Catatan Merah Jambu (1)

Oleh Neneng Hendriyani

Kenyamanan! Ya, kata yang sederhana ini ternyata tak sesederhana maknanya. Setiap orang memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai apa itu nyaman dan kenyamanan. Ada yang mengartikannya secara harfiah. Ada juga yang njelimet mutar-mutar kesana kemari seolah ia adalah seorang ahli filsafat. Apa pun definisinya, aku tak ingin berdebat dan memperdebatkannya.

Saat seseorang sudah berada di titik kenyamanannya, biasanya ia enggan berubah, stagnan, pasif dan mengekor. Keinginannya pun telah padam. Ia hanya berada di suatu tempat sebagai pelengkap.

Namun, saat seseorang yang sedikit punya nyali justeru meninggalkan kenyamanannya demi menjaga api keinginannya tetap menyala ia akan keluar dari zona nyamannya. Tak peduli kerasnya hambatan, halangan dan tantangan yang menghadangnya di sepanjang jalan ia tetap bergerak.

Dilapnya semua peluh yang membasahi punggungnya. Disekanya air mata yang mengalir di sela-sela perjuangannya. Ditahannya teriakan dan jeritan keluar dari mulutnya. Tak ada yang diberikannya kesempatan untuk membuatnya kembali surut ke belakang dan menangisi kenyamanan yang ditinggalkannya.

Itu semua dilakukannya karena ia percaya pada satu hal. Yaitu, kenyamanan hakiki yang dikejarnya selama ini akan diraihnya segera bila ia telah mampu beradaptasi dengan semua keinginan dirinya sendiri.

*
(Bogor, 12-02-2020; 14.37 wib)

Ungkapkan dengan Bunga

Oleh Neneng Hendriyani

Seringkali para penyair mengatakan, “ungkapkanlah dengan bunga” saat engkau sedang jatuh cinta. Aku yang masih belia saat itu dengan serta merta langsung mengikuti nasihat bijak tersebut. Kupergi ke sebuah toko bunga dan memesan sebuah buket bunga yang cantik. Tanpa tahu makna masing-masing bunga yang menjadi bagian dari buket itu, kuberikan ia dengan penuh semangat kepada seseorang yang sangat kukagumi.

Jauh di hati aku berharap ia akan bahagia saat menerimanya. Setidaknya itulah mimpiku dulu. Aku membayangkan senyumnya yang manis langsung mengembang tatkala melihat sekuntum mawar pun ada di antara beberapa bunga lainnya. Ah, mimpi yang begitu indah.

Sayang, ternyata mimpi itu tak terjadi. Dibuangnya bunga itu begitu saja. Hatiku langsung nelongso. Aih. Tak tahu dia aku telah menghabiskan banyak uang dan waktu untuk bisa mempersembahkannya di hari itu.

Ternyata, indah bagiku belum tentu indah baginya. Berharga bagiku belum tentu berharga baginya.

Begitulah kisah bungaku yang masih kukenang hingga kini.

*
(Bogor, 12 Februari 2020)