WOW, TERNYATA IBU BISA MEWARISKAN LUKA BATINNYA KE ANAKNYA

Oleh Neneng Hendriyani

Siapa bilang trauma, depresi, luka batin hanyalah milik kita pribadi dan tidak memengaruhi hubungan antara kita dengan anggota keluarga?

Orang tua yang kini menjadi orang tua kita dahulunya adalah anak yang juga diasuh, dididik oleh orang tuanya. Pola asuh yang dialaminya ini tanpa disadari memengaruhi pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anaknya sekarang. Di antara pola asuh itu ada yang diterimanya dengan perasaan positif dan tidak sedikit menimbulkan perasaan negatif pada dirinya. Seluruh pengalaman baik dan buruk yang dijalaninya selama pola asuh itu memengaruhi karakter dirinya. Karakter inilah yang kemudian tanpa sadar ikut memengaruhi pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anaknya, yaitu kita.

Ada beberapa ciri di mana anak mendapatkan warisan luka batin dari sang ibu. Yuk, kita cek apakah kita memilikinya dengan menyimak ulasan berikut ini.

Pertama, apabila kita hanya memiliki ibu yang hanya hadir secara fisik dan tidak secara emosional maka sudah pasti kita mendapatkan warisan luka batin sang ibu.

Kedua, umumnya ketika seorang anak terluka, kecewa, atau sedih ia akan mencari sosok yang bisa memberikannya rasa aman dan tenang. Sosok ini biasanya adalah ibunya sendiri. Namun, ketika kita ternyata tidak merasa aman, nyaman, dan tenang berbicara tentang masalah kita kepada ibu kita maka itu tanda atau ciri bahwa kita tidak memiliki ibu secara emosional.

Ibu tidak hadir di saat-saat kita terpuruk, sedih, dan kecewa. Bisa jadi ia sendiri sedang sibuk mengelola batinnya akibat luka yang diterima saat ia kecil dahulu.

Ciri berikutnya adalah kita merasa kurang diapresiasi oleh ibu atas semua prestasi yang kita peroleh. Akibatnya kita menjadi mudah marah, urign-uringan, dan cenderung perfeksionis. Hal ini karena kita berusaha mendapatkan pengakuan, validasi, dan perhatian darinya. Kita berpikir bila kita sempurna maka ibu akan menyayangi dan mengapresiasi kita.

Keempat, normalnya seorang anak akan merasa senang bila berada di dekat sang ibu. Ini bisa dipahami mengingat sebuas-buasnya induk hewan buas ia tidak akan pernah memakan anaknya sendiri. Sayangnya, bagi anak yang memiliki ibu penderita luka batin justeru merasa cemas dan takut bila berdekatan secara fisik dengan sang ibu.

Ciri kelima adalah apabila kita memiliki ibu yang to the point mengatakan bahwa kita harus menanggungnya secara emosional dan finansial. Mungkin pada awalnya kita menganggap bahwa apa yang dikatakannya adalah candaan. Namun, karena seringnya ia mengatakan hal demikian terutama saat emosi maka itu adalah ciri bahwa sang ibu memiliki luka batin serius.

Akibat dari warisan luka batin sang ibu pada umumnya kita sebagai anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa rendah diri, kurang layak, kurang kesadaran emosional, tidak mampu menenangkan diri sendiri, merasa tidak mungkin menjangkau relasi yang hangat dan penuh cinta, serta memiliki kesulitan mempercayai orang lain.

Apabila kita memiliki semua atau sebagian dari ciri-ciri di atas mari kita menyembuhkandiri dari warisan luka batin sang ibu yang kita terima. Caranya dengan berusaha sungguh-sungguh menjadi orang tua bagi diri sendiri. Hal ini bisa kita tempuh dengan memanjakan diri kita sendiri dengan keinginan yang kita miliki saat kita masih kecil. Misalnya, membeli hadiah berupa buku, novel, atau sekadar  menonton di bioskop.

Kita memang dihadapkan pada pilihan yang rumit dan sulit. Menyelesaikan masalah dan luka batin ini sebenarnya menjadi tanggung jawab kita sendiri agar kita tidak ikut pula mewariskannya kepada anak-anak kita. Oleh karena itu, solusinya ada di tangan kita apakah kita ingin lari dari kenyataan bahwa kita tidak memiliki ibu secara utuh baik fisik maupun emosional, ataukah menghadapinya dengan berani mengatakan bahwa kita punya ibu namun ibu tidak hadir bersama kita.

Cara berikutnya yaitu dengan menemui psikolog yang bisa membantu kita meluapkan emosi negatif. Hal ini bisa kita tempuh bila ibu sudah tiada atau sulit ditemui.

Cara lainnya yang bisa ditempuh adalah dengan berusaha empati terhadap luka batin yang dihadapi sang ibu. Memaafkan dirinya dapat menenangkan diri juga.

Nah, apabila semua cara di atas sudah dilakukan namun masih juga merasa cemas dan takut maka sebaiknya menghindar demi tetap menjadi pribadi yang waras. Karena akan sangat sulit  berinteraksi dengan ibu yang toxic dan abusive. Percayalah bahwa di luar sana masih banyak orang yang bisa menjadi ibu bagi kita; mau mendengarkan dan memberikan kita solusi dari masalah yang kita hadapi.

Nah, apakah anda termasuk salah satu anak yang mendapatkan warisan luka batin dari ibu? Semoga setelah membaca ulasan di atas anda dapat mengatasinya dengan baik. Selamat mencoba.***