Setangkai Bunga Bangkai

Oleh: Neneng Hendriyani

Cantik, menarik
Pulasan lipstik merona apik
Mata bulat full maskara
Tambah bulat bila sedang angkara

Ah, sepatu hak tinggi terdengar menjerit tiap kali mendekat
Hati tercekat semoga bukan hantu yang lewat

Dua jam pelajaran bak dua tahun di neraka
Tiada pernah dihargai cuma dapat caci maki

Oalah… bodoh bukan bawaan lahir
Datang karena ingin mahir
Tapi cuma sakit hati
Dan kesal yang menepi meronce laksana melati

Kaulah setangkai bunga bangkai
Mengajar tidak dengan hati
Pilih kasih, pilih nilai
Cuma dianggap rimbunan bambu
Lurus tinggi itulah idolamu

Kaulah alasanku
Hendak menjadi guru

(Cibinong, 31 Agustus 2019; 10.52)

Benci dan Cinta: Alasanku Memilih Menjadi Guru (1)

Oleh: Neneng Hendriyani

Setiap kali aku ditanya apa sih alasanku memilih menjadi guru bukan menjadi seorang wirausaha atau pegawai di perusahaan multinasional aku selalu menjawab: semua karena dua alasan. Yaitu benci dan cinta.

Ya, dua perasaan dasar inilah yang mendorongku sedemikian kuat menjadi seorang guru hingga hari ini. Dua alasan yang begitu kuat menjerat alam bawah sadarku beberapa puluh tahun lalu. Alasan yang sangat emosional.

Terlahir dari keluarga guru eksakta tidak serta merta membuatku mahir dan cerdas dalam pelajaran berhitung. Perlu diketahui aku masuk sekolah dasar saat usiaku belum genap 5 tahun. Ini memang di luar kewajaran. Maklum saja zaman itu sekolah taman kanak-kanak belum ada di daerah tempat tinggalku. Pun, sebagai anak seorang guru sekolah dasar aku terbiasa dibawa orang tuaku ke tempat kerja sejak aku masih bayi umur 4 bulan. Alhasil segala hal yang dilakukan oleh orang tuaku tersebut terekam baik dalam ingatanku. Ditambah lagi ia mengajar di kelas akhir setiap tahun ajaran.

Siang itu aku dipanggil Bapak Kepala Sekolah yang merupakan atasannya. Aku tertangkap basah sedang menulis sederetan kalimat pendek di tembok sekolah menggunakan pulpen milik ibuku. Dengan sadar dan tahu persis bahwa itu salah aku menulis nama lengkap dan keinginanku untuk bersekolah. Rasanya bosan sekali aku ikut tapi aku tak bisa duduk sebagai siswa. Aku hanya duduk di kursi guru tiap kali ibuku mengajar. Aku acap kali pindah ke kursi siswanya bila ada yang tidak masuk sekolah. Kegiatanku ya sama lah dengan kegiatan siswa-siswanya saat itu. Aku diam-diam belajar menyimak, menulis dan mengerjakan semua tugas yang diberikan ibu kepada siswanya.

Aku duduk laksana seorang terdakwa hampir dua jam. Dengan sesenggukan aku tetap tak bergeming. Entah sudah berapa kali Bapak Kepala membentakku saat itu. Maklumlah, penjaga sekolah baru saja mengecat semua tembok sekolah dan kini aku telah mengotorinya dengan keinginan yang tidak masuk akal bagi anak seusiaku di tahun 1987.

Akhirnya, mungkin karena lelah atau tak tega, aku sendiri tak tahu mengapa, tiba-tiba ia menanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan dengan melakukan kesalahan tersebut. Dengan mendongak, aku menjawab “aku ingin sekolah”. Dia menanyakan hal yang sama hingga berkali-kali dan berkali-kali itu pula jawabanku sama. Aku tak tahu mengapa begitu. Bosan padahal.

Terakhir ia memanggil ibuku ke kantor. Dengan merogoh sakunya ia berkata, “selesai mengajar bawa Neng ke pasar, ya. Belikan seragam sekolah dan besok ia mulai sekolah”. Ibuku kaget bukan alang kepalang. Semua guru juga bingung. Semua paham benar, usiaku belum cukup untuk bersekolah. Tapi tak ada seorang pun yang berani menentang keputusannya. Hanya aku seorang diri yang gembira. Aku tak peduli. Aku tetap happy. Dengan bernyanyi aku keluar ruangan kepala sekolah. Sebelumnya kucium tangannya dengan takzim seperti biasanya aku selalu bertemu dengannya. Aku melompat-lompat gembira. Semua siswa yang sedang istirahat dan bermain di lapangan sekolah menatapku sesaat. Aku tak peduli reaksi mereka. Aku sangat bersemangat sekali hari itu. Detik demi detik dihitung dengan cermat. Tak sabar ingin segera memencet bel pulang tiga kali, tugas yang kulakukan tiap hari guru piket menyuruhku.

Dengan menumpang sebuah angkot 72 jurusan Kampung Sawah-Cibinong aku dan ibuku tiba di pasar tradisional Cibinong. Di pasar yang luas dan lengkap ini aku berlari menuju sebuah toko sepatu yang sudah menjadi langganan ayahku selama ini. Mang Dudi nama pemiliknya. Kami saling mengenal. Maklumlah pembeli dan penjual di pasar ini adalah warga satu kecamatan yang sering bertemu. Jadi wajar bila saling mengenal.

Mang Dudi paham benar sejak aku kecil aku tak suka sepatu model perempuan. Setelah mendengar ceritaku ia langsung mengambil sebuah sepatu Rebox. Sepatu hitam bertali dan agak tinggi itu tentu menarik minatku. Aku begitu bangga bisa memakainya. Dengan senang hati ia membungkusnya untukku. Pun, sebuah tas pilihanku. Tas gendong (dulu aku menyebutnya tas Gemblok, karena harus digemblok) berwarna merah lengkap dengan gambar para pahlawan kartun di bagian depannya pun dibayar ibuku.

Setelah belanja sepatu dan tas, barulah kami menuju toko seragam. Disinilah aku merasa tidak nyaman untuk pertama kalinya. Aku tidak tinggi memang, bahkan cenderung pendek dan kecil. Baju ukuran S saja masih kebesaran. Hiks.

Keesokan harinya aku resmi memulai hari-hari sebagai siswa termuda, terkecil dan terpendek. Guru pertamaku adalah seorang gadis muda yang baru saja lulus dari sekolah untuk guru TK. Karena pengalaman buruknya di sebuah TK di kota Bogor, ia pindah menjadi guru di sekolahku. Ia berkacamata. Selama seminggu ia mengabsen semua siswanya. Namun namaku tak pernah disebutnya. Aku hanya bisa tengak tengok mendengar kawan-kawan mengucapkan “hadir” setiap kali nama mereka disebut. Dengan berdebar aku menunggu giliran kapan kiranya namaku akan disebutnya. Hingga kelas berakhir aku tak pernah disebut. Keesokan harinya saat semua kawan sudah diabsen aku langsung berdiri. Aku protes. Itulah protes pertamaku.

Melihat ia tak bisa menjawab pertanyaanku aku langsung keluar dengan berlari. Kuketuk kantor kepala sekolah. Di depannya aku protes. Aku bilang aku sudah ikut belajar tapi aku tak pernah diabsen. Aku takut tak dapat nilai. Walau semua PRku dinilai 100 tapi aku curiga Bu Guru tidak menuliskannya di buku nilainya sebab namaku tak ada di sana. Dengan senyum, kepala sekolah menjawab kalau aku hanya anak bawang.

Anak bawang? Apa itu anak bawang? Ah aku tak paham. Yang kutahu anak singkong. Anak bawang belum pernah kudengar sebelumnya. Dengan berlari aku menuju kelas ibuku di pojok. Kutanya padanya apa sih anak bawang itu. Ia kebingungan mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya. Ia tahu persis aku akan marah bila tahu artinya. Akhirnya aku kembali ke kelas dan bertanya kepada guruku. Aku terkejut mendengarnya. Aku berteriak dengan keras, “aku bukan anak bawang.”

Kembali aku mengetuk pintu kepala sekolah. Ini kali dengan perasaan marah yang tak bisa diungkapkan. Bagi anak sekecil itu rasanya julukan anak bawang adalah hal yang tidak mengasyikkan. Di depan bapak kepala sekolah yang tinggi besar dan botak kepalanya itu aku berkata tegas, “Aku bukan anak bawang. Aku mau sekolah. Aku sudah bisa membaca. Aku bahkan sudah bisa menulis dan berhitung. Aku bisa. Aku tak mau cuma disuruh duduk saja. Aku tak suka!”

Lagi, dengan bingung bapak kepala sekolahku menelan ludahnya. Ia tampak kesulitan mencari kalimat yang pas agar aku tak tambah marah. Ia tahu persis aku bisa menulis. Bukankah aku disuruh beli baju seragam karena aku bisa menulis di tembok sekolahnya? Bukankah aku diijinkan untuk masuk di kelas 1 karena aku bisa membaca? Akhirnya setelah diam cukup lama, ia memanggil guruku. Setelah ia datang, ia bilang bahwa mulai besok namaku harus ada di absen kelas dan di buku nilai. Aku tak serta merta percaya. Aku menatap keduanya dengan curiga. Aku mendengus kesal. Awas saja kalau aku dibohongi. Kalau besok aku tak diabsen lagi, aku akan menulis di tembok bahwa kalian pembohong. Ancamku.

Singkat cerita, aku berhasil membuktikan bahwa aku tidak mengecewakan guru-guru SD dan kepala sekolahku tersebut. Aku selalu menjadi juara 1 di setiap catur wulan. Bahkan aku lulus dengan Nilai Ebta Murni yang tinggi. Semuanya bangga. Aku pun bahagia.

(Bersambung; 31 Agustus 2019; 10.09 WIB)

Catatan Istimewa

Oleh: Neneng Hendriyani

Kita seringkali tidak tahu apa yang membuat sesuatu itu istimewa dalam pandangan mata kita sendiri. Seringkali kita merasa bahwa apa yang kita pegang, lihat, dan rasa biasa-biasa saja. Sementara bagi orang lain, semua itu tampak begitu istimewa. Mengapa demikian?

Istimewa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Jilid V (KBBI V, Offline) adalah lain daripada yang lain, luar biasa. Nah itulah sebabnya mengapa yang lain daripada yang lain ini disebut istimewa dan dipandang begitu berharga oleh siapapun.

Sayangnya, di dalam hidup yang fana ini ukuran istimewa tidaklah stabil. Ia sangat relatif. Sesuatu yang relatif ini bersifat tidak mutlak dan nisbi. Sesuatu akhirnya dinilai istimewa oleh orang yang tidak memilikinya atau sangat mengharapkannya.

Berbagai hal yang bisa dinilai istimewa diantaranya adalah berbentuk barang dan non barang. Yang termasuk ke dalam barang diantaranya adalah segala sesuatu yang memiliki wujud, bentuk, rupa atau jasad. Sementara non barang berupa benda yang tidak berwujud. Ia bisa berupa jasa dan rasa.

Nah, untuk barang atau benda yang berwujud sangatlah mudah dikategorikan sebagai barang atau benda istimewa atau tidak. Selama keberadaannya diinginkan, diharapkan, dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maka barang atau benda tersebut masuk ke dalam kategori istimewa. Sebab bila barang tersebut tidak ada, maka orang tidak bisa mengambil manfaatnya. Akibatnya, kehidupannya akan terganggu. Sebagai contoh, pulpen adalah barang atau benda istimewa bagi para pekerja kantoran. Tanpa pulpen mereka tidak bisa bekerja dengan baik.
Yang termasuk ke dalam non barang atau benda istimewa adalah jasa yang diterima atau jasa yang diberikan. Termasuk di dalamnya rasa yang ditimbulkan akibat perbuatan dari jasa tersebut. Misalnya, rasa haru, bahagia, penghargaan dan lain sebagainya.

Semua orang akan merasa bahagia tiap kali menerima kebahagiaan baik dari lingkungan terdekatnya maupun lingkungan yang tidak dikenalnya. Sebagai contoh sederhana, cobalah tengok wajah-wajah yang lalu lalang di jalan raya. Mereka tidak mengenal satu sama lain. Namun, mereka seringkali melemparkan senyum manisnya ke sesama pengguna jalan apabila mereka mendapatkan apa yang dibutuhkan. Seperti, bantuan singkat berupa dipersilakan jalan lebih awal, atau mendapatkan informasi yang diperlukan.

Bagi mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah merayakan hari istimewa dalam hidupnya, bisa jadi akan sangat terharu dan bahagia bila dirayakan oleh teman-temannya atau keluarganya. Kenangan manis saat dirayakan itu akan menjadi sesuatu yang dianggapnya begitu istimewa. Sehingga kenangan itu menjadi salah satu kenangan yang tidak terlupakan. Kenangan sederhana bagi orang lain itu masuk secara tidak sadar ke dalam jaringan long term memory nya di kepala. Selanjutnya akan tersimpan dalam jangka waktu yang sangat lama. Bahkan kenangan itu bisa jadi menjadi alasannya di kemudian hari untuk tetap bertahan menjalani sisa hidupnya. Itulah gambaran istimewa bagi orang-orang yang tidak mengalami hal tersebut setiap tahun.

Pun, dengan catatan ini. Catatan ini menjadi catatan yang begitu istimewa bagi penulis. Hal ini dikarenakan catatan ini adalah penanda akan sebuah fase kehidupan yang harus dijalani penulis. Bertambahnya bilangan usia bagi setiap orang akan ditandai nya dengan cara masing-masing. Cara ini menjadi begitu unik. Karena cara tersebut bisa jadi menjadi ciri khasnya yang membedakannya dengan orang lain.

Bagi penulis sendiri, pertambahan usia bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan atau diagung-agungkan sedemikian rupa dengan cara mentraktir teman, jalan bersama teman dan kolega atau berpesta. Fase ini adalah sebuah fase tahunan yang selalu dihadapi oleh semua orang dan diperingati dengan cara yang mungkin saja akan selalu berbeda dari tahun ke tahun.

Usia yang bertambah menandakan perubahan yang cukup signifikan.
Pertama, perubahan bentuk tubuh. Sebagai seorang wanita, bentuk tubuh ideal adalah hal yang normal dan nyata diidam-idamkan. Namun, seiring perkembangan zaman dan penambahan usia maka bentuk tubuh pun akan terus berubah secara dinamis. Perubahannya sejalan dengan hobi, pola hidup dan ritme kerja yang dijalani. Bisa jadi perubahan bentuk tubuh ini tidak akan sama antara manusia yang satu dengan yang lainnya sekalipun usia mereka sama. Maka itu tidak bisa dijadikan patokan umum bahwa seseorang yang sudah menginjak usia sekian maka tubuhnya akan begini begitu. Tidak semua wanita yang berusia lima puluh tahun bentuk tubuhnya tidak menarik lagi. Banyak yang masih tampil fresh dan prima di usia setengah abad.

Kedua, perubahan pola pikir. Dalam hal ini penulis menyadari dengan semakin luasnya pertemanan yang terjalin dalam tahun-tahun terakhir dimana pertemanan itu dijalin lintas ras, suku, agama, budaya dan profesi memberikan sumbangsih yang luar biasa dalam membentuk diri penulis yang baru.
Sejak bergaul dengan mereka, penulis tidak lagi bisa spontan menilai seseorang itu negatif hanya dari cara bicara, diskusi, kerja, atau candanya. Ada banyak hal yang membuat seseorang tampil seperti itu saat itu. Orang yang bijak adalah yang tidak langsung menganggapnya salah dan harus dinasehati dengan serta merta.

Masih banyak lagi perubahan yang ada. Namun cukup kiranya penulis paparkan hanya hal-hal tersebut di atas. Bila ada kesempatan dan waktu luang, insya Allah akan disambung kembali dalam tulisan berikutnya.
(Kota Hujan, 9 Agustus 2019)

Sudahkah Kita Merdeka?

Sudahkah kita merdeka?
Kala dalam tidur pun kita dijajah tetek bengeknya permasalahan
Hingar bingar pergulatan hidup
Sekadar tuk bisa tenang bahwa besok kita masih makan dengan kenyang

Sudahkah kita merdeka?
Kala baju pun harus diseragamkan
Seolah individu tak lagi punya hak memilih
Atas rasa, karsa dan ciptanya sendiri
Sehingga maut pun sering diterjang agar semua bisa seragam

Sudahkah kita merdeka?
Bila lomba-lomba yang ada hanya sekadar hiburan semata

(Neneng Hendriyani, Bogor, 17-8-1945)