oleh Neneng Hendriyani, M.Pd.

“Aduh. Tolong, tolong,” teriak seekor ikan Goby pada suatu hari.
Dari kejauhan kulihat ada seekor ikan Cod berenang mengejarnya dengan kecepatan penuh.
“Hei, mau ke mana, kau?” teriaknya sambil terus mengejar.
Goby yang malang, ia tak bisa berenang secepat ikan Cod. Saat ia berenang lurus menuju rumahnya seekor ikan Haddock, Sea Bass, dan Flatfish menghadangnya.
“Mau lari ke mana kamu sekarang?” ikan Cod mendekatinya.
“Ha, ha, ha. Ayo kita tangkap dan makan saja. Kebetulan aku belum makan,” usul ikan Haddock. Tubuhnya yang panjang dan runcing mulai mendekati Goby.
“Tunggu. Dia mangsaku,” ujar ikan Cod menghalau Haddock. Saat dilihatnya ikan Cod dan Haddock bertengkar memperebutkan ikan Goby, ikan Sea Bass alias kakap langsung berenang menangkap Goby. Beruntung tubuh Goby yang kecil masih bisa menyelinap ke luar saat kedua pemangsanya bertengkar. Usaha Sea Bass pun gagal. Namun nahas Flatfish yang berbentuk pipih itu berhasil mensejajarinya. Goby pun mempercepat renangnya.
“Tolong. Tolong,” teriaknya tersengal-sengal. Beberapa kali ia jatuh terjerembab di antara terumbu karang. Melihat mangsanya kabur, Cod beserta Haddock berenang mengejarnya.
“Kemari, kemarilah Ikan Kecil. Ayo sembunyi di sini,” ajakku saat ia melintas di depanku berulang-ulang kali. Aku tak tega melihatnya dikejar-kejar para pemangsanya yang kelaparan.
Ya meskipun aku hanya sebuah karang tapi aku memiliki cambuk. Aku bisa melindunginya. Ikan Cod, Haddock, Sea Bass, dan Flatfish tidak ada yang berani mendekatiku. Mereka takut dengan zat kimia yang kukeluarkan. Jadi ikan Goby itu akan aman bila ia bersembunyi di antara polip-polipku. Polip-polip ini mirip tangan bagi manusia.
Goby si Ikan Kecil yang lucu itu segera saja masuk ke terumbu karangku. Ia bersembunyi selama beberapa menit. Para pemangsanya kehilangan jejak. Setelah berputar-putar di atasku mereka pun pergi menjauh. Selamatlah Goby kecil.
Goby adalah sahabatku. Setiap hari ia pasti datang ke tempatku. Kepala dan tubuhnya semi transparan. Di sepanjang tulang belakangnya ada sisik putih yang membentang. Ia selalu membantuku membersihkan tubuhku. Dengan gerakannya yang gesit ia menghilangkan racun ganggang dan membersihkan lendirku.
(Ditulis ulang dengan judul dan isi yang sama dari Buku Berjudul 52 KISAH DONGENG FABEL
MENGINSPIRASI BUAH HATI; Neneng Hendriyani dkk)
