KEBANGKITAN NASIONAL DI ERA PANDEMIK COVID-19

KEBANGKITAN NASIONAL DI ERA PANDEMIK COVID-19 ditulis untuk memperingati hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2020.

Keadaan pandemik Covid19 telah membuat semua guru terpaksa melaksanakan upacara bendera di rumah masing-masing. Demi menjaga keamanan dan keselamatan maka semua terpaksa melakukannya. Sungguh dalam hati masing-masing tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi.

Guru yang menjadi lilin dalam dunia pendidikan harus berjibaku mencerdaskan bangsa bagaimanapun kondisinya. Dengan segala kekurangan yang dimiliki ia harus tetap mengajar murid-muridnya.

TANTANGAN BAGI GURU BAHASA INGGRIS DALAM MENGAJAR LISTENING COMPREHENSION PADA MASA PANDEMI COVID 19

TANTANGAN BAGI GURU BAHASA INGGRIS DALAM MENGAJAR LISTENING COMPREHENSION PADA MASA PANDEMI COVID 19 ditulis berdasarkan pengalaman penulis saat mengajar listening comprehension dari rumah. Dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki mengajar listening comprehension menjadi sebuah tantangan tersendiri. Semangat dan kerja keras benar-benar diperlukan.

Artikel utuh yang tayang sejak 2 November 2020 ini dapat dibaca langsung di disdik.com, ya. Semoga bermanfaat.

BEST PRACTICE: PENGGUNAAN TELEGRAM SEBAGAI KELAS MAYA BAHASA INGGRIS PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH DI SMA NEGERI 4 CIBINONG

Artikel ini ditayangkan sejak 14 Oktober 2020 di disdik.com. Isinya berupa pengalaman terbaik penulis selama mengajar dari rumah di masa pandemik Covid19. Sungguh tidak mudah mengajar di kelas maya. Penulis seperti juga guru lainnya di Indonesia lebih menyukai mengajar di kelas nonvirtual. Namun apa daya. Sejak Maret 2019 pembelajaran dilaksanakan dari rumah guru bukan dari sekolah seperti sebelumnya. Ini semua demi kebaikan dan keselamatan guru dan peserta didik.

Best Practice dalam penggunaan Telegram sebagai kelas maya bahasa Inggris ini lahir dari kebingungan dan upaya sadar penulis sebagai guru bahasa Inggris di SMA Negeri 4 Cibinong.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

52 KISAH DONGENG FABEL MENGINSPIRASI BUAH HATI

Neneng Hendriyani … [et al.] ; editor, Saiful Amri CV Situseni 978-623-7837-12-1

DAFTAR PENULIS

Neneng Hendriyani
Saiful Amri
Ranem
Siti Nurjanah
Angga
Ummi Habibah
Sri Yamini
Nur Wendah Wati
Endah Lastiany
Wiwin Winarni
Hesti Dwi Agusdiyanti
Enung Sahidawati
Ai suryani
Siti Khodijah Nasution
Lily Nuraini Damayanty
Vivin Elviriana
Mahniar Sinaga
Hariyono
Ratna Suminar
Neti Muliati
Lestari
Agusriati
Harizal
Muhammad We
Rita Rosidah
Indri Saras
Retno Indrarsih Soerono
Siti Halimah
Siti Niswatun Hasanah
Desty Dwi Kayanti
Maria Aminiati
Almas
Nurul Wahidah
Lina Lihanawati
Wulaningsih
Faridhotin
Lily Suliyatiningrum
Ai Neni
Abas
Deuis Srihidayati
Nurkamilakamil
Siti Nurlatifah
Neni Amaliah
Sasha Ariyanto
Wawan Gunawan
Euis Kurniawati
Ika Dahliawati

DI SEPANJANG REL KERETA

DI SEPANJANG REL KERETA
Penulis : Neneng Hendriyani
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 978-623-322-041-5
Terbit : Januari 2021
Harga : Rp 92000
www.guepedia.com
Sinopsis :
“Dengar, ya. Lu enggak bisa main paksa soal hati, Yud. Gua udah bilang gua enggak nerima lu. Gua mau pulang sekarang. Lepasin gua….”
Demi mendengar penolakannya, Yudi naik pitam. Diraihnya tangan Nunu kasar. Ditariknya sepanjang jalan tanpa peduli dengan teriakan dan pukulan Nunu. Ia hanya ingin menunjukkan kepada semua anak Pertiwi bahwa mulai sore itu Nunu miliknya. Titik. Habis perkara. Ia sama sekali tak peduli dengan perasaan Nunu yang terluka. Ia pun tak peduli apakah cintanya diterima atau tidak. Yang penting sudah nembak. Beres.
Sementara itu Nunu mangkel sepanjang jalan. Perasaannya terhadap Aan juga surat-surat cintanya dari secret admirer membuatnya bingung memutuskan ke mana cintanya berlabuh. Sementara tiga bulan lagi ujian nasional akan tiba. Itu berarti ia harus memutuskan siapa yang akan ia terima. Yudi yang menyatakan cintanya lewat sebuah spanduk, Aan yang membuatnya jatuh di ballast rel kereta, secret admirernya yang membuatnya penasaran dengan puisi-puisi cintanya ataukah Ucup yang menjaganya selama ini.
GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MjAwMzI=
TOKOPEDIA
https://tokopedia.com/guepedia/di-sepanjang-rel-kereta
BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/…/46pzm8l-jual-di-sepanjang…
GUEPEDIA STORE
https://guepediastore.com/…/483…/di-sepanjang-rel-kereta
SHOPEE
Sedang gangguan
FACEBOOK
https://www.facebook.com/photo/?fbid=2676384396005457&set=a.1375179096126000&_cft[0]=AZXXv1z670L8chscI7vx-xNKK7IdA8Rac-QP3u5d5X6v8SsLC68yAVpQW4BbT651xgq6ysAQVtOM8vTh6z9AUrj6m7pbh7UHJjrcSpSDXSbsmg&tn_=EH-R
INSTAGRAM
https://www.instagram.com/p/CJsJ23dM_d9/
Untuk teman-teman di sini dapatkan
Promo diskon 20% ini berlaku pada 15 Januari 2021 – 20 Januari 2021

Keuntungan Menulis Antologi

Oleh Neneng Hendriyani

Menulis bagi sebagian besar orang adalah perkara yang sulit. Meskipun memiliki banyak sekali ide di dalam kepala namun tetap saja tidak mudah menuangkannya dalam bahasa tulisan yang mudah dipahami. Akibatnya bisa jadi tambah bikin pening dan akhirnya malas. Padahal awalnya begitu semangat dan percaya diri.

Ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama tentu sjaa bergabung dengan sebuah komunitas menulis. Di dalam komunitas biasanya ada orang-orang yang sudah mahir dan bersedia berbagi pengalaman. Dengarkanlah sarannya. Amati gaya penulisannya.

Tips kedua yang paling umum dilakukan adalah menulis bersama-sama. Jenis tulisan yang dihasilkan adalah antologi. Antologi ini mengangkat satu tema yang sama dengan pilihan topik yang berbeda-beda. Sudut pandang dan gaya penulisan dari masing-masing penulis membuat antologi yang dihasilkan lebih beragam dan bermakna.

Ibarat dua sejoli, penulis antologi juga saling membantu peran masing-masing. Yang lebih baik dan mahir menulisnya membimbing teman yang belum mahir. Mereka saling mengisi celah yang kosong dan terlewatkan lewat tulisan yang dihasilkan.

Dari sisi biaya penerbitan pun antologi cenderung lebih murah. Biaya dapat disupport bersama-sama sehingga tidak membebani keuangan pribadi.

Selain itu, dari sisi marketing pun antologi lebih baik daripada buku solo. Dengan melibatkan seluruh penulis yang tergabung di dalam buku tersebut maka peluang buku itu laris manis di pasaran juga semakin besar.

Misalnya ada lima puluh penulis dalam satu antologi. Bila masing-masing berhasil menjual lima eksemplar sjaa maka total buku antologi yang dijual adalah 250 eksemplar. Ini adalah jumlah yang fantastis. Laba yang diperoleh pun lebih besar daripada bila menulis seorang diri. Karena peluang lakunya lebih besar.

Tambahan pula, lewat antologi biasanya penulis yang belum punya nama bisa ikut terkenal lantaran dia menulis dengan penulis yang sudah memiliki branding.

Nah, ayo tunggu apa lagi segera siapkan naskah terbaikmu dan terbitkan dalam antologi.

(Bogor, 9 Januari 2021)
#Day1AISEIWritingChallenge

Mengenal Indie Publishing

Oleh Neneng Hendriyani

Buku yang sering bapak dan ibu gunakan di sekolah adalah hasil panjang dari sebuah proses.

Umumnya penulis membutuhkan waktu 1 bulan – 1 tahun untuk menulis 1 buku sebelum menyerahkan ke pihak penerbit.

Penerbit bertugas menerbitkan naskah buku yang diserahkan penulis.

Ada dua macam penerbit. Penerbit mayor dan indie publishing. Penerbit mayor adalah penerbit yang mencetak naskah penulis dengan cara membeli naskah tersebut untuk jangka waktu tertentu. Umumnya lima tahun. Penulis tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun untuk mencetak naskahnya di penerbit ini. Penerbit justeru memberikan royalti (bagi hasil) kepada penulis. Umumnya bagi hasil yang diberikan sebesar 5-10% per eksemplar.

Sementara itu indie publishing tidak membeli naskah penulis. Penulislah yang mengirimkan dan meminta indie publishing untuk mencetak naskahnya. Baik penerbit mayor maupun indie publishing sama-sama mencetak naskah dan mengurus ISBN untuk buku yang diterbitkannya.

Yang membedakannya hanya pada letak marketingnya saja. Di indie publishing, penulis lah yang menjual bukunya secara langsung kepada masyarakat. Tidak ada bagi hasil atau royalti penjualan. Namun demikian, laba yang diperoleh penulis umumnya lebih besar daripada yang diperoleh apabila naskah diterbitkan di penerbit mayor.

Mengapa demikian? Hal ini karena penulis bebas menentukan harga jual. Dia tidak perlu memikirkan memberi laba kepada pihak penerbit.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah apabila ingin mencetak naskah buku di indie publishing penulis harus menyiapkan sejumlah uang untuk mengurus beberapa hal sebagai berikut. Yaitu, ISBN, lay out, editing, desain cover, cetak cover, dan cetak isi. Selain itu penulis pun harus membangun brand dan jejaring marketing sendiri.

Lalu keuntungannya selain bisa menjual semau penulis adalah penulis bebas memilih desain cover. Biasanya pihak indie publishing memberikan minimal dua pilihan cover. Penulis memilih yang paling disukainya. Selain itu apa pun genre tulisan dan kualitas tulisan tidak mempengaruhi keputusan pihak penerbit. Karena di indie publishing semua naskah bisa diterbitkan. Tidak ada kata penolakan seperti di penerbit mayor.

Nah, kalau Bapak dan Ibu mau mencetak naskah buku di penerbit mayor Bapak dan Ibu harus melakukan sejumlah langkah yang lumayan bikin kepala pusing. Pertama, analisis pasar. Pelajari jenis tulisan (genre) Yang sedang booming. Tulislah tentang genre yang booming tersebut. Kedua, pastikan naskah yang ditulis sudah sesuai dengan visi misi pihak penerbit. Jangan sampai salah kirim naskah. Ketiga, pelajari gaya selingkung penerbit. Sebagus apa pun naskah yang dimiliki bila tidak memenuhi gaya selingkung penerbit maka dipastikan naskah tersebut tidak layak cetak. Tidak layak cetak berarti tidak layak terbit. Keempat, pastikan tulisan Bapak dan Ibu sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila tidak, maka mimpi menerbitkan buku di penerbit mayor bisa kandas. Kelima, perbanyak kesabaran. Biasanya waktu menunggu keputusan editor mengenai layak tidaknya, diterima tidaknya naskah Bapak dan Ibu bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Nah, sudah ada gambaran mau menerbitkan buku di mana?

(Bogor, 9 Januari 2021)
(#9Januari_AISEIWritingChallenge)