BUBAT: KISAH CINTA SANG MAHARAJA

BUBAT: KISAH CINTA SANG MAHARAJA

Neneng Hendriyani

 

Kala usia mulai bertambah

Resah hati jua jiwa

Angan melayang jauh ke segara

Meluncur bebas di samudera

Melambung tinggi ke pucuk awan

Jatuh menukik ke dalam jurang

Bertanya pada sang bayu

Juga rumput yang bergoyang:

Dimanakah gerangan Juwita pujaan

 

Berbagai cara ditempuh pula

Sebar telik sandi ke manca negara

Cari putri elok rupa

Kawan hidup seia sekata

 

Semua pergi, semua kembali

Bawa lukisan potret tuan puteri

Dari timur hingga barat

Dari utara hingga selatan negeri

 

Satu demi satu potret ditatap

Nanar matanya menatap

Jauh bertanya ke sanubari

Lagi dan lagi diteliti

Ah, sayang seribu sayang

Tiada yang memberinya rasa

Semua berakhir sia-sia

Hingga hati tak sadar berpaling

Merasa pilu sendiri

Jauh di dalam sukma, ia berkelana

Mencari yang ia cinta

Pada pandangan yang pertama

 

Disuruhnya telik sandi pergi lagi

Kini ke negeri di barat daya

Penuh harap akan bersua

Gadis manis nan jelita

Permata berharga sandingan Maharaja

Entah di mana ia berada;

Di balik bukit atau dalam istana

Berpagar ilalang atau bunga setaman

 

Tak pasti sungguh tiada pasti

Habis sudah masa

Habis sudah tenaga

Putus asa di puncak usaha

Takut mulai merajalela

Muncul di benak para pesuruh Raja

 

Hingga suatu hari tiba jua

Di sebuah negeri di barat daya

Tak sengaja bersemuka

Memandang penuh suka cita

Melirik tiada henti

Menatap tiada kedip

Terpanah cantiknya sang Puteri

Kala jumpa di taman sari

 

Dilukisnya segera penuh cita

Tak lupa dilapisnya dengan do’a

Hiasan kuas demi kuas potret Juwita

Semoga Maharaja sudi menerima

Lukisan diri Sang Puteri Sunda

 

Kala usai segera ia kembali

Dibawanya pergi menghadap Yang Mulia

Mencari puteri yang selalu ia temui

Dari Panglima hingga Mahapatih Gajah Mada

Tak lupa Ibu Suri Tribhuana juga Ramanda

Duduk bersila di balairung istana

Tak berani bersuara

Tak berani bertanya

Semua hanyut dalam sepi

Menanti sabda sang empunya hati

 

Ditatapnya enggan potret yang ke sekian

Seketika hatinya bergetar

Dadanya bergemuruh penuh debar

Wajahnya tersipu malu, memerah seketika

Merona meski hanya sesaat saja

Senyum manis tersungging tipis

 

Dibuangnya wajah ke arah lain

Hatinya berontak tak terima

Ditatapnya sekali lagi

Berharap rasa itu pergi

Tapi, semilir bayu merambat cepat di kalbu

Perlahan menyusup hangat di setiap ruang sukma

Menggelinding tajam

Menyentuh pusat rasa dan keinginan

Bangunkan hasrat tuk bersua

Satukan hati dalam suka cita

Enggan sedetikpun menunda

Rindu tiba-tiba membuncah tinggi

Ingin segera bercerita, tertawa, manja bersama

Di sana di ruang rindu tak bersela

 

Ah, getar itu kian mengangkasa

Membawanya terbang ke swargalaya

Bertemu para Bhatara, di puncak tertinggi Himalaya

Gelar janji Sang Ksatria

Tuk hidup bersama, setia selamanya

Lewati ribuan masa, hanya dengan Adinda saja

 

Ketika fajar telah tiba

Dikirimnya utusan keluar gerbang istana

Disuntingnya Sang Juwita

Disampaikannya segenggam asa

Sekerat hati penuh cinta

Tulus murni tuk Adinda

 

Lamaran pun resmi diterima

Hingga semua seia sekata

Bahagia itu kian terasa

Di sudut matanya semua tercipta

Di ruang angannya semua terkembang

Gadis manis Dyah Pitaloka

Bersanding bersama di singgasana

Dinantinya setiap waktu

Sejak mentari datang merayu

Bersama hangatnya belaian surya

Hingga candra menatapnya sendu

Di ujung malam ia masih terjaga

Disiapkannya pelaminan istimewa

Bertahta ribuan nilam

Jutaan kembang setaman

Tak lupa Dodot Sinebab, Kampuh Panjang Surya Gumelar berprada emas menyala

Tuk dipakai di upacara agung

 

Ah, sayang….

Semua hancur berantakan

Asa itu lenyap bertebaran

Ibarat debu di tanah lapang

Tak ada yang tergenggam

Ribuan impian hilang tenggelam

Jauh ke dasar lautan

Meluluh lantakkan hati nan remaja

Milik Baginda Maharaja

Tatapnya pilu

Sendu penuh haru

Pengantin yang ia nanti

Di seluruh malam panjangnya

Kini bersimbah darah di tanah celaka miliknya

Meloncat ia sekuat tenaga

Berupaya mencegah semua yang ada

Hendak direbutnya kujang yang digenggam

Diraihnya harapan yang hampir hilang

Sayang, seribu sayang

Takdir telah memenangkannya

Puteri cantik telah terluka

Sebilah senjata menancap di dada

Bersimbah darah, bermandi air mata

Menatap pilu sang Arjuna

Sempat ia menangkap tubuhnya

Hingga tak roboh menghempas tanah

Ditatapnya mata indah yang sayu

Yang pernah membuatnya jatuh cinta

Disentuhnya pipi yang ranum

Rasa dingin mulai menjalar

Diberanikannya tuk melawan

Saat maut kian dekat

Saat perpisahan kian tak terhindar

Ia berlomba demi sang cinta

Sampaikan rahasia sesakkan dada

Juga janji suci yang ia punya

Dipeluknya sekuat jiwa

Dibawanya ke dalam dada

Berharap ia masih ada

Berkata: ya. Meski sekali saja

Hanya anggukan lemah yang ia terima

Cukuplah itu baginya

Dengan deras air mata

Teriaknya pecah membahana di ketiga dunia

 

Tiada yang tersisa

Pun cinta yang ia puja

Kekasih yang ia nanti

Semua binasa

Terkapar tak bernyawa

Membawa pergi semua tawa

Tinggalkan jutaan luka lara

Tiada lagi yang terdengar

Bahkan desah yang tertahan

Hanya jerit luka penuh kecewa

Jua amarah

Isak tangisnya kini tertahan, hilang lenyap di tenggorokan

Hatinya pedih

Harapannya hilang

Bersama amisnya darah perawan

Tanpa noda dan dosa

Berkorban demi semua yang ia cinta

 

Dengan langkah gontai

Kakinya melangkah pergi

Tersaruk sepanjang jalan tak terperi

Ribuan air mata terus mengalir

Di relung-relung hatinya yang hancur berkeping

Senyumnya hilang tiada kembali

Bayangnya melampaui sinar pagi

Dibiarkannya jiwanya mati

Perlahan namun pasti

Memeluk kasihnya dalam mimpi

Berharap semua tak terjadi

Berharap semua hanya ilusi

Di Bubat, ia hilang jati diri

Juga cinta sejati

 

(karadenan, 02  November 2017)

Diambil dari buku Setangkup Rindu Dari Masa Lalu

 

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Bubat

https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bubat

English Enrichment Book For XI SMK

ENGLISH ENRICHMENT BOOK FOR X SMK BASED ON CURRICULUM 2013 REVISION

Copyright © 2018 Neneng Hendriyani, M.Pd.

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

All Right Reserved

 

ISBN:  

Editor: Neneng Hendriyani

Desain Sampul:Boedy Why

Tata Letak: Cecep Suparman

 

Cetakan Pertama, September  2018

 

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor

Jawa Barat

Telp. 08136336202 – 085715773482

cakrawalamileniajaya@gmail.com

web: http://cakrawalamj.co.id

 

 

Hendriyani, Neneng

English Enrichment Book For X SMK Based On Curriculum 2013 Revision; Editor, Neneng Hendriyani -cet.1-2018

Ukuran: 14.8 x 21

Jumlah halaman ix+122

 

Although English has been learnt from Junior High School, it does not mean that they can learn it easily on vocational high school. It is caused by many factors. Some factors comes from outside the students themselves. Namely, lack of learning sources, lack of English teachers, and lack of support from school environment. Internal factors are lack of motivation in learning this foreign language as it is very difficult to understand.

To overcome the problems, the writer as English teacher in vocational high school agree to design this enrichment book. The goal is to give the students extra time in learning all basic competencies learnt by themselves without feeling afraid or other unconvenience feelings usually they have.

In this book, the writer gives many explanations about every basic competency. Thus, the students will more understand about the subject. Besides that, they also designed many activities that can be done by the students. The last this book is also completed by National Examinations items. So, the students can learn more about many items usually used on this annual examination.

The learning activities here are for individual tasks, not group. It is based on the writers opinion that if the activities done by group, the students will  face many obstacles in providing time to learn, do, and practice them with their partners. So, to make them easy all activities on this book are done only by themselves. It is also to support them to read many related sources according to the basic competency.

If you are interested, please contact . Its cost is only 40k.

Enrichment Book For XI SMK Based on Curriculum 2013

CINTA TUHAN DI PALU

CINTA TUHAN DI PALU

Oleh: Neneng Hendriyani

Bukan Tuhan murka hingga Palu menderita

Bukan Tuhan tak suka hingga Palu terkapar binasa

Sungguh, tengoklah ke sana

Di mihrab yang suci

Tuhan masih ada

Menyambutmu dengan senyum dan tangan terbuka

Memegang dahimu juga dada yang penuh luka Ia ada

 

Percayalah padaku

Tuhan sedang jatuh cinta pada Palu yang indah

Palu yang megah

Tuhan ingin bercengkerama

Memeluk jiwa-jiwa yang tenang

Menyambut sukma-sukma yang riang

Yang tlah lama rindu pulang

 

Tuhan tidak benci

Hingga kau seperti ini

Darah menetes di dahimu mencium dagu hingga bahu

Tenggelam rumahmu di tengah banjir lumpur yang ganas

Sungguh, Tuhan tidak benci

 

Lewat alam yang marah

Lewat alam yang gundah

Tuhan kasih tanda padamu

Betapa Ia mencintaimu

 

Ia hanya ingin kau berserah, pasrah

Hanya ingin melihatmu berlari mengejarnya di kala malam telah gelap sempurna

Ia tak ingin melihatmu masih bercengkerama

Di bibir pantai dengan baju terbuka

Menantang angin di bawah bulan yang menggantung di cakrawala

 

Sungguh, Ia mencintaimu

Ingin kau datang berbisik mesra di penghujung senja

Menikmati indahnya jingga bola raksasa di balik dinding mihrabnya

 

Sungguh, jangan kau salah sangka,

Tuhan tidak murka

Tuhan jatuh cinta

Pada Palu yang megah

Pada Palu yang indah

 

(Bogor, 01 Oktober 2018)

 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212658061275734&id=1511622608

http://www.ambau.id/2018/10/cinta-tuhan-di-palu-puisi-neneng.html?m=1

Geliat Puisi Esai di Indonesia

Puisi Esai
Opini ke 27

 

Judul buku           : Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia

Editor                  : Yohanes Sehandi

Prolog                 : Suwardi Endraswara (Guru Besar Antropologi Sastra UNY)

Epilog                  : Narudin (Kritikus Sastra Indonesia)  

Penerbit               : Cerah Budaya Indonesia, Jakarta

Tahun terbit: 2018

Jumlah halaman: xxvii + 350 hal

ISBN                    : 978 – 602 – 5896 – 25 – 5

 

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang menguras imajinasi, pemikiran, dan melibatkan perenungan yang mendalam mengenai sesuatu hal yang baru maupun yang lama. Kegiatan ini melibatkan seluruh panca indra manusia. Maka wajar bila hasilnya merupakan sebuah karya yang dapat dinikmati oleh manusia. Hal ini dikarenakan manusia pembacanya memiliki panca indra yang sama dengan penulisnya.

Berangkat dari hal di atas, maka 50 penulis opini yang berasal dari berbagai latar belakang social, Pendidikan, minat, jenis kelamin, umur dan profesi serta adat istiadat, budaya, dan provinsi di Indonesia berupaya menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya dengan melibatkan seluruh panca indranya untuk berbicara melalui tulisan mengenai berbagai tema tentang puisi esai yang ditentukan oleh Panitia Lomba Penulisan Opini Puisi Esai Indonesia. Tema-tema tersebut adalah (1) eksistensi dan potensi puisi esai, (2) puisi esai dalam perdebatan, (3) angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia, (4) puisi esai, potret batin, dan isu social, (5) puisi esai dalam layer lebar, (6) puisi esai dalam Pendidikan, (7) puisi esai dan geliat sastra daerah, (8) puisi esai dari beragam tinjauan. Masing-masing penulis bebas memilih salah satu tema tersebut sebagai isi tulisannya dan bertanggung jawab penuh terhadap tulisan yang dibuatnya.

Buku antologi ini merupakan kumpulan opini yang diterima panitia mulai tanggal 20 Maret 2018 – 10 Mei 2018 dan berhasil lolos seleksi editor/panitia. Dari 62 artikel opini yang diterima editor/panitia hanya 50 artikel saja yang layak dimuat di dalam buku ini. 12 Opini yang tidak lolos seleksi itu disebabkan oleh (1) opini tidak membahas tentang puisi esai, tetapi membahas puisi atau sastra pada umumnya, (2) opini terlalu dangkal, tidak ada hal baru mengenai puisi esai, (3) tidak memberi perspektif baru yang lebih segar tentang puisi esai, (4) opini disusun secara tidak teratur, tidak logis, dan penggunaan PUEBI yang kacau-balau.

Dari 50 penulis opini yang terhimpun dalam buku ini, 35 orang penulis pria, 15 orang penulis perempuan. Mereka berasal dari 22 provinsi di Indonesia. DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Timur meloloskan tujuh penulis. Lampung ada lima penulis opini yang lolos. Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Bangka Belitung, masing-masing tiga penulis. Sulawesi Tenggara, Kalimantan utara, Kalimantan Tengah, dan Papua masing-masing dua penulis. Banten, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Bali, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Utara, dan Nanggroe Aceh Darusalam, masing-masing satu penulis.

Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum (Guru Besar Antropologi Sastra Universitas Negeri Yogyakarta) dalam prolognya mengibaratkan puisi esai sebagai sebuah telur. Para penulis opini puisi esai memandang puisi esai sebagai sebuah telur dari berbagai sudut pandang yang berbeda namun menarik. Mereka dikatakannya sedang berolah etnografi estetis. Artinya, sebagai seorang koki, para penulis opini puisi esai ini berusaha memasak opininya mengenai puisi esai dengan berbagai resep yang dimilikinya hingga tulisan yang dihasilkannya tersebut tersaji rapi, enak dinikmati. Pembaca, sebagai penikmat boleh saja menolak masakan, mengkritik, dan juga acung jempol. Setiap orang boleh berbeda untuk merasakan makanan (puisi esai).

Untuk membuat opinin mengenai puisi esai ini masih menurut Suwardi Endraswara, para penulis opini juga menggunakan konsep 3-K, yaitu (1) konten, artinya puisi itu memuat kandungan nilai, konten yang dalam dan estetis, (2) konteks, artinya puisi esai itu membawa pesan yang melingkupi berbagai hal dalam hidup ini, (3) konstruksi, artinya susunan puisi esai memang ada kekhasan. Kekhasan puisi esai ada getaran etnografis. Maka, studi sastra boleh digali dari perspektif antropologi sastra yang memandang konteks hubungan sastra dengan budaya.

Dari tiga kelompok yang dibahas oleh Suwardi Endraswara dalam prolognya, para penulis opini puisi esai termasuk ke dalam kelompok yang berpikir jernih. Mereka bukan kelompok yang mudah iri hati jika ada sesuatu yang baru. Juga bukan kelompok yang yang tidak begitu paham terhadap sesuatu yang baru, ikut-ikutan, merasa sok tahu lalu memberi adjustment yang semaunya sendiri.

Sebagai kelompok yang berpikiran jernih, mereka berupaya menerima keberadaan puisi esai atas dua dorongan. Yaitu, dorongan kreativitas dan dorongan psikologi. Dorongan kreativitas artinya mereka mengakui adanya puisi esai ini sebagai buah dari kreativitas para penyair dalam memunculkan ide baru yang berawal dari puisi Panjang (long poetry). Dorongan psikologi, yaitu keinginan mengemukakan imajinasi yang dipadu dengan opini hingga memunculkan puisi yang berbentuk naratif (narrative poetry).

Dalam bagian pertama buku ini, eksistensi dan potensi puisi esai, 13 penulis diantaranya Gunoto Saparie, Kumbo Adiguno, Bernadus B. Daya, Dhenok Kristianti, A.Y. Deliana, Rasiah, Anthony Tonggo, Heri Mulyadi, Rini Sulistiani, Hamri Manoppo, Fajar Mesaz, F.X. Purnomo, dan Bambang Widiatmoko mengakui keberadaan sebuah puisi esai di panggung sastra Indonesia sebagai ide yang luar biasa, adil dan beradab, memberi ruang yang lebih bebas untuk berimajinasi sesuai fakta. Sehingga keberadaannya diakui memperkaya khazanah kesusasteraan tanah air dan dunia. Dari keberadaannya inilah puisi esai membuka kesempatan untuk riset sastra. Inilah fakta yang harus diterima.

Selanjutnya buku ini pun memuat puisi esai dalam perdebatan. Yohanes Sehandi dalam opininya yang berjudul Kontroversi Puisi Esai 2018 menuturkan dengan Panjang lebar mengenai sejarah awal mulanya puisi esai dan perjalanan kontroversinya. Tulisannya bisa dijadikan sumber referensi bagi siapa pun yang belum mengetahui sejarah lahirnya puisi esai dan tokohnya. Usman D. Ganggang, Masrur Ridwan, La Ode Gusman Nasiru, Viddy Ad Daery, Willem Berybe sepakat melihat gonjang ganjing mengenai puisi esai ini justeru membuat puisi esai semakin dikenal masyarakat. Sehingga puisi esai berubah menjadi bola sastra yang terus menggelinding. Viddy pun mendukung hal ini dengan membahas mengenai honorarium yang sering kali menjadi topik perdebatan di kalangan sastrawan Indonesia. Mewakili kaumnya, ia mengatakan bahwa puisi merupakan karya kreatif yang melibatkan tidak hanya panca indra tapi juga pengetahuan, wawasan, dan kejernihan hati para penulisnya. Karya yang dihasilkan dalam bentuk puisi ini seharusnya juga mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang sama besarnya seperti yang diterima oleh pelukis dengan hasil lukisannya. Bukankah keduanya juga sama-sama produk kreativitas? Lalu mengapa berbeda dalam penghargaan dan apresiasi yang diberikan?

Pada bagian ketiga buku ini M.Isfridus Harapan, Satrio Arismunandar, dan Roso Titi Sarkoro mengusung tema angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia. Mengutip pendapat David Fishelov dalam The Birth of Genre  di jurnal European journal of English Studies, Vol.3 No. 1, pp. 51-63 (April 1999), Satrio Arismunandar berpendapat bahwa puisi esai merupakan genre baru menurut kriteria David Fishelov.

Bagian keempat yang berisi puisi esai, potret batin, dan isu social Isbedy Stiawan ZS, Fitri Angraini Roffar, Eddy Salahuddin, Nyoto Utoyo, Neneng Hendriyani, Januarius Yohanes Tolan Igor, dan Imelda Oliva Wissang mencoba menyelami batin masing-masing mengenai beragam isu social kemasyarakatan yang terjadi di sekitarnya. Melalui berbagai hal yang terjadi di masyarakat diantaranya politik, social ekonomi, budaya, pertahanan keamanan negara, mereka berujar bahwa melalui puisi esai mereka dapat menyuarakannya dengan gamblang, indah dan mudah dipahami oleh siapa pun. Puisi esai mampu mewakili perasaan batin para penyair mengenai lingkungannya. Ia bukan hanya sebuah hasil imajinasi penyair, tetapi juga didukung oleh fakta. Sehingga keberadaannya tidak bisa dinafikan begitu saja. Dengan demikian puisi esai memiliki fungsi sebagai perekam isu social kemasyarakatan (Neneng Hendriyani), pembelajaran berbasis masalah dan ruang kepekaan (Imelda Oliva Wissang).

Karena didukung oleh fakta mengenai berbagai hal yang terjadi di masyarakat itulah maka puisi esai memiliki banyak kesempatan dan peluang untuk diangkat ke layer lebar. Setidaknya itulah isi dari bagian kelima buku ini. Pendapat ini dikemukakan oleh Eldita Listika, Yoseph Yoneta Motong Wuwur, dan Rissa Churia.

Semakin luas dan dikenalnya puisi esai di blantika sastra Indonesia mau tidak mau, terpaksa ataupun rela, seluruh insan Pendidikan terutama guru Bahasa Indonesia pasti mengupas puisi esai di dalam kelasnya. Sejalan dengan itulah maka Tri Cahyono, Lukman Juhara, dan Anto Narasoma mengusung tema Puisi Esai dalam Pendidikan. Di bagian keenam inilah dibahas mengenai kiat mengajarkan puisi esai di sekolah. Juga dibahas pula puisi esai dan gerakan literasi serta nilai edukasi siswa.

Dengan adanya isu dan perdebatan yang sangat keras dialami oleh puisi esai mendorong banyak penulis dan penyair bangun dari tidurnya. Geliat ini mendorong mereka untuk aktif kembali di daerahnya masing-masing. Bahkan melalui puisi esai pula, penulis pemula pun dapat ikut berkiprah mengangkat nama daerahnya. Beragam kegiatan menulis puisi esai pun banyak dilakukan di daerah-daerah berdampingan dengan kegiatan menulis puisi lainnya. Hal ini menjadi nyawa tulisan bagian ketujuh buku opini ini dalam tema puisi esai dan geliat sastra daerah. Contributor tulisan pada bagian ini adalah Eka Susilawati, D. Kemalawati, Anggia Budiarti, dan Muhammad Thobroni.

Pada bagian terakhir buku ini, 11 penulis mengangkat puisi esai dalam beragam tinjauan. Narudin, Handry TM, Krisantus Sehandi, Isti Nugroho, Rita Orbaningrum, Nia Samsihono, Bambang Irawan, Pinto Janir, Imam Qalyubi, Elvi Ansori, dan Raden Tita Pujiwanti meninjau sekaligus membedah puisi esai dari kacamata masing-masing. Narudin melihat puisi esai dari perspektif psikoanalisis. Handry TM melihat sosok Denny JA, Agama dan politik dalam puisi esai. Krisantus mengangkat kegelisahan PW Singer dan Denny JA. Isti mencoba mengemukakan upaya puisi esai dalam menepis ego penyair. Rita mengaitkan puisi esai dengan Gerakan Revolusi Mental. Nia secara khusus membahas catatan kaki yang terdapat dalam puisi esai. Bambang membela penyair perihal honorarium dan kemiskinan yang biasa terjadi di kalangan penyair. Pinto merekomendasikan puisi esai sebagai salah satu obat bagi bangsa yang sedang sakit. Dekonstruksi sastra modern sebagai bagian dari puisi esai coba disampaikan dengan lugas oleh Imam Qalyubi. Puisi esai, tradisi budaya, dan kearifan local diangkat Elvi Ansori. Terakhir, Tita menikmati indahnya kritik social puisi esai dalam “Sapu Tangan Fang Yin”.

(Bogor, 22 September 2018)

*Tulisan ini telah dimuat di Tribun Bali pada hari Minggu, tanggal 23 September 2018.

*Isi buku 50 Opini Puisi Esai ini dapat diunduh di https://drive.google.com/file/d/1FrZnKsQUSakLfILVeALG4mzjnQCy4YZR/view

Batikku

Dalam corak ku mainkan warna

Tersapu indah di balik cerita

Bogorku yang permai dan berjaya

Sejak masa dulu kala

Guratan pena tertimpa malam

Lewat sapuan canting pujaan

Biru, merah bergantian

Kadang coklat ikut-ikutan

Merangkum cerita sederhana

Sesederhana kerlip lampu bis kota

Di terminal Baranang Siang yang kian tua

Tentang Talas yang mendunia

Tentang Pala yang merona

Dalam balutan gula

(Neneng Hendriyani; Karadenan, 09 Agust. 17)

Puisi ini ku tulis saat mengirim naskah puisi untuk Lomba Menulis Puisi Batik di Bogor. Puisi ini pun aku post kan di akun kompasianaku https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a2a016ffcf68147663a7d43/batikku

Batikku Bogorku

Di helai kain nan tipis

Di lekukan sapuan malam nan kelam

Di antara celupan aneka warna alam

Teratai istana tergambar sempurna

Dalam motif sang perupa

Indah tak terkira

Dalam ungunya warna

Tersimpan jejak masa

Cerita kala Pakuan berjaya

Lewat Kujang, Kijang, Lereng pakis dan Gerimis

Berbagai motif, kisah berbaris

Kujang Sang Prabu

Simbol sakti ketajaman olah fisik dan laku

Tersimpan rapi dalam deret warna nan apik

Elegan, mewah terkesan

Kijang nan lincah

Berlari berkawanan

Hiasi hutan Samida, juga taman para raja Hindia

Ikut bercerita indahnya masa remaja

Lereng pakis nan cantik

Gemulai dalam lengkung menarik

Tertata tuk si cantik camperenik

Motif Gerimis dalam kumpulan benang

Terbalut ungu, merah, biru dan hitam

Cerita indahnya hujan di Pakuan

Tak terhapus zaman

Semua terangkai rapi

Dalam lincahnya jemari

Merekam kisah histori

Tak hilang dalam memori

Tuk semua anak negeri

Inilah batikku!

Inilah kisahku!

Inilah Bogorku!

(Karadenan, 15 Juli 2017)

puisi ini adalah puisi yang diikutsertakan dalam lomba Menulis Puisi Batik yang diselenggarakan oleh Pemkot Bogor bekerja sama dengan Yayasan milik Bapak Ace S, seorang penyair Bogor yang aktif mengembangkan budaya dan sastra di lingkungan Kota Bogor.

Puisi ini juga aku postkan di akun kompasiana milikku dengan alamat

https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a2dd255cf01b41fcf6e5632/batikku-bogorku

https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a2dd255cf01b41fcf6e5632/batikku-bogorku?page=2

Jalan Tanpa Sesal

 

Saat bayu menyapa

Hemilirnya merasuk sukma

Gemercik banyu sunyi senyap terdengar pelan

Berbisik enggan masihkah rindu tersimpan

Membimbing jiwa ke jalan pulang

Dipersimpangan jiwa menoleh

Sekelebat ragu bermain peran

Teringat syair masa muda

“The road not taken” dari sang guru sastra

Tertunduk, pelan & pasti

Langkah pun dimulai lagi

Biar ku cari Dia yg hakiki

Tempat ku kembali

Di satu jalan yg kupilih tanpa sesal

(Neneng Hendriyani; Karadenan, 10-12-2017)

dipost kan juga di sini pada tanggal 13 Desember 2017 https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a313019f133444401515ff3/jalan-tanpa-sesal

LELAKI DI TANGGA SUCI

Kerap kali aku melihat

Lelaki tegap di sana

Mahkotanya tinggi menjulang

Bertabur emas dan pualam

Berdiri memandangku

Tiada pernah ia jemu

Kalungnya panjang

menghias dadanya yang bidang

Sepasang gelang berkepala ular naga

melingkari lengannya

Celana beludru dihias jarik batik berprada emas menyala

Diikatnya kuat dengan lambang wijaya kusuma

Sementara kedua kakinya dihias gelang bulat ksatria

Sebilah keris terselip di pinggangnya

Aku terpesona

Diam-diam ku menatapnya

Ada takut yang kurasa

Ingin lari bila jumpa

 

(Neneng Hendriyani, Bogor, 27 Maret 2018; pernah dipostkan di https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5ab9d9da16835f020e2dbdd4/lelaki-di-tangga-suci)

Karena Cinta

Cinta; satu kata dengan ribuan makna dan kesan. Ini tergantung dari sudut pandang mana ia menilai. Juga dari pengalaman apa ia bernilai. Begitu subjektif. Begitu misterius.

Ada yang menilainya sebagai hal yang sangat indah. Mungkin karena pengalamannya mengatakan bahwa cinta yang ia kenal seindah taman bunga. Banyak bunga mekar dan mewangi di bawah sinar matahari pagi. Banyak kupu-kupu warna warni yang berdansa mengitarinya. Mungkin.

Bagi yang lain bisa jadi cinta itu pahit sepahit empedu. Kisah sedih yang ia alami akibat cinta membuatnya enggan menjumpainya lagi. Bisa jadi itu terjadi di usia yang begitu muda. Bisa pula di usia paruh baya. Who knows. Yang pasti baginya tiada yang lebih menyakitkan selain cinta.

Bagi orang lain lagi cinta bisa jadi sebuah alasan. Alasan yang membuatnya bertahan. Alasan yang memaksanya berjuang. Alasan yang sama yang memintanya percaya bahwa cinta butuh pengorbanan.

Apapun makna dan kesan tentang cinta, itulah cinta. Bagiku ia adalah kekuatan. Tiada yang lebih dapat memompa diri selain cinta. Dengan segala keindahan dan keburukannya, ia ada untuk memotivasi diri agar lebih baik lagi. Dengan segala manis dan pahitnya ia membimbing diri untuk lebih mandiri lagi.

Itulah cinta. Setidaknya karena cintalah aku begini. Menguraikan kata-kata yang bermakna adalah alasan aku memuja cinta.

(Bogor, 23 September 2018)

sila pesan buku ini di

Estafet Yang Hilang

Beberapa tahun kebelakang semua orang tahu ada di level mana Lembaga ini berada. Semua langsung menunjuknya setiap kali pertanyaan tentang siapa yang terbaik diajukan. Banyaknya prestasi yang berhasil ditorehkan oleh seluruh civitas akademika membuatnya berdiri kokoh tak tergoyahkan sama sekali. Berbagai predikat pun berhasil disandangnya dengan gemilang. Sehingga akhirnya bermuara kepada kebanggaan dan kesejahteraan yang cukup di atas lumayan. Sebuah kebanggaan yang dimiliki seluruh bagian civitas akademikanya.

Tapi, itu dulu. Dulu sekali. Jauh sebelum 2011 tepatnya. Sejak orang itu datang menggantikan pimpinan sebelumnya semuanya berubah drastis. Tak ada lagi kekaguman yang terlihat dan terpancar dari seluruh pengunjungnya. Semua merasa heran sekaligus takjub bagaimana seekor merak yang indah berubah menjadi bebek trondol yang baud an kumuh.

Kenyataan pahit itu masih terus bertambah dari tahun ke tahun pula saat pimpinan baru menunjuk para wakilnya yang jauh dari kompetensi yang seharusnya dimiliki. Benarlah kata Rasul beberapa abad lalu, bila sebuah urusan diberikan kepada orang yang tidak cakap maka kehancuran pasti akan dituainya. Inilah yang terjadi kemudian di Lembaga tersebut.

Dulu mentari terang bersinar dari atapnya. Dulu emas berkilau dari seluruh dindingnya. Hingga semua berlarian mengejar cahayanya. Hingga semua berebutan mencari keberkahan darinya. Kini, berlian pun tak terlihat di atas tanahnya. Entah kemana larinya bongkahan emas dan perak yang dulu menggunung di sekitar halamannya. Tak ada satupun yang tahu tentang itu. Tak ada yang berusaha mencari tahu keberadaannya. Semua dibiarkan begitu adanya.

Ketidakcakapan para pemimpin yang memegang kendali itu semakin diperparah dengan kecenderungan mereka memilih stafnya berdasarkan kedekatan semata. Tak ada yang namanya rotasi, apalagi estafet kepemimpinan. Hasilnya sungguh luar biasa. Ketika seluruh anak macan dari mantan raja sebelumnya itu dilepaskan, hutan yang rindang pun tak lagi berasa seram. Juga tak lagi nyaman untuk jadi tempat tinggal. Binatang-binatang kecil saling berebut kekuasaan. Saling berusaha menjatuhkan, menikam dan menimbulkan kekacauan. Tak ada yang berani mengambil tindakan penyelamatan. Bukan apa-apa. Orang yang bernyali pun sadar diri ia tak punya kekuasaan apa-apa untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Orang yang berilmu pun takut bila maju ancaman sudah menantinya di tiang gantungan. Akhirnya, semua memilih diam. Memilih menonton kegaduhan sambil merapatkan hati, memohon pada Hyang Widhi semoga esok semuanya berganti.

 

(Bogor, 07 Sep. 18 )