Sepotong Kisah di Pantai Tanjung Tinggi

Oleh: Neneng Hendriyani

Sebelum memulai perjalanan di hari kedua dan sebelum masuk hotel aku makan di restoran Tempo Duluk. Beberapa jam sebelumnya aku menyempatkan diri menikmati keindahan alam di lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Lokasinya terletak di antara Tanjung Kelayang dan Tanjung Pendam. Nama Tanjung Tinggi sendiri diambil dari kata Semenanjung yang pantainya memiliki batu-batu tinggi. Aku telah membuktikan bahwa namanya memang benar dan sesuai sekali dengan keadaan alamnya. Sejauh mata memandang aku tidak menemukan bebatuan yang kecil dan rendah. Semua batunya berukuran besar dan tinggi-tinggi.

Tanjung Tinggi mudah dicapai dari kota Tanjung Pandan. Luas pantai Tanjung Tinggi menurut beberapa sumber adalah 80 hektar. Wow, luas sekali ya.

Awal tiba di lokasi pantai ini aku langsung berpose di depan papan pengumuman yang menyatakan bahwa pantai ini adalah lokasi syuting film fenomenal yang mengangkat nama Belitung tak hanya di kancah nasional namun juga internasional. Puas membaca dan mengambil gambar disini, aku pun mencari spot yang jarang dan tidak digunakan para pengunjung lainnya untuk berswafoto. Pilihan pertama jatuh kepada dua batu besar yang saling mengapit satu sama lain sehingga membentuk sebuah celah yang hanya muat dimasuki oleh dua orang dewasa. Batunya sudah berlumut. Jadi harus ekstra hati-hati bila ingin mengambil foto di sini. Pilihan selanjutnya adalah naik ke beberapa Bua batu yang di puncaknya ditumbuhi pepohonan. Tingginya lumayan loh. Sekitar dua sampai lima meter dari permukaan tanah. Entah mengapa aku merasa begitu excited sekali menaiki dan mengambil foto di sana.

Ada aura yang berbeda yang kurasakan dari semua tempat yang dipilih para pengunjung. Yang pasti apapun dan dimana pun hendak mengambil foto, kita semua harus ingat bahwa ada adat istiadat yang tetap harus dijaga. Sekalipun tak kasat mata, banyak sekali makhluk astral yang melihat dan mengawasi kita. Jangan sampai kita mengganggu mereka. Oleh sebab itu tetap menjaga kesopanan dan adab kita adalah salah satu cara terbaik yang bisa menjaga keselamatan dan kesehatan kita sendiri.

Buat yang baru pertama kali mengunjungi pantai Tanjung Tinggi ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelumnya agar kunjungan Anda lebih berkesan. Pertama, bawa kamera yang mendukung semua aktivitas Anda. Bila tidak memiliki kamera profesional yang biasa dipakai para fotografer profesional, setidaknya bawa smartphone yang sudah didukung oleh dual kamera Dengan resolusi yang cukup tinggi. Dengan begitu aktivitas potret memotret menjadi lebih mengasyikkan dan menyenangkan. Hasilnya pun memuaskan. Bila datang pada siang hari, jangan lupa membawa sepasang kacamata hitam dan topi pantai yang lebar. Jangan sesekali memakai topi yang hanya menutupi sebagian dari kepala Anda. Itu sangat tidak disarankan. Tambahan pula, baiknya menggunakan sunblock secukupnya untuk melindungi paparan sinar matahari terhadap kulit wajah dan tubuh yang terbuka. Selanjutnya, gunakan saja sendal santai daripada sepatu. Dengan begitu langkah kakimu akan semakin ringan dan kedua kaki juga tidak mudah lelah. Terakhir, bawalah persediaan minum secukupnya. Udara yang panas seringkali membuat kita semua mudah berkeringat dan merasa haus. Hati-hati jangan sampai kekurangan cairan.

Selepas memanjakan mata melihat keindahan matahari terbenam di sela-sela bebatuan pantai Tanjung Tinggi dan membiarkan kedua kakiku telanjang menyentuh pasir-pasir pantai yang putih, bersih dan lembut aku segera naik ke bus lagi. Perjalanan belum usai namun perut sudah teriak minta diisi.

Jadilah selepas 30 menit dari lokasi pantai Tanjung Tinggi, aku makan malam di sebuah restoran yang memiliki interior design yang unik. Namanya adalah Restoran Tempo Duluk. Ingatnya, penulisannya memang pakai kata “Duluk” bukan “dulu” walaupun dibacanya tetap “dulu”.

Di restoran ini aku melihat sebuah Mercedez Benz keluaran tahun 70an, Vespa tua dari tahun 70an juga beberapa foto lawas yang menceritakan secara detail tentang sejarah dan peristiwa yang pernah terjadi di Belitung.

Ada aturan yang agak unik berlaku di restoran ini. Yaitu, setiap meja sudah diisi oleh 6 piring seng, 6 gelas, 6 mangkok kecil dan sebuah teko berisi air teh tawar. Tak lama setelah seluruh meja terisi penuh pramusaji segera mengantarkan makanannya yang ditutupi tudung saji yang berukuran besar. Sebelumnya mereka mengantarkan sebuah kastrol kecil yang berisi nasi putih untuk masing-masing meja. Makanan yang ditutupi tudung saji tersebut adalah sepiring ayam goreng, sepiring perkedel ikan, semangkok besar sayur asam ala Belitung, dan sambal. Sayur asam ala Belitung ini memang berasa asam tapi segar. Isinya adalah potongan ubi, daun ubi jalar, potongan wortel dengan aroma ikan laut yang cukup menyengat. Rasanya lumayan enak. Meskipun aku bukan pecinta kuliner setidaknya menurut makan malam di restoran ini cukup enak dan tidak mengecewakan.

Selepas makan, aku keliling area restoran. Meskipun restoran ini tidak semewah restoran di ibukota Jakarta namun suasana dan penataan barang-barangnya oke punya loh. Ada kios khusus yang menjual berbagai macam suvenir khas Belitung. Selain itu ada juga spot foto yang unik dan oke. Aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto di restoran ini.

Saat yang lain asyik menikmati alunan lagu dan berkaraoke ria, aku memilih menikmati suasana malam yang berbeda dari biasanya. Bintang-bintang begitu jelas terlihat bergantungan di langit. Aku sedikit tak percaya setelah selama perjalanan sebelumnya diguyur hujan, di sini justeru langit begitu cerah. Tak ada setetes pun air hujan yang turun.

Setelah makan malam barulah bus melaju menuju hotel.

Kelelahan selama perjalanan pada hari pertama tak ayal membuatku kesulitan tidur. Meskipun tiba di hotel sekitar pukul 10 malam tetap saja rasa kantuk enggan menyapa. Entah karena minum secangkir kopi Belitung sebelumnya atau adaptasi terhadap lingkungan baru. Aku tak tahu pasti. Yang jelas aku baru bisa tidur setelah tour leader mengetuk pintu kamar tepat pukul 12 malam. Walaupun rasanya baru saja tidur, aku tetap bangun tepat saat muadzin mengajak semuanya shalat Subuh.

Hari kedua

Sebelum pukul 6.30 aku telah menikmati sarapan pagi di restoran hotel. Menunya lumayan oke kah meskipun agak gimana gitu. Wkwkk. Maklum lah lidah kampung.
Sepiring nasi goreng, kacang merah dengan saos Padang, acar, capcay dan ikan kering yang aku enggak tahu apa namanya mengisi perutku yang keroncongan. Minumannya cukup infused water saja. Segaar.

Setelah sarapan dan mengambil foto di lobi hotel aku naik bus 2 bersama rombongan kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, dan guru-guru lama.
So, mari berpetualang di hari kedua ini.
Asyiknya di bus 2 ini adalah supir, kenek, dan tour leadernya asli Belitung. Jadi selain bisa menikmati indahnya perjalanan, aku juga bisa menambah wawasan tentang pulau kecil ini.
Belitung menurut Bang Yono, sang tour leader, berasal dari kata “Bali Sepotong”. Hal ini dikarenakan dulunya banyak orang Bali yang tinggal di pulau ini. Selain itu bila dilihat dari udara maka terlihat jelas bahwa Belitung ini mirip pulau Bali yang dipotong. Benar tidaknya Wallahu alam.

Kenangan Manis di Negeri Laskar Pelangi

Oleh Neneng Hendriyani

Awalnya seperti mimpi aku bisa ke tempat ini. Yah… Belitung tidak pernah menjadi tujuan wisata bagi perjalanan karya-karyaku. Meskipun Belitung terkenal dengan pantainya yang indah dan tanah kelahirannya beberapa tokoh nasional, seperti Yusril Ihza Mahendra, Andrea Hirata, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dan Putri Indonesia 2019 entah mengapa aku kok tidak menjadikannya sebagai destinasi wisata utama tahun ini. Berbeda sekali dengan Tegal, Kudus dan Bali yang memang sudah masuk ke agenda utama kota yang wajib dikunjungi di tahun 2019. Meskipun demikian aku tak menyesal menjejakkan kaki ke negeri Andrea Hirata ini.

Dengan hanya bermodal 3,1 juta aku bisa berkunjung ke sini selama 3 hari 2 malam. Sangat mahal sebenarnya bila dibandingkan biaya yang dikeluarkan ke Singapura. He-he-he.

Hari pertama

Bersama rombongan SMA N 4 Cibinong aku berangkat menuju bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada hari Sabtu, 23 Februari 2019. Tanpa sempat sarapan di rumah lantaran bangun tidurnya kesiangan, aku naik bus wisata yang sudah menunggu di depan Masjid At Taubah SMA N 4 Cibinong tepat pukul 06.00 WIB. Mengapa harus sepagi itu berangkatnya? Wkwkk itu karena sebelumnya ada pengumuman barangsiapa telat datang maka akan ditinggal oleh rombongan dan disiapkan menyusul langsung ke bandara. Nah, daripada harus nyusul sendirian, ongkos sendiri pula lebih baik datang tepat waktu, kan. Betul, nggak?


Gambar bus wisata yang dipakai rombongan


Gambar sebagian teman-teman di SMA N 4 Cibinong

Aku berangkat bersama-sama dengan menggunakan 2 buah bus wisata. Bus pertama diisi oleh ibu-ibu guru semua. Bus kedua diisi oleh bapak-bapak guru semua. Kok dipisah ya? Aslinya nggak ada ketentuan bahwa bus pertama harus diisi oleh perempuan dan bus kedua oleh laki-laki, loh. Ini murni kesepakatan alamiah aja yang terjadi begitu saja.

Sepanjang perjalanan kami tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja tingkah laku dan guyonan teman-teman yang membuatku tertawa. Setiap kali ada yang bernyanyi serentak yang lain berjoged ria. Sungguh ini hal baru yang baru kutemui. Di tempat sebelumnya bila ada perjalanan wisata sekalipun ada yang bernyanyi tidak ada yang berani maju ke depan bersama-sama untuk berjoged. Inilah budaya baru.

Setibanya di bandara, langit memang sudah tidak cerah. Agak mendung. Maka tidak kaget saat mendengar pengumuman bahwa pesawat Sriwijaya yang akan ditumpangi kena delay di bandara Adisucipto, Yogyakarta.

Setelah menunggu hampir sejam barulah aku bisa terbang. Asli pengalaman terbang bersama burung besi yang satu ini membuat jantung dan bibirku tak pernah berhenti bergerak. Pesawat sempat mengalami beberapa kali turbulensi. Menabrak awan, berada di kepungan awan gelap disertai suara guruh dan goncangan pesawat adalah pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Saking takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan, aku sampai merekam suasana saat itu. Beruntung, Allah Maha Pelindung telah menyelamatkan kami semua. Dengan lutut yang gemetaran kami bisa turun dari pesawat dengan perasaan yang cukup tenang.


Gambar Sayap pesawat sebelah kiri

Di bawah kaki burung besi itu aku dan teman-teman disambut hujan deras. Salut untuk semua crew yang bertugas di sore itu. Mereka dengan sigap membagikan payung satu demi satu kepada setiap penumpang yang baru saja turun. Sesi foto-foto yang biasa mewarnai aktivitas turun dari pesawat urung dilakukan oleh semua penumpang. Semua seolah sepakat untuk mengambil foto kenang-kenangan saat tiba di ruang tunggu.


Gambar Bandara H.A.S. Hanandjoeddin

Bandara H.A.S. Hanandjoeddin adalah bandara kecil tempat kami pertama kali menjejakkan langkah-langkah kami. Bila ku bandingkan dengan bandara Sultan Thaha, Jambi, jelas bandara H.A.S. Hanandjoeddin ini termasuk bandara kecil. Ya, wajar sih. Bandara ini hanya melayani penerbangan domestik saja.
Agak sedikit kecewa juga sebenarnya dengan rundown acara di hari pertama ini. Seharusnya kami tidak memilih bandara ini bila ingin langsung ke Laskar Pelangi. Bukan apa-apa, jarak yang harus kami tempuh menggunakan bus wisata dari bandara ini ke SD Replika Laskar Pelangi itu jauh sekali. Butuh 2 jam perjalanan lagi. Dan karena kami mendarat pukul 4 sore, maka kemungkinan tiba di sana sudah magrib. Maka tour leader memutuskan untuk membatalkan agenda kunjungan ke sana.


Gambar aku di salah satu spot bandara

Jadi, bagi kawan-kawan yang ingin mengunjungi SD tempat Andrea Hirata bersekolah dulu, baiknya memilih bandara Manggar bukan H.A.S Hanandjoeddin. Dengan begitu kawan-kawan bisa langsung menuju ke lokasi tersebut dengan cepat dan mudah. Oh ya untuk tempat menginapnya, teman-teman bisa memilih hotel Orins yang terletak di Manggar juga.

Namun, bila sudah telanjur mengikuti rute Jakarta-Belitung via H.A.S Hanandjoeddin, kawan-kawan tak perlu kecewa. Tinggal lobi saja tour leadernya untuk langsung mengantarkan ke Danau Kaolin. Lokasi Danau Kaolin dekat sekali loh dari bandara. Hanya sekitar 5 menit saja. Jadi lebih praktis dan tidak membuang banyak waktu. Dengan begitu kawan-kawan bisa langsung melakukan tour pulau di hari kedua.

Nah, karena aku dan rombongan baru pertama kali ke Belitung apa boleh buat di hari pertama itu kami kehilangan kesempatan untuk mengunjungi Danau Kaolin dan SD Replika Laskar Pelangi. Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah restoran pribumi yang menyuguhkan makanan khas Belitung. Yaitu, Mie Belitung. Namanya juga mie, so pasti bahan utamanya adalah mie. Yang membuatnya tampil beda adalah cara penyajiannya. Di setiap piring yang digunakan sebagai wadah Mie Belitung ini, terdapat selembar daun seukuran telapak tangan orang dewasa. Penduduk pribumi menyebutnya daun Simpor. Kalau di Jawa, bentuknya mirip daun Jati. Mie dan kawan-kawannya seperti potongan tahu, potongan ketimun, beberapa lembar emping yang disusun sedemikian rupa di atas mienya. Kuahnya kental dan sedikit lengket dengan aroma kepiting yang menguar tajam. Rasanya wow banget. Buat yang menyukai sea food, ini adalah makanan pembuka yang aduhai mengundang selera. Buat yang suka pedas, tinggal tambahi sambal khas yang sudah disiapkan pramusajinya. Makanan ini didampingi oleh segelas minuman yang sangat segar dan tidak kalah maknyusnya. Yaitu, sirup jeruk kunci. Minuman ini bisa dinikmati panas maupun dingin.


Gambar Mie Belitung


Gambar Sirup Jeruk Kunci


Gambar Secangkir Kopi Belitung

Oh ya di restoran Wan Bie ini aku pun sempat menikmati secangkir kopi hitam khas Belitung. Wow, rasanya enak loh. Sayangnya, kurang panas airnya. Harganya pun murah meriah. Cuma Rp. 10.000,- per cangkir. Buat yang enggak suka dengan rasa pahitnya, bisa menambahkan sedikit susu kental manis dan gula pasir. Dijamin deh rasa kantuk selama menunggu pesawat delay langsung hilang. Cuma jangan kaget ya, malamnya pasti enggak bisa tidur cepat.

Ups selain makanan dan minunan khas Belitung, di sini juga tersedia fasilitas untuk karokean dan foto-foto. Banyak spot foto yang menarik dan instagrammable loh.


Gambar Aku di salah satu spot di Wan Bie Restaurant


Gambar Aku di salah satu spot di Wan Bie Restaurant

Sebelum cek in di Hotel Golden Tulip Essential Belitung, aku sempat mampir ke toko oleh-oleh yang juga menyediakan alat-alat dan segala perlengkapan untuk snorkeling. Ups, jangan kaget ya melihat daftar harga semua barang di sana. Mehong, bo.

Sepasang sandal jepit dibandrol sebesar Rp. 35.000. Ini adalah harga termurahnya loh. Desainnya biasa aja. Sepasang kaca mata termurahnya itu 50 ribu. Nah, di toko oleh-oleh yang aku lupa nama dan lupa ambil gambarnya ini kalian bisa memilih berbagai model kaca mata yang unik dan elegan. Dijamin bisa mengubah penampilan hingga mendekati Princess Syahrini. Hehehehe. Buat yang lupa membawa topi pantai, jangan khawatir apa lagi ngegalau ya. Di sini banyak sekali topi pantai yang cantik-cantik dengan berbagai warna dan model yang menawan. Tinggal lihat, pilih dan jangan lupa bayar yaaa. Wkwkkw. Harganya rata-rata 158 ribuan loh. So, buat yang bawa uang terbatas lebih baik jangan membeli di toko ini ya. Kamu harus sedikit bersabar.

Tidak jauh dari sini, sekitar 15 menitan dari toko ini kamu bisa menemukan berbagai topi pantai yang tidak kalah cantiknya dengan harga yang terjangkau. Yaitu, 27 ribuan. Toko yang menjualnya terletak di sebelah kiri jalan menuju hotel Golden Tulip. Di toko ini kamu juga bisa membeli perlengkapan mandi, obat-obatan dan ice cream.

Berhubung mendaratnya sudah sore, maka sepanjang perjalanan yang bisa dilihat adalah sederetan toko yang sudah siap tutup. Di Belitung jangan berharap bisa menemukan Alfamart, Indomaret, Ramayana dll yang buka hingga pukul 10 malam. Di sana paling malam mereka tutup toko rata-rata pukul 9 malam.

Tidak ada yang banyak diceritakan tentang hotel tempat ku menginap selama 2 malam. Layaknya hotel bintang tiga, hotel ini pun dilengkapi beberapa fasilitas, seperti kamar mandi yang dilengkapi toilet duduk, air panas dan dingin, televisi, pemanas air, wifi gratis, antar jemput bandara gratis, bar dan restoran.

(Bersambung)