ELEGI SAUDARA BUMI
Oleh: Neneng Hendriyani
Bumi lahir tak sendiri
Bersama air, angin, dan api di atas tanah ia mengabdi
Berjibaku melawan waktu menyusuri seluruh sendi
Menjadi bagian saksi eksistensi Ilahi yang hakiki
Bumi lahir tak sendiri bersama semua ia mengabdi
Saling asah, asuh, dan asih berharap jaya semua negeri
Sayang, saat saudara tua hilang kendali
Api melalap semua harta, air membawa semua nyawa
Tanah membelah memeluk rapat jiwa-jiwa
Angin berputar menghempas hebat
Bumi meratap menjerit pilu berteriak hingga parau,
tinggal tangis, dan darah mengalir tak henti berlari menuju satu ambang yang pasti
Bumi tak bisa lagi tertawa
Tersenyum pun tanpa makna
Bola mata cantiknya telah buta
Telinganya ikut tuli, hati membatu, terkapar di reruntuhan
Tangan-tangan kecilnya meronta, menggapai batas asa
Bumi hanya bisa menarik napas
Sedalam lautan menarik airnya ke daratan
Tumpahkan derita, tumpahkan selaksa doa
Hanya pada Ilahi bumi berserah diri
Kemarin, kini, juga nanti
Biarlah semua saudara terampuni
Bogor, 01 Oktober 2018
—
CINTA TUHAN DI PALU
Oleh: Neneng Hendriyani
Bukan Tuhan murka hingga Palu menderita
Bukan Tuhan tak suka hingga Palu terkapar binasa
Sungguh, tengoklah ke sana
Di mihrab yang suci
Tuhan masih ada
Menyambutmu dengan senyum dan tangan terbuka
Memegang dahimu juga dada yang penuh luka Ia ada
Percayalah padaku
Tuhan sedang jatuh cinta pada Palu yang indah
Palu yang megah
Tuhan ingin bercengkerama
Memeluk jiwa-jiwa yang tenang
Menyambut sukma-sukma yang riang
Yang tlah lama rindu pulang
Tuhan tidak benci
Hingga kau seperti ini
Darah menetes di dahimu mencium dagu hingga bahu
Tenggelam rumahmu di tengah banjir lumpur yang ganas
Sungguh, Tuhan tidak benci
Lewat alam yang marah
Lewat alam yang gundah
Tuhan kasih tanda padamu
Betapa Ia mencintaimu
Ia hanya ingin kau berserah, pasrah
Hanya ingin melihatmu berlari mengejarnya di kala malam telah gelap sempurna
Ia tak ingin melihatmu masih bercengkerama
Di bibir pantai dengan baju terbuka
Menantang angin di bawah bulan yang menggantung di cakrawala
Sungguh, Ia mencintaimu
Ingin kau datang berbisik mesra di penghujung senja
Menikmati indahnya jingga bola raksasa di balik dinding mihrabnya
Sungguh, jangan kau salah sangka,
Tuhan tidak murka
Tuhan jatuh cinta
Pada Palu yang megah
Pada Palu yang indah
(Bogor, 01 Oktober 2018)
—
SEPUCUK SURAT UNTUK ANTHONIUS
Oleh: Neneng Hendriyani
Tabe Kawan
Terima kasih,
Untuk ijin yang kau beri,
Langkah-langkah yang kau pandu
Di hari naas itu
28 September 2018
Kala jingga hampir sempurna di ufuk barat
Tabe Kawan,
Terima kasih
Selamat kami hingga tujuan
Bahagia kami berjumpa handai taulan
Meski hati dan jantungku tercerabut pilu
Di tengah lautan ku lihat gelombang amat menakutkan
Menerjang kotamu
Meluluhlantakkan tempatmu berdiri
Maafkan aku kawan,
Tak ada yang bisa ku sampaikan
‘tuk sekadar memberi penghiburan
Air mataku tak henti mengalir
Sesak dadaku mengingatmu
Sungguh, maafkan aku merepotkanmu
Biarlah ku simpan kau dalam doa
Kala melati dan kemboja bermekaran
(Bogor, 01 Oktober 2018)
—
PAKET CINTA UNTUK DONGGALA
Oleh: Neneng Hendriyani
Sahabat, sudah tibakah paketku hari ini?
Makanan pokok, selimut, juga baju
Ku kirim dengan cinta kemarin itu
Saat ku dengar tentangmu di sana
Sahabat, terimalah paket cintaku
Berbalut doa dan rindu untuk jumpa
Membalut semua luka, dan pedih yang kau rasa
Biarlah kita berbagi bersama
Sahabat, maafkan aku bila terlalu sederhana
Inilah harta yang ku punya
Semua doa ku tulus adanya
Semoga kau cepat pulih sedia kala
(Bogor, 01 Oktober 2018)
—
Untuk Sang Muadzin
Oleh: Neneng Hendriyani
Tanah yang berderak
Bergetar kian hebat
Tak meruntuhkan niatmu
Tak mampu menghentikan tugasmu
Salut aku!
Subhanallah
Inilah yang kau minta
Kembali kepada Nya dengan penuh kebaikan
Kembali dalam nama Nya dengan penuh pengabdian
Kembali sebagai jiwa yang tenang
Meski kau tertinggal sendirian
Meski kau harus kehilangan
Tiada yang sia-sia
Semua sudah ada waktunya
Pasrah
Yakinlah
Ia yang kau panggil mendengarmu
Ia yang kau puja menyayangimu
Ia ingin jumpa dengan mu
Di sana di firdausNya
Kau menjadi tamu
Abadi
Dalam nama-Nya
(Bogor, 01 Oktober 2018)
Terjemahan puisi di atas dalam bahasa Inggris:
ELEGY FOR EARTH’S SIBLINGS
by Neneng Hendriyani
The Earth was not born alone,
With water, wind, and fire, it serves upon the land,
Striving against time, tracing every joint,
A witness to the divine existence, eternal and true.
The Earth was not born alone; with all, it serves,
Honing, nurturing, and loving, hoping for the triumph of every land.
Alas, when its elder siblings lose control,
Fire devours all wealth, water sweeps away all lives,
The earth splits, tightly embracing souls,
The wind whirls, striking fiercely.
The Earth weeps, cries in anguish, screams until hoarse,
Leaving only tears and blood flowing ceaselessly,
Racing toward an inevitable threshold.
The Earth can no longer laugh,
Its smile holds no meaning.
Its beautiful eyes have gone blind,
Its ears deaf, its heart turned to stone, lying amidst ruins.
Its small hands struggle, reaching for the limits of hope.
The Earth can only draw breath,
As deep as the ocean pulls its waters to the shore,
Spilling suffering, spilling a myriad of prayers.
To the Divine alone, the Earth surrenders.
Yesterday, today, and tomorrow, May all its siblings be forgiven.
(Bogor, October 1, 2018)
GOD’S LOVE IN PALU
by Neneng Hendriyani
It is not God’s wrath that makes Palu suffer,
Not God’s displeasure that leaves Palu fallen and destroyed.
Truly, look over there,
At the sacred mihrab, God is still there,
Welcoming you with a smile and open arms,
Holding your forehead and wounded chest—He is there.
Believe me, God is falling in love with beautiful Palu,
Magnificent Palu.
God wishes to converse,
To embrace calm souls,
To welcome joyful spirits,
Long yearning to return home.
God does not hate,
Even as you are in this state,
Blood dripping from your forehead, k
issing your chin to your shoulders,
Your home submerged in the fierce flood of mud.
Truly, God does not hate.
Through nature’s anger,
Through nature’s unrest,
God gives you a sign,
Of how much He loves you.
He only wants you to surrender, to yield,
To see you chase Him when the night is perfectly dark.
He does not wish to see you lingering,
On the shore with open clothes,
Defying the wind beneath the moon hanging in the sky.
Truly, He loves you,
Wants you to come, whispering tenderly at twilight’s end,
To enjoy the beauty of the orange giant sphere behind His mihrab’s walls.
Truly, do not misunderstand,
God is not angry.
God is in love, with magnificent Palu,
With beautiful Palu.
(Bogor, October 1, 2018)
A LETTER FOR ANTHONIUS
by Neneng Hendriyani
Greetings, friend,
Thank you, for the permission you gave,
For the steps you guided, on that fateful day, September 28, 2018,
When the orange sky was nearly perfect on the western horizon.
Greetings, friend, Thank you.
We safely reached our destination,
Joyful to meet friends and kin,
Though my heart and soul were torn with sorrow.
In the midst of the sea, I saw terrifying waves,
Crashing into your city,
Razing the ground where you stood.
Forgive me, friend,
I have no words to offer,
Not even for mere comfort.
My tears flow endlessly,
My chest tightens thinking of you.
Truly, forgive me for troubling you.
Let me keep you in my prayers,
When jasmine and frangipani bloom.
(Bogor, October 1, 2018)
A PACKAGE OF LOVE FOR DONGGALA
by Neneng Hendriyani
Friend, has my package arrived today?
Staple foods, blankets, and clothes,
Sent with love yesterday,
When I heard about you there.
Friend, accept my package of love,
Wrapped in prayers and longing to meet,
To soothe all your wounds and pain.
Let us share together.
Friend, forgive me if it’s too simple,
This is the wealth I have.
All my prayers are sincere,
May you recover swiftly as before.
(Bogor, October 1, 2018)
FOR THE MUADZIN
by Neneng Hendriyani
The cracking earth,
Trembling ever more fiercely,
Could not shatter your resolve,
Could not stop your duty.
I salute you!
Subhanallah,
This is what you sought,
To return to Him full of goodness,
To return in His name with full devotion,
To return as a tranquil soul,
Though you were left alone,
Though you had to lose.
Nothing is in vain,
Everything has its time.
Surrender, Be certain,
He whom you called hears you,
He whom you praised loves you,
He wishes to meet you,
There, in His paradise,
You become His guest,
Eternal, in His name.
(Bogor, October 1, 2018)
BIODATA PENULIS
Neneng Hendriyani, M.Pd lahir di Bogor 09 Agustus 1982. Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong sekaligus penulis buku ini sangat mencintai dunia sastra. Karya sastra yang telah diterbitkannya adalah adalah Antologi Puisi: Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017), Antologi Kisah Guru Inspiratif: Jangan Berhenti Mengajar (2017), Antologi Seri Puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru (2017), Kumpulan Puisi Bogor (2017), Janji Firly (2017), Kumpulan Puisi Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi Puisi: Senyuman Lembah Ijen (2018), Antologi Puisi: Kunanti Di Kampar Kiri (2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi: Ilalang Di Atas Batu (Google Play Store, 2018). Untuk korespondensi sila hubungi WA: 085715773482, e-mail: nenghendri53@gmail.com.
Terbit di Bali Post
