Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd.
Menjadi seorang guru sebenarnya bukanlah pilihan utama dan cita-cita bagiku. Namun karena lahir dari lingkungan keluarga besar pendidik membuatku menyerah memperjuangkan cita-cita awalku saat masih SMA dulu. Seorang wali kelasku sering kali menggodaku dengan mengatakan penampilan, gaya jalan, dan gaya bicaraku lebih cocok sebagai guru daripada profesi lainnya. Saat itu aku tertegun lantas melupakannya. Hingga kemudian datanglah hari di mana aku kemudian tanpa berpikir panjang berjanji kepada guruku tercinta, Jaya Rukmantara (alm). Dia lah sosok yang membuatku kemudian bekerja keras menguasai bidang ini selama delapan semester di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Diwisuda sebagai lulusan terbaik saat itu membuatku tersadar bahwa ini bukan lagi lelucon hidup. Ini adalah jalan yang harus ditempuh, suka tidak suka.
Robert Lee Frost, penyair Amerika Serikat, dalam puisinya The Road Not Taken membuatku kembali berpikir bahwa menjadi guru adalah jalan lain yang harus diambil saat itu. Tepat usia 21 tahun aku memulai pengabdian sebagai CPNSD termuda di SMK Negeri 1 Cibinong. Sebuah sekolah yang mengantarkanku menjadi sarjana cum laude dengan skripsi tentang kemampuan berbicara bahasa Inggris dan linguistics sebagai obyek penelitianku selama tiga bulan. Di sekolah yang kemudian ditahbiskan sebagai salah satu sekolah terbaik, terfavorit, dan sekolah berstandar internasional itulah aku belajar menjadi guru di berbagai bidang keahlian seperti rekayasa perangkat lunak, multi media, teknik computer jaringan, teknik konstruksi kayu, teknik gambar bangunan, teknik pemesinan, teknik kendaraan ringan, teknik otomasi industri, teknik logam dan metalurgi dan teknik sistem jaringan. Di sana aku menyadari bahwa bahasa Inggris yang digunakan seyogianya adalah English for Specific Purposes bukan General English.
Mengajar siswa dari sepuluh bidang keahlian yang berbeda jelas memberikan pengalaman yang kaya untuk seorang pembelajar sepertiku. Perbedaan karakteristik mata pelajaran bengkel yang harus mereka kuasai memengaruhi karakter mereka dalam belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Penguasaan TOEIC sebagai salah satu standar tolak ukur kemampuan berbahasa Inggris siswa sekolah menengah kejuruan membuatku harus membimbing dan mendampingi mereka secara penuh agar mereka mendapatkan skor yang tinggi dan meraih beasiswa mengikuti international test of TOEIC.
Kenakalan mereka sebagai siswa yang dahulu dikenal sebagai siswa STM (Sekolah Teknik Mesin) membuatku sadar aku harus tampil tegas, disiplin, dan menyembunyikan kelemahanku sebagai guru perempuan. Berdiri di depan mayoritas siswa laki-laki adalah tantangan terbesar bagiku di era 2003. Lambat laun kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan kejuruan membuat sekolah kemudian dibanjiri siswa perempuan. Sejak 2005 aku mulai mengajar beberapa siswa perempuan di kelas-kelas yang dikuasai oleh mayoritas siswa laki-laki. Menjembatani perbedaan gender dengan segala keunikannya saat itu adalah tugas lain sebagai guru yang kujalani.
Enam belas tahun ditempa di sekolah yang menuntut lulusannya berhasil direkrut perusahaan-perusahaan besar menjadikanku seorang yang tak henti belajar banyak hal. Inilah keuntungan menjadi guru. Dia belajar tak hanya dari kampus tetapi juga dari siswa-siswanya.

(Sumber: Dokumen CV Cakrawala Milenia Jaya)
Perkenalan dan hubungan yang intensif selama empat semester dengan para tokoh nasional Muhammadiyah yang mengajariku di bangku kuliah pascasarjana membuatku makin sadar bahwa menjadi guru bukan hanya sekadar menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Guru adalah tiang pancang utama, sebuah pondasi bagi struktur kehidupan akademis manusia. Dia adalah seorang INSPIRATOR. Lewat guru seorang siswa bisa membuka dirinya dengan lapang. Lewat guru dia bisa mengungkapkan segala kekurangan dan kelemahannya dengan tenang. Lewat guru pula dia bisa menemukan jati dirinya yang hakiki sebagai manusia beriman. Gurulah cahaya kehidupan.
Kini, jalan yang awalnya tak sengaja kupilih telah menjadi medan juang utama. Tak ada jalan untuk kembali memulai menapaki jalan yang baru. I could not travel both. Dengan segala emosi, tanggung jawab moral sebagai guru, seluruh daya harus dikerahkan kembali untuk tak sekadar menggapai impian tetapi menggenggamnya erat. Jadilah guru Indonesia yang kuat, tabah, dan tetap menyalakan semangat sebagai inspirator bagi kebaikan sesama manusia. Selamat Hari Pendidikan! Bersama Kita Bisa! Indonesia Jaya!(*)
NB: Tulisan ini diambil dari buku antologi ku, Refleksi Guru Indonesia di Hari Pendidikan
Penulis: I Kadek Widya Wirawan, Rahmiati, Santi Eliyanti, Iso Suwarso, dkk
ISBN : 978-623-6581-14-8
Editor : Neneng Hendriyani
Lay out: Tim CV
Desain Sampul: Cahsantri
Cetakan Pertama, April 2021