WOW, TERNYATA IBU BISA MEWARISKAN LUKA BATINNYA KE ANAKNYA

Oleh Neneng Hendriyani

Siapa bilang trauma, depresi, luka batin hanyalah milik kita pribadi dan tidak memengaruhi hubungan antara kita dengan anggota keluarga?

Orang tua yang kini menjadi orang tua kita dahulunya adalah anak yang juga diasuh, dididik oleh orang tuanya. Pola asuh yang dialaminya ini tanpa disadari memengaruhi pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anaknya sekarang. Di antara pola asuh itu ada yang diterimanya dengan perasaan positif dan tidak sedikit menimbulkan perasaan negatif pada dirinya. Seluruh pengalaman baik dan buruk yang dijalaninya selama pola asuh itu memengaruhi karakter dirinya. Karakter inilah yang kemudian tanpa sadar ikut memengaruhi pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anaknya, yaitu kita.

Ada beberapa ciri di mana anak mendapatkan warisan luka batin dari sang ibu. Yuk, kita cek apakah kita memilikinya dengan menyimak ulasan berikut ini.

Pertama, apabila kita hanya memiliki ibu yang hanya hadir secara fisik dan tidak secara emosional maka sudah pasti kita mendapatkan warisan luka batin sang ibu.

Kedua, umumnya ketika seorang anak terluka, kecewa, atau sedih ia akan mencari sosok yang bisa memberikannya rasa aman dan tenang. Sosok ini biasanya adalah ibunya sendiri. Namun, ketika kita ternyata tidak merasa aman, nyaman, dan tenang berbicara tentang masalah kita kepada ibu kita maka itu tanda atau ciri bahwa kita tidak memiliki ibu secara emosional.

Ibu tidak hadir di saat-saat kita terpuruk, sedih, dan kecewa. Bisa jadi ia sendiri sedang sibuk mengelola batinnya akibat luka yang diterima saat ia kecil dahulu.

Ciri berikutnya adalah kita merasa kurang diapresiasi oleh ibu atas semua prestasi yang kita peroleh. Akibatnya kita menjadi mudah marah, urign-uringan, dan cenderung perfeksionis. Hal ini karena kita berusaha mendapatkan pengakuan, validasi, dan perhatian darinya. Kita berpikir bila kita sempurna maka ibu akan menyayangi dan mengapresiasi kita.

Keempat, normalnya seorang anak akan merasa senang bila berada di dekat sang ibu. Ini bisa dipahami mengingat sebuas-buasnya induk hewan buas ia tidak akan pernah memakan anaknya sendiri. Sayangnya, bagi anak yang memiliki ibu penderita luka batin justeru merasa cemas dan takut bila berdekatan secara fisik dengan sang ibu.

Ciri kelima adalah apabila kita memiliki ibu yang to the point mengatakan bahwa kita harus menanggungnya secara emosional dan finansial. Mungkin pada awalnya kita menganggap bahwa apa yang dikatakannya adalah candaan. Namun, karena seringnya ia mengatakan hal demikian terutama saat emosi maka itu adalah ciri bahwa sang ibu memiliki luka batin serius.

Akibat dari warisan luka batin sang ibu pada umumnya kita sebagai anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa rendah diri, kurang layak, kurang kesadaran emosional, tidak mampu menenangkan diri sendiri, merasa tidak mungkin menjangkau relasi yang hangat dan penuh cinta, serta memiliki kesulitan mempercayai orang lain.

Apabila kita memiliki semua atau sebagian dari ciri-ciri di atas mari kita menyembuhkandiri dari warisan luka batin sang ibu yang kita terima. Caranya dengan berusaha sungguh-sungguh menjadi orang tua bagi diri sendiri. Hal ini bisa kita tempuh dengan memanjakan diri kita sendiri dengan keinginan yang kita miliki saat kita masih kecil. Misalnya, membeli hadiah berupa buku, novel, atau sekadar  menonton di bioskop.

Kita memang dihadapkan pada pilihan yang rumit dan sulit. Menyelesaikan masalah dan luka batin ini sebenarnya menjadi tanggung jawab kita sendiri agar kita tidak ikut pula mewariskannya kepada anak-anak kita. Oleh karena itu, solusinya ada di tangan kita apakah kita ingin lari dari kenyataan bahwa kita tidak memiliki ibu secara utuh baik fisik maupun emosional, ataukah menghadapinya dengan berani mengatakan bahwa kita punya ibu namun ibu tidak hadir bersama kita.

Cara berikutnya yaitu dengan menemui psikolog yang bisa membantu kita meluapkan emosi negatif. Hal ini bisa kita tempuh bila ibu sudah tiada atau sulit ditemui.

Cara lainnya yang bisa ditempuh adalah dengan berusaha empati terhadap luka batin yang dihadapi sang ibu. Memaafkan dirinya dapat menenangkan diri juga.

Nah, apabila semua cara di atas sudah dilakukan namun masih juga merasa cemas dan takut maka sebaiknya menghindar demi tetap menjadi pribadi yang waras. Karena akan sangat sulit  berinteraksi dengan ibu yang toxic dan abusive. Percayalah bahwa di luar sana masih banyak orang yang bisa menjadi ibu bagi kita; mau mendengarkan dan memberikan kita solusi dari masalah yang kita hadapi.

Nah, apakah anda termasuk salah satu anak yang mendapatkan warisan luka batin dari ibu? Semoga setelah membaca ulasan di atas anda dapat mengatasinya dengan baik. Selamat mencoba.***

Hidup Kembali (Part 1)

“Lahir kembali” sepertinya kok gimana, gitu ya? Apa iya orang hidup bisa lahir kembali? Bagaimana bisa?

Dalam berbagai pandangan agama mana pun sepertinya tak ada ajaran atau paham yang mengatakan bahwa seseorang bisa lahir kembali, terlebih bila yang bersangkutan masih hidup. Hanya agama Hindu dan Budha yang mengenal kelahiran kembali alias reinkarnasi. Itu pun setelah mengalami kematian fisik. Sementara yang dibahas di buku ini adalah kelahiran kembali sebuah jiwa dalam keadaan masih bernapas.

Untuk memahaminya jangan menggunakan bahasa yang sulit, ya. Bagi sebagian orang, kehadiran suatu hal yang begitu mengejutkan bisa menjadi alasannya untuk kembali hidup setelah kehilangan hidup itu sendiri. Bagi sebagiannya lagi justeru sebaliknya. Kehadiran suatu hal malah bisa membuatnya mati dalam hidup. Ia hidup, bernapas, makan, dan minum namun tidak lagi merasakan kenikmatan, kesenangan, dan harapan dalam hidup yang dijalaninya. Ia merasa sudah mati dalam hidupnya. Hari-hari yang dilaluinya hanyalah sekadar mengisi waktu saja. Seringkali orang itu tidak melakukan apapun yang membuat harinya lebih bermakna.

Bagi orang yang lama kehilangan semangat hidup dan membiarkan waktunya berlalu begitu saja bisa tiba-tiba begitu bergairah menghadapi hidup. Inilah yang dinamakan hidup kembali.

Sampai sini paham, kan? Jadi pengertian hidup kembali bukanlah menempati tubuh baru dengan nama baru tetapi lebih kepada pemahaman dan kesiapannya menghadapi kehidupannya setelah peristiwa besar yang membuatnya bagai mayat hidup.

Seperti yang kita ketahui hidup tak selamanya indah dan mudah, berjalan sesuai harapan dan mau kita. Hidup selalu memberikan kejutan di setiap harinya. Ada tawa dan air mata yang saling memilin kisah kita sebagai penghuni dunia yang fana. Kekuatan fisik, mental dan hati seringkali menjadi penentu apakah kita berhasil melalui semua kisah tersebut dengan baik. Tidak semua orang bisa melaluinya dengan lancar dan penuh kerelaan. Banyak yang menolak diam-diam dan kemudian terjebak di lingkaran nestapa. Itulah hidup. Hidup yang mau tak mau harus diterima dan dijalani sebisa kita.

Seperti aku yang juga sama denganmu. Berharap di semua waktu bisa menikmati gelak tawa tanpa adanya banjir air mata yang membuat jiwa merana. Namun siapa lah aku. Hanya seorang hamba yang nasibnya sudah ditetapkan jauh sebelum lahir.

Tak pernah diduga sebelumnya bila benjolan kecil sebesar bulir padi itu lambat laun membesar, bergerak, dan hidup di jaringan tubuh setelah bertahun-tahun lamanya. Aku yang dibesarkan secara sederhana di lingkungan keluarga yang takut dokter tak pernah menduga akan menghabiskan banyak masa muda, waktu, dan harta untuk bisa menghirup udara segar tanpa tekanan dan siksaan.

Ya, peristiwa menakutkan itu terjadi persis ketika aku baru saja melahirkan anak pertama. Perasaan lemas, lelah, letih, lesu, lunglai, letoy, dan loyo menderaku dengan hebatnya hingga aku tak mampu menggerakkan tubuhku sendiri. Setiap hari aku hanya mampu menghabiskan waktu 1 jam untuk bisa beraktivitas. Itu pun segera setelah bangun tidur. Setelah selesai mandi dan berjemur dengan orok aku sudah limbung.

Sepanjang hari aku hanya tidur-tiduran saja di samping orok yang belum bisa membuka matanya. Untuk bangun memperbaiki posisi tubuh pun rasanya susah. Apalagi bila harus ke toilet dan lainnya. Sudah pasti harus dipapah orang rumah.

Empat puluh hari kemudian aku ke RS PMI Bogor. Setelah pemeriksaan intensif dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi pembedahan di bagian payudara kanan. Jantungku kaget bukan kepalang mendengarnya. Mataku melotot saking tak percaya. Lutut pun gemetar hebat. Tuhan, cobaan apa ini?

Kutatap bayi mungil dalam gendongan. Berbagai pikiran buruk menyerangku tiba-tiba. Dokter itu terus saja memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai penyakit yang kuderita. Aku sudah tak konsentrasi dengan apa yang dibicarakannya. Aku membayangkan bagaimana si kecil menyusu nanti. Aku bingung, sedih, takut, juga malu.

Sebagai pasangan muda tentulah seks adalah aktivitas yang tak hanya melibatkan persatuan tubuh tetapi juga perasaan. Bagaimana bisa melakukan pelayanan prima bila aku sendiri merasa tak percaya diri dengan kondisi fisikku sendiri. Mungkin suami tak keberatan dengan hal itu. Tetapi aku? Tidak! Tak mungkin. Batinku menolak keras.

Dengan mata memelas kuminta jeda untuk berpikir. Dokter itu memandangku tanpa perasaan. Mungkin saking banyaknya pasien yang seperti diriku. Menolak operasi karena takut dan cemas. Ya, takut dan cemas akan sesuatu yang tak jelas.

“Terserah, Ibu. Saya hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan sebagai dokter. Keputusan akhir tetap di tangan ibu dan keluarga. Namun demikian pikirkan baik-baik bila suatu hari payudara ibu seperti ini maka keadaan sudah memburuk dan sulit untuk diobati.” Katanya sambil menunjukkan gambar sebuah payudara yang sudah bernanah dan bolong. Aku makin ketakutan. Nyaliku hilang entah ke mana. Aku mencoba mencari kekuatan dengan mengeratkan pelukanku pada sang bayi. Nihil. Aku makin lemas.

Dengan sayu kutinggalkan dokter seorang diri. Di bawah lampu neon aku duduk dan berpikir keras. Aku tak mau mati. Aku juga tak mau dioperasi. Aku takut gagal. Bagaimana bila aku “lewat” di meja operasi? Bagaimana nasib Viviku yang baru 40 hari ini? Oh, Tuhan Yang Mahakuasa berikan pertolonganMu. Bisikku lirih penuh harapan.

Kupandangi lagi hasil rontgen, mamograf, dan sebundel dokumen kesehatan lainnya di samping kursi yang kududuki. Mataku basah lagi. Tiba-tiba sebuah usapan hangat menyentuh kepalaku. Sontak aku mendongak. Wajahnya teduh dengan senyum manis menyapaku. “Jangan takut. Kita akan berusaha yang terbaik. Dede pasti sembuh. Yuk, ke dalam lagi.” Bujuknya. Aku menggeleng kuat-kuat.

Hari itu sepulang dari rumah sakit aku mulai mencatat kronologis penyakit ini. Aku.mencoba mengingat-ingat kapan awal penyakit ini datang dan berkembang biak. Ternyata itu lama sekali kejadiannya. Ya, jauh sebelum aku menikah. Bahkan, jauh sebelum aku lulus kuliah.

Sore itu aku pulang sekolah seperti biasa dengan teman-teman. Sesampainya di rumah aku memburu ibuku yang sedang asyik menonton TV. “Ma, kalau ada benjolan itu normal ga, sih?” Tanyaku. “Eh, tanya apa? Ganti baju dulu sana. Mandi dulu. Bau.” Jawabnya. Aku menurut. Setelah mandi dan mengganti baju aku kembali menanyakan hal yang sama. Dan, ibuku menjawab tidak tahu. Itulah hari pertama aku menyadari ada yang berbeda dengan payudaraku yang baru tumbuh.

Hari-hari berikutnya kulalui dengan biasa. Artinya semua aktivitas normal dilakukan tanpa ada gangguan yang berarti. Demam sedikit ya wajarlah. Mungkin kecapaian karena sekolahnya siang hari dan baru sampai rumah jam lima sore. Aku tak pernah curiga tentang perkembangan benjolan itu yang sebenarnya mulai tumbuh subur di dada kanan.

 

(Bersambung)

(Gedung Tegar Beriman, 10 November 2021; sambil menunggu panggilan donor darah memperingati HUT PGRI ke 76, KORPRI ke 50, HGN 2021)

Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar Bagi Guru dan Peserta Didik

(Neneng Hendriyani)

 

Kata merdeka sejatinya adalah bebas; bebas melakukan yang disukai. Namun, apa jadinya bila bebas di sini ternyata tidak sebebas yang diinginkan? Tentu saja berbagai perasaan negatif muncul dalam berbagai variannya dalam memengaruhi kerja otak yang pada akhirnya membuat kita, guru dan peserta didik, bertanya kembali, sungguhkah merdeka?

Kemerdekaan adalah hak semua orang yang hidup di atas bumi. Ini adalah hak yang melekat dan tidak bisa diganggu gugat. Keberadaannya sama dengan beberapa hak istimewa lainnya yang dimiliki manusia. Yaitu, hak memeroleh pendidikan dan kehidupan yang layak.

Dalam mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak inilah manusia harus mampu meraih kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan bagaimana mereka bisa belajar dan mengajar dengan bebas dan lepas sesuai dengan hati nurani.

Sebagai bagian dari sebuah organisasi besar yang bernama negara, guru dan peserta didik alias siswa memiliki tempat dan kedudukan yang persis sama di hadapan kemerdekaan. Keduanya memiliki hak untuk merdeka dalam melaksanakan segala kehendaknya dalam mencapai tujuan yang mengarah kepada perbaikan diri masing-masing.

Bagi guru, kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam bidang finansial. Bila guru sudah merdeka secara finansial maka ia dapat terjun ke masyarakat dengan sepenuh hati dan jiwa raga. Tanpa keraguan, kekhawatiran akan masa depan keluarga dan dirinya ia siap berjibaku dalam berbagai situasi dan kondisi demi mencerdaskan bangsa.

Bagi peserta didik alias siswa, kemerdekaan adalah bagian di mana mereka bisa bebas memilih untuk memelajari berbagai hal yang mereka sukai dan butuhkan. Jangan paksa mereka memelajari banyak hal yang sebenarnya jauh dari minat dan kebutuhannya. Ibarat seekor burung, haruskah mereka belajar berenang dan melompat? Haruskah mereka belajar beradaptasi akan suhu air alih-alih belajar mengenal perubahan cuaca dan musim?

Selain itu, kemerdekaan bagi peserta didik adalah kemerdekaan di mana mereka bebas belajar kapan pun, di mana pun mereka mau. Jangan batasi lingkungannya dengan menyuruh mereka belajar di dalam ruang tertutup, berbentuk kotak atau persegi panjang. Merdekakanlah mereka dengan membiarkan mereka belajar dari alam sekitarnya. Duduk di atas rumput, di tengah hamparan padi yang menguning, atau di ketinggian lereng gunung akan membuat jiwa mereka tumbuh bersama keberanian, kepercayaan diri, dan pengetahuan mereka yang pastinya berguna bagi kehidupan mereka di kemudian hari.

Teori-teori yang menumpuk di kertas-kertas tua di perpustakaan itu bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan bagi mereka. Mereka memerlukan interaksi antar sesama makhluk hidup agar mereka tumbuh seperti seharusnya. Tanpa interaksi yang hangat mereka sulit menjadi manusia seutuhnya. Rasa minder, gugup, mudah putus asa akan selalu menghantui perkembangan jiwanya yang terkungkung akibat interaksi sosial yang buruk.

Alam dengan segala kandungan misterinya adalah sekolah terbaik bagi mereka. Guru sebagai manusia dewasa adalah partner belajar yang paling tepat dalam mendampingi mereka  menuju kedewasaan dan perbaikan diri. Ketiganya saling terkait satu sama lain. Ketiganya membutuhkan kemerdekaan dalam porsinya masing-masing.

Konsep belajar merdeka yang dicanangkan pemerintah sebenarnya masih jauh dari gambaran merdeka di atas. Namun demikian, setidaknya ini membawa banyak perubahan positif dalam pendidikan. Guru, sebagai ujung tombak, akhirnya memiliki kemerdekaan meskipun hanya sepersekian persen dari arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tanpa perlu memikirkan banyak hal, guru dapat hadir di mana pun sesuai dengan jadwal yang diberikan sekolah masing-masing untuk menyapa dan mengajarkan materi-materi yang diampunya melalui layar berdasarkan kondisi khusus. Ia merdeka dalam menampilkan citra dirinya saat mengajar. Ia merdeka tanpa alas kaki yang sering membuat kakinya tidak nyaman saat di depan kelas. Ia merdeka mengajar dengan pakaian rumahan yang apa adanya. Bahkan ia merdeka dengan sapuan kosmetik yang tipis dan cenderung polos saat menyapa peserta didiknya. Karena pada hakikatnya ia menyadari bahwa semua penampilan lahiriah itu bukanlah hal yang paling penting yang perlu dilakukannya saat berhadapan dengan peserta didiknya. Menyiapkan materi dari berbagai sumber yang berseliweran di sekitarnya, merancang proses pemelajaran yang begitu singkat dengan tetap mempertimbangkan bobot materi pelajaran yang perlu dikuasai peserta didik adalah fokus utamanya sebelum mengaktifkan kamera dan tampil prima di depan layar peserta didiknya. Mereka bebas berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk pelaksanaan belajar mengajar yang lebih baik dan bermutu.

Begitu pun peserta didiknya merdeka menggunakan sarung, celana pendek, atau pakaian lainnya dengan atasan berupa seragam sekolah saat belajar bersama melalui layar komputer atau gawai. Tanpa perlu memikirkan alas kaki, dan sebagainya mereka asyik bersenda gurau bersama guru dan teman-temannya guna merilekskan pikirannya sejenak sebelum masuk ke tahap inti pemelajaran.

Mereka “sesekali” merdeka menyeruput segelas teh atau susu hangat kala mendengarkan presentasi teman-temannya. Sebuah kegiatan yang tidak mungkin mereka lakukan bila mereka belajar di kelas. Mereka merdeka dalam menentukan media apa yang akan digunakannya dalam menyimpan semua materi yang dipelajarinya hari itu. Tak ada lagi paksaan harus menulis semua materi tersebut ke dalam buku. Mereka bisa menangkap layar, menyalin tempel, bahkan mengunduhnya langsung dan menyimpannya di folder-folder komputernya dengan cepat. Ini sungguh sebuah kemudahan yang patut disyukuri. Sangat efektif dan efisien.

Meskipun mereka tetap diberikan tugas baik lisan maupun tulisan yang semuanya harus dikumpulkan secara daring (online) selama Pembelajaran Jarak Jauh ini mereka tetap merdeka dalam menentukan waktu pengerjaannya. Guru hanya perlu menetapkan tenggat waktu pengumpulannya saja. Sisanya peserta didiklah yang memutuskan apakah akan mengerjakan sebelum tenggat waktu tersebut atau sesudahnya. Dengan begitu mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya sendiri. Mereka berlatih untuk siap menerima berbagai resiko dari keputusannya tersebut. Ini adalah hikmah dari kemerdekaan belajar bagi peserta didik.

Ketika penilaian tiba, guru juga memiliki kemerdekaan dalam melaksanakannya. Ia merdeka dalam memilih bentuk evaluasinya. Merdeka memilih platform yang akan digunakannya. Dan, merdeka dalam mengolah hasil evaluasinya tanpa perlu dibebani dengan hanya satu pilihan aplikasi saja.

Dari uraian di atas kita dapat tarik kesimpulan bahwa merdeka belajar, merdeka mengajar bagi guru dan siswa dewasa ini kiranya membuat guru dan siswa merdeka dalam arti yang sebenarnya. Kedua pihak merdeka dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing demi tujuan yang sama-sama mulia, yaitu mengubah seseorang menjadi lebih baik lagi baik akal, pikiran, fisik, dan psikisnya. Kemerdekaan guru baik dalam bidang finansial, maupun bidang lainnya menjadi kunci keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kemerdekaan bagi peserta didik dalam memilih pelajaran yang disukai dan dibutuhkan untuk masa depannya dapat membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar dan membuat mereka lebih mengembangkan potensi dasar yang dimilikinya sejak lahir.

Semoga merdeka belajar merdeka mengajar ini dapat memberikan inspirasi berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, guru dan peserta didik, untuk lebih mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi 2022 mendatang.*)

(Tulisan ini diambil dari tulisanku di buku antologi Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar. Penulis: Neneng Hendriyani, Iso Suwarso, IingFelicia, Sri Mukmini dkk. ISBN :  978-623-6581-27-8. hal 1-6.)

KAMPANYE KINERJA ASN JAWA BARAT: HARI-HARI TERAKHIR MEMENUHI TUGAS

24 Agustus 2021, pukul 08.28 WIB, atasan menginformasikan sebuah tugas yang lumayan membuat dahi berkenyit pagi-pagi. Tugas yang bisa dibilang mudah, namun sukar itu membuat semua pegawai kemudian berusaha memenuhinya sebelum tenggat waktu 29 Agustus 2021. Itulah tugas yang paling membuat jantung berdebar kencang selama perjalanan dinasku di sekolah tersebut. Yaitu membuat video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat.

25 Agustus 2021, berbekal nekad akhirnya selesai juga tugas yang diinstruksikan oleh atasan. Dengan menggunakan Canva for Education, jadilah presentasi sederhana berdurasi cukup singkat tentang Kampanye Kinerja ASN Jawa Baratku. Inilah video teranyar yang kuunggah ke channel youtube Neng Hendri Suparman.

Dalam video tersebut aku menjelaskan tentang kinerja, dan target individu yang hendak dicapai. Bismillahirrahmanirrahim, semoga video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat yang kuunggah sebagai bagian dari tugasku di hari-hari terakhir menuju tenggat waktu tersebut dapat bermanfaat bagi semuanya .

 

(Cibinong, 27 Agustus 2021)

Rindu Pasaman

Rindu Pasaman

Oleh: Neneng Hendriyani

Di Pasaman kumpulan  sawit memanggilku pulang
Lelah jiwa merantau cari segenggam pengalaman
Tertidur di pangkuan nilam membius indra,
lupa janji pada awal kehidupan

Aih, aku rindu Pasaman,
rindu Rao, tanah tumpah darah penuh kenangan
Di mana tambang emasnya menyatukan kita berpuluh-puluh masa yang lalu

Ya, aku rindu Pasamanku, rindu Rao tanah pusaka
Bagian tak terlupa dari Pagaruyung nan merdeka
Bilik istananya mengeja aku punya nama
Saksi bisu tangisanku yang perdana
Di malam yang juita

(Bogor, 03 Februari 2020; 09.34 WIB)

Terjemahan dalam bahasa Inggrisnya:

Longing for Pasaman
by Neneng Hendriyani

In Pasaman, the groves of palm call me home,
My weary soul, wandering in search of a handful of experience,
Falls asleep in the embrace of patchouli, numbing the senses,
Forgetting the promises made at the dawn of life.

Oh, I miss Pasaman,
I miss Rao,
the land of my birth, brimming with memories,
Where its gold mines united us through countless eras past.

Yes, I long for my Pasaman, for Rao, the ancestral land,
An unforgettable part of the free Pagaruyung.
The chambers of its palace spell out my name,
Silent witnesses to my first cries, In the gentle night.

(Bogor, February 3, 2020; 09:34 WIB)

Puisi di atas adalah puisi yang kutulis dalam buku Antologi Puisi: Tanah Kelahiranku yang terbit juni 2021 dengan judul Rindu Pasaman.

Dokumentasi Pribadi

#rindupasaman #tanahrao #nenenghendriyani #bogor #tanahair #indonesia #longing #rindu

Google Siteku Untuk Belajar Mengajar Bahasa Inggris

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Pertama kali mendengar google site aku merasa sedikit kaget. Seorang rekan pelatih dari IGI memperkenalkannya jauh sebelum aku sendiri memiliki site tersebut. Melihat karyanya dan bagaimana ia terbantu dalam pelaksanaaan pembelajaran selama PJJ ini membuatku termotivasi membuat hal serupa. Akhirnya dengan berbekal sedikit waktu dan upaya, dengan bimbingan Aries Prasetya, founder Samisanov IGI aku pun belajar mengembangkan google site.

Seluruh administrasi yang kugunakan dalam mengajar pada tingkat X dan XI SMA Tahun Pelajaran 2020-2021 pun aku unggah ke google site tersebut. Tak ketinggalan sejumlah video pembelajaran yang kurancang sendiri pun dengan sedikit malu-malu kutempelkan di sana. Bahkan, bentuk penilaian pun kusimpan pula. Harapannya sederhana. Semoga anak-anak muridku bisa memelajari semua materi pada tahun pelajaran tersebut lebih awal sebelum aku menjelaskannya melalui zoom meeting setiap pekannya. Selain itu, semoga semua administrasi, video pembelajaran, materi, dan soal yang kuunggah pun bisa bermanfaat untuk sesama guru Bahasa Inggris.

setelah membuat google site tersebut aku benar-benar terbantu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Murid-muridku senang karena tidak perlu menunggu lama untuk mengakses materi. Cukup dengan menggunakan ujung jarinya mereka sudah bisa mengakses materi pelajaran lengkap di google site tersebut.

Berikut ini link google siteku. Sila kunjungi dan ambil manfaat positifnya. Salam perjuangan.

 

Mengenal Anatomi Buku

Oleh Neneng Hendriyani

Sejak digulirkannya kebijakan baru mengenai naik pangkat bagi ASN terutama tenaga pendidik, jumlah penulis yang berasal dari profesi ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini wajar karena banyak sekali komunitas profesi seperti IGI, PGRI, dan komunitas berbasis gerakan literasi yang mengadakan pelatihan menulis buku bagi para guru. Pelatihan ini tersebar tidak hanya di ibukota negara tetapi juga sampai ke seluruh penjuru tanah air. Tak hanya dilakukan secara tatap muka dengan duduk bersama di aula-aula gedung tetapi juga secara virtual dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti zoom, YouTube, dan lain-lain.

Tujuan pelatihan-pelatihan tersebut sama. Yaitu membangun motivasi dan kesadaran para pelaku pendidikan untuk menulis buku.

Tak perlu banyak-banyak, cukup bisa menulis satu judul buku saja sudah membuat para panitia bangga dan bahagia. Nama-nama penulis baru tersebut pun dipajang di berbagai banner beda ukuran di berbagai tempat. Para pejabat daerah pun didorong memberikan penghargaan atas kerja keras para penulis pemula tersebut. Meskipun hanya secarik piagam penghargaan cukuplah itu semua memberikan kebahagiaan dan kebanggaan bagi guru penulis pemula.

Seiring bertambahnya jumlah guru yang terjun ke dunia tulis menulis maka pengetahuan mereka terhadap perbukuan pun dituntut untuk lebih luas. Mereka tidak hanya perlu mengantongi sejumlah kompetensi dalam menulis tetapi juga memahami anatomi buku dengan baik. Ini perlu dilakukan agar mereka sadar betul bagaimana menghasilkan buku yang benar-benar bagus dan berkualitas. Sehingga buku yang mereka tulis memiliki nilai lebih yang dapat berguna bagi masyarakat luas. Tentu saja tidak hanya terbatas memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan memenuhi angka kredit semata.

Pengetahuan dan pemahaman mengenai anatomi buku ini sangat ditekankan bagi para penulis. Tak terkecuali guru yang sudah bertekad terjun ke bidang penulisan. Dengan mengetahui anatomi buku maka diharapkan mereka dapat menulis sesuai dengan anatomi buku yang ingin mereka hasilkan.

Untuk lebih memahami apa itu anatomi buku mari simak penjelasan berikut.

Anatomi buku artinya bagian-bagian buku yang harus ada di dalam buku sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Layaknya anatomi tubuh manusia, anatomi buku ini menjelaskan tentang letak dan hubungan antar bagian buku.

Anatomi buku ini penting sekali bagi penulis dan pembaca. Anatomi buku bagi penulis jelas membantu penulis dalam menentukan apa saja yang perlu ditulis di tiap bagian anatomi tersebut. Sehingga kesalahan teknis penulisan karena kesalahan menulis pada bagian tertentu dapat dihindari.

Anatomi buku bagi pembaca pun jelas sangat penting. Pertama, anatomi buku membantu pembaca menemukan informasi yang diperlukan di dalam buku. Selain itu, pembaca juga bisa memilih bacaan yang diinginkan dan dibutuhkannya dengan cepat dengan menggunakan prinsip anatomi buku.

Kedua, anatomi buku membantu pembaca dalam menikmati isi buku dengan mudah. Selain itu dengan hanya melihat bagian yang penting dari bagian buku tersebut pembaca tahu bahwa buku tersebut memang worth buat dia.

Oke agar para penulis paham anatomi buku yuk simak penjelasan berikut ini.

Mari kita mulai dengan membahas anatomi buku dari bagian paling depan ya. Yaitu, sampul buku alias kover.

Kover atau sampul buku adalah bagian utama yang dilihat oleh pembaca. Ini adalah bagian yang harus digarap dengan serius oleh penerbit. Mengapa? Karena bagian ini benar-benar mewakili isi buku dan menentukan kualitas penerbit buku itu sendiri.

Pada bagian kover atau sampul terdapat judul buku, nama penulis yang menulis isi buku secara keseluruhan, nama penerbit yang menerbitkan buku, dan kode unik ISBN (internasional serial book number).

Desainer sampul atau cover designer memiliki tugas yang cukup berat dalam mencitrakan isi buku ke dalam selembar sampul buku.

Imajinasi yang kuat ditambah rasa estetika dibutuhkan untuk mendesain sampul buku yang bagus. Bagus saja tidak cukup sebenarnya. Sampul buku yang baik harus memenuhi kriteria di atas. Yaitu, berisi judul buku, penulis, penerbit, dan ISBN.

Desain sampul yang apik adalah bagian anatomi buku yang paling penting dan tidak bisa diabaikan. Bagaimana buku tersebut laris di pasaran juga bergantung dari sampulnya. Desain yang ciamik, keren, dan unik biasanya lebih marketable daripada yang biasa-biasa saja dan cenderung asal jadi.

Anatomi buku yang kedua adalah halaman pertama setelah sampul buku. Pada bagian ini terdapat judul buku, nama penulis dan logo penerbit. Halaman ini disebut halaman judul atau halaman Prancis atau France title.

Bagian ketiga dari anatomi buku adalah halaman kosong setelah halaman pertama tadi. Halaman kedua ini umumnya dibiarkan kosong oleh penerbit. Barulah pada halaman ketiga berisi halaman yang seringkali disebut halaman copyright atau halaman hak cipta. Halaman ini berisi judul buku, nama penulis atau penerjemah, nama penyunting/editor, nama desainer sampul, nama ilustrator, nama lay outer, identitas penerbit, ISBN, tahun terbit, cetakan atau edisi cetakan, nama pencetak (bisa jadi diisi dengan nama penerbit, kadang nama percetakan yang mencetak buku tersebut), jumlah halaman, dan periode terbitan buku.

Bila buku yang ditulis adalah buku hasil terjemahan atau saduran maka halaman ini berisi sedikitnya keterangan mengenai judul asli, nama penulis asli, dan nama penerbit asli buku tersebut. Pada bagian bawahnya biasanya terdapat kutipan yang berisi peringatan mengenai pelanggaran hak cipta.

Selanjutnya, halaman berikutnya dibiarkan kosong. Artinya hanya halaman sebelah kanan saja yang diisi. Nah halaman kanan ini diisi oleh kata-kata persembahan. Umumnya halaman ini dikenal dengan nama halaman persembahan atau dedication sheet. Penulis mencantumkan semua pihak yang menurutnya penting dan berarti baginya di halaman ini.

Tokoh-tokoh yang umum disebutkan di halaman persembahan adalah orang tua, pasangan hidup, anak, guru, teman, dan kolega.

Kata-kata yang biasa digunakan pada halaman ini adalah “Buku ini dipersembahkan untuk ….”

Apabila tidak ada tokoh yang ditulis di halaman ini bukan berarti halaman ini lantas tidak ada dalam anatomi sebuah buku. Penulis biasanya memanfaatkan ruang kosong pada halaman ini dengan menulis kalimat-kalimat motivasi, atau mutiara yang menjadi motto hidupnya. Intinya penulis ingin menyampaikan amanat atau pesan moral kepada pembaca mengenai sesuatu yang dianggapnya penting dan mewakili isi tulisan pada buku tersebut secara keseluruhan.

Setelah halaman persembahan maka halaman berikutnya adalah halaman yang boleh ada, boleh tidak. Halaman ini dinamakan halaman ucapan terima kasih. Mengapa dinamakan demikian? Karena pada halaman ini penulis mencantumkan semua nama tokoh yang telah berjasa kepadanya sehingga buku tersebut lahir dan sampai ke tangan pembaca. Nama-nama tokoh yang ditulis di sini umumnya lebih dari lima orang. Bila kurang dari itu maka penulis biasanya menuliskannya di bagian prakata.

Nah, bagian anatomi buku berikutnya adalah halaman sambutan. Tokoh yang memberikan sambutan dalam buku adalah tokoh yang dianggap penting dan memiliki kedudukan resmi. Misalnya penulis menulis buku yang diangkat dari kegiatan sehari-hari di sekolahnya, maka tokoh yang memberikan sambutan adalah atasan tempat dia bekerja di sana. Yaitu, kepala sekolah.

Halaman sambutan ini bersifat opsional, ya. Artinya boleh ada, boleh tidak. Penulis tinggal menyesuaikan saja.

Anatomi buku berikutnya adalah halaman pengantar. Dalam bahasa Inggris halaman ini disebut Foreword. Di sini orang yang dianggap kompeten pada tema yang diangkat di dalam buku tersebutlah yang menulis kata pengantar. Untuk antologi biasanya editor buku yang memberikan kata pengantar.

Sesudah kata pengantar barulah prakata. Halaman prakata diisi oleh penulis. Di sini penulis menyampaikannya rasa syukurnya kepada sang pencipta yang telah memberikannya kesempatan, kemampuan, dan lain sebagainya untuk menghasilkan karya berupa buku. Pada paragraf selanjutnya penulis biasanya menceritakan sekilas tentang isi bukunya, latar belakangnya, dan harapan terhadap buku tersebut.

Sesudah itu barulah kita masuk ke bagian anatomi buku preliminaries alias pendahuluan yang terakhir dari sebuah buku. Yaitu, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar.

Pada bagian daftar isi, daftar tabel, dan daftar gambar penulis hanya mencantumkan judul dan anak judul beserta halamannya saja. Ini berfungsi untuk memudahkan pembaca mencari informasi yang dibutuhkan secara cepat.

Itulah bagian anatomi buku pendahuluan alias preliminaries yang perlu diketahui penulis. Kini, mari kita simak penjelasan mengenai anatomi buku berikutnya yang tak kalah penting. Yaitu, bagian inti buku. Bagian inti buku ini terdiri atas bab, dan sub-subbab. Pada bagian inti buku ini penulis menulis berbagai hal secara runtut, jelas, dan tepat.

Setelah preliminaries alias anatomi buku awal, dan inti di atas barulah penulis masuk ke bagian anatomi buku yang paling akhir. Anggotanya adalah daftar pustaka, glosarium, lampiran, indeks, dan biografi singkat penulis.

Pada daftar pustaka penulis menuliskan semua sumber yang dijadikan referensi dalam menulis buku tersebut. Tata cara penulisan daftar pustaka ada beberapa macam. Sesuaikan dengan isi buku tersebut.

Glosarium adalah halaman khusus yang berisi daftar istilah yang dianggap belum familier. Sebagian orang menganggapnya sebagai kamus singkat. Pada bagian ini penulis memberikan penjelasan singkat mengenai istilah-istilah yang belum familier yang ditemukan di dalam naskah buku yang ditulisnya. Bagian ini bersifat opsional.

Lampiran terdiri atas beberapa halaman yang berada setelah glosarium. Isinya tentu saja berbagai hal yang dianggap penting dan mendukung isi buku.

Indeks adalah daftar kata atau istilah yang dikelompokkan oleh penulis secara alfabet di mana di ujung kata atau istilah tersebut terdapat nomor halaman. Nomor halaman ini berfungsi memudahkan penulis mencari kata atau istilah tersebut di dalam buku.

Biografi singkat penulis adalah anatomi buku terakhir yang perlu diperhatikan penulis. Pada bagian ini penulis tidak hanya menampilkan foto dirinya dalam bentuk close up tetapi juga narasi singkat mengenai perjalanan hidupnya. Umumnya penulis mencantumkan riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, riwayat prestasi, bahkan nama-nama buku yang telah dihasilkan sebelumnya. Penulis mengakhiri tulisan di bagian anatomi buku ini dengan mencantumkan email atau nomor kontak yang bisa dihubungi pembaca.

Demikianlah penjelasan mengenai anatomi buku yang perlu diketahui penulis. Semakin penulis tahu anatomi buku maka penulis lebih mampu menghasilkan karya tulisnya dengan lebih baik.

 

(Bogor, 28 Mei 2021; 8:37 pm)

Menulis Di Blog? Why Not!

Oleh: Neneng Hendriyani

Menulis blog? Why not! Ini adalah jawabanku sejak pertama kali memutuskan kuliah pada program Pascasarjana 2010 lalu.

Saat itu ada satu mata kuliah yang mendorong mahasiswanya wajib membuat blog. Blog tersebut wajib diisi dengan berbagai tugas mata kuliah tersebut dalam bahasa Inggris.

Ada banyak tantangan yang dihadapi saat itu. Sebagai newbie tentu saja trial and error menjadi hal yang biasa dalam menulis blog. Terutama bagiku. Sudah menjadi kebiasaan untukku sendiri untuk langsung mengerjakan tugas dalam bentuk artikel berbahasa Inggris di blog secara langsung. Akibatnya, jaringan internet yang kurang stabil seringkali membuat down dalam merampungkan tugas tersebut. Belum lagi faktor lainnya seperti kesalahan penulisan dan penggunaan aturan penulisan yang baku turut serta menghantui pikiran bawah sadar saat itu.

Meskipun demikian, entah mengapa aku menyukai tantangan tersebut. Menulis langsung di dalam blog memiliki kesenangan tersendiri. Jauh berbeda bila sebelumnya menulis di Microsoft word lalu dipindahkan ke blog. Nggak percaya? Buktikan saja sendiri.

Lalu bagaimana bila tiba-tiba di saat menulis di blog penulis mengalami stuck?

Ada banyak tips yang bisa digunakan oleh penulis yang baru mencoba menulis langsung di blog. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, siapkan outline. Outline yang biasa kubuat untuk menulis blog adalah outline kasar. Yaitu sebuah outline yang hanya berisi tema, judul, dan poin-poin utama penulisan saja. Tidak ada sub-sub bagian dalam penulisan seperti yang selama ini ada di dalam daftar isi sebuah buku. Mengapa begitu? Karena dengan menggunakan outline kasar, aku merasa lebih mudah memasukkan berbagai hal secara bebas namun terikat dengan tema secara leluasa di blog.

Kedua, siapkan cemilan dan minuman yang cukup. Selama menulis di blog penulis akan lebih fokus menatap layar laptop atau komputer. Jarang sekali penulis yang bergerak meninggalkan perangkat keras tersebut hanya untuk alasan yang remeh. Termasuk mencari makanan dan minuman. Alasannya klise. Tanggung. Ya, tanggung mau ambil makanan karena ide lagi deras-derasnya mengalir. Bila ditinggal ke dapur khawatir lupa lagi apa yang mau ditulis. Hasilnya, penulis lebih memilih menahan lapar dan haus daripada meninggalkan bahan tulisannya di blog. Dampaknya tentu saja negatif bagi kesehatan tubuh penulis. Selain bisa menderita kelaparan juga bisa menderita sejumlah penyakit. Sebut saja, maag.

Ketiga, siapkan kondisi yang nyaman dan mendukung untuk menulis. Sebagian besar orang menyukai iringan musik dan lagu saat mengerjakan tugas. Termasuk menulis di blog. Pilih saja jenis lagu yang beatnya ringan dan lembut. Menurut sejumlah penelitian, irama musik yang tenang dengan beat ringan dan lembut ini membuat orang yang mendengarnya berada pada kondisi alfa. Ini adalah kondisi di mana otak manusia bisa lebih fokus dan tenang.

Sayangnya untuk tips ketiga ini kurang efektif bagiku pribadi. Lagu-lagu yang lembut nyaris tanpa hentakan justru membuat ngantuk. Solusinya, ku lebih suka memutar lagu-lagu yang sedikit keras dan nge-rock.

Keempat, tetapkan reward dan punishment pribadi. Meskipun kita sendiri yang menulis di blog bukan berarti lantas kita bebas semaunya menulis apa pun yang kita sukai loh. Kita tetap harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berkembang di masyarakat. Termasuk nilai sosial, budaya, dan agama yang diakui di masyarakat. Jangan sampai karena merasa bahwa kita pemilik blog maka kita bebas memasukkan berbagai unsur ke dalam tulisan kita tanpa memandang adanya keragaman suku, agama, ras dan antargolongan. Bila kita melanggar hal tersebut maka kita bisa menerapkan punishment terhadap diri sendiri. Caranya dengan melakukan introspeksi dan menghapus artikel yang telanjur tayang di blog. Sementara untuk reward yang bisa diberikan terhadap diri sendiri setelah berhasil menulis tulisan yang bagus dan bermanfaat bagi sesama adalah mendapatkan hal-hal yang kita sukai. Contoh, menikmati secangkir es krim sambil menonton drama favorit.

Kelima, bagikan link tulisan di blog ke semua jaringan media sosial yang dimiliki. Ini perlu dilakukan sebagai upaya nyata menghargai jerih payah diri sendiri dalam menulis di blog. Jangan pikirkan pendapat orang yang menerima link tersebut. Cukup bisikkan dalam hati bahwa ini adalah cara kita untuk mengajak semuanya membaca dan mengambil manfaat dari tulisan di blog. Usah pikirkan apa yang mereka sampaikan. Pikirkan saja ide-ide selanjutnya yang menarik untuk ditulis.

Dari kelima tips menulis di blog itu ada tips yang paling jitu yang perlu dilakukan. Yaitu, bacalah sebanyak-banyaknya sebelum menulis. Dengan banyak membaca maka penulis akan lebih banyak menguasai kosakata, pemahaman dan pengetahuan terhadap tema yang akan ditulis di blog.

Selanjutnya, tulislah apa yang penulis ketahui dan rasakan sesuai dengan gayanya sendiri. Usah menduplikat tulisan dan gaya orang lain. Itu tidak bagus dan jauh dari kata keren. Jadilah dirimu sendiri dengan menulis di blog. So, menulis di blog? Why not!

(Bogor, 27 Mei 2021; 8:15 pm)

Namaku Nina

Oleh Neneng Hendriyani

 

Namaku Nina. Nina Candrakirana. Kawan-kawan di kantor memanggilku Neng Nina. Sebenarnya aku tidak suka dipanggil dengan nama tersebut. Namun apa daya bila atasanku sendiri memanggilku demikian. Aku hanya bisa menghela napas panjang saja tiap kali ia memanggilku dengan sapaan seperti itu di depan teman-teman. Jangankan protes, menggeleng pun aku tak berani. Jadi, ya terima sajalah. Yang penting masih sopan.

Dilihat dari nama panggilan ini aku terkesan perempuan Sunda. Setidaknya berasal dari tanah Sunda. Sayang sekali hal itu tidak benar. Meskipun aku tak bisa menyebutkan suku bangsaku dengan tepat aku tetap bersikeras menolak disebut perempuan Sunda. Jangan tanya alasannya mengapa karena aku pun tak tahu. Yang aku tahu ibuku lahir di salah satu kampung di provinsi Jambi enam puluh tahun lalu. Lalu ia menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga dewasa di kota kembang, Bandung. Ayahnya lahir dari sepasang suami isteri yang berbeda suku bangsa. Ibunya lahir di Sucen, Purworejo dan besar di Jambi. Sementara ayahku memiliki ayah yang lahir di Banten. Ibunya seorang penari topeng Betawi. Aku sendiri lahir di daerah yang kini tidak lagi bisa diakui sebagai wilayah administrasi Bogor. Jadi, suku bangsa apa aku ini? Inilah pertanyaan abadiku selama ini. Sebuah pertanyaan yang seringkali menggangguku. Jadi wajar kan kalau aku menolak diakui sebagai salah satu anggota suku bangsa tertentu. Aku pribadi lebih suka dipanggil orang Indonesia. “Dari mana kamu? Dari Indonesia.” Jawabku riang.

Ups, satu lagi. Karena aku mengaku bukan orang Sunda maka aku paling tidak suka dipanggil “Ceuceu”. Kesannya agak gimana gitu. Kasihan saja ke mereka yang sudah menyapaku sedemikian sopan tetapi aku tetap diam dan tidak menggubris lantaran tidak paham bahwa mereka sedang menyapaku. Ini efek shock culture, kurasa. Ya, begitulah. Aku orang Indonesia. Jadi, jangan panggil “Ceuceu”, ya. Pintaku di gerbang senja.

(Bogor, 05 Juni 2020)