Oleh: Neneng Hendriyani
Catatan kecil untukmu, Sahabat! Memiliki seseorang yang pantas disebut sahabat adalah karunia yang besar yang dimiliki oleh siapa pun di dunia ini. Sebagai makhluk sosial kita tak bisa hidup seorang diri, mengerjakan semuanya sendiri dan menyimpan semuanya sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Membutuhkan tempat untuk bertukar pikiran, ide, cita-cita, impian dan kesedihan. Kita membutuhkan lebih dari sekedar bantuan berupa materil. Bantuan moril pun acap kali dibutuhkan saat-saat tertentu.
Itulah sebabnya maka berbahagialah yang memiliki sahabat yang setia. Setiap tikungan ada. Kenapa? Karena jalan yang kita lalui tak pernah lurus. Ada tikungan, alias belokan. Ada yang berlubang, ada juga yang berbatu dan beraspal.
Memiliki sahabat di setiap kondisi jalan seperti inilah yang sangat diharapkan. Bukan sekedar menemani di sekitar meja makan dan pesta ulang tahun semata. Tapi di setiap keluh kesah kita.
Dulu, aku memiliki seseorang yang bisa disebut sahabat. Kami berteman cukup lama. Lebih dari empat belas tahun. Tertawa bahagia adalah menu makanan kami setiap hari. Canda tawa adalah aktivitas yang kami miliki sepanjang waktu. Namun itu bukan berarti hubungan kami lantas tak pernah beronak duri. Ibarat peralatan makan, sendok dan garpu selalu beradu di atas piring, bukan? Begitulah kami.
Perbedaan usia yang jauh seringkali membuat kami harus memiliki toleransi yang tinggi pula. Banyak sekali perbedaan yang kami miliki selain perbedaan usia tersebut.
Latar belakang keluarga, pengalaman hidup, motivasi hidup, kemampuan dan potensi, hobi, dan budaya yang sedikit berbeda membuat kami harus bisa menerima dan memahami diri kami masing-masing agar apa yang keluar dari mulut kami tidak menyakiti perasaan orang-orang yang dekat dengannya. Agak sulit memang karena tetap saja sekeras apa pun kami saling mencoba menjaga perasaan masing-masing, luka dan kecewa tetap saja ada. Akhirnya kami sama-sama insyaf bahwa nobody is perfect.
Dari ketidaksempurnaan itu lah kami saling belajar lagi bagaimana menjadi sahabat yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kini semua itu tinggal kenangan. Semua hanya tersisa dalam bentuk cerita. Bagaimana aku yang seusia anaknya justru menjadi rekan kerja dan kebetulan berada sedikit di atasnya. Semua hanyalah suratan takdir dan rejeki yang Allah atur sedemikian rupa.
Sejak kepergiannya aku selalu menghindari jalan yang pernah kami lalui. Tak hanya itu. Tempat-tempat yang pernah kami kunjungi bersama pun telah berhenti kusambangi. Entah mengapa itu terjadi. Yang pasti aku hanya tak mampu mengontrol emosi. Tiap kali melewati jalan yang sama, hatiku bergejolak sedemikian rupa. Air mata menetes begitu saja. Tiap kali aku melewati gedung-gedung yang pernah kami kunjungi aku pun bergetar. Kakiku bergetar dan tak mampu melangkah lagi.
Ada setumpuk duka yang menahanku tertawa. Bahkan saat terakhir datang ke kantor kami. Bukan sekumpulan anak yang ada di pelupuk mataku. Tapi sebuah mobil silver yang terparkir di depan kelas dan sepasang suami istri yang saling menguatkan satu sama lain duduk di samping mobil. Keduanya bercengkerama santai melupakan sejenak penderitaan yang harus mereka lewati. Di saat itu aku hanya bisa memalingkan wajah. Menyadari salah satunya telah tiada.
Ah, sahabat. Kini semua telah berlalu. Momen indah itu tetap terpatri. Aku masih di sini meski tak lagi di tempat dimana kita pernah bersama. Kita sama-sama telah pergi. Pergi menjauhi segala yang pernah membuat kita kecewa. Pergi mencari bahagia menurut versi kita. Pergi menuju tempat yang baru. Tempat yang penuh harapan. Tempat yang penuh janji.
Janji yang mana? Janji yang pernah tertulis dahulu di lauhul Mahfudz. Janji yang Allah beri kepada mereka yang mau berhijrah. Mereka yang memilih tanah baru sebagai tempat untuk berbakti. Mereka yang percaya bahwa mereka tak pernah sendiri. Mereka percaya Tuhannya selalu ada meskipun sahabatnya telah pergi.
Selamat beristirahat, Sahabat. Di bawah sebatang Kamboja Merah aku pamit.
(Bojong Koneng, 21 Mei 2019; 9.05; 16 Ramadhan 1440 H)