MIMPI PENDIDIKAN TANPA KORUPSI

Oleh: Neneng Hendriyani

Tulisanku ini dimuat di Pikiran Rakyat, pada Senin (Pahing) 26 Februari 2018, 10 Jumadil Akhir 1439 H, Jumadil Akhir 1951, pada halaman Pendidikan (halaman 17), kolom pertama.

Guru yang berada di lingkaran dunia pendidikan yang bersih adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan kemampuan akademis yang memadai dalam menjalankan profesinya.

KORUPSI adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dsb) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan yang dilakukan dapat berupa tindakan sogok menyogok, suap menyuap dalam tender yang diadakan oleh lembaga pemerintah dan perusahaan. Ini kerap disebut dengan korupsi ekstortif dan transaktif.

Ada juga korupsi dengan jalan menawarkan barang atau jasa sebagai pengganti pertolongan pada masa mendatang (korupsi investif). Selain itu ada pula korupsi yang disiasati atau diprakarsai diri sendiri; korupsi yang dilakukan sendiri untuk memperoleh keuntungan finansial dengan memanfaatkan peran (korupsi otogenik).

Apapun jenis korupsinya, yang pasti korupsi adalah sebuah tindakan kejahatan yang sangat merugikan. Tindakan ini dapat melemahkan seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Alangkah indahnya negeri ini bila korupsi lenyap. Mimpi yang saat ini masihlah jauh panggang dari api. Namun bukan berarti mimpi tersebut harus ikut lenyap dibawa panasnya api.

Tanpa korupsi semuanya akan menjadi indah. Tak terkecuali dunia Pendidikan. Dunia Pendidikan yang bersih dari korupsi dapat melahirkan generasi baru yang sesuai dengan isi amanat pembukaan UUD 1945. Yaitu generasi yang mampu menciptakan kesejahteraan, keamanan, kenyamanan, bagi seluruh rakyat Indonesia di manapun mereka berada. Sebuah generasi yang mengutamakan kejujuran dalam bertutur, bersikap, dan bertindak terhadap sesamanya.

Pendidikan yang bersih akan melahirkan kualitas yang benar-benar teruji. Kualitas tersebut diantaranya adalah kualitas guru, kualitas pengajar, kualitas sarana dan prasarana pendukung, serta kualitas lulusan yang dihasilkan. Seluruhnya saling terkait satu sama lain.

Guru yang berada di lingkaran dunia Pendidikan yang bersih adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan kemampuan akademis yang memadai dalam menjalankan profesinya.

Kepribadian sosial dan pedagogis yang dimiliki oleh mereka mampu membuat mereka menciptakan berbagai penemuan baru di bidang dunia Pendidikan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pengajaran yang dilakukan. Penemuan tersebut bisa meliputi berbagai inovasi di bidang pembelajaran, karya tulis ilmiah, penelitian sederhana, penelitian tindakan kelas, dan lain-lain.

Kualitas sarana prasarana pendukung Pendidikan pun akan baik bahkan melebihi target yang ditentukan. Seluruh lembaga penyelenggara Pendidikan dapat dengan mudah mendapatkan bantuan sarana pembelajaran penunjang dari pemerintah dan swasta.

Hal ini dimungkinkan karena membudayanya kejujuran di seluruh lapisan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran sarana prasarana yang dibutuhkan disunat oleh pihak tertentu. Semua berjalan sesuai dengan PAGU (Perencanaan Anggaran Umum) yang telah ditetapkan pemerintah. Tiada lagi sekolah bobrok yang nyaris roboh. Tidak ada lagi sekolah yang miskin meja dan kursi. Semua sekolah memiliki self-access room sendiri dilengkapi dengan perpustakaan digital dan nondigital. Tidak ada lagi ketimpangan kualitas sarana prasarana di luar Jawa.

Tingginya kualitas guru dan sarana prasarana penunjang pembelajaran tersebut pada gilirannya berimbas pada kualitas pengajaran di dalam kelas. Proses pembelajaran yang dilakukan pun dapat berlangsung sesuai dengan amanat kurikulum dan pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hasilnya adalah siswa yang diajarnya dapat tumbuh menjadi siswa yang kreatif, inovatif, dan sportif. Mari Bersama kita ciptakan Pendidikan tanpa korupsi.***

Penulis guru di SMKN Negeri 1 Cibinong, Kabupaten Bogor

GELIAT PUISI ESAI DI INDONESIA

Oleh: Neneng Hendriyani*)

Ini adalah tulisan perdanaku di Tribun Bali. Tulisan ini dimuat pada hari Minggu, tanggal 23 September 2018, Redite Umanis Kulawu, Caka 1940, halaman 4. Berikut ini tulisan selengkapnya di harian tersebut.

Menulis memerlukan imajinasi, pemikiran, dan perenungan yang mendalam terkait peristiwa terkini maupun yang lampau. seseorang dituntut untuk memiliki pengalaman berbahasa yang matang untuk melahirkan tulisan yang mumpuni.

SEJUMLAH 50 penulis opini yang berasal dari berbagai latar sosial, pendidikan, profesi, serta adat istiadat, di berbagai provinsi di Indonesia berupaya mengurai gagasannya perihal puisi esai. Mereka mencoba mengulas lebih dalam tentang eksistensi dan potensi puisi esai, perdebatan yang terjadi, angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia, hingga geliat sastra daerah.

Para penulis opini dalam buku Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018) berasal dari 22 provinsi di Indonesia, menyebar dari DKI Jakarta hingga Papua. Guru Besar Antropologi Sastra Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum mengibaratkan puisi esai sebagai sebuah telur. Para penulis opini puisi esai memandang puisi esai sebagai sebuah telur dari berbagai sudut pandang yang berbeda, namun menarik. Mereka dikatakannya sedang berolah etnografi estetis. Artinya, sebagai seorang koki, para penulis opini puisi esai ini berusaha memasak opininya dengan berbagai resep sehignga tersaji tulisan yang apik.

Menurut Suwardi Endraswara, para penulis opini menggunakan konsep 3-, yakni fokus pada konten, konteks, dan konstruksi. Maka, studi sastra boleh digali dari perspektif antropologi sastra yang memandang konteks hubungan sastra dengan budaya. Dari tiga kelompok yang dibahas oleh Suwardi Endraswara dalam prolognya, para penulis opini puisi esai termasuk ke dalam kelompok yang berpikir jernih. Bukan kelompok yang tidak begitu paham terhadap sesuatu yang bar, serta hanya sekedar ikut-ikutan.

Sebagai kelompok yang berpikiran jernih, mereka berupaya menerima keberadaan puisi esai atas dua dorogan yaitu dorongan kreativitas dan dorongan psikologi. Dorongan kreativitas artinya mereka mengakui adanya puisi esai ini sebagai buah dari kreativitas para penyair dalam memunculkan ide baru yang berawal dari puisi panjang (long poetry). Dorongan psikologi, yaitu keinginan mengemukakan imajinasi yang dipadu dengan opini hingga memunculkan puisi yang berbentuk naratif (narrative poetry).

Dalam bagian pertama buku ini, eksistensi dan potensi puisi esai, 13 penulis diantaranya Gunoto Saparie, Kumbo Adiguno, Bernadus B. Daya, Dhenok Kristianti, A.Y. Deliana, Rasiah, Anthony Tonggo, Heri Mulyadi, Rini Sulistiani, Hamri Manoppo, Fajar Mesaz, F.X. Purnomo, dan Bambang Widiatmoko mengakui keberadaan sebuah puisi esai di panggung sastra Indonesia sebagai ide yang luar biasa, adil dan beradab, memberi ruang yang lebih bebas untuk berimajinasi sesuai fakta. Keberadaannya diakui memperkaya khazanah kesusasteraan tanah air dan dunia. Dari keberadaannya inilah puisi esai membuka kesempatan untuk riset sastra.

Selanjutnya buku ini pun memuat puisi esai dalam perdebatan. Yohanes Sehandi dalam opininya yang berjudul Kontroversi Puisi Esai 2018 menuturkan dengan panjang lebar mengenai sejarah awal mulanya puisi esai dan perjalanan kontroversinya. Tulisannya bisa dijadikan sumber referensi bagi siapa pun yang belum mengetahui sejarah lahirnya puisi esai dan tokohnya. Usman D. Ganggang, Masrur Ridwan, La Ode Gusman Nasiru, Viddy Ad Daery, Willem Berybe sepakat melihat gonjang ganjing mengenai puisi esai ini justru membuat puisi esai semakin dikenal masyarakat. Sehingga puisi esai berubah menjadi bola sastra yang terus menggelinding.

Viddy pun mendukung hal ini dengan membahas mengenai honorarium yang sering kali menjadi topik perdebatan di kalangan sastrawan Indonesia. Mewakili kaumnya, ia mengatakan bahwa puisi merupakan karya kreatif yang melibatkan tidak hanya panca indra tapi juga pengetahuan, wawasan, dan kejernihan hati para penulisnya. Karya yang dihasilkan dalam bentuk puisi ini seharusnya juga mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang sama besarnya seperti yang diterima oleh pelukis dengan hasil lukisannya. Bukankah keduanya juga sama-sama produk kreativitas? Lalu mengapa berbeda dalam penghargaan dan apresiasi yang diberikan?

Pada bagian ketiga buku ini M.Isfridus Harapan, Satrio Arismunandar, dan Roso Titi Sarkoro mengusung tema angkatan puisi esai dalam sastra Indonesia. Mengutip pendapat David Fishelov dalam The Birth of Genre di jurnal European journal of English Studies, Vol.3 No. 1, pp. 51-63 (April 1999), Satrio Arismunandar berpendapat bahwa puisi esai merupakan genre baru menurut kriteria David Fishelov.

Bagian keempat yang berisi puisi esai, potret batin, dan isu sosial Isbedy Stiawan ZS, Fitri Angraini Roffar, Eddy Salahuddin, Nyoto Utoyo, Neneng Hendriyani, Januarius Yohanes Tolan Igor, dan Imelda Oliva Wissang mencoba menyelami batin masing-masing mengenai beragam isu sosial kemasyarakatan yang terjadi di sekitarnya. Melalui berbagai hal yang terjadi di masyarakat diantaranya politik, social ekonomi, budaya, pertahanan keamanan negara, mereka berujar bahwa melalui puisi esai mereka dapat menyuarakannya dengan gamblang, indah dan mudah dipahami oleh siapa pun.

Puisi esai mampu mewakili perasaan batin para penyair mengenai lingkungannya. Ia bukan hanya sebuah hasil imajinasi penyair, tetapi juga didukung oleh fakta. Sehingga keberadaannya tidak bisa dinafikan begitu saja. Dengan demikian puisi esai memiliki fungsi sebagai perekam isu social kemasyarakatan (Neneng Hendriyani), pembelajaran berbasis masalah dan ruang kepekaan (Imelda Oliva Wissang).

Semakin luas dan dikenalnya puisi esai di blantika sastra Indonesia mau tidak mau, terpaksa ataupun rela, seluruh insan Pendidikan terutama guru Bahasa Indonesia pasti mengupas puisi esai di dalam kelasnya. Sejalan dengan itulah maka Tri Cahyono, Lukman Juhara, dan Anto Narasoma mengusung tema Puisi Esai dalam Pendidikan. Di bagian keenam inilah dibahas mengenai kiat mengajarkan puisi esai di sekolah. Juga dibahas pula puisi esai dan gerakan literasi serta nilai edukasi siswa.

Dengan adanya isu dan perdebatan yang sangat keras dialami oleh puisi esai mendorong banyak penulis dan penyair bangun dari tidurnya. Geliat ini mendorong mereka untuk aktif kembali di daerahnya masing-masing. Bahkan melalui puisi esai pula, penulis pemula pun dapat ikut berkiprah mengangkat nama daerahnya. Hal ini menjadi nyawa tulisan bagian ketujuh buku opini ini dalam tema puisi esai dan geliat sastra daerah. (*)

*) Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong

CATATAN KENANGAN

Ada begitu banyak tulisanku yang tersebar di berbagai media selama ini. Menuliskannya kembali di sini adalah upayaku membuat semuanya terekam dengan baik. Selain itu juga agar jumlah yang membacanya lebih banyak. Sehingga lebih banyak lagi orang yang mendapatkan manfaat dari karya-karya sederhanaku tersebut.
Semoga semua upaya ini mendapatkan keberkahan dan dapat memberi manfaat bagi semua orang.
Jangan takut untuk berbagi. Takutlah bila tak bisa berbagi lagi.

Cibinong, 18 Desember 2018

Kisahku

KISAHKU

Neneng Hendriyani

Ini hari ku temui engkau

Yang tak ku kenal dalam milyaran hariku

Hanya karena darah yang sama

Mengaliri sumsum tulangku

Terbang aku menemuimu

Singkirkan ego, jua dendam masa lalu

 

Ini hari setahun lalu

Ku taburi bekas jasadmu

Dalam jatuhan helai melati

Rimbunnya kenanga dan air mawar yang suci

Ku bawakan sejuta doa

 

Ini hari aku sadari

Kau bukan sosok yang sama

Darah yang mengalir di tubuhku

Bukan darahmu sepenuhnya

Pantas saja bila rindu enggan menyapa

 

Ini hari ku simpan saja

Semua memori dalam cepuk Angsana

Ku percaya di suatu senja

Kau kan datang mengiba cinta

Cinta yang sama dulu ku punya

Cinta yang kini tak lagi bermakna

 

(Karadenan, 31/08/2017)

  • Diambil dari Setangkup Rindu Dari Masa Lalu.

DUA PULUH TAHUN LALU

DUA PULUH TAHUN LALU
oleh Neneng Hendriyani

Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Anyelir semarak mekar mewangi menyambutku
Turuni kereta kencana kala jingga menyapa
Laksana Ratu di sisimu

Selayang pandang mata kita bertemu
Di pupil hitam terlukis wajahku
Merah merona seketika
Bak Anyelir di taman istana

Hari-hariku mekar bersama sepoi angin
Bawa biji Anyelir tumbuh di mana ia jatuh
Subur di mana air menyentuh
Wangi di relung kalbu

Di jalan yang sama dua puluh tahun lalu
Terpatri janji di bawah prasasti
Kau dan aku kan tetap berseri
Meski Anyelir tak lagi mewangi

(Bogor, 25 November 2018)

nb: Puisi ini ditulis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maklum dikejar deadline saat itu. Saya mengirimnya untuk sebuah lomba. Sayang saya tidak menghitung jumlah barisnya. Ups, saya ceroboh sekali ya. Buat saya menulis puisi ya menulis saja. Tak peduli dengan jumlahnya. Bila saya rasa pesan yang ingin saya sampaikan bisa disampaikan hanya dengan satu kata, ya saya tulis hanya satu kata. Tapi bila ternyata lebih dari satu kata ya tak masalah buat saya. Tokh, yang tahu persis puisi itu maksudnya kemana kan memang penulisnya, ya? wkwk.

Yuk, nulis puisi lagi. Kalah menang soal biasa. Meneruskan hobi itu luar biasa.

HUJAN TERAKHIR DI BUMI BORNEO

HUJAN TERAKHIR DI BUMI BORNEO
Oleh: Neneng Hendriyani

Langit kian gelap
Gemuruh kian terdengar memekakkan gendang telinga
Menyebar aroma ketakutan
Menghisap seluruh harapan

Cemas, takut, bingung, marah?!
Ya! Ingin marah, tapi pada siapa?
Lihat! Hutan yang gundul, sungai yang kering, udara yang panas
Air yang keruh
Tak bisa hilangkan hausku
Tak bisa hilangkan laparku
Tak bisa lindungi kulitku

Kini,
Langit kian gelap
Gemuruh kian terdengar memekakkan gendang telinga
Menyebar aroma ketakutan
Menghisap seluruh harapan
Menertawakan dengkul-dengkul koclak lari kesetanan

Dalam amarah yang tertahan
Hujan turun tak terbendung
Kilat temani sambar menyambar
Tak hanya sentuh pohon kenari
Tapi juga pondok-pondok pembalak liar
Gelegar!
Terbakar!
Hanyut!
Banjir bandang!
Menggulung!
Hancur!
Tak ada sisa
Semua lenyap seketika
Dibawa hujan terakhir di Borneo

(Bogor, 17 Agustus 2018)

HUJAN TAK DERAS LAGI

HUJAN TAK DERAS LAGI
Oleh: Neneng Hendriyani

Hujan itu tak deras lagi
Sejak mesin-mesin berlomba masuk hutan
Beberapa tahun silam

Nyanyian dedaunan,
gemerisik angin petang diiringi tetabuhan suara hewan,
gemulai tarian dahan panggil hujan
tinggal kenangan

Sejak hutan dirudapaksa
Ribuan batang pohon rebah terkapar menyerah kalah
Tak bisa cegah rumah burung jatuh dari pelukan,
Tak bisa larang lubang hewan ditutup ribuan ranting patah
Tak bisa teriak lantang: HENTIKAN! JANGAN LAKUKAN!

Hancur sudah rumah,
putus sudah ikatan yang mengundang hujan datang
Kini hujan tak deras lagi
kini semua mati suri
jangan tanya kapan kembali berseri,
mewangi dan tebar pesona negeri
Sebab hujan tak deras lagi
(Bogor, 17 Agustus 2018)

HUJAN DI MATA AYU

HUJAN DI MATA AYU
Oleh: Neneng Hendriyani

Tiap hujan turun ia gembira

Di bawah payung hitam ia lari ke taman kota

Berdiri menanti ‘tuk ke sekian masa

Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun jantungnya berdansa

Menari di antara kelopak teratai

Lompat sejauh ia bisa ke tepi kolam

Berdiri menyambut seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia kembali hidup

Matanya bersinar berkilat indah laksana kejora

Berkedip terpesona pada bulir air yang jatuh

Di atas daun keladi

Tiap hujan turun, harapannya tumbuh ribuan kali

Tak peduli musim berganti

Tak peduli dingin yang dihadapi

Ia bahagia berlari di bawah payung hitam

Berdiri menanti ‘tuk ke sekian masa

Seseorang yang entah ada di mana

Tiap hujan turun, ia percaya

Selalu ada cinta yang berlari ke arahnya

(Bogor, 17 Agustus 2018)

*) Puisi ini terpilih di dalam ajang lomba menulis puisi yang diadakan di Banjarbaru, Kalimantan, yaitu Banjarbaru Rainy Festival 2018.