Antara Dusta, Kecewa, dan Maaf: Refleksi Menuju Idul Fitri

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Sebagai manusia biasa, kita tak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan. Ada kalanya kita berbuat salah dan khilaf sehingga menyakiti sesama, dan ada kalanya kita yang disakiti, baik sengaja maupun tidak sengaja. Rasa sakit dan kecewa akibat terjadinya kesalahan dan kekhilafan sering kali meninggalkan bekas yang bertahan lama; bisa satu hari, satu bulan, satu tahun, bahkan satu windu. Bekas ini muncul begitu saja tanpa basa basi sebagai tanda bahwa kita makhluk fana yang memiliki rasa dan ego. Ketika rasa dan ego bertabrakan dengan kondisi riil, tentu tak mudah bagi kita mengelak dan meniadakan rasa sakit dan kecewa yang timbul dari kesalahan dan kekhilafan yang diperbuat baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Menjelang Idulfitri, kita kembali dihadapkan pada momentum suci yang bukan hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga ajang refleksi diri, introspeksi, dan rekonsiliasi dengan sesama. Memaknai Idulfitri sebagai hari kemenangan atas perang terhadap nafsu selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan membantu kita menengok lebih dalam kondisi rasa dan ego yang kita miliki. Kita tidak hanya perlu memikirkan kembali kesalahan dan kekhilafan yang telah kita lakukan terhadap sesama, namun juga terhadap diri sendiri. Berapa banyak akibat yang terjadi dari kesalahan dan kekhilafan tersebut memengaruhi kualitas kehidupan sosial kita? Berapa banyak tindakan menarik diri yang telah kita lakukan akibat kecewa menahun yang tersimpan dalam hati kita selama ini? Berapa banyak rasa kasih terhadap sesama hilang dari jiwa? Berapa banyak kita terluka? Semua pertanyaan ini bisa menjadi alasan untuk menemukan kembali makna sesungguhnya dari Idulfitri sebagai hari kemenangan terhadap nafsu melalui refleksi yang jujur.

Rerata penyebab kecewa yang muncul akibat kesalahan dan kekhilafan ditimbulkan oleh dusta. Menurut ajaran Islam, dusta adalah salah satu perbuatan yang dapat merusak hubungan antarmanusia. Allah SWT telah memperingatkan dampak buruk dusta dalam Q.S. An-Nahl: 105:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” Sekecil apapun dusta yang dilakukan tetap saja mampu menimbulkan hilangnya kepercayaan dan keharmonisan dalam ruang sosial interaksi kita dengan sesama baik dalam keluarga, persahabatan, maupun masyarakat.

Dalam konteks refleksi menuju Idulfitri, mari kita renungkan kembali sejauh mana kejujuran telah menjadi bagian dari diri kita. Apakah kita pernah berdusta demi keuntungan pribadi, baik secara finansial maupun lainnya? Ataukah kita telah berlaku tidak jujur dalam kehidupan sehari-hari? Jika iya, mari kita bersihkan hati dari sifat dusta dan menggantinya dengan keterbukaan serta kejujuran.

Dari dusta yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja, sekecil apa pun pastilah menimbulkan kekecewaan. Nah, kekecewaan ini  bisa menjadi pintu masuk bagi hadirnya amarah dan kebencian. Meskipun kekecewaan tidak selalu berdampak negatif karena nyatanya kekecewaan dapat menjadi pelajaran berharga yang menguatkan jiwa, kita tetap didorong untuk mengolahnya dengan bijak. Islam mengajarkan kita untuk menerima bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita telah dinasihati oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya: “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani). Jadi, walaupun kita merasa kecewa bukan berarti kita boleh marah dan benci. Untuk itulah, menjelang Idulfitri ini mari kita ingat kembali pernahkah kita membuat orang lain marah? Jika ya, jangan ragu untuk meminta maaf dengan tulus.

Sejatinya kata maaf menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ungkapan permintaan ampun atau penyesalan, yang mampu membawa pembebasan seseorang dari hukuman karena suatu kesalahan. Dengan kata maaf, kita telah mengakui kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan. Dengan kata maaf, kita telah membebaskan diri kita dan orang yang kita sakiti dari rasa kecewa dan luka. Dengan kata maaf, kita melakukan rekonsiliasi terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam Islam, memaafkan dipandang sebagai amalan yang sangat mulia. Allah SWT dalam Q.S. An-Nur: 22 berfirman: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan dan kebesaran hati. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang memaafkan telah melewati banyak sekali perasaan tidak nyaman ketika disakiti, dan dikecewakan. Tak mudah bagi mereka yang disakiti dan dikecewakan memaafkan pelakunya. Rasa ingin membalas perbuatan tersebut sedikit banyak pasti muncul di dalam dirinya, namun mereka meredamnya sedemikian rupa agar tidak dilaksanakan karena tahu bahwa membalas perbuatan salah dan khilaf bukanlah solusi terbaik. Perbuatan tersebut justeru akan membawanya pada rasa sakit yang lebih dalam. Maka, memaafkan dan melepaskan rasa sakit menjadi pilihan yang paling bijak baginya. Ini membuktikan bahwa mereka memiliki pribadi yang baik, dewasa, dan berjiwa ksatria. Dengan memaafkan, mereka telah membuka pintu ketenangan jiwa untuk dirinya sendiri dan juga pelakunya. Dengan tindakan tersebut mereka membebaskan pelaku dari rasa bersalah dan membebaskan dirinya dari dendam dan kecewa yang memberatkan hati.

Untuk itulah, menjelang Idulfitri mari kita berefleksi bersama merenungkan perbuatan kita selama ini. Mari memperbaiki kesalahan yang ada dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih. Mari kita jadikan momen Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki diri sendiri agar lebih baik, lebih jujur, lebih ikhlas, dan lebih pemaaf baik kepada diri sendiri maupun sesama. Pada akhirnya, kita semua akan meraih pembebasan dan kedamaian jiwa yang hanya bisa diperoleh dari jiwa yang merdeka dari praktik dusta, kecewa, dan dendam.

(Bogor, 30 Maret 2025, 07:44 WIB)

Ditulis ulang dari karyaku yang telah diterbitkan di kolom KAJI BERITADISDIK https://beritadisdik.com/news/kaji/antara-dusta–kecewa–dan-maaf–refleksi-menuju-idulfitri 

 

 

REFLEKSI GURU: BUKAN SEBUAH PILIHAN

Oleh: Neneng Hendriyani, M.Pd.

Menjadi seorang guru sebenarnya bukanlah pilihan utama dan cita-cita bagiku.  Namun karena lahir dari lingkungan keluarga besar pendidik membuatku menyerah memperjuangkan cita-cita awalku saat masih SMA dulu. Seorang wali kelasku sering kali menggodaku dengan mengatakan penampilan, gaya jalan, dan gaya bicaraku lebih cocok sebagai guru daripada profesi lainnya. Saat itu aku tertegun lantas melupakannya. Hingga kemudian datanglah hari di mana aku kemudian tanpa berpikir panjang berjanji kepada guruku tercinta, Jaya Rukmantara (alm). Dia lah sosok yang membuatku kemudian bekerja keras menguasai bidang ini selama delapan semester di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Diwisuda sebagai lulusan terbaik saat itu membuatku tersadar bahwa ini bukan lagi lelucon hidup. Ini adalah jalan yang harus ditempuh, suka tidak suka.

Robert Lee Frost, penyair Amerika Serikat, dalam puisinya The Road Not Taken membuatku kembali berpikir bahwa menjadi guru adalah jalan lain yang harus diambil saat itu. Tepat usia 21 tahun aku memulai pengabdian sebagai CPNSD termuda di SMK Negeri 1 Cibinong. Sebuah sekolah yang mengantarkanku menjadi sarjana cum laude dengan skripsi tentang kemampuan berbicara bahasa Inggris dan linguistics sebagai obyek penelitianku selama tiga bulan. Di sekolah yang kemudian ditahbiskan sebagai salah satu sekolah terbaik, terfavorit, dan sekolah berstandar internasional itulah aku belajar menjadi guru di berbagai bidang keahlian seperti rekayasa perangkat lunak, multi media, teknik computer jaringan, teknik konstruksi kayu, teknik gambar bangunan, teknik pemesinan, teknik kendaraan ringan, teknik otomasi industri, teknik logam dan metalurgi dan teknik sistem jaringan. Di sana aku menyadari bahwa bahasa Inggris yang digunakan seyogianya adalah English for Specific Purposes bukan General English. 

Mengajar siswa dari sepuluh bidang keahlian yang berbeda jelas memberikan pengalaman yang kaya untuk seorang pembelajar sepertiku. Perbedaan karakteristik mata pelajaran bengkel yang harus mereka kuasai memengaruhi karakter mereka dalam belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Penguasaan TOEIC sebagai salah satu standar tolak ukur kemampuan berbahasa Inggris siswa sekolah menengah kejuruan membuatku harus membimbing dan mendampingi mereka secara penuh agar mereka mendapatkan skor yang tinggi dan meraih beasiswa mengikuti international test of TOEIC.

Kenakalan mereka sebagai siswa yang dahulu dikenal sebagai siswa STM (Sekolah Teknik Mesin) membuatku sadar aku harus tampil tegas, disiplin, dan menyembunyikan kelemahanku sebagai guru perempuan. Berdiri di depan mayoritas siswa laki-laki adalah tantangan terbesar bagiku di era 2003. Lambat laun kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan kejuruan membuat sekolah kemudian dibanjiri siswa perempuan. Sejak 2005 aku mulai mengajar beberapa siswa perempuan di kelas-kelas yang dikuasai oleh mayoritas siswa laki-laki. Menjembatani perbedaan gender dengan segala keunikannya saat itu adalah tugas lain sebagai guru yang kujalani.

Enam belas tahun ditempa di sekolah yang menuntut lulusannya berhasil direkrut perusahaan-perusahaan besar menjadikanku seorang yang tak henti belajar banyak hal. Inilah keuntungan menjadi guru. Dia belajar tak hanya dari kampus tetapi juga dari siswa-siswanya.

(Sumber: Dokumen CV Cakrawala Milenia Jaya)

 

Perkenalan dan hubungan yang intensif selama empat semester dengan para tokoh nasional Muhammadiyah yang mengajariku di bangku kuliah pascasarjana membuatku makin sadar bahwa menjadi guru bukan hanya sekadar menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Guru adalah tiang pancang utama, sebuah pondasi bagi struktur kehidupan akademis manusia. Dia adalah seorang INSPIRATOR. Lewat guru seorang siswa bisa membuka dirinya dengan lapang. Lewat guru dia bisa mengungkapkan segala kekurangan dan kelemahannya dengan tenang. Lewat guru pula dia bisa menemukan jati dirinya yang hakiki sebagai manusia beriman. Gurulah cahaya kehidupan.

Kini, jalan yang awalnya tak sengaja kupilih telah menjadi medan juang utama. Tak ada jalan untuk kembali memulai menapaki jalan yang baru. I could not travel both. Dengan segala emosi, tanggung jawab moral sebagai guru, seluruh daya harus dikerahkan kembali untuk tak sekadar menggapai impian tetapi menggenggamnya erat. Jadilah guru Indonesia yang kuat, tabah, dan tetap menyalakan semangat sebagai inspirator bagi kebaikan sesama manusia. Selamat Hari Pendidikan! Bersama Kita Bisa! Indonesia Jaya!(*)

NB: Tulisan ini diambil dari buku antologi ku,  Refleksi Guru Indonesia di Hari Pendidikan

Penulis: I Kadek Widya Wirawan, Rahmiati, Santi Eliyanti, Iso Suwarso, dkk

ISBN   : 978-623-6581-14-8

Editor : Neneng Hendriyani

Lay out: Tim CV

Desain Sampul: Cahsantri

Cetakan Pertama, April 2021