Batikku

Dalam corak ku mainkan warna

Tersapu indah di balik cerita

Bogorku yang permai dan berjaya

Sejak masa dulu kala

Guratan pena tertimpa malam

Lewat sapuan canting pujaan

Biru, merah bergantian

Kadang coklat ikut-ikutan

Merangkum cerita sederhana

Sesederhana kerlip lampu bis kota

Di terminal Baranang Siang yang kian tua

Tentang Talas yang mendunia

Tentang Pala yang merona

Dalam balutan gula

(Neneng Hendriyani; Karadenan, 09 Agust. 17)

Puisi ini ku tulis saat mengirim naskah puisi untuk Lomba Menulis Puisi Batik di Bogor. Puisi ini pun aku post kan di akun kompasianaku https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a2a016ffcf68147663a7d43/batikku

Batikku Bogorku

Di helai kain nan tipis

Di lekukan sapuan malam nan kelam

Di antara celupan aneka warna alam

Teratai istana tergambar sempurna

Dalam motif sang perupa

Indah tak terkira

Dalam ungunya warna

Tersimpan jejak masa

Cerita kala Pakuan berjaya

Lewat Kujang, Kijang, Lereng pakis dan Gerimis

Berbagai motif, kisah berbaris

Kujang Sang Prabu

Simbol sakti ketajaman olah fisik dan laku

Tersimpan rapi dalam deret warna nan apik

Elegan, mewah terkesan

Kijang nan lincah

Berlari berkawanan

Hiasi hutan Samida, juga taman para raja Hindia

Ikut bercerita indahnya masa remaja

Lereng pakis nan cantik

Gemulai dalam lengkung menarik

Tertata tuk si cantik camperenik

Motif Gerimis dalam kumpulan benang

Terbalut ungu, merah, biru dan hitam

Cerita indahnya hujan di Pakuan

Tak terhapus zaman

Semua terangkai rapi

Dalam lincahnya jemari

Merekam kisah histori

Tak hilang dalam memori

Tuk semua anak negeri

Inilah batikku!

Inilah kisahku!

Inilah Bogorku!

(Karadenan, 15 Juli 2017)

puisi ini adalah puisi yang diikutsertakan dalam lomba Menulis Puisi Batik yang diselenggarakan oleh Pemkot Bogor bekerja sama dengan Yayasan milik Bapak Ace S, seorang penyair Bogor yang aktif mengembangkan budaya dan sastra di lingkungan Kota Bogor.

Puisi ini juga aku postkan di akun kompasiana milikku dengan alamat

https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a2dd255cf01b41fcf6e5632/batikku-bogorku

https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a2dd255cf01b41fcf6e5632/batikku-bogorku?page=2

Jalan Tanpa Sesal

 

Saat bayu menyapa

Hemilirnya merasuk sukma

Gemercik banyu sunyi senyap terdengar pelan

Berbisik enggan masihkah rindu tersimpan

Membimbing jiwa ke jalan pulang

Dipersimpangan jiwa menoleh

Sekelebat ragu bermain peran

Teringat syair masa muda

“The road not taken” dari sang guru sastra

Tertunduk, pelan & pasti

Langkah pun dimulai lagi

Biar ku cari Dia yg hakiki

Tempat ku kembali

Di satu jalan yg kupilih tanpa sesal

(Neneng Hendriyani; Karadenan, 10-12-2017)

dipost kan juga di sini pada tanggal 13 Desember 2017 https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5a313019f133444401515ff3/jalan-tanpa-sesal

LELAKI DI TANGGA SUCI

Kerap kali aku melihat

Lelaki tegap di sana

Mahkotanya tinggi menjulang

Bertabur emas dan pualam

Berdiri memandangku

Tiada pernah ia jemu

Kalungnya panjang

menghias dadanya yang bidang

Sepasang gelang berkepala ular naga

melingkari lengannya

Celana beludru dihias jarik batik berprada emas menyala

Diikatnya kuat dengan lambang wijaya kusuma

Sementara kedua kakinya dihias gelang bulat ksatria

Sebilah keris terselip di pinggangnya

Aku terpesona

Diam-diam ku menatapnya

Ada takut yang kurasa

Ingin lari bila jumpa

 

(Neneng Hendriyani, Bogor, 27 Maret 2018; pernah dipostkan di https://www.kompasiana.com/nenghendriyani/5ab9d9da16835f020e2dbdd4/lelaki-di-tangga-suci)