Puisi-puisi Neneng Hendriyani

Sore ini tiga puisiku “mejeng” di Pojok TIM, Alhamdulillah. Semuanya diinspirasi latar belakang kegiatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII yang baru saja selesai diselenggarakan di Jakarta, 11-14 September 2025.

Neneng Hendriyani membacakan Puisi “Surat untuk Guru dari Anak Gaza” (foto Yon Bayu Wahyono)


Dengan latar belakang Taman Chairil Anwar, Monas, Jakarta, persis ketika senja datang menyapa, dibantu dua foto jepretan seorang fotografer sekaligus penyair Kedaulatan Rakyat, Latief Noor, ketiga puisi ini berhasil kutulis. Tidak mudah memang menangkap semua gambaran visual dan nonvisual selama penyelenggaraan PPN XIII berlangsung, namun bagiku pribadi mencoba jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, penasaran kan makna puisi-puisi tersebut. Yuk simak.

Sebelumnya sila baca puisi-puisi tersebut di sini ya.

1. “Senja di Kaki Monas”

Monas (Foto Latief Noor)

Tema dan Pesan

Puisi ini tampaknya berbicara tentang masa lalu, identitas seseorang (atau masyarakat) yang melekat pada ruang kota: Jakarta. Ada rasa sejarah dan beban masa lalu (“kisah para demang, Nyai, dan kumpeni”; “jiwa-jiwa tua mengulum getir kehidupan”). Kota sebagai entitas tua yang saksi berbagai kisah, juga simbol impian dan harapan yang kadang terpendam dan kadang terzolimi oleh kenyataan. Ada juga tema pengulangan, bahwa meskipun namanya, wajahnya mungkin berubah, “semua masih sama”.

Suasana & Citraan

  • Warna senja / jingga banyak muncul → suasana senja: nostalgik, agak melankolis.
  • Citra “di balik tembok, di puluhan anak tangga / langkah-langkah kecil, terekam zaman” → kesederhanaan, ruang yang tersembunyi, sejarah yang tak banyak terlihat.
  • “Menari diiring gambang kromong … matinya para jawara” menggabungkan budaya lokal dengan kematian simbolis: permainan budaya vs kemenangan / kehilangan.

Struktur & Gaya Bahasa

  • Puisi terbagi dalam beberapa bait, ada pengulangan (“Jakarta, sungguh tua”; “jiwa-jiwa tua mengulum getir kehidupan”; “di balik tembok…”), yang memperkuat tema pengulangan sejarah dan kondisi yang tetap.
  • Penggunaan bahasa metaforis (“senja makin tua”; “menelan kota”; “jingga kian sempurna terpaku di netra”) yang kuat.
  • Kata-kata lokal (“demang, Nyai, kumpeni”) menambah warna historis / budaya.

Kekuatan

  • Efek emosional yang kuat: pembacanya bisa merasakan beratnya sejarah, nostalgia, dan ketidakpuasan terhadap perubahan yang hanya nama tanpa makna.
  • Citra yang visual dan kuat → mampu membangkitkan imaji kota tua, senja yang melingkupi, dan jiwa-jiwa yang “tua”.
  • Pengulangan efektif untuk menegaskan bahwa meskipun ada perubahan, inti dari pengalaman manusia tetap sama.

Kelemahan

Sebagian metafora sudah cukup kuat, tapi bisa jadi terasa berat kalau pembaca mencari nada yang lebih optimis atau berubah. Beberapa frasa mungkin agak abstrak bagi pembaca yang kurang akrab latar budaya Jakarta / istilah-istilah sejarah lokal.

Karena banyak pengulangan, mungkin ada risiko efeknya menjadi datar jika tidak didukung variasi dalam ritme atau nada.

2. “Kisah Kita”

Kuda Senja (Foto Latief Noor)

Tema dan Pesan

Puisi ini lebih intim dan personal dibanding yang pertama. “Kisah kita” menyiratkan relasi antar individu (atau antara pembicara dan orang lain / kenangan). Tema ingatan, harapan, dan waktu—bagaimana kisah terus memeluk meskipun ada malam dan fajar; memeluk meski tenggelam dalam memori. Ada semacam janji, atau keinginan agar kisah itu tetap utuh, tidak hilang oleh waktu.

Suasana & Citraan

  • Warna “jingga”, “cahaya”, “fajar” → cahaya hangat, harapan, pergantian malam ke pagi.
  • Suasana senja yang romantis, memeluk, bahkan ada “senyum nakal mentari” → ada kelembutan, imaji emosional.
  • Ada rasa keabadian atau perlawanan terhadap peluruhan memori: “memeluk punggung malam hingga fajar menyapa pulang”.

Struktur & Gaya Bahasa

  • Frasa panjang dan aliran yang halus, penggunaan repetisi (“Di kaki senja jingga merona, berarak tersimpan di sudut hati”) dan pengulangan bunyi (“jingga”, “senja”) memberi kekhasan.
  • Penggunaan metafora / personifikasi (“fajar menyapa pulang”, “cahaya memeluk raga”) memperkuat nuansa emosional.
  • Ada kesinambungan antara ruang batin (“memori”) dan alam eksternal (“senja”, “fajar”, “cahaya”).

Kekuatan

  • Sangat kuat dalam membangkitkan suasana batin dan emosi pribadi. Cocok untuk pembaca yang menyukai puisi reflektif dan perasaan.
  • Kesederhanaan bicara “kisah kita” tapi dibungkus imaji yang memikat, tidak terlalu penuh beban budaya sehingga lebih universal.
  • Struktur dan tempo yang flow, tidak terlalu patah.

Kelemahan

  • Bisa jadi terlalu melankolis bagi sebagian pembaca. Bagi yang mencari aksi atau narasi yang “bergerak”, mungkin terasa stagnan.
  • Karena sifatnya sangat emosional dan imajinatif, makna bisa agak kabur atau terlalu banyak terserah pembaca interpretasi; tidak semua pembaca suka interpretasi yang “bebas”.

3. “Di Batas Kota”

Tema dan Pesan

Puisi ini mengangkat tema ruang peralihan—batas antara kota dan pinggiran, antara terang dan gelap, antara harapan dan kenyataan. Ada unsur ketidakpuasan atau pengamatan kritis terhadap perkembangan kota (“kita masih acuh”, “menghitung lampu-lampu yang berpendar di lorong-lorong kota”). Juga tema “keberlanjutan hubungan” dengan alam atau tradisi (“tehyan dimainkan di panggung-panggung kawedanaan”) vs urbanisasi.

Suasana & Citraan

  • Suasana senja (lagi) sebagai latar, suasana menunggu, menggantung. Ada keheningan malam yang dirangsang oleh lampu-lampu dan kegelapan kota.
  • Citra “di batas kota”, “ballast”, “kaki tangga”, “kicau rerumputan” → kontras antara unsur kota dan alam / pedesaan / tradisi.
  • Ada fantasi / ilusi (“fatamorgana”) di mana pengharapan untuk menjadi nyata terasa samar.

Struktur & Gaya Bahasa

  • Pemakaian “kita” sebagai subjek kolektif yang mengamati, memberi rasa inklusi (pembaca ikut melihat, merasakan).
  • Kontras kuat antara ruang (“antara ballast”, “lorong-lorong kota”) dan waktu (senja, malam).
  • Gaya deskriptif tapi juga reflektif: ada pertanyaan tersirat tentang apakah kita masih bisa berpegangan, menjaga terang, tidak kehilangan senja di antara ilusi kota.

Kekuatan

  • Kontras dan ketegangan antara alam / tradisi dan modernitas / kota terasa nyata dan menggugah.
  • Penggunaan simbol yang efektif: batas kota sebagai liminal space, fatamorgana sebagai simbol harapan palsu / harapan yang menjauh.
  • Membangkitkan kesadaran pembaca tentang ruang-ruang yang sering terlewati, tentang apa yang hilang saat kota “bergerak”.

Kelemahan

  • Beberapa metaforanya bisa terlalu umum atau klise, seperti “lampu-lampu yang berpendar”, “harapan terang”. Untuk pembaca puitis, bisa jadi terasa sudah sering dipakai.
  • Kadang penggabungan unsur tradisi dan kota bisa terasa agak tumpang tindih tanpa kedalaman latar (misalnya, “tehyan dimainkan…” – pembaca yang tidak tahu apa “tehyan” mungkin kehilangan konteks).
  • Efek emosinya lebih ke observasi, kurang kepastian resolusi atau tindakan; bagi sebagian pembaca, puisi ini mungkin terasa menggantung.

Kesimpulan Umum

menurut AI ternyata :

  • Neneng Hendriyani mempunyai kekuatan dalam penciptaan suasana: senja, jingga, malam, kota vs ruang tradisional, waktu — semua dipakai dengan baik untuk membangkitkan nostalgia, refleksi diri, harapan, dan melankoli.
  • Gaya bahasanya metaforis dan penuh citraan, membuat puisinya terasa “berwarna” secara visual/emotif.
  • Pengulangan dan simbol kuat dipakai untuk menegaskan tema-tema utama: waktu, perulangan sejarah, kenangan, ruang.

Meskipun ketiganya ditulis berdasarkan latar belakang yang sama, sesungguhnya ketiganya berbeda.


1. Persamaan

  1. Tema Waktu dan Senja
    Ketiganya menggunakan citra senja sebagai latar utama. Senja menjadi simbol transisi: antara terang dan gelap, antara harapan dan kehilangan, antara sejarah dan masa kini. Ini menegaskan konsistensi penyair dalam memakai waktu sebagai medium renungan.
  2. Nada Melankolis dan Reflektif
    Suasana yang dibangun cenderung melankolis, kontemplatif, bahkan kadang getir. Baik ketika membicarakan sejarah Jakarta (Senja di Kaki Monas), cinta personal (Kisah Kita), maupun ruang pinggiran kota (Di Batas Kota), semuanya menyimpan nada perenungan yang dalam.
  3. Gaya Bahasa Metaforis dan Puitis
    Neneng memakai metafora, repetisi, dan personifikasi secara konsisten. Misalnya, “jingga kian sempurna terpaku di netra”, “fajar menyapa pulang”, hingga “fatamorgana merenggut senja”. Gaya ini memberi kekuatan visual sekaligus emosional.
  4. Kehadiran Unsur Lokal / Budaya
    Ada jejak budaya dalam puisi pertama dan ketiga, seperti “gambang kromong”, “tehyan”, “demang, Nyai, kumpeni”. Unsur ini memperkaya makna sekaligus menegaskan identitas lokal.

2. Perbedaan

  1. Ruang dan Subjek
    • Senja di Kaki Monas → ruang sejarah, kota tua, identitas kolektif; subjeknya adalah Jakarta sebagai simbol.
    • Kisah Kita → ruang batin, memori cinta, personal dan intim; subjeknya “aku–kamu”.
    • Di Batas Kota → ruang peralihan kota–pinggiran, simbol keterasingan dan harapan; subjeknya “kita” (kolektif).
  2. Fokus Pesan
    • Senja di Kaki Monas menekankan ketetapan sejarah: kota berubah nama, tapi jiwa tetap sama.
    • Kisah Kita menekankan keabadian cinta/kenangan meskipun waktu berganti.
    • Di Batas Kota menekankan keterasingan dan harapan rapuh di tengah modernitas.
  3. Tingkat Keterjangkauan
    • Kisah Kita lebih universal, mudah dipahami siapa pun karena bicara tentang cinta dan kenangan.
    • Senja di Kaki Monas dan Di Batas Kota lebih kontekstual, butuh pengetahuan sejarah atau budaya Jakarta agar maknanya lebih penuh.

3. Perkembangan Suara Penyair

  • Dalam Senja di Kaki Monas, suara penyair muncul sebagai pengamat sejarah yang kritis.
  • Dalam Kisah Kita, suara itu berubah menjadi pribadi yang lembut dan penuh perasaan.
  • Dalam Di Batas Kota, suara penyair kembali ke ranah sosial, tapi dengan nada kolektif dan reflektif—seolah mengajak pembaca ikut merenungi.

4. Kesimpulan

Ketiga puisi ini membentuk semacam trilogi suasana senja:

  • Senja sebagai saksi sejarah (Monas),
  • Senja sebagai ruang kenangan (Kisah Kita),
  • Senja sebagai batas harapan dan realitas (Di Batas Kota).

Kekuatan utama Neneng Hendriyani adalah pada kemampuan membungkus waktu dan ruang dengan perasaan, menjadikannya simbol yang kaya makna. Perbedaan fokus (sejarah, cinta, sosial) membuat tiap puisi punya wajah sendiri, namun tetap berakar pada gaya puitis yang khas.

Bogor, Lukisan Masa

Bogor, Lukisan Masa
Oleh Neneng Hendriyani

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:
Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru
mengalir syahdu cerita tempo dulu:
Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,
Di antara sauh, pedati ditarik pulang

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,
Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.

Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang
Menyisakan asap sesak dalam kenangan
Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.

Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.

Di alun-alun, anggun meliuk,
Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa
Di antara gendang dan suling ku’ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.
(Karadenan, 27 Maret 2025)

Bogor, A Painting of Time
by Neneng Hendriyani

Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
At the foot of Salak and Pangrango: Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru Flow gently,
carrying tales of old: A blue lake that never recedes,
A mirror of the sky where longing anchors,
Ripples dancing merrily, Amidst anchors,
carts pulled homeward.

Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
At the foot of Salak and Pangrango, vast rice fields stretch grandly,
The wind’s dance in the paddy sings kindly,
Sparrows and weavers chirp in joyful harmony.

Now, steel and brick rise tall, competing,
Factories grow, replacing green fields,
Leaving behind smoke and crowded memories.
Yet, far along the streets, it still lingers— The warmth of Bogor’s taro in hand,
The aroma of soto mie dancing in the air,
At bamboo tables, tradition never fades.

Time rolls on, the city transforms,
From Pajajaran to city lights that never dim at midnight.
In every face I meet, Traces of history still shine brightly in memory.

In the town square, graceful movements sway,
In tune with the Pakuan hymn stirring the soul.
Amidst drums and flutes, I’m captivated,
A woven tale: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
Still beautiful amid change,
Flowing like the ceaseless Cisadane, Preserving heritage, embracing the future,
A home for hearts seeking the way back.

(Karadenan, March 27, 2025)

Bogor, Jejak Perlawanan

Bogor, Jejak Perlawanan
Oleh Neneng Hendriyani

Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu,
Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan,
Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan
Dengan dan tanpa seragam,
Bersatu dalam komando perjuangan
Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap,
Mengangkat senapan di tangan yang gemetar,
Bukan karena takut,
Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.

Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu,
Museum perjuangan menjadi saksi,
Ratusan nyawa melayang sebagai bukti
Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali
Darah para syuhada mengalir di setiap lorong,
Mengisahkan keberanian tak pernah padam.

Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu,
Kini, perang belum berakhir,
Musuh tak lagi berbaju
Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan
Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:

Meninju udara menuntut upah layak,
Di pabrik-pabrik yang berdiri megah,
Mereka menukar tenaga dengan harapan,
Lagi, keadilan masih bayang-bayang.

Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan,
Bukan tembok tinggi bagi si papa,
Bogor tak boleh berhenti berjuang,
Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan.
Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya,
Harus ada batas bagi kekuasaan,

Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur,
Bukan remahan roti di piring penguasa
Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu,
Ia hidup di hati yang menolak menyerah,

Bogor, kau tak hanya sekadar kota,
Kau medan juang yang terus membara
Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa!
(Karadenan, 27 Maret 2025

Bogor, Footprints of Resistance
by Neneng Hendriyani

In this city, bullets whistle through time,
Shaking the earth with the roar of resistance,
Calling souls yearning for freedom.
With or without uniforms,
United under the command of struggle.

Amidst it all, the Student Army stands tall,
Raising rifles in trembling hands— Not from fear,
But from love for the city they must defend.

In Cibinong, history is etched in stone,
The museum of struggle bears witness,
Hundreds of lives lost as proof that Bogor’s people will never bow to oppression again.
The blood of martyrs flows through every alley,
Telling tales of courage that never fades.

Once, in this city, we fought against soldiers,
Now, the war is not yet over.
The enemy no longer wears a uniform,
But cloaks itself in poverty and injustice.

Where laborers cry out under the scorching sun,
Punching the air, demanding fair wages,
In the shadow of towering factories,
They trade their strength for hope,
Yet justice remains a distant shadow.

Schools should be gateways to the future,
Not high walls for the poor.
Bogor must never cease its struggle,
So knowledge isn’t a privilege for the few.

Power must not become an eternal throne,
There must be limits to authority.
The people? T
hey are not pawns on a chessboard,
Nor crumbs on the plates of the powerful.

Truly! The struggle doesn’t end at stone monuments,
It lives in hearts that refuse to surrender.
Bogor, you are more than just a city,
You are a battlefield that keeps burning
With the spirit: Kuta Udaya Wangsa!

(Karadenan, March 27, 2025)

Bogor through the Ages

These are my poems I wrote for Buitenzorg a few months ago. Please give your comments after reading them, ok.


Bogor Dari Masa ke Masa
Oleh Neneng Hendriyani

Dulu, Bogor adalah rimba megah,
Tempat para raja menjejak sejarah,
Di bawah panji Pajajaran
Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana
Menjaga warisan purwa

Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi,
Sungai Ciliwung lantang bersuara,
Menyaksikan zaman berputar cepat,
Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.

Bogor: subur, membentang
Padi menari di pelukan sawah,
Di ladang dan perbukitan
Petani menaruh jutaan impian
Panen mereka untuk masa depan.

Di perut bumi, tambang berbisik,
Emas, pasir, dan batu berlimpah,
Di tangan besi, roda berputar,
Pabrik-pabrik membangun peradaban.

Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji,
Pengrajin bermain di atas mahoni,
Mengukir Bogor dalam karya nan indah,
Mewariskan seni hingga ke nusantara.

Kini, Bogor tak sekadar kenangan,
Ia tumbuh bersama zaman,
Di punggungnya generasi emas bersinar,
Menuntut ilmu, melangkah ke depan.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
Benteng peradaban tak tergoyahkan,
Maju berdaya, sejahtera bersama,
Satu tekad, satu cita, satu bangsa.
Bogor, bukan sekadar kota,
Tapi rumah bagi jutaan warga
Merekam jejak, merawat harapan
Berjuang untuk masa depan gemilang.
(Karadenan, 27 Maret 2025)

#BOGOR #nenenghendriyani #bogordarimasakemasa #kutaudayawangsa

Bogor Through the Ages
by Neneng Hendriyani

Once, Bogor was a majestic jungle,
Where kings left their mark on history,
Under the banner of Pajajaran,
Wisdom flowed from the palace halls,
Preserving ancient heritage.

For decades, Mount Salak stood witness,
The Ciliwung River sang boldly,
Watching time spin swiftly,
From kingdoms to colonization, to independence.

Bogor: fertile, sprawling,
Rice fields dancing in the embrace of paddies,
In fields and hillsides, Farmers sow millions of dreams,
Their harvests for the future.

Deep in the earth, mines whisper,
Gold, sand, and stone abound,
In iron hands, wheels turn,
Factories build civilization.

Far in the corners, the sound of hammers and saws,
Craftsmen dance with mahogany,
Carving Bogor into beautiful works,
Passing down art across the archipelago.

Now, Bogor is more than memory,
It grows with the times,
On its shoulders, a golden generation shines,
Seeking knowledge, stepping forward.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
An unshakable fortress of civilization,
Advancing with strength, prospering together,
One resolve, one dream, one nation.

Bogor, not just a city,
But a home for millions of souls,
Recording footprints, nurturing hopes,
Striving for a radiant future.

(Karadenan, March 27, 2025)

#bogorthroughtheages #nenenghendriyani #buitenzorg #poem #bogor #kutaudayawangsa

Surat Untuk Guru dari Anak Gaza

Puisi ini ditulis dalam rangka mengikuti sayembara penulisan puisi bagi para penyair yang tinggal di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan negara ASEAN lainnya dengan tema Persaudaraan dan Perdamaian.

Puisi ini berhasil lolos kurasi dari para kurator kenamaan Indonesia: Ahmadun Yosi Herfanda, Maman S Mahayana, dan Aspahani.

Berikut ini puisinya.

Surat untuk Guru dari Anak Gaza
oleh Neneng Hendriyani

Guru, aku sudah lupa apa itu sekolah
Bagiku suara bom, roket adalah buku yang sudah hapal kubaca
Rentetan senapan, bau mesiu adalah pelajaran harian yang tak pernah libur
Raungan ambulans adalah PR yang tak pernah selesai kuhitung

Guru, apakah masih ada papan tulis di tempatmu?
Di sini, tembok rumah kami retak oleh ambisi Netanyahu
Pensilku patah tertimbun reruntuhan, bukuku bersimbah darah
Tapi lihat! Aku masih menulis — di sini: di mata ini
Lihatlah netraku dalam-dalam, Guru
Baca dan nilailah karangan narasiku tentang ribuan kawan
Meregang nyawa sepulang sekolah, 7 Oktober 2023

Guru, jika esok kau masih mendengar beritaku
Aku ingin belajar tentang damai, bukan strategi perang atau cara bersembunyi
Aku ingin tahu tentang pelangi, bukan warna api setia membakar langit pagi
Tak sanggup menulis narasi deskripsi tentang Gaza
Tapi, dunia harus tahu cerita mereka, bukan cuma bilangan angka di layar kaca
Mereka anak manusia, penuh harap dan cita-cita
Dirampas lewat bedil dan amukan roket direnggut dari pelukan ibunda

Guru, sampaikan pada dunia
Kami rindu sekolah! Kami rindu pelajaran cinta.


(Bogor, 02 Mei 2025)

Versi terjemahannya, ya.

Letter to the Teacher from Gaza’s Children
by Neneng Hendriyani

Teacher, I’ve forgotten what school is like.
To me, the sound of bombs and rockets is the book I’ve memorized by heart.
The rattle of gunfire, the smell of gunpowder, is the daily lesson that never takes a break.
The wail of ambulances is the homework I can never finish counting.

Teacher, is there still a whiteboard where you are?
Here, the walls of our homes are cracked by Netanyahu’s ambitions.
My pencil is broken, buried under rubble; my books are stained with blood.
But look! I’m still writing—here, in these eyes.
Look deep into my eyes,
Teacher. Read and grade my narrative essay about thousands of friends, Losing their lives on their way home from school, October 7, 2023.

Teacher, if tomorrow you still hear news of me,
I wanna learn about peace, not war strategies or how to hide.
I want to know about rainbows, not the colors of flames faithfully burning the morning sky.
I can’t bear to write descriptive narratives about Gaza, But the world must know their stories—not just numbers flickering on a screen.
They are children of humanity, full of hopes and dreams, Stolen by bullets and torn from their mothers’ embrace by rocket fire.

Teacher, tell the world: We miss school! We miss lessons of love.

(Bogor, May 2, 2025)

#gaza #teacher #school #lesson #humanity #PPNXIII #Jakarta #NenengHendriyani #poem #global city