Oleh: Neneng Hendriyani
Menjalani hari yang baru di sekolah baru tidaklah semudah seperti memandang matahari. Banyak onak dan duri menyakiti tiap hari.
Sebagai anak baik dan patuh aku selalu menurut kepada kedua orang tua. Pun, saat mereka memutuskan untuk mengirimku ke sekolah menengah pertama yang cukup jauh dari rumah dengan alasan aman di perjalanan. Padahal setelah aku menjalani, jangankan aman, dekat saja tidak. Hanya ada beberapa angkutan umum yang melintasi sekolah tersebut. Belum lagi siswanya yang sangat banyak tidak sebanding dengan jumlah armada angkot yang tersedia menambah catatan tersendiri di buku harian ku.
Di penghujung tahun itu sekolah menerima tujuh kelas yang terdiri atas 36 siswa per kelasnya. Kelasku kebagian shift sore. Alhasil jam 12 siang sudah harus berdiri di depan gang demi mendapatkan angkot 08 yang akan membawaku ke sekolah. Di sekolah aku belajar dari jam 1 hingga jam 5 sore. Jangan ditanya apa yang dipelajari olehku dan kawan-kawan dalam jangka waktu yang begitu singkat tersebut. Hanya 4 jam saja.
Beruntung sekali bila guru-guru yang hadir di kelas itu benar-benar asyik mengajarnya dan langsung masuk ke otak. Sialnya, kalau guru yang hadir itu tidak memberikan apapun yang diharapkan. Aih, pengen kabur deh.
Dari semua guru yang kukenal dan mengajar di kelasku sejak kelas 1 hingga kelas 3 ada yang masuk ke dalam memoriku. Banyak juga sih yang tidak masuk ke dalam memori bahkan buku harian. Bukan apa-apa, bukan tidak menghormati atau apalah namanya, yang pasti begitulah adanya.
Hingga hari ini aku masih bisa mengingat nama, kebiasaan, dan ciri khas beberapa guru tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memberikan warna yang berbeda dalam kisahku selama di SMP.
Sebut saja Pak Hisyam. Lelaki klimis yang murah senyum itu adalah guru Pramukaku. Gaya jalan, gaya bicaranya di depan kelas masih terbayang jelas di pelupuk mata. Senyum manisnya selalu terpampang manakala ada siswa yang nyeleneh. Ia tak pernah menaikkan alis bahkan suaranya. Cukup senyum saja.
Ibu Sulastri, seorang guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelas 1 dan 2 adalah guru yang modis. Gaya rambutnya yang mirip teller Bank, mengingatkanku pada seorang artis Hollywood yang sangat terkenal yaitu Marilyn Monroe. Sepatunya yang berhak tinggi dan lancip itu membuatnya tampil beda di kelas. Mirip peragawati. Bila ia sudah mengajar, seisi kelas berubah layaknya kuburan. Sepi. Ya, kami semua seolah sepakat untuk tutup mulut selama ia mengajar bukan karena takut kepadanya. Tapi, karena kami sangat menghormati dan menghargainya. Kami sangat menyukainya.
Darinya aku dan kawan-kawan belajar tentang menulis karangan yang baik. Tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD menjadi fokusnya dalam mengajar. Ia tak segan-segan memberi hukuman bila tulisan siswanya tidak terbaca dengan baik. Bila ada siswa yang menggunakan tip-ex karena salah menulis pun akan dihukumnya. Tindakannya membuat kami sekelas selalu hati-hati dalam menulis.
Oh ya, apakah lantas karena itu kami diam? Tidak. Kami diam karena kami fokus pada tugas yang diberikan. Bila ada yang tidak dipahami kami pun berani bertanya. Beliau sangat senang bila siswanya mengangkat tangan untuk bertanya. Beliau juga tidak pelit nilai bila memang dianggapnya siswa tersebut berhak mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Pokoknya beliau adalah salah satu guru favorit di kelasku selama 2 tahun.
Pak Joni adalah guru Matematika pertamaku di kelas. Inilah guru yang paling banyak mengisi halaman diariku. Bahkan hingga hari ini pun namanya masih saja sering dibicarakan di grup alumni kelas.
Lelaki muda yang baru saja lulus kuliah itu mengajar setiap Senin sore di kelasku. Tampilannya yang gagah dan parlente seketika menyihir seluruh siswi di kelas. Aroma parfumnya semerbak menyeruak di ruang kelas tiap kali ia berjalan mondar mandir di dalam kelas. Tatapan matanya yang tajam seringkali membuat semua jantung siswa berdetak lebih keras dari biasanya. Duh, sampai segitunya ya. Ya iyalah, sudah mata pelajaran yang diajarnya bukan mata pelajaran favorit eh orangnya lumayan galak.
The killer man adalah julukan yang paling tepat untuknya. Tiap kali ia masuk kelas pasti ada saja siswa yang kena dipajangnya di depan kelas selama jam pelajarannya. Aku pun pernah mengalaminya. Menjadi pajangan kelas sekali seumur hidup adalah pengalaman yang tak pernah kulupakan.
Hari itu, nasibku sial. Saat ia masuk kelas, aku baru datang dari toilet. Matanya langsung melirik tajam. Dengan menunduk kubilang, “Maaf, Pak.” Ia langsung menyuruh duduk. Alhamdulillah. Selepas itu ia langsung menerangkan materi tentang pecahan. Baginya belajar matematika itu harus dibuktikan dengan logika. Ia tidak suka bila siswanya bisa menjawab karena hafal bukan karena paham. Ia memberikan contoh soal bila ia memiliki empat buah Apel merah dan ingin membagikannya kepada empat siswa maka berapa apel masing-masing yang akan diperoleh oleh keempat siswa? Serentak seisi kelas menjawab satu. Mengapa satu? Karena empat dibagi empat hasilnya satu. Mengapa hasilnya satu? Mengapa begitu? Terus ia mengejar kami dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Ia baru berhenti bila dirasanya seisi kelas sudah paham dan bisa menjawabnya.
Tibalah giliranku. Ditanyanya soal yang sebetulnya mudah bagi siswa selevel Alfanus dan Ridwan. Mereka adalah dua cowok yang paling pintar di kelas. Tapi sayang, aku gelagapan saat menjawabnya. Jadilah aku dipajangnya di depan kelas. Persis di samping papan tulis dengan mengangkat sebelah kaki dan memegang kedua telinga. Duh, malunya.
Hingga aku kuliah S-1 pertanyaannya mengenai soal yang membuatku tenar sehari itu mengusik ketenanganku. Bagaimana caranya membuktikan nol dibagi nol sama dengan tak terhingga. Aku nggak bisa.
Meskipun mendapatkan kenangan seperti itu tak sedikitpun aku membencinya. Bukan karena ia guru laki-laki loh, ya. Bukan juga karena ia masih single dan ganteng. Bukan. Aku sadar aku memang pantas mendapatkannya. Aku memang tak secerdas Alfanus. Jadi pantas bila dihukum seperti itu. Dengan begitu aku jadi belajar lagi dan lagi.
Guru agama yang paling kuingat adalah guru yang mengajar di kelas dua. Ia tinggal di gang Mujair, Depok. Darinya aku belajar tentang sejarah peradaban Islam. Mengenal siapa Avicenna alias Ibnu Sina, Averos dll lalu jatuh cinta pada sejarah Islam abad pertengahan adalah akibat dari mengikuti pelajarannya yang berbeda dari guru-guru agama lainnya. Ups, jangan tanya siapa namanya. Sungguh aku tak ingat namanya. Tapi aku ingat gaya busananya. Ia bergamis lengkap tanpa make up sama sekali. Wajahnya cantik. Pola pikirnya mengisyaratkan ia adalah guru yang cerdas. Pandangannya sangat maju. Sangat maju. Ia satu-satunya guru yang berhasil membuka wawasan tentang berbagai hal dengan cara yang paling asyik dan menyenangkan.
Guru olahraga sejak zaman SD hingga SMA memang tak pernah masuk bursa untuk kutulis di buku harianku. Aku yang terlahir dengan fisik lemah dan kondisi jantung yang tidak senormal siswa lainnya membuatku sadar body bahwa aku tak akan pernah menjadi murid kesayangan guru olahraga manapun. Jadi memilih tidak menulis tentang guru olahraga adalah pilihan yang terbaik bagiku. Cukup aktif dalam pelajarannya, meraih nilai yang baik dan lulus saja sudah cukup membuatku bahagia.
Beda halnya dengan guru yang satu ini. Ibu Tetty adalah guru geografi kesayanganku. Tampilan fisiknya yang sangat mudah diingat adalah gaya rambutnya yang selalu dipotong Bob. Guruku yang mungil ini membawaku berselancar dari satu negara ke negara lainnya dengan sangat mudah. Gaya mengajarnya mengingatkanku kepada seorang guru di SD dulu. Dengan kemampuannya menggambar peta dunia aku bisa membayangkan dengan seksama bagaimana daerah yang sedang ia jelaskan dengan mudah. Oktavianus Ilata seolah kembali hadir di bayangan mata tiap kali Ibu Tetty mengajar. Dari keduanya aku belajar menggunakan imajinasi dengan sedemikian bebas. Bagaimana memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan adalah gaya belajar yang mereka tanamkan.
Dari semua guru bidang studi yang mengajar kelasku hanya satu guru yang membuat seluruh jantung siswanya berdegup lebih keras. Semua kaki bergetar di bawah kolong meja tiap kali telinga menangkap bunyi derap langkahnya; tik tok tok tok, dari kejauhan. Apalagi bila ada ulangan hari itu, keringat dingin mengalir menganak sungai membasahi kemeja. Tatapan mata penuh arti terpancar dari tiap wajah yang ketakutan. Duh, killer.
Senyumnya manis. Lipstik dan blush onnya merah merona. Rambutnya berjambul dan sedikit bergelombang. Kulitnya mulus, putih bersih. Parfumnya harum sekali. Tapi entah mengapa kok tak terlihat seperti Desi Ratnasari.
Suaranya keras dan kencang. Seisi kelas bisa mendengarnya dengan jelas. Apalagi bila doi sedang marah-marah. Waw, dijamin deh telinga yang ditutup gumpalan kapas pun masih bisa mendengar omelannya. Mantap, kan. Dua jam pelajaran bisa habis bila moodnya sedang tidak baik.
Materi yang paling sering diajarkannya adalah grammar. Entah di jam kbm biasa atau di kelas khusus pendalaman materi menjelang UN materi tersebut pasti diajarkannya berulang kali dengan cara yang sama. Bosan. Herannya, sekalipun diulang-ulang tetap saja cuma Alfanus yang bisa mengisi semua latihan soal yang diberikan. Yang lain? Tetap saja, stupid Perancis. Katanya, tiap kali memarahi kami sekelas.
Dua tahun bersamanya di kelas serasa dua abad. Tak ada kenangan yang manis yang bisa kurekam. Yang ada hanyalah rasa takut setiap kali bertemu baik di dalam maupun di luar kelas.
Ingatan terakhirku tentang dia adalah hal yang paling buruk. Siang itu seperti biasa aku membantunya merapikan administrasi kelulusan kawan-kawan sekelas. Yah, sekalipun ia galak kepadaku tapi ia selalu meminta bantuanku. Aku senang membantunya. Sekalipun deg-degan takut dimarahi.
Siang itu semua lembar ijazah telah kususun rapi. Semua yang diperlukan untuk kelulusan pun telah selesai. Esoknya aku kembali untuk cap tiga jari. Inilah awal rasa itu timbul. Di depan guru-guru ia berteriak memaki. “Dasar stupid Perancis, kamu tuh gimana sih?” Aku terhenyak. Kaget bukan alang kepalang. Aku yang dikenal baik, sopan dan pintar di kalangan guru hari itu diejek sedemikian rupa olehnya. Hilang sudah kebanggaanku. Hilang sudah rasa hormatku. Ditariknya jari jemarinya. Dicampakkannya seketika saat ia melihat tinta biru di jari jemari tersebut. “Mikir nggak sih kamu, tuh? Masa begini cara kamu cap tiga jari? Aduh ini salah. Bukan begini. Masa jari kamu hilang satu!” Sontak semua guru mendekatiku. Mereka ingin tahu apa yang sedang dipermasalahkan. Dengan terbata aku mencoba menjelaskan. Tapi hardikannya tak juga berhenti. Aku menyerah. Kutunjukkan ketiga jariku. Salah satu jariku memang tidak sama ukurannya dengan jari di sebelahnya. Jadi kalau aku paksakan naik posisinya maka akan terlihat sekali jomplangnya. Bila tidak ditarik ke atas maka cap nya hanya tampak sedikit. Serba salah. Tapi inilah jariku. Jari anugerah pemberian sang Khalik.
Sepulang sekolah aku diam. Tak ada canda tawa yang biasa ku bawa ke ruang keluarga. Kedua orang tua bertanya tapi aku hanya menggeleng. Biarlah ini jadi rahasia. Sejak hari itu ia adalah guru yang paling kubenci. Sudahlah materinya susah masuk ke otak, sikapnya pun kasar.
(Bersambung)
(12 September 2019; 11.30 am)
