UNTUK ANAKKU (Kumpulan Cerita Anak Penumbuhh Budi Pekerti)

Ini adalah karya bersama yang ditulis oleh guru anggota Komunitas Menulis KGPJB (Komunitas Guru Penulis Jawa Barat). Kebetulan aku menjadi mentor kelas menulis cerita anak bersama Bapak SAIFUL AMRI. Kelas yang diprakarsai pengurus KGPJB ini berhasil merekrut puluhan guru dalam kelas maya yang menggunakan WhatsApp (WAG). Di dalam kelas ini lah aku dan Pak Sam bergantian memberikan materi tentang bagaimana menulis cerita untuk anak. Alhamdulillah kerja keras kami membuahkan hasil. Seluruh “siswa” di kelas ini berhasil membuat cerita untuk anak.

Di buku ini pun aku menulis sebuah cerita untuk anak dengan judul “CERITA AKU” yang terdapat pada halaman 4-6. juga “LAYANG-LAYANG AZMY” (halaman 104 – 106. Semoga buku ini bermanfaat bagi anak-anak kita semua.

CORONA DAN GURU

Oleh Neneng Hendriyani

Sudah dua minggu aku di depan layar berbalut daster dan sendal,
wajah polos tak sempat dandan yang terpikir cuma mengajar
Sejak pagi hingga malam laptop dan handphone jadi kawan
Kuota sudah tak dipikirkan entah berapa yang melayang

Mata lelah, kepala berkunang, jari jemari pegal kesemutan tak jua dihiraukan
Hendak mengeluh tapi tabu, rasa malu memaksaku tetap tegar tetap sabar
Mengajar jarak jauh tergantung koneksi tergantung sinyal,
nilai siswa jadi tujuan

Entah berapa minggu lagi, begini
Sejak enam belas Maret aku meng-upgrade diri
Satu demi satu aplikasi dipelajari guna memudahkan tugas sesuai janji bakti
Sejak pagi hingga malam laptop dan handphone jadi kawan
Kuota sudah tak dipikirkan entah berapa sudah melayang

Mata lelah, kepala berkunang, jari jemari pegal kesemutan tak jua dihiraukan
Nilai siswa jadi tujuan sebagai bekal mereka di masa depan kala corona tinggal kenangan
Kuatkan niat, bulatkan tekad mengajar jarak jauh, tergantung koneksi tergantung sinyal,
nilai siswa jadi tujuan

(Karadenan, 30 Maret 2020; 18.52)

Tentang Penulis:
Neneng Hendriyani lahir di Kabupaten Bogor dan tinggal di red zone Karadenan, Cibinong. Sehari-hari bertugas sebagai guru bahasa Inggris di SMA Negeri 4 Cibinong. Untuk korespondensi sila hubungi nenghendri53@gmail.com dan WhatsApp 085715773482

Puisi di atas dimuat dalam buku PANDEMI PUISI (ANTOLOGI BERSAMA MELAWAN COVID-19) dengan ISBN 978-602-5780-60-8 pada halaman 278. Buku ini memuat semua curahan perasaan, pikiran, dan harapan dari seluruh penyair nusantara terhadap Corona Virus yang tiba-tiba datang di awal tahun 2019 di Indonesia.

KUNANTI DI KAMPAR KIRI (ANTOLOGI PUISI PENYAIR ASEAN)

Ini adalah buku antologi puisi yang ditulis oleh para penyair ASEAN. Tidak mudah untuk bisa masuk ke dalam bagian buku ini. Seluruh penyair harus berkompetisi menulis sebuah puisi dengan tema yang sudah ditentukan oleh Panitia. Yaitu tentang Kampar Kiri, Gunung Sahilan, Riau. Bersyukur aku bisa masuk ke dalam kompetisi ini dan menjadi salah satu bagiannya dengan sebuah puisi yang berjudul MALAM KENDURI DI KAMPAR KIRI (halaman 126).

Berikut ini puisinya. Selamat membaca, ya.

Antologi Puisi “Kunanti di Kampar Kiri (Mendulang Gunung Sahilan, Menyanding Rimbang Baling)”

Malam Kenduri di Kampar Kiri
Oleh Neneng Hendriyani

Malam baru mulai datang, kawan
Kenduri pun belumlah usai
Mari merapat sini, dendangkan lagu suka kita
Di Kampar Kiri bebas menari
Nyanyikan syair cinta, ribuan doa ‘tuk umat sedunia

Jangan bawa arak, bawa saja limun soda
Kita minum hingga fajar tiba
Mari kemari kawan kita berpesta
Jangan cemas kenduri belum usai
Mari bercengkrama tukar kata tentang kita sambil tunggu
Maidun lelo teriak manja
Tanda Raja tiba usailah semua derita

(Bogor, 22 Mei 2018)

Terjemahannya:

Feast Night in Kampar Kiri
by Neneng Hendriyani

Night has just begun to fall, my friend,
The feast is far from over.
Come closer, sing the songs we love,
In Kampar Kiri, dance freely,
Chant verses of love,
thousands of prayers for the world’s people.

Leave the liquor behind,
bring lemon soda instead,
We’ll drink until dawn arrives.

Come, my friend, let’s celebrate,
Don’t worry, the feast isn’t done.
Let’s chat, exchange words about us, while we wait,
Maidun lelo calls out sweetly,
A sign the King has come, ending all suffering.

(Bogor, May 22, 2018)

Nasihat Ninik Mamak
Oleh Neneng Hendriyani

Bila esok senja kau dapati
Usah pergi ke luar negeri
Cukup datang lima kali sehari
ke sini ke ujung Subayang ini

Bila esok senja kau dapati
Jangan tunggu malam menyelimuti
Datanglah ke Gunung Sahilan cepat
Pukul rebana jabat tanganku erat
Mandi balimau bakasai kita nanti
Bersama raja, handai taulan Kampar Kiri
Lalu senyum bolehlah pergi ikut mentari

(Bogor, 22 Mei 2018)

Advice of the Elders
by Neneng Hendriyani

If tomorrow you find the twilight,
Don’t venture abroad.
Just come five times a day to this place,
to the edge of Subayang.

If tomorrow you find the twilight,
Don’t wait for night to envelop you.
Hurry to Gunung Sahilan,
Beat the drum, clasp my hand tightly.
We’ll perform the balimau bakasai bath later,
With the king and kin of Kampar Kiri.
Then smile, and you may follow the sun.

(Bogor, May 22, 2018)

—

Penulis adalah Guru Bahasa Inggris di SMK N 1 Cibinong Kab Bogor sekaligus Alumni Peserta Kemah Sastra Nasional 2018 di Desa Adat Kemiren Banyuwangi pada tanggal 28-29 April 2018. Karya sastranya antara lain Antologi Seri Puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru (2017), Janji Firly (2017), Kumpulan Puisi Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi Puisi: Senyuman Lembah Ijen (2018).

#nenenghendriyani #kamparkiri #riau #2018 #rimbangbaling #ninikmamak #kenduri

PELITA DI MATA PELANGI

Ini adalah buku antologi yang berisi kumpulan cerita fiksi mini. Buku ini ditulis oleh guru yang menjadi anggota Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ). Ada 43 guru yang telah mengirimkan karyanya di buku ini, termasuk aku. Untuk buku ini aku menulis dua judul; SEBUAH PESAN (halaman 117 – 120), dan DI TENGAH MALAM (halaman 121-122).

Khusus untuk buku antologi ini aku memang menulis dengan genre yang sedikit berbeda dari biasanya. Yaitu horror. Berikut isi tulisanku yang bisa ditemukan pada buku dengan ISBN 978-623-7080-10-7.

SEBUAH PESAN
Oleh: Neneng Hendriyani

Aku enggan menatapnya saat berlalu di ruang tengah. Dengan tergesa ku segera menutup pintu. Saat memutar kran hatiku berbisik. “Ada siapa itu di sana?”. Ah, lagi-lagi aku sulit konsentrasi bila terganggu seperti ini. Gemetaran tanganku membasuh wajah sambil komat kamit. “Duh, jangan perlihatkan wajahnya, ya Gusti. Aku takut”.
Segera langkahku dipercepat saat melintasi ruang yang sama. Tak bisa dipungkiri bulu kuduk berdiri semua. “Alamak! Dia ada di situ. Ada apa, ya?”. Diam-diam pikiranku melayang ke sebuah rumah papan di pojok kampung. Sebuah rumah yang nyaris roboh beberapa Minggu lalu. “Ah, itu rupanya yang hendak ia sampaikan”.
Aku tak tahu apa yang kulakukan. Jangan tanya padaku bagaimana aku bisa melihatnya. Aku tak bisa menjelaskannya padamu. Yang jelas aku berada di sana di tengah pohon bambu. Aku bergidik ngeri saat melihatnya menjulurkan lidah dan kedua matanya melotot ke arahku. “ Ya, Tuhan!”. Segera kututup mulutku dan pergi meninggalkannya tetap tergantung di sana. Hatiku trenyuh. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu terhadap dirinya sendiri. Aku masih ingat beberapa hari lalu ia menghubungiku di messenger. Tak banyak yang kami bicarakan. Hanya sedikit persoalan tentang silang sengketa tanah yang melibatkan banyak pihak saja yang kami bahas. Ia bertanya tentang segala kemungkinan yang akan terjadi bila tanah waris itu belum juga dibagikan hingga batas temponya berakhir sesuai dengan amanat sang kakek. Sayang sekali sebelum aku menjawabnya ia sulit dihubungi.
Perempuan itu masih terlalu muda sebenarnya. Namun inilah hidup. Tak ada muda dan tua. Tak ada miskin dan kaya. Semua menjalani suratan takdirnya. Sempat ku telisik warna bajunya sebelum pergi. Ya, masih sama seperti hari dimana kami pertama bertemu. Warna yang begitu mencolok; begitu kampungan menurut pamanku. Dulu aku tak sepakat dengan pendapatnya. Kini, aku harus menyetujui pendapat pamanku. Warna baju kesukaannya memang kampungan. Begitu mencolok di antara warna dedaunan dan kulit bambu sekarang. Ada bagusnya, sih. Ini akan memudahkan siapa pun untuk mengenalinya esok pagi. Sehingga sebelum zuhur ia sudah bisa dikebumikan.
Antara sadar dan tidak, ku raih smartphone yang terletak di atas meja rias segera setelah mengucapkan salam ke kanan dan kiri. Masih terlalu dini sebenarnya untuk mengganggu tidurnya malam ini. Namun ini harus tetap dilakukan sebelum semuanya terlambat. Aku tak ingin perempuan itu ditemukan lebih dahulu oleh para pencari kayu esok pagi. Akhirnya setelah lama mencoba aku bisa berbicara dengannya. “Waktunya telah tiba, Lik. Tabahkan hatimu. Apa yang kita tanam itulah yang kita petik. Jemput ia di ujung kebun bambu kampung sebelah. Bawalah dua orang dewasa bersamamu ya, Lik. Bersabarlah dengan segalanya. Jangan berbuat apa pun sebelum aku datang, okay. So, suruh Anto menjemputku di bandara siang ini.”

_karadenan, 16 Oktober 2018_

DI TENGAH MALAM
Oleh:
Neneng Hendriyani

Di tengah guyuran gerimis ia berlari dan terus berlari. Bayangan wajah si bungsu terus saja memenuhi rongga matanya seolah memanggilnya pulang dan memaksanya terus berlari menjauhi rumah Nenek Darmi. Ia semakin mempercepat larinya. Terseok-seok sampai jua ia dirumah. Dengan basah kuyup ia langsung berlari ke kamar anak-anaknya. Dipeluk cium nya keempat buah hatinya bergantian. Air mata deras mengalir di pipinya yang masih ranum. Ia sungguh takut kehilangan mereka.
Ini adalah malam ketiga ia begadang. Ia berharap semua masalah ini segera selesai. Ia semakin tersiksa.
Jauh berkilo-kilometer dari tempatnya berbaring, ayahnya sedang berjuang melawan maut. Sejak kapan pastinya ayahnya sakit ia pun tak tahu. Kabar sakitnya pun diterimanya melalui handphone seminggu yang lalu. Ibunya sendiri yang memanggilnya untuk datang di tengah malam buta saat si ayah semakin kritis.
Ya, malam itu jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh. Anaknya yang masih bayi baru tertidur pulas di gendongan sang ayah. Laptop pun baru saja dinyalakannya. Ia berencana menyelesaikan tugas kantornya yang biasa ia bawa pulang. Tiba-tiba hand-phonenya berdering. Lantunan fur elise karya Bethoven mulai terdengar semakin panjang. Segera ia meraih hand-phonenya yang diletakkannya sembarangan di atas kulkas.
“Wi, cepat pulang kerumah. Bapakmu sakit,” cerocos ibunya saat ia baru saja mengucapkan salam. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa hilang dari ibunya, to the point tanpa melihat sikon.
“Ono opo tokh, bu?, iki wis wengi. Kasian anakku masih bayi dibawa keluar malam-malam”, tolaknya halus.
Di keluarga ibunya ada semacam pantangan keluar malam-malam. Nanti kena mala katanya. Apa itu mala, hingga kini Wiwi tak pernah tahu. Dulu ia mengira ibunya selalu mengatakan itu hanya untuk mencegahnya keluar malam minggu dengan pacarnya.
“Kamu ini kalau disuruh orang tua selalu saja menolak. Dasar anak tak tahu untung. Tak tahu sopan santun,” bentak ibunya. Ah, pengang rasanya telinga kalau sudah mendengar bentakan ibunya. Ciut hatinya seketika. Rasa hormat selalu kalah dengan ketakutannya.

—

BIODATA PENULIS

Neneng Hendriyani, M.Pd lahir di Bogor 09 Agustus 1982. Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong sekaligus penulis buku ini mencintai dunia sastra. Karya sastra yang telah diterbitkannya Antologi Puisi: Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017), Antologi Kisah Guru Inspiratif: Jangan Berhenti Mengajar (2017), Antologi Seri Puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru (2017), Kumpulan Puisi Bogor (2017), Janji Firly (2017), Kumpulan Puisi Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi Puisi: Senyuman Lembah Ijen (2018), Antologi Puisi: Kunanti Di Kampar Kiri (2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi: Ilalang Di Atas Batu (Google Play Store, 2018). Untuk korespondensi sila hubungi WA: 085715773482, e-mail: nenghendri53@gmail.com.