Oleh: Neneng Hendriyani
Seringkali rasa bete itu datang di saat kita seharusnya fokus menghadapi sesuatu. Entah apakah itu hal yang sangat penting atau urgent, atau hanya sekedar mengerjakan tugas sehari-hari. Bete itu seperti musuh dalam selimut. Kehadirannya tidak pernah bisa diprediksi. Seperti halimun di atas gunung.
Bete atau bosan itu adalah rasa psikologis yang dialami akibat jenuh menghadapi hal yang sama dalam waktu yang cukup lama. Bete ini menyerang sel-sel saraf di kepala secara simultan dan berakibat fatal terhadap kesehatan tubuh.
Bagi yang tidak dapat mengelola rasa bete yang dialaminya maka akan tampak jelas dalam raut mukanya. Tampangnya akan terlihat lelah, kucel, kumel, dan sangat serius. Bila ditanya, ia hanya akan menggelengkan kepalanya atau sekadar menolehkan kepalanya saja. Jangan harap ia akan mengeluarkan jawaban secara lisan.
Selain raut wajah yang terlihat tidak enak dipandang, efek lainnya adalah yang bersangkutan akan merasa lekas lelah, capek, letih, dan tidak bersemangat. Dalam jangka panjang, rasa lelah yang dipicu oleh bete ini bisa berakibat gangguan kesehatan. Seperti, pusing, leher kaku, insomnia, vertigo, dan sakit pinggang.
Nah, setelah mengetahui efek negatif dari rasa bete ini lantas bagaimana upaya kita agar bisa mengatasinya?
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi bete yang datang menyerang. Diantaranya, pergi menonton, makan bakso, karaoke, melukis, dan menulis.
Menulis adalah salah satu cara yang ampuh untuk mengatasi bete. Coba deh kamu rasakan sendiri. Saat kamu sedang mengikuti kegiatan workshop misalnya, tiba-tiba kamu merasa bete dengan materi yang dipaparkan lantas kamu kehilangan fokus untuk menyimak materi tersebut. Dengan menulis resume sebagian materi yang dipaparkan pemateri maka rasa bete dapat dikurangi. Andaikan kamu tetap tidak bisa menulis resume materi yang dipaparkan, kamu masih bisa menulis apapun yang sesuai dengan minatmu.
Bila kamu memiliki hobi menulis puisi, maka tulislah. Dengan menulis puisi di saat kamu bete maka puisi yang kamu hasilkan akan memiliki ruh dan jiwa yang unik. Puisi tersebut akan berbeda rasanya bila kamu menulis dalam keadaan normal.
Begitu pula bila kamu suka menulis cerpen. Tulislah cerpen yang terilhami rasa bete yang kamu alami. Dengan begitu kamu bisa menuangkan seluruh faktor bete yang menyerang mu. Ini akan membuat sel-sel saraf lebih rileks dari sebelumnya. Sehingga kamu akan terhindar dari bahaya sakit kepala yang cukup mengganggu.
Lalu bagaimana bila kamu tidak bisa menulis puisi dan cerpen? Betenya tetap ada, dong?
Jangan khawatir, gerakkan saja alat tulismu. Cobalah menuliskan apa saja yang ada di benakmu. Dengan begitu tekanan psikologis yang membuatmu bete akan berkurang.
(Tulisan di sela-sela workshop review dan Revisi KTSP 2019 tentang Meningkatkan Kompetensi Literasi Digital Guru dan TAS Dalam Menyongsong Era Revolusi 4.0, Rabu, 12 Juni 2019, 15.30 wib).
