Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar Bagi Guru dan Peserta Didik

(Neneng Hendriyani)

 

Kata merdeka sejatinya adalah bebas; bebas melakukan yang disukai. Namun, apa jadinya bila bebas di sini ternyata tidak sebebas yang diinginkan? Tentu saja berbagai perasaan negatif muncul dalam berbagai variannya dalam memengaruhi kerja otak yang pada akhirnya membuat kita, guru dan peserta didik, bertanya kembali, sungguhkah merdeka?

Kemerdekaan adalah hak semua orang yang hidup di atas bumi. Ini adalah hak yang melekat dan tidak bisa diganggu gugat. Keberadaannya sama dengan beberapa hak istimewa lainnya yang dimiliki manusia. Yaitu, hak memeroleh pendidikan dan kehidupan yang layak.

Dalam mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak inilah manusia harus mampu meraih kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan bagaimana mereka bisa belajar dan mengajar dengan bebas dan lepas sesuai dengan hati nurani.

Sebagai bagian dari sebuah organisasi besar yang bernama negara, guru dan peserta didik alias siswa memiliki tempat dan kedudukan yang persis sama di hadapan kemerdekaan. Keduanya memiliki hak untuk merdeka dalam melaksanakan segala kehendaknya dalam mencapai tujuan yang mengarah kepada perbaikan diri masing-masing.

Bagi guru, kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam bidang finansial. Bila guru sudah merdeka secara finansial maka ia dapat terjun ke masyarakat dengan sepenuh hati dan jiwa raga. Tanpa keraguan, kekhawatiran akan masa depan keluarga dan dirinya ia siap berjibaku dalam berbagai situasi dan kondisi demi mencerdaskan bangsa.

Bagi peserta didik alias siswa, kemerdekaan adalah bagian di mana mereka bisa bebas memilih untuk memelajari berbagai hal yang mereka sukai dan butuhkan. Jangan paksa mereka memelajari banyak hal yang sebenarnya jauh dari minat dan kebutuhannya. Ibarat seekor burung, haruskah mereka belajar berenang dan melompat? Haruskah mereka belajar beradaptasi akan suhu air alih-alih belajar mengenal perubahan cuaca dan musim?

Selain itu, kemerdekaan bagi peserta didik adalah kemerdekaan di mana mereka bebas belajar kapan pun, di mana pun mereka mau. Jangan batasi lingkungannya dengan menyuruh mereka belajar di dalam ruang tertutup, berbentuk kotak atau persegi panjang. Merdekakanlah mereka dengan membiarkan mereka belajar dari alam sekitarnya. Duduk di atas rumput, di tengah hamparan padi yang menguning, atau di ketinggian lereng gunung akan membuat jiwa mereka tumbuh bersama keberanian, kepercayaan diri, dan pengetahuan mereka yang pastinya berguna bagi kehidupan mereka di kemudian hari.

Teori-teori yang menumpuk di kertas-kertas tua di perpustakaan itu bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan bagi mereka. Mereka memerlukan interaksi antar sesama makhluk hidup agar mereka tumbuh seperti seharusnya. Tanpa interaksi yang hangat mereka sulit menjadi manusia seutuhnya. Rasa minder, gugup, mudah putus asa akan selalu menghantui perkembangan jiwanya yang terkungkung akibat interaksi sosial yang buruk.

Alam dengan segala kandungan misterinya adalah sekolah terbaik bagi mereka. Guru sebagai manusia dewasa adalah partner belajar yang paling tepat dalam mendampingi mereka  menuju kedewasaan dan perbaikan diri. Ketiganya saling terkait satu sama lain. Ketiganya membutuhkan kemerdekaan dalam porsinya masing-masing.

Konsep belajar merdeka yang dicanangkan pemerintah sebenarnya masih jauh dari gambaran merdeka di atas. Namun demikian, setidaknya ini membawa banyak perubahan positif dalam pendidikan. Guru, sebagai ujung tombak, akhirnya memiliki kemerdekaan meskipun hanya sepersekian persen dari arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tanpa perlu memikirkan banyak hal, guru dapat hadir di mana pun sesuai dengan jadwal yang diberikan sekolah masing-masing untuk menyapa dan mengajarkan materi-materi yang diampunya melalui layar berdasarkan kondisi khusus. Ia merdeka dalam menampilkan citra dirinya saat mengajar. Ia merdeka tanpa alas kaki yang sering membuat kakinya tidak nyaman saat di depan kelas. Ia merdeka mengajar dengan pakaian rumahan yang apa adanya. Bahkan ia merdeka dengan sapuan kosmetik yang tipis dan cenderung polos saat menyapa peserta didiknya. Karena pada hakikatnya ia menyadari bahwa semua penampilan lahiriah itu bukanlah hal yang paling penting yang perlu dilakukannya saat berhadapan dengan peserta didiknya. Menyiapkan materi dari berbagai sumber yang berseliweran di sekitarnya, merancang proses pemelajaran yang begitu singkat dengan tetap mempertimbangkan bobot materi pelajaran yang perlu dikuasai peserta didik adalah fokus utamanya sebelum mengaktifkan kamera dan tampil prima di depan layar peserta didiknya. Mereka bebas berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk pelaksanaan belajar mengajar yang lebih baik dan bermutu.

Begitu pun peserta didiknya merdeka menggunakan sarung, celana pendek, atau pakaian lainnya dengan atasan berupa seragam sekolah saat belajar bersama melalui layar komputer atau gawai. Tanpa perlu memikirkan alas kaki, dan sebagainya mereka asyik bersenda gurau bersama guru dan teman-temannya guna merilekskan pikirannya sejenak sebelum masuk ke tahap inti pemelajaran.

Mereka “sesekali” merdeka menyeruput segelas teh atau susu hangat kala mendengarkan presentasi teman-temannya. Sebuah kegiatan yang tidak mungkin mereka lakukan bila mereka belajar di kelas. Mereka merdeka dalam menentukan media apa yang akan digunakannya dalam menyimpan semua materi yang dipelajarinya hari itu. Tak ada lagi paksaan harus menulis semua materi tersebut ke dalam buku. Mereka bisa menangkap layar, menyalin tempel, bahkan mengunduhnya langsung dan menyimpannya di folder-folder komputernya dengan cepat. Ini sungguh sebuah kemudahan yang patut disyukuri. Sangat efektif dan efisien.

Meskipun mereka tetap diberikan tugas baik lisan maupun tulisan yang semuanya harus dikumpulkan secara daring (online) selama Pembelajaran Jarak Jauh ini mereka tetap merdeka dalam menentukan waktu pengerjaannya. Guru hanya perlu menetapkan tenggat waktu pengumpulannya saja. Sisanya peserta didiklah yang memutuskan apakah akan mengerjakan sebelum tenggat waktu tersebut atau sesudahnya. Dengan begitu mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya sendiri. Mereka berlatih untuk siap menerima berbagai resiko dari keputusannya tersebut. Ini adalah hikmah dari kemerdekaan belajar bagi peserta didik.

Ketika penilaian tiba, guru juga memiliki kemerdekaan dalam melaksanakannya. Ia merdeka dalam memilih bentuk evaluasinya. Merdeka memilih platform yang akan digunakannya. Dan, merdeka dalam mengolah hasil evaluasinya tanpa perlu dibebani dengan hanya satu pilihan aplikasi saja.

Dari uraian di atas kita dapat tarik kesimpulan bahwa merdeka belajar, merdeka mengajar bagi guru dan siswa dewasa ini kiranya membuat guru dan siswa merdeka dalam arti yang sebenarnya. Kedua pihak merdeka dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing demi tujuan yang sama-sama mulia, yaitu mengubah seseorang menjadi lebih baik lagi baik akal, pikiran, fisik, dan psikisnya. Kemerdekaan guru baik dalam bidang finansial, maupun bidang lainnya menjadi kunci keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kemerdekaan bagi peserta didik dalam memilih pelajaran yang disukai dan dibutuhkan untuk masa depannya dapat membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar dan membuat mereka lebih mengembangkan potensi dasar yang dimilikinya sejak lahir.

Semoga merdeka belajar merdeka mengajar ini dapat memberikan inspirasi berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, guru dan peserta didik, untuk lebih mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi 2022 mendatang.*)

(Tulisan ini diambil dari tulisanku di buku antologi Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar. Penulis: Neneng Hendriyani, Iso Suwarso, IingFelicia, Sri Mukmini dkk. ISBN :  978-623-6581-27-8. hal 1-6.)

KAMPANYE KINERJA ASN JAWA BARAT: HARI-HARI TERAKHIR MEMENUHI TUGAS

24 Agustus 2021, pukul 08.28 WIB, atasan menginformasikan sebuah tugas yang lumayan membuat dahi berkenyit pagi-pagi. Tugas yang bisa dibilang mudah, namun sukar itu membuat semua pegawai kemudian berusaha memenuhinya sebelum tenggat waktu 29 Agustus 2021. Itulah tugas yang paling membuat jantung berdebar kencang selama perjalanan dinasku di sekolah tersebut. Yaitu membuat video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat.

25 Agustus 2021, berbekal nekad akhirnya selesai juga tugas yang diinstruksikan oleh atasan. Dengan menggunakan Canva for Education, jadilah presentasi sederhana berdurasi cukup singkat tentang Kampanye Kinerja ASN Jawa Baratku. Inilah video teranyar yang kuunggah ke channel youtube Neng Hendri Suparman.

Dalam video tersebut aku menjelaskan tentang kinerja, dan target individu yang hendak dicapai. Bismillahirrahmanirrahim, semoga video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat yang kuunggah sebagai bagian dari tugasku di hari-hari terakhir menuju tenggat waktu tersebut dapat bermanfaat bagi semuanya .

 

(Cibinong, 27 Agustus 2021)

Rindu Pasaman

Rindu Pasaman

Oleh: Neneng Hendriyani

Di Pasaman kumpulan  sawit memanggilku pulang
Lelah jiwa merantau cari segenggam pengalaman
Tertidur di pangkuan nilam membius indra,
lupa janji pada awal kehidupan

Aih, aku rindu Pasaman,
rindu Rao, tanah tumpah darah penuh kenangan
Di mana tambang emasnya menyatukan kita berpuluh-puluh masa yang lalu

Ya, aku rindu Pasamanku, rindu Rao tanah pusaka
Bagian tak terlupa dari Pagaruyung nan merdeka
Bilik istananya mengeja aku punya nama
Saksi bisu tangisanku yang perdana
Di malam yang juita

(Bogor, 03 Februari 2020; 09.34 WIB)

Terjemahan dalam bahasa Inggrisnya:

Longing for Pasaman
by Neneng Hendriyani

In Pasaman, the groves of palm call me home,
My weary soul, wandering in search of a handful of experience,
Falls asleep in the embrace of patchouli, numbing the senses,
Forgetting the promises made at the dawn of life.

Oh, I miss Pasaman,
I miss Rao,
the land of my birth, brimming with memories,
Where its gold mines united us through countless eras past.

Yes, I long for my Pasaman, for Rao, the ancestral land,
An unforgettable part of the free Pagaruyung.
The chambers of its palace spell out my name,
Silent witnesses to my first cries, In the gentle night.

(Bogor, February 3, 2020; 09:34 WIB)

Puisi di atas adalah puisi yang kutulis dalam buku Antologi Puisi: Tanah Kelahiranku yang terbit juni 2021 dengan judul Rindu Pasaman.

Dokumentasi Pribadi

#rindupasaman #tanahrao #nenenghendriyani #bogor #tanahair #indonesia #longing #rindu

KEBAYA BORDIR UNTUK UMAYAH

Kebaya Bordir untuk Umayah
Oleh Neneng Hendriyani

Dokumentasi Pribadi

 

Betapa bangga dan terharunya saat menerima pesan singkat dari Kang Sahaya Santayana pada 12 Agustus 2021 lalu. Beliau mewakili Panitia Antologi Bordir Untuk Umayah, Tasikmalaya. Dalam pesan tersebut diketahui bahwa karyaku dengan judul KEBAYA BORDIR UNTUK UMAYAH berhasil masuk dan lolos kurasi tim kurator yang terdiri atas Acep Zamzam Noor, Sarabunis Mubarok, dan Yusran Arifin.

Dokumentasi Pribadi

Menulis dengan tema yang telah ditetapkan seperti itu bukanlah pengalaman pertama bagiku. Namun demikian, karya yang dihasilkan menjadi pengalaman yang tiada tara. Apalagi karya yang satu ini.  Seumur umur aku baru kali ini menulis tentang bordir. Tak dinyana kerdilnya pengetahuanku tentang bordil membuatku berkenalan dengan karya seni yang luar biasa cantik tersebut. Meskipun tidak keluar sebagai pemenang utama, namun aku bangga bisa menjadi bagian dari 115 Penyair Indonesia yang menulis tentang Bordir Umayah tersebut.

Dokumentasi Pribadi

Umayah adalah seorang pionir bordir yang hidup di Kota Tasikmalaya. Keterangan tentangnya kuketahui setelah buku Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia: Kebaya Bordir Untuk Umayah tersebut tiba di rumah. Dialah perempuan yang begitu ulet memperkenalkan bordir ke mana-mana hingga akhirnya Tasikmalay terkenal sebagai sentra industri bordir Nusantara.

Dokumentasi Pribadi

Berikut ini puisiku yang terdapat pada buku tersebut.

KEBAYA BORDIR UNTUK UMAYAH

Oleh Neneng Hendriyani

Dari jari jemari lentik benang dan kain saling bercumbu
Mengulum senyum harapan, menebar asa kerinduan
Berjanji pada sang waktu
Hidup seindah sulaman sutra
Penuh warna dan hiasan berpadu angan serta impian
Abadi dalam ribuan kehidupan
Penuh cerita tentang bunga jua rayuan di balik selendang sutra
Janji itu digenggam nyata

Kini Umayah telah dewasa
Sulaman dan bordir menjadi napasnya
Di antara tarian jemari nan lentik
benang dan kain saling bercumbu
membentuk kebaya mengulum senyum harapan, menebar asa kerinduan

Berjanji pada sang waktu
Hidup seindah sulaman sutra
Bordir warna dan hiasan berpadu angan serta impian
Abadi dalam ribuan kehidupan
Seperti cinta, indah pada akhirnya

(Bogor, 02 Maret 2020; 18:29 wib)

Terjemahan dalam bahasa Inggris:

EMBROIDERED KEBAYA FOR UMAYAH
by Neneng Hendriyani

From delicate fingers, threads and fabric intertwine tenderly,
Weaving a smile of hope, spreading the longing of aspiration,
Making a promise to time itself:
A life as beautiful as silk embroidery,
Full of colors and adornments, blending dreams and desires,
Eternal through thousands of lives,
Rich with tales of flowers and flirtations behind silk veils.
That promise is held true.

Now Umayah has grown,
Embroidery and stitching become her breath.
Amid the dance of her graceful fingers,
Threads and fabric intertwine tenderly,
Crafting a kebaya that holds a smile of hope, spreading the longing of aspiration.

Making a promise to time itself:
A life as beautiful as silk embroidery,
Embroidered colors and adornments blending dreams and desires,
Eternal through thousands of lives,
Like love, beautiful in the end.

(Bogor, March 2, 2020; 18:29 WIB)

(Buku Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia: Kebaya Bordir Untuk Umayah, ISBN 978-623-96521-2-8, Penerbit Sanggar Golewang Tasikmalaya. 2021. Hal. 118)

#kebayauntukumayah #tasikmalaya #tasik #kebaya #umayah #nenenghendriyani #embroideredkebayara

Google Siteku Untuk Belajar Mengajar Bahasa Inggris

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Pertama kali mendengar google site aku merasa sedikit kaget. Seorang rekan pelatih dari IGI memperkenalkannya jauh sebelum aku sendiri memiliki site tersebut. Melihat karyanya dan bagaimana ia terbantu dalam pelaksanaaan pembelajaran selama PJJ ini membuatku termotivasi membuat hal serupa. Akhirnya dengan berbekal sedikit waktu dan upaya, dengan bimbingan Aries Prasetya, founder Samisanov IGI aku pun belajar mengembangkan google site.

Seluruh administrasi yang kugunakan dalam mengajar pada tingkat X dan XI SMA Tahun Pelajaran 2020-2021 pun aku unggah ke google site tersebut. Tak ketinggalan sejumlah video pembelajaran yang kurancang sendiri pun dengan sedikit malu-malu kutempelkan di sana. Bahkan, bentuk penilaian pun kusimpan pula. Harapannya sederhana. Semoga anak-anak muridku bisa memelajari semua materi pada tahun pelajaran tersebut lebih awal sebelum aku menjelaskannya melalui zoom meeting setiap pekannya. Selain itu, semoga semua administrasi, video pembelajaran, materi, dan soal yang kuunggah pun bisa bermanfaat untuk sesama guru Bahasa Inggris.

setelah membuat google site tersebut aku benar-benar terbantu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Murid-muridku senang karena tidak perlu menunggu lama untuk mengakses materi. Cukup dengan menggunakan ujung jarinya mereka sudah bisa mengakses materi pelajaran lengkap di google site tersebut.

Berikut ini link google siteku. Sila kunjungi dan ambil manfaat positifnya. Salam perjuangan.

 

Administrasi Pembelajaran Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

Sebenarnya mengajar dan menyiapkan administrasi perangkat pembelajaran adalah hal yang tidak bisa dipisahkan karena saling terkait satu sama lain. Bagaimana mungkin seorang guru bisa mengajar bila ia tidak membuat administrasi perangkat pembelajaran sebelumnya. Namun, karena satu dan lain hal ada guru yang tidak memiliki waktu khusus untuk merancang administrasi perangkat pembelajarannya sebelum masuk kelas. Untuk itulah dengan semangat berbagi aku upload semua administrasi perangkat pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI yang kugunakan pada tahun pelajaran 2021/2022 di sini. Semoga bermanfaat, ya.

Silabus Pembelajaran Kelas XI Bahasa Inggris Peminatan SMA

[2] Silabus Pembelajaran

Program Tahunan Bahasa Inggris Peminatan kelas XI SMA

prota

RPP Inspiratif (1 lembar) POEM Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

rpp poem

RPP Inspiratif (1 lembar) Narrative Text Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

rpp narrative

RPP Inspiratif (1 lembar) Song Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

rpp lagu song

RPP Inspiratif (1 lembar) hortatory text Bahasa Inggris Peminatan Kelas XI SMA

rpp hortatory

KI/ KD Bahasa Inggris Peminatan Kondisi Khusus

Bahasa Inggris (Peminatan) XI

Catatan Seorang Penyintas Covid19

Oleh: Neneng Hendriyani

Senin, 12 Juli 2021 pukul 09 WIB aku dikejutkan oleh hasil Tes Swab Antigen putri pertamaku, Hapiah Wardah (15 tahun). Gadis manis berkulit hitam, berambut tebal yang tidak mengeluh apa pun itu ternyata positif. What?! Aku langsung meraba dahiku. Masih panas. Pun kedua telapak tanganku yang masih berasa basah dan dingin. Aku menatap wajah petugas di hadapanku. Nanar. “Tolong periksa saya juga”. Perintahku. Dia mengangguk lantas meminta kartu identitas penduduk dan memintaku duduk kembali.

Rasanya begitu lama sekali menunggu dokter di dalam ruangan bercat putih itu memanggil namaku. Aku masih sempat mengetik pesan singkat ke suami, adik, dan ibuku. Aku ingat suamiku sedang tidak enak badan dan memaksakan diri berangkat ke sekolah karena hari itu ada beberapa agenda rapat terbatas. Aku memintanya langsung datang ke lokasi di mana aku berada. Sementara adikku yang memang sangat dekat dengan putriku itu kaget. Meskipun posisinya masih WFO dia masih sempat memberikan beberapa nasihat yang intinya menenangkan diriku. Ibu yang tinggal beberapa bulan lagi pensiun pun sama. Mereka berdua tahu benar aku penderita asma sejak lahir. Bahkan seluruh anakku pun lahir di tengah serangan asma yang aku derita. Sejak bayi hingga usia lima tahun mereka semua langganan klinik lantaran asmanya kumat.

Saat namaku dipanggil aku bergegas masuk. Kupandangi sosok tinggi besar di depanku dengan seksama. Seorang dokter muda yang kutaksir baru berusia tiga puluh tahun itu menyapa ramah. Aku duduk dan memintanya membantuku. Aku tahu ini cuma basa basi. Namun bagiku ini sangat penting. Aku nyaman dengan sikapnya yang ramah. Itu sangat membantu ketenangan jiwaku. Sedapat mungkin aku berusaha tidak panik. Bila sampai panik maka asma pasti kumat. Itu bisa fatal.

Tak lama dengan wajah masih merah, sepasang mata yang sedikit berair itu sampai juga di lokasi tepat beberapa menit aku keluar ruangan dokter Fadel. Aku meminta kartu indentitas dan mendaftarkannya. Beruntung dia masih mendapatkan kesempatan. Beberapa orang laki-laki dewasa yang datang setengah berlari setelahnya ditolak petugas karena swab antigen kitnya habis. Waktu itu baru pukul sepuluh tiga puluh. Aku terhenyak. Astaga bagaimana ini. Aku mulai berpikir. Di rumah masih ada empat anak yang belum diperiksa dan aku mengkhawatirkan kondisi mereka.

Ketika petugas menunjukkan hasil swabku tadi aku hanya tersenyum. Aku sudah tahu jauh sebelum dokter muda itu memeriksaku. Aku tahu aku pasti positif setelah melihat hasil anakku. Aku hanya membutuhkan selembar surat keterangannya untuk keperluan dinas.

Otak bawah sadarku paham bila anak yang tanpa gejala itu saja bisa positif apalagi aku yang memang sedang melawan demam dan linu sejak empat hari sebelumnya. Kami tinggal serumah. Melakukan banyak aktivitas bersama-sama. Jadi tidak mungkin aku negatif sendirian, kan. Pun ketika hasil swab suami positif aku masih bisa tersenyum. Meskipun kebingungan karena yang lain belum diperiksa aku masih bisa berpikir panjang. Mungkin itu naluri seorang ibu.

Suami dan putriku pulang bersama-sama naik mobil yang dikendarai suami saat ke kantor tadi pagi. Sementara aku yang memang memilih membawa Vario hitam melaju di belakangnya perlahan.

Aku berhenti di kios kelapa. Tanpa pikir panjang kuborong semua stok kelapa hijau yang ada. Kubilang untuk obat dan meminta penjualnya untuk agak menjauh dariku karena aku positif. Dia mengangguk dan membantuku menaruh semua kelapa itu di motor. Setelah membayar harga yang sempat didiskon aku langsung mencari ATM terdekat. Dalam pikiranku aku harus bersiap melaksanakan ISOMAN sekeluarga. Itu berarti aku tidak bisa keluar rumah lagi untuk belanja kebutuhan makan sehari-hari. Maka aku harus menitipkan sejumlah uang untuk memenuhi semua kebutuhan selama ISOMAN berlangsung.

Sepanjang jalan pulang dilalah ATM kosong. Kuberanikan diri menuju ALFAMART terakhir di sepanjang jalur pulang. Beruntung di sana ATM masih bisa berfungsi normal. Setelah tiga kali gagal transaksi akhirnya aku bisa bernapas lega. Adikku siap membantu dengan bekal lima juta rupiah yang kutransfer ke rekeningnya. Segera dia memesan semua obat herbal yang dibutuhkan oleh kami sekeluarga; Madu Qusthul Hindi, Oximeter, Serbuk dan kapsul Qusth, Imboost, Obat demam, Vermint, berbagai varian rasa Nutrijel, bahan-bahan kue, buah-buahan, dan lainnya. Ini mungkin berlebihan. Namun aku yang memintanya mengirimkan semua itu dengan Gojek. Aku berharap anak-anak tetap bisa ceria meskipun harus dikurung di rumah selama dua minggu karena penyakit tak diundang ini. Dengan semua perbekalan yang dikirim tersebut mereka masih bisa beraktivitas normal di dapur berkreasi macam-macam kesukaan yang biasa mereka nikmati.

Aku pun masih sempat pulang membawa stok diaper, susu pelancar ASI, roti dan cemilan kecil sebelum akhirnya dihubungi pengurus lingkungan.

Sesampainya di rumah barulah drama ISOMAN dimulai secara resmi. Dengan bantuan pengurus RT aku berhasil memeriksakan kondisi keempat anak. Tentu saja semua biaya dibebankan kepadaku. Aku tidak mengeluh. Sudah beruntung masih ada tenaga kesehatan yang mau melayani datang ke rumah yang sudah jelas penghuninya menderita Covid19. Aku sangat berterima kasih meskipun harus membayar lebih mahal daripada tarif resmi dan tanpa mendapatkan surat keterangan.

Hasil pemeriksaan keempat anak tersebut benar-benar sesuai dugaanku. Anak laki-laki pertamaku selamat. Abang (12 tahun) yang memang hobi makan dan main itu negatif. Selama tiga hari berturut-turut padahal dia mengalami diare. Luar biasa. Sementara adiknya yang baru naik kelas empat itu positif. Tidak aneh. Saat aku mengalami demam tinggi dia pun demam dan mimisan. Kondisi fisiknya memang lebih lemah dari abangnya. Anak pengais bungsu ( usia 5 tahun) pun dinyatakan negatif. Aku bersyukur sekali. Alhamdulillah. Panji yang baru direncanakan daftar TK tahun ini benar-benar negatif. Bahkan saturasinya pun paling bagus, 115. Sayang, keberuntungan ini tidak dimiliki si kecil, Lily. Bayiku yang belum genap dua tahun itu terpaksa dites dua kali karena petugas ragu. Hasilnya positif. Aku lemas. Napasku sesak. Masih sempat kuberdoa dalam hati, Tuhan, selamatkan kami.

Tepat pukul 13.00 WIB kami resmi memulai ISOMAN hari pertama dengan kondisi dan keluhan berbeda-beda dari seisi rumah. Lima orang yang dinyatakan positif semua kukumpulkan di tengah rumah. Aku bilang bahwa ini bukan akhir dari hidup. Di luar sana banyak penyintas yang berhasil keluar dari masalah ini dan kembali sehat. Mereka menatapku. Ada rasa takut, cemas, dan lain-lain yang kutangkap dari mata anak-anak yang belum paham apa-apa itu. Aku menghela napas. Aku menolak mengungsikan kedua anak yang negatif ke rumah kerabat. Bukan apa-apa. Kedua orangtuaku sendiri kormobid. Ayahku penderita jantung. Ibuku asma. Adikku pun penderita kista dan miom. Hanya adik laki-lakiku yang sehat wal afiat. Keluarga mertuaku pun tidak mungkin menerimanya. Mereka sendiri sedang sibuk mengurus keponakan suami yang belum sembuh dari sakitnya. Ditambah lagi mereka harus menyiapkan acara pernikahannya yang tinggal menunggu hari. Beruntung pengurus RT mendukung keputusanku. Ini pun dilatarbelakangi oleh kejadian yang menimpa tetanggaku. Dari tujuh anggota keluarga ada dua juga yang negatif dan mereka dikirim ke rumah nenek kakeknya di Depok. Dua hari setelah berada di sana salah satu dinyatakan positif dan kakek nenek pun ikut positif.

Setelah didampingi dokter yang ditunjuk oleh tim Satgas setempat aku membuat laporan melalui pesan singkat ke kantor. Sebuah pertanyaan yang diajukan atasanku membuatku kaget. “Bukankah ibu sedang WFH, di rumah, kok bisa kena ya?”

Aku diam. Tak bisa menjawab secara pasti. Bagaimana mungkin aku yang sudah divaksin dua kali ini bisa terpapar virus jahat tersebut. Dengan bantuan adikku aku mencoba mengingat kembali perjalanan beberapa hari ke belakang. Terakhir aku aktif ke sekolah  adalah dua hari sebelum pembagian rapot kenaikan kelas. Saat itu kondisi tubuh fit. Aku pulang pukul lima sore dari sekolah. Selama di rumah aku hanya pergi ke warung sayur mayur yang berlokasi di kompleks perumahan di mana aku tinggal. Itu pun hanya dua hari sekali. Seminggu sekali aku pergi ke Indomaret untuk membeli kebutuhan susu dan menarik uang tunai. Dua minggu sekali aku mengirim paket ke JNE yang berada di sebelah Indomaret. Begitu aktivitas rutin yang kujalani selama WFH dan menjelang PPKM.

Satu-satunya kejadian di mana aku bertemu orang dalam jumlah banyak lebih dari biasanya hanyalah saat aku melayat rekan kerjaku yang meninggal karena serangan jantung. Rumah kami masih satu kompleks. Aku sempat bersalaman dengan sang istri. Setelah itu berjabat tangan dengan mantan atasanku yang kebetulan hadir di masjid kompleks. Aku tidak ikut ke pemakaman dan memilih mengobrol sebentar dengan salah satu alumni terbaik yang kuajar dan kudampingi penuh selama dua tahun sebagai wali kelasnya. Kami berdiri dengan jarak 1,5 meter dan masing-masing tetap menggunakan masker.

Suamiku memang ikut mengantarkan ke pemakaman sore itu. Dibonceng salah satu siswanya dia ikut ke Sindang Barang, Bogor. Pulang seperti biasa langsung membersihkan tubuh dan semua baik-baik saja. Selama seminggu kemudian dia tetap beraktivitas seperti biasa tanpa keluhan apa pun. Begitu pula anggota keluarga lainnya.

Hari Kamis, 8 Juli 2021 aku mulai bersin-bersin. Anak-anak bermain hujan-hujanan di lantai atas. Sudah dua minggu anak-anak memang dilarang keluar rumah karena di lingkungan kompleks sudah banyak yang positif. Jadi mereka bermain di dalam rumah saja. Kebetulan di lantai atas masih ada ruang yang tidak tertutup, yaitu balkon. Di sanalah kakak beradik itu bermain hujan-hujanan. Aku memang alergi dingin akibat hujan.  Setelah memandikan Lily dan memberikannya baju hangat, hidungku mulai bereaksi. Ada tumpukan ingus yang sulit dikeluarkan kurasa di pangkal hidungku sejak sore itu. Polipku kumat. Malam Jumat itu aku tak bisa tidur. Telinga berdengung, dahi dan leher panas, hidung tersumbat luar biasa. Sementara semua otot lemas dan linu. Aku tak curiga apa pun. Masih tetap mengetik dan bercanda dengan beberapa penulis melalui WhatsApp.

Jumat hingga Minggu kondisiku masih sama. Rasa panas dan dingin datang silih berganti beberapa jam. Aku masih bisa beribadah seperti biasa dan melakukan aktivitas rutin tanpa hambatan meskipun telinga kanan mulai berair saking panasnya suhu tubuh. Bahkan ketika aku tak bisa mencium bau masakan dan pup Lily pun aku masih biasa saja. Aku sering begini setiap kali kena hujan. Jadi tak ada yang aneh, kupikir. Ketika aku mulai tidak bisa merasakan lezatnya masakan pun aku cuek. Aku memang bukan penyuka makan. Makan bagiku hanya sekedar memenuhi kebutuhan perut dan hidup. Bukan masalah ketika aku tak bisa menikmati rasanya. Aku santai.

Sungguh ternyata tubuh sebenarnya sudah memberikan warning sebelum vonis tiba. Nahas aku cuek. Ini kesalahan fatal. Andai aku lebih wawas diri ketika badan mulai tidak enak dan langsung mengonsumsi vitamin dan menjaga imun semua drama selama 16 hari itu tidak akan terjadi.

Namun demikian, aku bersyukur. Saat jatuh dan tertimpa tangga ini aku jadi tahu banyak hal. Selain ilmu kesehatan yang lumayan meningkat lantaran harus cek up kondisi anggota keluarga tiap hari, hubungan keluarga kami pun semakin erat dan hangat.

Dari sekian banyak rekan kerja dan tetangga yang kukenal pun dapat kunilai. Ada yang langsung menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Yang biasa duduk santai di depan rumah setiap pagi dan petang langsung bersembunyi di balik pagar. Bahkan tidak sedikit yang mempercepat langkah kakinya ketika terpaksa melewati rumah. Dari dalam, aku  cuma tersenyum kecut. Benar-benar menyedihkan. Saking takutnya setiap kali pengantar paket datang, mereka melongokkan kepalanya menatap dengan curiga ke arahku. Penasaran mungkin paket apa yang diantarkan. Ini sempat membuatku down. Dengan kondisi yang luar biasa tidak nyamannya untuk memasak, aku terpaksa memesan makanan online. Tanpa ditatap sedingin itu aku pun sadar bahwa ini sangat beresiko. Namun aku tahu apa yang kulakukan. Aku selalu berupaya memberitahukan ke bagian pengantar paketnya bahwa aku sedang isoman. Bila mereka keberatan maka mereka bisa membatalkannya. Bila mereka siap menerima order maka mereka siap pula menggantungkan paketnya di pagar rumah. Simple.

Sebagai pekerja aku jelas tidak bisa bebas dari tuntutan pekerjaan sekalipun sedang sakit. Meskipun sedikit kecewa karena merasa tidak ada empati dan simpati aku sadar ini bagian dari tanggung jawab pekerjaan. Sebisa mungkin semua tugas yang berkaitan dengan anak didik selalu kulaksanakan. Namun yang tidak begitu berkaitan kutinggalkan. Aku sadar betul bila memaksakan diri maka sama artinya memperberat kondisi kesehatanku. Bila aku sampai off alias end, paling hanya ucapan belasungkawa yang diterima, kan? Maka itulah menjaga dan waspada jauh lebih baik di saat seperti itu.

Dari sekian banyak simpati dan empati yang kuterima dari teman-teman mayaku di facebook dan whatsapp aku merasa sangat beruntung. Tahu mengapa? Hampir 80% semangat dan doa yang mengalir di beranda and kolom komentarku berasal dari semua kawan lama yang kukenal baik. Allah sayang sekali padaku. Ia kirimkan semua sahabatku di saat genting seperti itu. Simpati mengalir tak berbatas pulau dan negara. Alhamdulillah.

Dari semua bantuan langsung yang kuterima ku sangat bersyukur sekali telah merasakan bantuan yang paling berharga dari dokter yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Petugas Satgas RW memberikan nomornya dan aku menghubunginya dua jam setelah semua keluarga resmi menyandang status baru, pasien covid. Kesabarannya membaca, merespon, mengantarkan paket obat untuk kami selama isoman adalah bukti nyata betapa dia begitu peduli dan sayang kepada kami. Semoga Allah merahmatinya.

Selama isoman itu aku pun merasakan kiriman makan siang satu kali yang dikirimkan oleh Pak RT yang konon kabarnya dari Pak Lurah. Jangan tanya isi menunya, ya. Yang pasti lebih enak buatan sendiri lah. Harganya? Hm, ga jauh dari warteg. Namun, aku menghargainya karena ini menunjukkan kepeduliannya kepada warga. Sisa bantuan berikutnya dari kelurahan aku tidak tahu. Aku hanya menerima bantuan langsung sebanyak 4 kotak makan siang saja pada satu hari itu.

Ketika seorang rekan kerja mengirimkan nomor tim peduli covid 19 kabupaten iseng kukonfirmasi ke adikku. Dia yang lebih luas jaringan pertemanannya membantuku mengisi semua data yang dibutuhkan. Beruntung aku punya tiga surat keterangan hasil swab. Berbekal surat tersebut ditambah KTP seminggu berikutnya aku menerima paket yang katanya “sembako” namun isinya tidak lebih dari 2 kantong beras, 4 bungkus mie, 1 sarden. Katanya sih program Bupati. Alhamdulillah. Cukup membantu.

Air mata mengalir deras justru ketika seorang rekan kerja yang memiliki tiga anak yatim menelepon dan meminta alamat rumah untuk mengirimkan paket cepat saji. Dia berkilah anak-anak pasti sangat menyukai dan membutuhkannya saat aku menolaknya. Jujur, menerima bantuan itu tidak enak, saudara-saudara. Rasanya ngenes. Lebih enak tangan di atas daripada tangan di bawah.

Begitupun ketika seorang rekan yang hingga kini belum dikaruniai anak meneleponku menanyakan si kecil Lily. Dia trenyuh dan mengirimkan paket makanan ringan, susu, energen, gula, dan lainnya untuk anak-anak. Ya Allah, aku benar-benar mbrebes mili.

Tetangga sebelah kanan rumah yang juga punya anak yatim pun berbuat sama. Suatu hari dia mengetuk pagar dan menaruh seplastik jeruk buat anak-anak.

Coba lihat. Mereka yang membantuku dengan begitu tulusnya justru bukan orang-orang yang pernah kuduga sebelumnya. Allah mengirimkan tangan-tanganNya melalui mereka.

Aku bersyukur sekali setelah melewati sepuluh hari terberat itu Allah lagi-lagi mengetuk hati hambaNya untuk datang menolongku setelah hujan. Benar-benar hujan. Iseng dia membuka status WhatsAppku dan kaget melihat postingan kondisiku yang up down. Dia langsung menelepon dan meminta alamat. Di tengah hujan dia berusa mencari apa yang kubutuhkan. Setelah reda baru dia antarkan. Alhamdulillah dengan jalan perantara obat yang diberikannya, aku bisa mengeluarkan semua lendir yang rasanya innalillahi lengket sekali selama dua jam. Meskipun sesudah meminumnya aku langsung tepar alias drop lantaran semua isi perut dikuras habis-habisan atas bawah aku bisa bernapas lega. Bau obat, dapur, dan sebagainya mulai tercium lagi. rasa pahit setelah muntah pun mulai terasa lagi. Aku meloncat kegirangan. Syukur Alhamdulillah. Dua hari berikutnya demam itu mulai hilang. Tinggal lemesnya kurasa hingga hari ke-16. Selebihnya semua kembali normal.

Dengan semua rangkaian kejadian ini seorang seniorku menambahkan gelar baru di belakang namaku saat ia menelponku seminggu setelah aku sembuh, LC. Lulus Covid.

(Kota Hujan, 04 Agustus 2021)