REINKARNASI

Oleh Neneng Hendriyani

REINKARNASI
Oleh: Neneng Hendriyani

Berjalan menyusuri lorong waktu
tatap tajam setiap persinggahan
Mengingat dalam kelam, memandang dalam diam
Jauh di hati, beban kian hilang
Sementara cerita-cerita lama masih beredar dalam biduk kenangan
Meminta haknya tidak dilupakan
Meski tubuh telah berganti, jiwa tetaplah abadi bersama
seluruh cerita di dalamnya

Dalam setiap satu dasawarsa
Terlahir kembali dalam nama yang berbeda
Tubuh yang tak lagi sama dengan jiwa yang serupa
Kembali untuk menapaki lagi jalan-jalan yang pernah
dilalui
Menyempurnakan segala hal yang masih tersisa di kehidupan sebelumnya
Mengubah yang bisa diubah, mencuci yang bisa dicuci
Agar damai semesta, damai juga jiwa

Kembali mengingat dalam kelam, memandang dalam diam
Jauh, nun jauh di hati, beban kian hilang
Sementara cerita-cerita lama masih beredar dalam biduk
kenangan
Meminta haknya ditunaikan
Meski tubuh telah berganti, jiwa tetaplah abadi
Dalam lingkaran reinkarnasi

(Bogor, 4 Maret 2020; 08.43 WIB)


Ini adalah puisi yang berhasil lolos kurasi untuk lomba menulis puisi dengan tema spiritualitas yang diselenggarakan oleh Rumah Semesta (W. Mustika) pada Mei 2020. Judul buku antologi ini adalah SEMESTA JIWA (ANTOLOGI PUISI BERTEMA SPIRITUALITAS)
. ISBN 978-623-92348-4-4. Puisi ini terdapat pada halaman 95.


BERTUALANG KE NEGERI SATWA (KUMPULAN DONGENG FABEL)

ISBN 978-623-7837-05-3

BERTUALANG KE NEGERI SATWA – COVER

Sebagai salah satu mentor menulis cerita fabel aku menulis CACA DAN KAKA (halaman 4-6) di dalam buku ini. Ada 50 guru anggota Komunitas Guru Penulis Jawa Barat (KGPJB) yang menulis cerita fabel. Mereka mengangkat kisah tentang hewan yang disesuaikan dengan daya tangkap dan imajinasi anak-anak. Sebelumnya mereka dibekali dengan pengetahuan mengenai penulisan cerita fabel olehku dan Pak Saiful Amri. Kami bergantian melatih dan mendorong mereka semua agar berani mencoba berkreasi dan keluar dari zona nyamannya sebagai penulis selama ini. Meskipun hanya sedikit yang berprofesi sebagai guru TK dan PAUD karya mereka luar biasa bagus dan bisa digunakan di kelas-kelas TK dan PAUD. Ini sungguh sangat menggembirakan.

UNTUK ANAKKU (Kumpulan Cerita Anak Penumbuhh Budi Pekerti)

Ini adalah karya bersama yang ditulis oleh guru anggota Komunitas Menulis KGPJB (Komunitas Guru Penulis Jawa Barat). Kebetulan aku menjadi mentor kelas menulis cerita anak bersama Bapak SAIFUL AMRI. Kelas yang diprakarsai pengurus KGPJB ini berhasil merekrut puluhan guru dalam kelas maya yang menggunakan WhatsApp (WAG). Di dalam kelas ini lah aku dan Pak Sam bergantian memberikan materi tentang bagaimana menulis cerita untuk anak. Alhamdulillah kerja keras kami membuahkan hasil. Seluruh “siswa” di kelas ini berhasil membuat cerita untuk anak.

Di buku ini pun aku menulis sebuah cerita untuk anak dengan judul “CERITA AKU” yang terdapat pada halaman 4-6. juga “LAYANG-LAYANG AZMY” (halaman 104 – 106. Semoga buku ini bermanfaat bagi anak-anak kita semua.

CORONA DAN GURU

Oleh Neneng Hendriyani

Sudah dua minggu aku di depan layar berbalut daster dan sendal,
wajah polos tak sempat dandan yang terpikir cuma mengajar
Sejak pagi hingga malam laptop dan handphone jadi kawan
Kuota sudah tak dipikirkan entah berapa yang melayang

Mata lelah, kepala berkunang, jari jemari pegal kesemutan tak jua dihiraukan
Hendak mengeluh tapi tabu, rasa malu memaksaku tetap tegar tetap sabar
Mengajar jarak jauh tergantung koneksi tergantung sinyal,
nilai siswa jadi tujuan

Entah berapa minggu lagi, begini
Sejak enam belas Maret aku meng-upgrade diri
Satu demi satu aplikasi dipelajari guna memudahkan tugas sesuai janji bakti
Sejak pagi hingga malam laptop dan handphone jadi kawan
Kuota sudah tak dipikirkan entah berapa sudah melayang

Mata lelah, kepala berkunang, jari jemari pegal kesemutan tak jua dihiraukan
Nilai siswa jadi tujuan sebagai bekal mereka di masa depan kala corona tinggal kenangan
Kuatkan niat, bulatkan tekad mengajar jarak jauh, tergantung koneksi tergantung sinyal,
nilai siswa jadi tujuan

(Karadenan, 30 Maret 2020; 18.52)

Tentang Penulis:
Neneng Hendriyani lahir di Kabupaten Bogor dan tinggal di red zone Karadenan, Cibinong. Sehari-hari bertugas sebagai guru bahasa Inggris di SMA Negeri 4 Cibinong. Untuk korespondensi sila hubungi nenghendri53@gmail.com dan WhatsApp 085715773482

Puisi di atas dimuat dalam buku PANDEMI PUISI (ANTOLOGI BERSAMA MELAWAN COVID-19) dengan ISBN 978-602-5780-60-8 pada halaman 278. Buku ini memuat semua curahan perasaan, pikiran, dan harapan dari seluruh penyair nusantara terhadap Corona Virus yang tiba-tiba datang di awal tahun 2019 di Indonesia.

KUNANTI DI KAMPAR KIRI (ANTOLOGI PUISI PENYAIR ASEAN)

Ini adalah buku antologi puisi yang ditulis oleh para penyair ASEAN. Tidak mudah untuk bisa masuk ke dalam bagian buku ini. Seluruh penyair harus berkompetisi menulis sebuah puisi dengan tema yang sudah ditentukan oleh Panitia. Yaitu tentang Kampar Kiri, Gunung Sahilan, Riau. Bersyukur aku bisa masuk ke dalam kompetisi ini dan menjadi salah satu bagiannya dengan sebuah puisi yang berjudul MALAM KENDURI DI KAMPAR KIRI (halaman 126).

Berikut ini puisinya. Selamat membaca, ya.

Antologi Puisi “Kunanti di Kampar Kiri (Mendulang Gunung Sahilan, Menyanding Rimbang Baling)

Malam Kenduri di Kampar Kiri
Oleh Neneng Hendriyani

Malam baru mulai datang, kawan
Kenduri pun belumlah usai
Mari merapat sini, dendangkan lagu suka kita
Di Kampar Kiri bebas menari
Nyanyikan syair cinta, ribuan doa ‘tuk umat sedunia

Jangan bawa arak, bawa saja limun soda
Kita minum hingga fajar tiba
Mari kemari kawan kita berpesta
Jangan cemas kenduri belum usai
Mari bercengkrama tukar kata tentang kita sambil tunggu
Maidun lelo teriak manja
Tanda Raja tiba usailah semua derita

(Bogor, 22 Mei 2018)

Terjemahannya:

Feast Night in Kampar Kiri
by Neneng Hendriyani

Night has just begun to fall, my friend,
The feast is far from over.
Come closer, sing the songs we love,
In Kampar Kiri, dance freely,
Chant verses of love,
thousands of prayers for the world’s people.

Leave the liquor behind,
bring lemon soda instead,
We’ll drink until dawn arrives.

Come, my friend, let’s celebrate,
Don’t worry, the feast isn’t done.
Let’s chat, exchange words about us, while we wait,
Maidun lelo calls out sweetly,
A sign the King has come, ending all suffering.

(Bogor, May 22, 2018)

Nasihat Ninik Mamak
Oleh Neneng Hendriyani

Bila esok senja kau dapati
Usah pergi ke luar negeri
Cukup datang lima kali sehari
ke sini ke ujung Subayang ini

Bila esok senja kau dapati
Jangan tunggu malam menyelimuti
Datanglah ke Gunung Sahilan cepat
Pukul rebana jabat tanganku erat
Mandi balimau bakasai kita nanti
Bersama raja, handai taulan Kampar Kiri
Lalu senyum bolehlah pergi ikut mentari

(Bogor, 22 Mei 2018)

Advice of the Elders
by Neneng Hendriyani

If tomorrow you find the twilight,
Don’t venture abroad.
Just come five times a day to this place,
to the edge of Subayang.

If tomorrow you find the twilight,
Don’t wait for night to envelop you.
Hurry to Gunung Sahilan,
Beat the drum, clasp my hand tightly.
We’ll perform the balimau bakasai bath later,
With the king and kin of Kampar Kiri.
Then smile, and you may follow the sun.

(Bogor, May 22, 2018)

Penulis adalah Guru Bahasa Inggris di SMK N 1 Cibinong Kab Bogor sekaligus Alumni Peserta Kemah Sastra Nasional 2018 di Desa Adat Kemiren Banyuwangi pada tanggal 28-29 April 2018. Karya sastranya antara lain Antologi Seri Puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru (2017), Janji Firly (2017), Kumpulan Puisi Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi Puisi: Senyuman Lembah Ijen (2018).

#nenenghendriyani #kamparkiri #riau #2018 #rimbangbaling #ninikmamak #kenduri

PELITA DI MATA PELANGI

Ini adalah buku antologi yang berisi kumpulan cerita fiksi mini. Buku ini ditulis oleh guru yang menjadi anggota Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ). Ada 43 guru yang telah mengirimkan karyanya di buku ini, termasuk aku. Untuk buku ini aku menulis dua judul; SEBUAH PESAN (halaman 117 – 120), dan DI TENGAH MALAM (halaman 121-122).

Khusus untuk buku antologi ini aku memang menulis dengan genre yang sedikit berbeda dari biasanya. Yaitu horror. Berikut isi tulisanku yang bisa ditemukan pada buku dengan ISBN 978-623-7080-10-7.

SEBUAH PESAN
Oleh: Neneng Hendriyani

Aku enggan menatapnya saat berlalu di ruang tengah. Dengan tergesa ku segera menutup pintu. Saat memutar kran hatiku berbisik. “Ada siapa itu di sana?”. Ah, lagi-lagi aku sulit konsentrasi bila terganggu seperti ini. Gemetaran tanganku membasuh wajah sambil komat kamit. “Duh, jangan perlihatkan wajahnya, ya Gusti. Aku takut”.
Segera langkahku dipercepat saat melintasi ruang yang sama. Tak bisa dipungkiri bulu kuduk berdiri semua. “Alamak! Dia ada di situ. Ada apa, ya?”. Diam-diam pikiranku melayang ke sebuah rumah papan di pojok kampung. Sebuah rumah yang nyaris roboh beberapa Minggu lalu. “Ah, itu rupanya yang hendak ia sampaikan”.
Aku tak tahu apa yang kulakukan. Jangan tanya padaku bagaimana aku bisa melihatnya. Aku tak bisa menjelaskannya padamu. Yang jelas aku berada di sana di tengah pohon bambu. Aku bergidik ngeri saat melihatnya menjulurkan lidah dan kedua matanya melotot ke arahku. “ Ya, Tuhan!”. Segera kututup mulutku dan pergi meninggalkannya tetap tergantung di sana. Hatiku trenyuh. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu terhadap dirinya sendiri. Aku masih ingat beberapa hari lalu ia menghubungiku di messenger. Tak banyak yang kami bicarakan. Hanya sedikit persoalan tentang silang sengketa tanah yang melibatkan banyak pihak saja yang kami bahas. Ia bertanya tentang segala kemungkinan yang akan terjadi bila tanah waris itu belum juga dibagikan hingga batas temponya berakhir sesuai dengan amanat sang kakek. Sayang sekali sebelum aku menjawabnya ia sulit dihubungi.
Perempuan itu masih terlalu muda sebenarnya. Namun inilah hidup. Tak ada muda dan tua. Tak ada miskin dan kaya. Semua menjalani suratan takdirnya. Sempat ku telisik warna bajunya sebelum pergi. Ya, masih sama seperti hari dimana kami pertama bertemu. Warna yang begitu mencolok; begitu kampungan menurut pamanku. Dulu aku tak sepakat dengan pendapatnya. Kini, aku harus menyetujui pendapat pamanku. Warna baju kesukaannya memang kampungan. Begitu mencolok di antara warna dedaunan dan kulit bambu sekarang. Ada bagusnya, sih. Ini akan memudahkan siapa pun untuk mengenalinya esok pagi. Sehingga sebelum zuhur ia sudah bisa dikebumikan.
Antara sadar dan tidak, ku raih smartphone yang terletak di atas meja rias segera setelah mengucapkan salam ke kanan dan kiri. Masih terlalu dini sebenarnya untuk mengganggu tidurnya malam ini. Namun ini harus tetap dilakukan sebelum semuanya terlambat. Aku tak ingin perempuan itu ditemukan lebih dahulu oleh para pencari kayu esok pagi. Akhirnya setelah lama mencoba aku bisa berbicara dengannya. “Waktunya telah tiba, Lik. Tabahkan hatimu. Apa yang kita tanam itulah yang kita petik. Jemput ia di ujung kebun bambu kampung sebelah. Bawalah dua orang dewasa bersamamu ya, Lik. Bersabarlah dengan segalanya. Jangan berbuat apa pun sebelum aku datang, okay. So, suruh Anto menjemputku di bandara siang ini.”

_karadenan, 16 Oktober 2018_

DI TENGAH MALAM
Oleh:
Neneng Hendriyani

Di tengah guyuran gerimis ia berlari dan terus berlari. Bayangan wajah si bungsu terus saja memenuhi rongga matanya seolah memanggilnya pulang dan memaksanya terus berlari menjauhi rumah Nenek Darmi. Ia semakin mempercepat larinya. Terseok-seok sampai jua ia dirumah. Dengan basah kuyup ia langsung berlari ke kamar anak-anaknya. Dipeluk cium nya keempat buah hatinya bergantian. Air mata deras mengalir di pipinya yang masih ranum. Ia sungguh takut kehilangan mereka.
Ini adalah malam ketiga ia begadang. Ia berharap semua masalah ini segera selesai. Ia semakin tersiksa.
Jauh berkilo-kilometer dari tempatnya berbaring, ayahnya sedang berjuang melawan maut. Sejak kapan pastinya ayahnya sakit ia pun tak tahu. Kabar sakitnya pun diterimanya melalui handphone seminggu yang lalu. Ibunya sendiri yang memanggilnya untuk datang di tengah malam buta saat si ayah semakin kritis.
Ya, malam itu jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh. Anaknya yang masih bayi baru tertidur pulas di gendongan sang ayah. Laptop pun baru saja dinyalakannya. Ia berencana menyelesaikan tugas kantornya yang biasa ia bawa pulang. Tiba-tiba hand-phonenya berdering. Lantunan fur elise karya Bethoven mulai terdengar semakin panjang. Segera ia meraih hand-phonenya yang diletakkannya sembarangan di atas kulkas.
“Wi, cepat pulang kerumah. Bapakmu sakit,” cerocos ibunya saat ia baru saja mengucapkan salam. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa hilang dari ibunya, to the point tanpa melihat sikon.
“Ono opo tokh, bu?, iki wis wengi. Kasian anakku masih bayi dibawa keluar malam-malam”, tolaknya halus.
Di keluarga ibunya ada semacam pantangan keluar malam-malam. Nanti kena mala katanya. Apa itu mala, hingga kini Wiwi tak pernah tahu. Dulu ia mengira ibunya selalu mengatakan itu hanya untuk mencegahnya keluar malam minggu dengan pacarnya.
“Kamu ini kalau disuruh orang tua selalu saja menolak. Dasar anak tak tahu untung. Tak tahu sopan santun,” bentak ibunya. Ah, pengang rasanya telinga kalau sudah mendengar bentakan ibunya. Ciut hatinya seketika. Rasa hormat selalu kalah dengan ketakutannya.

BIODATA PENULIS

Neneng Hendriyani, M.Pd lahir di Bogor 09 Agustus 1982. Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong sekaligus penulis buku ini mencintai dunia sastra. Karya sastra yang telah diterbitkannya Antologi Puisi: Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017), Antologi Kisah Guru Inspiratif: Jangan Berhenti Mengajar (2017), Antologi Seri Puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru (2017), Kumpulan Puisi Bogor (2017), Janji Firly (2017), Kumpulan Puisi Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi Puisi: Senyuman Lembah Ijen (2018), Antologi Puisi: Kunanti Di Kampar Kiri (2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi: Ilalang Di Atas Batu (Google Play Store, 2018). Untuk korespondensi sila hubungi WA: 085715773482, e-mail: nenghendri53@gmail.com.

PUISI DI BALI POST

ELEGI SAUDARA BUMI
Oleh: Neneng Hendriyani

Bumi lahir tak sendiri
Bersama air, angin, dan api di atas tanah ia mengabdi
Berjibaku melawan waktu menyusuri seluruh sendi
Menjadi bagian saksi eksistensi Ilahi yang hakiki

Bumi lahir tak sendiri bersama semua ia mengabdi
Saling asah, asuh, dan asih berharap jaya semua negeri

Sayang, saat saudara tua hilang kendali
Api melalap semua harta, air membawa semua nyawa
Tanah membelah memeluk rapat jiwa-jiwa
Angin berputar menghempas hebat
Bumi meratap menjerit pilu berteriak hingga parau,
tinggal tangis, dan darah mengalir tak henti berlari menuju satu ambang yang pasti

Bumi tak bisa lagi tertawa
Tersenyum pun tanpa makna
Bola mata cantiknya telah buta
Telinganya ikut tuli, hati membatu, terkapar di reruntuhan
Tangan-tangan kecilnya meronta, menggapai batas asa

Bumi hanya bisa menarik napas
Sedalam lautan menarik airnya ke daratan
Tumpahkan derita, tumpahkan selaksa doa
Hanya pada Ilahi bumi berserah diri
Kemarin, kini, juga nanti
Biarlah semua saudara terampuni

Bogor, 01 Oktober 2018

CINTA TUHAN DI PALU
Oleh: Neneng Hendriyani

Bukan Tuhan murka hingga Palu menderita
Bukan Tuhan tak suka hingga Palu terkapar binasa
Sungguh, tengoklah ke sana
Di mihrab yang suci
Tuhan masih ada
Menyambutmu dengan senyum dan tangan terbuka
Memegang dahimu juga dada yang penuh luka Ia ada

Percayalah padaku
Tuhan sedang jatuh cinta pada Palu yang indah
Palu yang megah
Tuhan ingin bercengkerama
Memeluk jiwa-jiwa yang tenang
Menyambut sukma-sukma yang riang
Yang tlah lama rindu pulang

Tuhan tidak benci
Hingga kau seperti ini
Darah menetes di dahimu mencium dagu hingga bahu
Tenggelam rumahmu di tengah banjir lumpur yang ganas
Sungguh, Tuhan tidak benci

Lewat alam yang marah
Lewat alam yang gundah
Tuhan kasih tanda padamu
Betapa Ia mencintaimu

Ia hanya ingin kau berserah, pasrah
Hanya ingin melihatmu berlari mengejarnya di kala malam telah gelap sempurna
Ia tak ingin melihatmu masih bercengkerama
Di bibir pantai dengan baju terbuka
Menantang angin di bawah bulan yang menggantung di cakrawala

Sungguh, Ia mencintaimu
Ingin kau datang berbisik mesra di penghujung senja
Menikmati indahnya jingga bola raksasa di balik dinding mihrabnya

Sungguh, jangan kau salah sangka,
Tuhan tidak murka
Tuhan jatuh cinta
Pada Palu yang megah
Pada Palu yang indah

(Bogor, 01 Oktober 2018)

SEPUCUK SURAT UNTUK ANTHONIUS
Oleh: Neneng Hendriyani

Tabe Kawan
Terima kasih,
Untuk ijin yang kau beri,
Langkah-langkah yang kau pandu
Di hari naas itu
28 September 2018
Kala jingga hampir sempurna di ufuk barat

Tabe Kawan,
Terima kasih
Selamat kami hingga tujuan
Bahagia kami berjumpa handai taulan
Meski hati dan jantungku tercerabut pilu
Di tengah lautan ku lihat gelombang amat menakutkan
Menerjang kotamu
Meluluhlantakkan tempatmu berdiri

Maafkan aku kawan,
Tak ada yang bisa ku sampaikan
‘tuk sekadar memberi penghiburan
Air mataku tak henti mengalir
Sesak dadaku mengingatmu
Sungguh, maafkan aku merepotkanmu

Biarlah ku simpan kau dalam doa
Kala melati dan kemboja bermekaran
(Bogor, 01 Oktober 2018)

PAKET CINTA UNTUK DONGGALA
Oleh: Neneng Hendriyani

Sahabat, sudah tibakah paketku hari ini?
Makanan pokok, selimut, juga baju
Ku kirim dengan cinta kemarin itu
Saat ku dengar tentangmu di sana

Sahabat, terimalah paket cintaku
Berbalut doa dan rindu untuk jumpa
Membalut semua luka, dan pedih yang kau rasa
Biarlah kita berbagi bersama

Sahabat, maafkan aku bila terlalu sederhana
Inilah harta yang ku punya
Semua doa ku tulus adanya
Semoga kau cepat pulih sedia kala

(Bogor, 01 Oktober 2018)

Untuk Sang Muadzin
Oleh: Neneng Hendriyani

Tanah yang berderak
Bergetar kian hebat
Tak meruntuhkan niatmu
Tak mampu menghentikan tugasmu

Salut aku!

Subhanallah
Inilah yang kau minta
Kembali kepada Nya dengan penuh kebaikan
Kembali dalam nama Nya dengan penuh pengabdian
Kembali sebagai jiwa yang tenang
Meski kau tertinggal sendirian
Meski kau harus kehilangan

Tiada yang sia-sia
Semua sudah ada waktunya
Pasrah
Yakinlah
Ia yang kau panggil mendengarmu
Ia yang kau puja menyayangimu
Ia ingin jumpa dengan mu
Di sana di firdausNya
Kau menjadi tamu
Abadi
Dalam nama-Nya

(Bogor, 01 Oktober 2018)

Terjemahan puisi di atas dalam bahasa Inggris:

ELEGY FOR EARTH’S SIBLINGS
by Neneng Hendriyani

The Earth was not born alone,
With water, wind, and fire, it serves upon the land,
Striving against time, tracing every joint,
A witness to the divine existence, eternal and true.

The Earth was not born alone; with all, it serves,
Honing, nurturing, and loving, hoping for the triumph of every land.

Alas, when its elder siblings lose control,
Fire devours all wealth, water sweeps away all lives,
The earth splits, tightly embracing souls,
The wind whirls, striking fiercely.
The Earth weeps, cries in anguish, screams until hoarse,
Leaving only tears and blood flowing ceaselessly,
Racing toward an inevitable threshold.

The Earth can no longer laugh,
Its smile holds no meaning.
Its beautiful eyes have gone blind,
Its ears deaf, its heart turned to stone, lying amidst ruins.
Its small hands struggle, reaching for the limits of hope.

The Earth can only draw breath,
As deep as the ocean pulls its waters to the shore,
Spilling suffering, spilling a myriad of prayers.
To the Divine alone, the Earth surrenders.
Yesterday, today, and tomorrow, May all its siblings be forgiven.

(Bogor, October 1, 2018)


GOD’S LOVE IN PALU
by Neneng Hendriyani

It is not God’s wrath that makes Palu suffer,
Not God’s displeasure that leaves Palu fallen and destroyed.
Truly, look over there,
At the sacred mihrab, God is still there,
Welcoming you with a smile and open arms,
Holding your forehead and wounded chest—He is there.

Believe me, God is falling in love with beautiful Palu,
Magnificent Palu.
God wishes to converse,
To embrace calm souls,
To welcome joyful spirits,
Long yearning to return home.

God does not hate,
Even as you are in this state,
Blood dripping from your forehead, k
issing your chin to your shoulders,
Your home submerged in the fierce flood of mud.
Truly, God does not hate.

Through nature’s anger,
Through nature’s unrest,
God gives you a sign,
Of how much He loves you.

He only wants you to surrender, to yield,
To see you chase Him when the night is perfectly dark.
He does not wish to see you lingering,
On the shore with open clothes,
Defying the wind beneath the moon hanging in the sky.

Truly, He loves you,
Wants you to come, whispering tenderly at twilight’s end,
To enjoy the beauty of the orange giant sphere behind His mihrab’s walls.

Truly, do not misunderstand,
God is not angry.
God is in love, with magnificent Palu,
With beautiful Palu.

(Bogor, October 1, 2018)


A LETTER FOR ANTHONIUS
by Neneng Hendriyani

Greetings, friend,
Thank you, for the permission you gave,
For the steps you guided, on that fateful day, September 28, 2018,
When the orange sky was nearly perfect on the western horizon.

Greetings, friend, Thank you.
We safely reached our destination,
Joyful to meet friends and kin,
Though my heart and soul were torn with sorrow.
In the midst of the sea, I saw terrifying waves,
Crashing into your city,
Razing the ground where you stood.

Forgive me, friend,
I have no words to offer,
Not even for mere comfort.
My tears flow endlessly,
My chest tightens thinking of you.
Truly, forgive me for troubling you.
Let me keep you in my prayers,
When jasmine and frangipani bloom.

(Bogor, October 1, 2018)


A PACKAGE OF LOVE FOR DONGGALA
by Neneng Hendriyani

Friend, has my package arrived today?
Staple foods, blankets, and clothes,
Sent with love yesterday,
When I heard about you there.

Friend, accept my package of love,
Wrapped in prayers and longing to meet,
To soothe all your wounds and pain.
Let us share together.

Friend, forgive me if it’s too simple,
This is the wealth I have.
All my prayers are sincere,
May you recover swiftly as before.

(Bogor, October 1, 2018)


FOR THE MUADZIN
by Neneng Hendriyani

The cracking earth,
Trembling ever more fiercely,
Could not shatter your resolve,
Could not stop your duty.

I salute you!

Subhanallah,
This is what you sought,
To return to Him full of goodness,
To return in His name with full devotion,
To return as a tranquil soul,
Though you were left alone,
Though you had to lose.

Nothing is in vain,
Everything has its time.
Surrender, Be certain,
He whom you called hears you,
He whom you praised loves you,
He wishes to meet you,
There, in His paradise,
You become His guest,
Eternal, in His name.

(Bogor, October 1, 2018)

BIODATA PENULIS

Neneng Hendriyani, M.Pd lahir di Bogor 09 Agustus 1982. Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong sekaligus penulis buku ini sangat mencintai dunia sastra. Karya sastra yang telah diterbitkannya adalah adalah Antologi Puisi: Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017), Antologi Kisah Guru Inspiratif: Jangan Berhenti Mengajar (2017), Antologi Seri Puisi: Menghidupkan Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru (2017), Kumpulan Puisi Bogor (2017), Janji Firly (2017), Kumpulan Puisi Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi Puisi: Senyuman Lembah Ijen (2018), Antologi Puisi: Kunanti Di Kampar Kiri (2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi: Ilalang Di Atas Batu (Google Play Store, 2018). Untuk korespondensi sila hubungi WA: 085715773482, e-mail: nenghendri53@gmail.com.

Terbit di Bali Post

PLAGIARISME DI DUNIA PENDIDIKAN

Oleh:
NENENG HENDRIYANI, M.Pd
(Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Cibinong Kabupaten Bogor Jawa Barat)

Sejak digulirkannya Gerakan Literasi Sekolah beberapa tahun lalu, menulis kini menjadi budaya di kalangan guru di Jawa Barat. Banyak sudah karya yang dihasilkan para guru. Ada yang berupa buku paket, buku kumpulan puisi, buku kumpulan cerpen, novel, hingga artikel yang dimuat di berbagai surat kabar. Semua buku yang dicetak tersebut rata-rata sudah ber-isbn dan dicetak oleh para penerbit IKAPI dan non-IKAPI. Ada yang mengeluarkan biaya percetakan sendiri namun tak sedikit yang sudah dibiayai penerbit mayor. Semuanya membuktikan bahwa guru zaman now tidak hanya terampil mengajar dan mendidik siswa di dalam kelas saja. Tapi juga terampil dalam menghasilkan publikasi ilmiah dan karya inovatif. Ini merupakan perkembangan yang sangat membahagiakan tentunya.

Selain menulis dalam bentuk media cetak seperti buku dan koran, guru kini banyak menulis di media online; seperti blog, facebook, whatsapp, whatpad, dan harian online seperti bernas.co.id. Tema yang ditulis pun beragam. Tak hanya tentang dunia Pendidikan tapi juga hobi dan pengetahuan umum lainnya. Blog yang digunakan pun beragam. Ada yang berbayar, banyak juga yang gratisan. Sebut saja wordpress, kompasiana, gurusiana, dan lain-lain. Singkatnya, guru menulis di semua wadah yang tersedia saat ini. Hal ini untuk memudahkan penyebaran informasi, ide, dan gagasan yang dimiliki agar dapat bermanfaat bagi sesama di manapun berada.

Sayang sekali gegap gempitanya prestasi guru dalam bidang penulisan ini masih diwarnai praktik plagiasi. Menurut KBBI V, 2017, Plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dsb.) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan. Menurut Permendikbud No. 17/2010, Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

Tindakan plagiasi adalah tindakan pelanggaran etika. Tindakan ini nyaris sama dengan mencuri, perbedaannya yaitu yang dicuri adalah ide dan hak cipta orang lain. Menurut PERMEN 17 Tahun 2010, plagiator adalah orang perseorangan atau kelompok orang, masing-masing bertindak untuk diri sendiri atau kelompok atau untuk dan atas nama suatu badan, atau anonim penghasil satu atau lebih karya dan/atau karya ilmiah yang dibuat, diterbitkan, dipresentasikan dan dimuat dalam bentuk tertulis baik cetak mapun elektronik.

Menurut Soelistyo (2011) ada empat tipe plagiarisme yaitu word for word plagiarism, plagiarism of source, plagiarism of authorship dan Self plagiarism. Pada jenis pertama seorang penulis menggunakan kata-kata penulis lain (persis) tanpa menyebutkan sumbernya. Dengan kata lain, ia benar-benar menjiplak karya orang lain. Pada jenis kedua ia menggunakan gagasan orang lain tanpa memberikan pengakuan yang cukup (tanpa menyebutkan sumbernya secara jelas). Dari semua jenis plagiasi, jenis ketiga adalah yang terburuk. Pada tahap ini seorang penulis mengakui sebuah karya hasil orang lain sebagai hasil karyanya. Sementara self plagiarism biasanya dilakukan oleh orang yang menulis karya tersebut. Ia mendaurulang karyanya sendiri, menciptakan karya baru tanpa melakukan perubahan yang cukup berarti dari karyanya yang sebelumnya, atau memasukkan sebagian kecil dari karya lamanya ke dalam karya baru yang dihasilkannya.


BIODATA PENULIS

Neneng Hendriyani, M.Pd. Penulis adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Cibinong Kabupaten Bogor. Saat ini aktif sebagai anggota KPLJ Bogor dan IGP PGRI Kab Bogor. Hasil karyanya adalah Alih Kode Dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah Dari Masa Ke Masa (2017), Tips Mudah Menulis Proposal Dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Janji Firly (2017), Setangkup Rindu Dari Masa Lalu (2018), Antologi: Jangan Berhenti Mengajar (2017), Antologi: Menghidupkan Kembali Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru: Seri Esai (2017), Antologi: Menghidupkan Kembali Ruh Dewi Sartika Dalam Jiwa Para Guru: Seri Puisi (2017), Antologi: Senandung Rindu: Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017).

(PIKIRAN RAKYAT, 15 MARET 2018)

BAHASA SUNDA DI KABUPATEN BOGOR, KONDISIMU KINI

Ini adalah tulisan esai keduaku yang diterbitkan di Mastra Kandaga, sebuah majalah milik Kantor Bahasa Banten pada edisi XIII – April 2020.

Berikut adalah isi tulisan tersebut.

Bahasa Sunda di Kabupaten Bogor, Kondisimu Kini
Oleh Neneng Hendriyani

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di salah satu kabupaten yang cukup heterogen di Provinsi
Jawa Barat, Kabupaten Bogor, saya kerap kali mengalami kesulitan dalam berbahasa Sunda. Terutama apabila harus
berkomunikasi dengan temanteman dan atasan yang terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulan dan urusan
kepegawaian. Padahal kedua orang tua saya pun lahir di Jawa Barat.

Semua orang Sunda paham benar bahwa sundanya orang Bogor tidak sehalus sundanya orang-orang yang tinggal di wilayah Priangan, Jawa Barat. Bogor terkenal heuras genggerong. Bogor memang tidak termasuk wilayah Priangan. Hanya kabupaten Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Majalengka, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Ciamis yang masuk ke dalam wilayah Priangan. Itulah sebabnya masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut bisa dan biasa menggunakan bahasa Sunda yang halus dalam aktivitas sehari-harinya baik di kantor pemerintahan, sekolah, pabrik,bahkan pasar. Sehingga seringkali saya merasa tidak percaya diri bila bertemu dengan teman-teman yang
berasal dari wilayah tersebut.

Takut dibilang tidak sopan, tidak terpelajar dan tidak tahu adat saat menggunakan bahasa Sunda yang ala kadarnya
mendorong saya dan orangorang yang senasib dengan saya memilih jalan aman yaitu menggunakan bahasa Indonesia
daripada bahasa Sunda dalam percakapan.

Hal ini terjadi lantaran bahasa sunda bukanlah bahasa utama yang digunakan di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Di sini bahasa utama yang digunakan oleh sebagian besar masyarakatnya adalah bahasa Indonesia dengan dialek Betawi.
Ini terjadi lantaran Bogor berdekatan dengan Jakarta dimana para penduduk asli Jakarta merupakan suku Betawi.

Bahkan banyak juga dijumpai oleh masyarakat kabupaten Bogor lebih cakap berbahasa Betawi daripada Sunda dalam
pergaulan sehari-harinya. Hanya sedikit sekali yang mampu menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari
baik terhadap orang tua, teman, atasan,bawahan dan masyarakat umum. Mereka yang tinggal di daerah Bogor Barat yang
berdekatan dengan Tangerang dan Banten lebih banyak menggunakan bahasa sunda daripada masyarakat yang tinggal di wilayah Bogor Timur seperti Cibinong, Cileungsi, Jonggol dan sekitarnya. Mereka sudah jarang menggunakan bahasa Sunda Priangan di dalam kesehariannya itu. Sehingga, tidaklah mengherankan anakanak yang lahir di wilayah
Bogor Timur, terutama era 90an hingga sekarang rerata tidak mampu menggunakan bahasa Sunda dengan lancar dan benar
sesuai dengan tata bahasa (struktur) bahasa Sunda dalam pergaulan hidup sehari-harinya.

Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat yang menginstruksikan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah masuk ke dalam kurikulum pembelajaran di SD sebagai muatan lokal membuat anak-anak yang sekolah mulai tahun 1994 belajar bahasa Sunda di kelas-kelas.

Meskipun sudah dijadikan mulok (muatan lokal) selama dua puluh enam tahun, perkembangan bahasa Sunda di wilayah Kota/Kabupaten Bogor belumlah menunjukkan hasil hasil yang menggembirakan. Ini terbukti dari masih banyaknya orang yang canggung berbahasa Sunda saat harus menggunakan bahasa tersebut di forum-forum resmi yang biasa digelar baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas pecinta budaya Sunda.

Selain rendahnya dalam kemampuan berpidato dan berkomunikasi dalam bahasa Sunda, masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bogor khususnya pun ditengarai masih belum cakap sekali dalam mengapresiasi berbagai bentuk karya sastra sunda. Karya sastra yang dimaksud adalah puisi dan prosa berbahasa sunda. Yang termasuk ke dalam kelompok puisi sunda adalah pupuh, kakawihan, sisindiran (rarakitan, paparikan dan wawangsalan), pantun, syair, guguritan, pupujian, wawacan dan mantra.

Hanya sedikit sekali yang paham benar bahwa pupuh masih terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, seperti pada
pupuh asmarandana dan kinanti, sisanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak tahu. Mayoritas penduduk pun
pernah mendengar tentang ajian, jampe, asihan dan jangjawokan. Tapi hanya sedikit yang paham bahwa itu semua adalah bentuk puisi puisi berbahasa Sunda.

Sementara yang termasuk ke dalam prosa Sunda di antaranya adalah dongeng, legenda dan mitologi. Legenda Gunung
Tangkuban Parahu yang kini dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia dengan judul Legenda Tangkuban Perahu ini adalah contoh legenda yang paling banyak diketahui anak-anak yang tinggal di provinsi ini. Namun sayang hanya sedikit sekali anak-anak yang mampu membaca legenda tersebut dalam bentuk aslinya, yaitu bahasa Sunda. Pupuh atau pepeuh adalah bentuk puisi sunda yang memiliki aturan tertentu dalam jumlah suku kata dan rima pada setiap barisnya. Masing-masing jenis pupuh memiliki sifat tersendiri yang khas dan mengandung tema cerita berbeda. Ada 17 jenis pupuh Sunda yang telah kembali diperkenalkan ke masyarakat melalui pendidikan di sekolah. Yaitu asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, juridemung, kinanti, lambang, sinom, magatru,maskumambang, mijil, pangkur, pucung, wirangrong dan ladrang. Seluruh pupuh tadi diajarkan secara bertahap sejak di bangku sekolah dasar hingga menengah atas.

Yang paling akrab di telinga penulis dari 17 pupuh di atas itu hanyalah pupuh asmarandana, kinanti, mijil, dan
dangdanggula. Di dalam Pupuh asmarandana adalah pupuh yang bercerita tentang rasa cinta seseorang terhadap kekasihnya, keluarga atau sahabat. Pupuh kinanti menceritakan penantian seseorang yang sedang jatuh cinta. Dan Pupuh dangdanggula selalu berisi dalam hal-hal yang menenteramkan dan serta membahagiakan orang yang terbiasa mengumandangkannya.

Sementara pada pupuh mijil menceritakan arti kesedihan sekaligus harapan.Lawak atau banyolan (komedi) tentang kehidupan sehari-hari adalah isi pupuh balakbak. Sementara lawak yang berisi renungan menjadi jiwa pupuh lambang. kemarahan dan semangat adalah ciri khas pupuh durma. Kesedihan, kesusahan hidup dan rasa duka lainnya disampaikan dalam bentuk pupuh g ambuh. Sementara mimpi dan khayalan seseorang ditulis dalam bentuk pupuh gurisa. Kebingungan
akan masalah yang sedang dihadapi kerap kali ditulis dalam bentuk pupuh juru demung. Semua pupuh tersebut ditulis dan diucapkan dalam bahasa sunda dengan disertai iringan suling dan petikan kecapi. Penyesalan adalah tema
utama pada pupuh magatru.

Sementara kesedihan yang mendalam menjadi tema maskumambang. Bagi yang mendapatkan tugas yang berat biasanya selalu menuliskan perasaannya dalam bentuk pupuh pangkur. Kekesalan dan kemarahan terhadap diri sendiri dilampiaskan dalam bentuk pupuh pucung. Sementara kebahagiaan diceritakan dalam pupuh sinom. Sedangkan rasa malu akan tingkah laku sendiri adalah tema pupuh wirangrong.

Sindiran terhadap orang lain merupakan tema pada pupuh ladrang. 17 pupuh di atas ditulis dan diucapkan dalam bahasa sunda dengan iringan suling disertai petikan kecapi.Kesadaran yang seakan rendahnya kemampuan dalam berbahasa sunda priangan dan pentingnya penguasaan bahasa Sunda sebagai ajeun diri urang Sunda mendorong penulis ikut serta dalam sebuah komunitas yang di dalamnya berisi pembelajaran bahasa dan sastra Sunda. Pembelajaran yang disampaikan melalui aplikasi WhatsApp ini diikuti oleh 89 peserta yang seluruhnya merupakan guru yang mengajar di wilayah provinsi Jawa Barat d a r i b e r b a g a i j e n j a n g Pendidikan, seperti SD, SMP, MTs, SMA, dan SMK. Dari seluruh peserta yang notabene merupakan penduduk Jawa Barat tersebut diketahui hanya 10% yang cakap berbahasa sunda dengan struktur bahasa yang baik dan benar. 5,6% yang mampu dan menguasai sastra Sunda dengan baik. Hal ini terbukti dari kemampuan mereka menulis carpon alias carita pondok, puisi sunda, carita alit dan lain-lain yang diterbitkan di majalah Mangle.Sisanya masih perlu banyak belajar kepada mereka yang dianggap pupuhu ini.

I n i c uk up m e n j a d i gambaran bahwa jangankan masyarakat umum, guru saja karena tugas keprofesiannya
menjadi digugudan ditiru oleh masyarakat pun masih banyak yang tidak mampu berbahasa Sunda dengan baik dan benar.

Inilah kondisi riil yang ada saat ini. Ketidakmampuan pada masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bogor khususnya ditengarai diakibatkan oleh perkembangan zaman yang sangat pesat. Perkembangan zaman yang lebih menitik beratkan pada bidang teknologi ini telah menggerus budaya sunda dari masyarakatnya sendiri, terutama bahasa. Anakanak yang lahir dari pasangan ibu bapak orang Sunda pun tidak mampu berbahasa sunda lantaran di rumahnya mereka tidak dididik menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Bahasa Sunda pun akhirnya menjadi bahasa asing di rumahnya sendiri.

Oleh sebab itu perlu kesadaran semua pihak dibarengi upaya nyata untuk kembali menempatkan bahasa sunda sebagai bahasa ibu bagi penduduk Jawa Barat yang merupakan orang Sunda. Ini diperlukan agar ajeun diri urang Sunda tidak hilang dan terlupakan zaman. Bukankah menguasai bahasa asing, mengutamakan bahasa nasional dan melestarikan bahasa daerah adalah tugas kita bersama? Mari kita mulai belajar menggunakan bahasa Sunda dari diri kita sendiri, lingkungan terdekat dengan kita dan keluarga kita.

Semoga bahasa Sunda lestari di bumi Parahyangan.

***

Biodata
Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 9 Agustus 1982. Sejak kecil hobi membaca dan menulis. Pendidikan terakhirnya
adalah Magister Pendidikan B a h a s a I n g g r i s . K a r y a tunggalnya bervariasi dari puisi, esai, buku pelajaran hingga novel remaja. Hingga tahun 2019 ada 10 judul buku terbit berISBN. Yaitu, Albatros (2019),
Enrichment Book for XI SMK Based onCurriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let’s Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Antologi puisi Bogorku, Bogormu, Bogor Kita (2017) dan Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017). Penghargaan sebagai penulis puisi batik terbaik Bogor 2017 mendorongnya ikut serta dalam berbagai sayembara penulisan puisi tingkat nasional d a n i nt e r n a si o n al. H a s i l sayembara tersebut dibukukan dalam Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis
bersama penyair Asia Tenggara, 2018), Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia (2018), Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival (2018), Antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kunanti di Kampar Kiri) dan Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap). Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah antologi Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi puisi: Ilalang di Atas Batu (Google Play Store, 2018), Antologi Fiksi Mini Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019) dan kumpulan cerita anak penumbuh budi pekerti Untuk Anakku (2019). Karya tulis lainnya berupa esai dan artikel terbit di Pikiran Rakyat, Bali Pos dan Majalah Kandaga Balai Bahasa Banten sejak 2017-2019. Tulisannya pun dapat dijumpai di https://nhwork.web.id.