok di harga Rp. 100.000 – Rp.300.000. Sementara untuk laki-laki lebih mahal. Untuk gelang berbatu Satam ukuran kecil-kecil dijual dengan harga Rp. 250.000 – Rp.800.000. Umumnya para pedagang perhiasan ini tidak melayani tawar menawar harga. Semua fixed Price. Jadi jangan harap ya bila dinego ala-ala Pasar Anyar atau Blok M lantas kalian berhasil membawa pulang perhiasan yang kalian incar tadi. Mereka lebih memilih diam dan tidak menjualnya sama sekali bila pembeli tidak mau membeli dengan harga yang telah diajukannya. Aneh, ya. Itulah keunikan pedagang di Belitung.

Nah, buat kalian yang menyukai pernak pernik unik khas Belitung yang mengandung batu Satam, baiknya membeli di sekitar pantai Tanjung Tinggi dan sepanjang warung yang berdiri di sekitar jalan masuk Replika SD Laskar Pelangi. Di kedua tempat ini barang-barang seperti itu dijual dengan harga murah. Lebih murah dari tempat lain. Rerata harganya masih bisa dijangkau orang kebanyakan. Yaitu, Rp. 100.000 – Rp. 300.000 per cincin atau per kalung.
Kok mahal, ya? Itulah yang pertama kali aku tanyakan saat mendengar harganya. Usut punya usut ternyata batu tersebut memang sangat berharga. Setidaknya ia adalah ciri khas pulau tersebut. Tidak ada batu sejenis itu ditemukan di tempat lain di Indonesia. Batu meteorit itu apabila diletakkan secara berdekatan akan saling tolak menolak. Mirip sekali dengan prinsip kerja magnet. Bila ia ditaruh di atas sebuah bidang datar dan dibawahnya dipanasi maka ia akan berputar perlahan-lahan. Bila batu Satam yang kalian beli tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut berarti batu Satam kalian palsu.
Selain batu Satam, Belitung juga punya keunikan dan ciri khas lainnya. Apalagi kalau bukan binatang. Binatang khas yang menghuni sebagian besar wilayah hutan Belitung adalah sebangsa monyet yang dikenal dengan nama Tesaurus. Tidak ada babi hutan, harimau, singa, kelinci, gajah dan binatang hutan lainnya di sini. Jadi sangat aman bagi kita semua bila berjalan kaki di sepanjang jalan yang dilalui oleh kendaraan bermotor yang berada di tengah-tengah hutan yang kira lalui. Satu-satunya binatang yang perlu diwaspadai adalah buaya. Eit, bukan buaya sembarang buaya loh ya. Juga bukan pula buaya darat.

Di Belitung ini buaya adalah hewan yang umum ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Belitung. Rawa, sungai, Setu atau danau adalah rumah bagi para buaya Belitung. Oleh sebab itu disarankan agar berhati-hati bila berkesempatan menyusuri rawa-rawa dan sungai di Belitung. Bila terpaksa bertemu, jangan langsung ambil langkah seribu. Biasanya buaya tidak akan menyerang manusia lebih dahulu. Andaikan ada manusia yang diserang dan dimakan buaya, menurut Bang Yono, manusia tersebut masih bisa diselamatkan. Catatan jeda dari masa penangkapan hingga penyelamatan tidak lebih dari 24 jam. Biasanya yang diberikan tugas penyelamatan adalah pawang buaya yang merupakan penduduk asli Belitung.

(Bersambung)

Durian Untuk Ani

Oleh Neneng Hendriyani

Wanginya begitu menusuk hidung. Bapak tak bisa berkata apa-apa saat terpaksa membawanya pulang ke rumah. Jangankan memakannya, menciumnya saja sudah membuatnya begitu menderita. Pusing tujuh keliling, katanya. Untuk meredam rasa mual yang terus menyodok ulu hatinya ia mengulum sebuah permen. Ia tak bisa menolak keinginan anak sulungnya saat meminta dibelikan buah keparat tersebut. Ingin rasanya ia menolak saat itu juga. Tapi rasa kasih sayangnya membuatnya tetap menenteng buah tersebut dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya sibuk memencet hidungnya yang tidak bangir.

Setibanya di rumah si sulung menyambutnya dengan tertawa lebar. Sesekali ia berjingkrak-jingkrak kegirangan demi dilihatnya Bapak datang dengan buah tangan yang lama diidam-idamkannya.

“Asyik, Bapak bawa durian.” Teriaknya berkali-kali.

Emak langsung berlari ke teras dan membelalakkan matanya.

“Bapak…”, mulutnya segera ditutupinya dengan telapak tangan tangan saat matanya melihat kedipan Bapak.

“Ini buat kamu,” kata Bapak dengan senyum yang mengembang.

Ada kebanggaan yang jelas tergambar di senyumnya yang tipis sore itu. Emak bisa menangkapnya meskipun hanya selintas.
Ani memeluknya erat. Diciuminya kening Bapak berkali-kali. Setelah itu ia berlari ke dalam rumah dengan membawa buah yang sudah berhasil membuat Bapak keleyengan sepanjang jalan.

Sudah lama sekali ia menginginkan buah tersebut. Tepatnya sejak musim durian tahun lalu. Saat itu seluruh temannya di sekolah bercerita tentang pesta durian yang digelar di salah satu rumah temannya. Ani tidak diperbolehkan Bapak ikut serta menghadiri acara tersebut. Bapak memang tidak suka melihatnya bergaul terlalu rapat dengan teman-teman sekelasnya yang borju. Bapak takut Ani kebawa-bawa gaya mereka. Bapak khawatir Ani menjadi anak yang boros seperti mereka. Maklumlah gaji bapak sebagai pekerja harian lepas di sebuah catering tidak besar. Hanya cukup untuk makan satu hari saja. Itu pun dengan lauk seadanya. Itu sebabnya Bapak sangat berusaha agar anak sulungnya tersebut tidak meniru gaya hidup teman-temannya yang memang berasal dari keluarga kaya raya.

Kini dengan terpaksa Bapak memenuhi keinginan Ani dengan membawa sebuah durian sepulangnya bekerja. Sejujurnya bapak keberatan membelinya. Harganya cukup mahal. Lebih dari separuh gaji harian Bapak terkuras untuk membelinya. Namun membatalkan janjinya kepada si sulung pun rasanya tidak mudah. Bapak pernah berjanji akan memenuhi keinginan Ani bila ia berhasil meraih peringkat terbaik di kelasnya. Kemarin ia menerima ucapan selamat dari wali kelasnya saat mengambil raportnya. Itulah sebabnya hari ini Bapak berusaha memenuhinya janjinya, membeli sebuah durian untuk anak tersayangnya yang telah berhasil membuatnya bangga.

“Pak, ini untuk Bapak”, Ani memberikan sebutir biji durian saat Bapak sudah duduk di kursi makannya.

“Makanlah buatmu, An. Bapak masih kenyang”, tolaknya halus.

Ani tidak menyerah. Dibujuknya Bapak berkali-kali. Ini kali diperlihatkannya betapa ia begitu menikmati manis dan legitnya daging buah tersebut dengan menjilati jari jemarinya yang belepotan daging buah durian.

“Makanlah, Nak. Bapak tidak doyan.” Akhirnya Bapak terpaksa berbohong.

Sebenarnya semasa muda dulu Bapak sangat menyukai buah ini. Namun kolesterol dan segudang penyakit lainnya membuatnya harus bertahan dari serangan bau yang begitu menggodanya. Ia hanya mampu menelan air liurnya sendiri menyaksikan Ani memakan durian di hadapannya.

Emak hanya bisa menatap Ani dan Bapak dari jauh. Sejak dulu Emak memang tidak menyukai durian. Jangankan memakannya, menciumnya saja sudah membuatnya muntah-muntah.

Ah, Ani. Andaikan bukan karena janji Bapak kepadamu tempo hari, mungkin emak sudah memasak opor ayam sore ini. Adik-adik mu bisa makan enak nanti malam. Bisik hati emak lirih.

(Bogor, 1 Maret 2019)