Ringkasan Materi Peran dan Tupoksi Pendamping Penyelia

Pendamping Penyelia adalah personel pendukung utama dalam pengawasan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK. Peran ini difokuskan pada dukungan operasional, koordinasi, dan pemantauan untuk memastikan integritas proses pengawasan, tanpa mengambil alih kewenangan penyelia pengawas. Pendamping ditempatkan berdasarkan jalur: Dinas/Kemenag Provinsi untuk jalur formal (seperti SMA/SMK) dan Dinas/Kemenag Kabupaten/Kota untuk jalur nonformal (seperti PKBM/PKPPS). Tujuannya adalah mendukung pelaksanaan TKA yang tertib, transparan, dan akuntabel, dengan penekanan pada penggunaan teknologi seperti Zoom dan WhatsApp untuk pengawasan daring.

Peran Utama Pendamping Penyelia

  • Fasilitator Koordinasi: Berperan sebagai penghubung antara penyelia, pengawas ruang, tim teknis, dan satuan pendidikan. Ini mencakup pembuatan grup WhatsApp untuk komunikasi cepat dan koordinasi jika terjadi kendala, seperti pengawas ruang yang absen atau masalah teknis.
  • Pendukung Teknis dan Verifikasi: Memastikan kesiapan perangkat (komputer, headset, internet stabil) dan verifikasi identitas pengawas ruang (pastikan berasal dari satuan pendidikan lain). Juga mendukung pemantauan hadirnya pengawas ruang 30 menit sebelum tes dimulai.
  • Dokumentasi dan Pelaporan: Membantu pencatatan proses pengawasan, termasuk pembuatan berita acara pengawasan konferensi video melalui laman TKA. Ini termasuk tindak lanjut masalah selama tes dan pemindahan rekaman video jika diperlukan untuk verifikasi.
  • Penjaga Integritas: Wajib mempelajari Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 95 Tahun 2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan TKA, serta menandatangani pakta integritas untuk menjamin objektivitas.

Peran ini bersifat pendukung, tidak pengambil keputusan, dan disesuaikan dengan jalur pelaksanaan untuk mendukung kolaborasi lintas tingkat (pusat, provinsi, kabupaten/kota). Persyaratan utama meliputi integritas tinggi, profesionalisme, keahlian teknologi (Zoom dan WhatsApp), serta perangkat minimal seperti komputer dengan kamera, headset mikrofon, dan internet stabil.

Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Pendamping Penyelia

Tupoksi dibedakan berdasarkan jalur, dengan fokus pada dukungan selama persiapan, pelaksanaan, dan pasca-tes:

  • Persiapan:
    • Berkoordinasi dengan Dinas/Kemenag Provinsi (jalur formal) atau Kabupaten/Kota (jalur nonformal), penyelia, dan pengawas ruang.
    • Mengidentifikasi dan mengganti pengawas ruang yang absen dengan cadangan.
    • Menyiapkan format nama akun Zoom (misalnya: G1_S2_DINAS_JAKARTA_JANUAR PRIBADI).
  • Pelaksanaan:
    • Memastikan pengawas ruang hadir tepat waktu dan menjalankan tugas sesuai prosedur.
    • Koordinasi real-time dengan penyelia selama pengawasan video, termasuk penanganan kendala di satuan pendidikan.
    • Verifikasi bahwa pengawas ruang adalah tenaga pendidik dari satuan lain melalui kartu identitas.
  • Pasca-Pelaksanaan:
    • Membuat dan mengisi berita acara pengawasan di laman TKA.
    • Mendukung verifikasi rekaman video jika diperlukan untuk akuntabilitas.

Tupoksi ini mendukung tujuan keseluruhan pengawasan TKA, yaitu menjaga proses tes tetap objektif dan sesuai Kepmen 95/2025, serta mendukung pemanfaatan hasil TKA untuk seleksi pendidikan lanjutan.

Referensi

Dari dokumen “Petunjuk Teknis Penyelia Pengawas TKA 2025.pdf”:

  • Definisi dan peran umum: Halaman 3 (poin 22 pada Penjelasan Umum).
  • Struktur pengawasan jalur formal: Halaman 5 (poin 3: Pendamping Penyelia (Provinsi)).
  • Struktur pengawasan jalur nonformal: Halaman 5 (poin 4: Pendamping Penyelia (Kabupaten/Kota)).
  • Gambar skema: Halaman 39 (Gambar 5.1: Komposisi antara pendamping penyelia, penyelia pengawas, dan pengawas ruang).
  • Alur pengawasan: Halaman 41-42 (Gambar 6.1 dan 6.2: Alur pengawasan jalur formal dan nonformal, termasuk peran pendamping dalam koordinasi); Halaman 42 (Gambar 4.1: Alur proses penempatan pengawas ruang).

Dari dokumen “paparan Penyelia Pengawas[1].pdf”:

  • Struktur dan asal: Halaman 4 (Tabel Unsur-Unsur Dalam Pengawasan dan Pendampingan).
  • Persyaratan: Halaman 5 (Persyaratan Petugas Pengawasan TKA, bagian Pendamping Penyelia).
  • Tugas utama: Halaman 18 (Tugas Pendamping Penyelia, daftar lengkap).
  • Skema tanggung jawab: Halaman 22 (Skema Pengawasan, bagian Jalur Formal dan Nonformal).
  • Format nama: Halaman 23 (Format Nama Konferensi Video, bagian Pendamping Penyelia).
  • Keterkaitan dengan Kepmen: Halaman 14 (Tujuan Penyelia Pengawas TKA) dan Halaman 18 (referensi Kepmen Nomor 95 Tahun 2025).

TKA: TUGAS PENDAMPING PENYELIA

Pendamping Penyelia merupakan personel pendukung dalam struktur pengawasan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK. Peran utamanya adalah membantu penyelia pengawas tanpa menggantikan kewenangan atau tanggung jawab utama penyelia. Pendamping ini ditempatkan pada tingkat provinsi untuk jalur formal dan tingkat kabupaten/kota untuk jalur nonformal, dengan fokus pada dukungan operasional, koordinasi, dan dokumentasi untuk memastikan pengawasan berjalan lancar, transparan, dan akuntabel.

Peran Utama Pendamping Penyelia

  • Dukungan Operasional dan Koordinasi: Bertugas menyediakan informasi terkait satuan pendidikan, berkoordinasi dengan tim teknis di tingkat provinsi atau kabupaten/kota, serta memfasilitasi komunikasi antar pihak terkait. Ini termasuk memastikan kelancaran proses pengawasan daring melalui aplikasi seperti Zoom dan WhatsApp.
  • Pencatatan dan Pelaporan: Mencatat hasil pengawasan, termasuk temuan, kejadian penting, dan verifikasi rekaman video. Pendamping juga membantu penyusunan laporan resmi, seperti berita acara, yang dilaporkan melalui laman manajemen TKA.
  • Pendukung Integritas Proses: Memastikan bahwa pengawasan tetap objektif dan sesuai prosedur, tanpa intervensi langsung pada tugas penyelia, serta mendukung verifikasi data untuk mencegah konflik kepentingan.

Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Pendamping Penyelia

Berdasarkan struktur pengawasan, tupoksi pendamping disesuaikan dengan jalur pelaksanaan TKA:

  • Pada Jalur Formal:
    • Membantu penyelia (dari PTN) dalam memantau pengawas ruang secara daring.
    • Koordinasi dengan Tim Teknis Provinsi untuk penempatan pengawas dan verifikasi identitas.
    • Mendukung pencatatan rekaman konferensi video dan transfer ke simpanan eksternal untuk keperluan verifikasi.
  • Pada Jalur Nonformal:
    • Membantu penyelia (dari provinsi) dalam pengawasan di satuan pendidikan nonformal.
    • Koordinasi dengan Tim Teknis Kabupaten/Kota untuk informasi lokasi dan dukungan teknis.
    • Memfasilitasi komunikasi dengan pengawas ruang melalui aplikasi percakapan daring, serta pencatatan hasil untuk laporan akhir.

Pendamping Penyelia tidak memiliki kewenangan pengambilan keputusan utama, melainkan berfungsi sebagai fasilitator untuk meningkatkan efisiensi pengawasan secara keseluruhan. Keberadaannya mendukung tujuan TKA agar kredibel dan berintegritas, dengan penekanan pada koordinasi lintas tingkat (pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan satuan pendidikan).

Referensi

  • Definisi dan peran umum: Halaman 3 (poin 22 pada Penjelasan Umum).
  • Struktur pengawasan jalur formal: Halaman 5 (poin 3: Pendamping Penyelia (Provinsi)).
  • Struktur pengawasan jalur nonformal: Halaman 5 (poin 4: Pendamping Penyelia (Kabupaten/Kota)).
  • Gambar skema: Halaman 39 (Gambar 5.1: Komposisi antara pendamping penyelia, penyelia pengawas, dan pengawas ruang).
  • Alur pengawasan: Halaman 41-42 (Gambar 6.1 dan 6.2: Alur pengawasan jalur formal dan nonformal, termasuk peran pendamping dalam koordinasi).

Sepasang Mata Biru

oleh: Neneng Hendriyani

Perjalanan kembali ke Semarang tidaklah semudah perjalanan awalku. Kereta kuda yang kutumpangi berkali-kali diperiksa di Pos antar kampung oleh para centeng berpakaian serba hitam. Meskipun kami bangsawan Jawa namun kami tidak mendapatkan priviledge apa pun. Siapa lah kami di tanah jajahan? Hanya sepasang inlander yang kebetulan memiliki beberapa pengawal. Sisanya, kami hanyalah manusia biasa.

Setelah matahari menuju barat, kereta kami baru tiba di Haven Kanaal atau Batavia’s Roadstead. Ini adalah pelabuhan terbesar dan utama di Batavia sejak abad ke-17. Meskipun sebuah pelabuhan namun kondisinya tidak sebaik yang ada di Eropa saat itu. Aku beruntung tiba di sore hari. Jika tidak, uh rasanya pasti tak tahan. Bau menyengat, antara bau amis dan koco berpadu mengocok isi perut. Udaranya panas, nyelekep. Gerah. Suasananya ramai, lebih ramai dari pasar karena di sini semua pedagang dari berbagai negara membongkar muatan dagangannya serentak menggunakan perahu-perahu kecil ke daratan. Proses bongkar muat ini lama. Bisa seharian. Bahkan bisa beberapa hari. Karena kanal ini sangat sempit dan kecil, maka tak jarang sering terjadi tabrakan perahu terutama ketika cuaca buruk.

Mengingat kondisinya yang seperti itu, banyak sekali pedagang Eropa dan Cina yang complaint ke Gubernur Jenderal untuk membangun pelabuhan baru. Sayang, keluhan ini dianggap angin lalu. Wajar sih, biaya memindahkan pelabuhan lama ke Tanjung Priok saat itu sangat besar. Pemerintah Hindia Belanda belum memiliki dana besar. Jadi, di sinilah aku sekarang, harus sabar mengantre untuk naik kapal menuju Semarang.

Aku duduk di dermaga, tepat di sebuah warung kecil milik orang Bugis yang sudah lama merantau. Laki-laki tua yang sedang menuangkan air panas itu sesekali melirikku tajam. Bikin tak nyaman. Kang Mas Suryo masih sibuk memindahkan barang bawaan dari kereta saat laki-laki tua itu akhirnya menyapaku. “Mau kemana, Nak?” katanya hati-hati sambil memberikan segelas kopi padaku.

Kuulurkan tanganku menyambut kopi tersebut. “Terima kasih.” Jawabku singkat. Kuseruput kopi itu perlahan. Rasanya cukup enak. Sedikit asam tapi manis. Cukup menyegarkan.

“Gimana kopinya, Nak? Enak?”,  tanyanya lagi sambil mengelap bekas cangkir kopi di sebelahku tanpa menunggu pertanyaan awalnya kujawab. Aku menggangguk.

“Wah, kelihatannya kopimu enak, Jeng.” Tiba-tiba Kang Mas Suryo sudah duduk di sampingku. Tangannya sigap mengambil sepotong pisang goreng. “Buatkan satu lagi ya, Ki.” Perintahnya. Suaranya terdengar pelan tapi tegas. Laki-laki setengah baya itu terperanjat kaget mendengarnya. Ia memandang sejenak ke arahnya lalu mengangguk takjim. Ganjil. Aku merasa ada yang aneh. Siapakah gerangan dia? Apa hubungannya dengan tunanganku.

Angin kembali bertiup kencang ke arah kami. Sedikit sejuk. Aku merapikan anak rambut di dahiku dengan jari jemariku. Segelas kopi panas sudah tersuguh di hadapan kami. Kang Mas Suryo tidak langsung menyeruputnya seperti yang tadi kulakukan. Ia memilih diam sambil memutar ibu jarinya di atas telunjuk. Laki-laki tua itu seolah memahami arti gerakan tersebut. Ia segera pergi meninggalkan kami di warung sendiri dan kembali dengan membawa bungkusan hitam yang cukup besar. Aku tak tahu apa isinya tapi kulihat ia memberikannya dengan hati-hati. Kang Mas Suryo memandangku santai. Ia segera memasukkan bungkusan itu di balik bajunya. Senyumnya dikulum. Sekejap ia sudah terlibat percakapan dengan laki-laki tadi. Aku kesulitan memahami isi percakapan mereka yang sesekali ditingkahi tawa ringan. Terlalu banyak kosa kata yang asing di telingaku. Aku hanya tahu di ujung percakapan, laki-laki itu berpesan untuk tetap waspada selama di perjalanan. Kami berdua mengangguk dan berpamitan. Ekor matanya tetap tajam memandangku ketika tanganku ditarik meninggalkan warung tersebut.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di atas kapal. Dari atas kapal aku terkesima melihat para kuli bongkar muat itu masih asyik bekerja dan astaga tidak ada yang bersepatu. Ya, aku tidak salah melihat. Semua kuli itu telanjang kaki. Pakaian mereka pun cukup sederhana. Hanya beberapa yang memakai atasan seperti kemeja tapi tipis. Celananya juga longgar. Entah sengaja dibuat longgar atau karena pakaian mereka yang kebesaran di tubuhnya. Entahlah. Aku jadi tersenyum geli. Ternyata di pusat kota yang konon menjadi barometer kesejahteraan Hindia Belanda, para kulinya sama dengan di kotaku. Sama-sama lusuh, dekil, dan tidak bersepatu.

Menjelang magrib kapal sudah meninggalkan dramaga. Udara malam mulai terasa di geladak. Aku duduk di sisi kiri Kang Mas Suryo yang sudah lelap sejak setengah jam lalu. Kelihatannya dia lelah sekali. Kutatap hidung bangirnya. Aku senyum sendiri. Kalau diingat-ingat, hidungnya tidak kalah tinggi dengan hidung Albert. Ah, Albert mengapa dia harus muncul di saat seperti ini. Hatiku berdesir. Segera kualihkan pandanganku.

Karena bosan, kupandang lagi dramaga yang kian jauh ditinggalkan. Napas yang berat kembali terasa. Ada sedikit sesal, kecewa, dan entah apa lagi yang kurasa, yang pasti ada segumpal ketakutan tiba-tiba menyergapku diam-diam. Di sebuah titik nun jauh di sana lamat-lamat terlihat sesuatu yang tak asing. Bayangan itu seperti sedang memperhatikanku. Hatiku teriak, hampir saja aku melompat kegirangan saat kusadari siapa sosok itu. Namun, kesadaran segera menguasaiku. Aku segera memegang pagar besi yang ada di hadapanku erat-erat. Hentakan gelombang hampir saja membuatku jatuh saat tadi aku bersorak. Titik itu makin kecil dan samar di telan senja. Aku pindah menuju ujung kapal dan terus mencoba mengerahkan semua kemampuan netraku demi membaca titik itu. Lamat-lamat aku pun menyadari titik itu benar-benar dia.  Wajahku berubah pucat. Dalam ketakutan aku menengok ke kiri dan kanan. Hatiku ribut merapal ribuan doa berharap hanya aku seorang yang menyadari siapa sosok itu. Nahas, laki-laki berhidung bangir itu sudah bangun dan kini berdiri tepat di sampingku.

“Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” tanyanya yang spontan membuatku kaget. Aku menggeleng cepat. “Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” Jawabku ngeles.

Aku tahu dia tidak mungkin percaya begitu saja dengan jawabanku. Aku segera membuang pandanganku ke arah barat. Mencoba menikmati guratan jingga yang tiba-tiba begitu indah di kelopak mataku. Matanya pun mengikutiku. Aku tersenyum memandangnya. Aman, batinku berbisik seolah ketahuan mencuri. Aku lupa, bagaimana mungkin aku bisa menipu seorang senapati sekelas dia. Dia adalah senapati tingkat dua yang bekerja di bawah duli Sultan langsung. Kemampuan militernya terutama dalam spionase sudah teruji beberapa kali dalam tugas-tugas rahasia kesultanan sejak usia sepuluh tahun.

“Endah sanget, Kangmas, langitipun.” Kataku menunjuk semburat jingga yang semakin tua di horizon. Aku berusaha menyembunyikan rasa tak nyaman yang kembali menyergap diam-diam. Malam sudah sempurna menyambut kami di tengah lautan. Dia mengangguk. “Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” Matanya melirikku lembut. Hatiku berdesir. Ya ampun, apa aku tak salah dengar, ya? Dia memujiku. Wajahku merona. Malu sekali. Ketika kusibuk menata jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat ia kembali memandang ke belakang. Aku tak melihat ada guratan halus di wajahnya yang tampak tak suka dengan kehadiran titik itu. Tangannya mengepal.  

Nun jauh di seberang, bayangan itu perlahan kembali ke arah kuda yang ditambatkannya di bawah sebatang pohon kelapa. Langkahnya gontai. Beberapa kali dia berbalik memandang lautan yang membawa gadis itu pergi. Ada segumpal sesal menyelinap di dadanya. Ia mulai memaki diri sepanjang jalan. “Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” Matanya mulai berembun. Di kaki senja ia segera menghela kudanya berlari semakin kencang meninggalkan dramaga. “Ik ben echt een lafaard.”Teriaknya membelah jalanan yang makin sunyi. Ia sangat kesal sekaligus sedih. Di tepi sungai Citarum ia berhenti. Matanya semakin basah. “Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Di tengah amarah dibuangnya topi putih kesayangannya ke tanah. Di aliran Citarum yang dingin ia lari menceburkan diri. Hatinya patah. Dibiarkannya air sungai itu membasahi tubuhnya dan menariknya semakin dalam. Sebelum air semakin menenggelamkannya ia masih mengingat momen terindah dalam hidupnya. Kala untuk pertama kali ia bertugas sebagai pengurus perwakilan VOC yang menangani rempah-rempah untuk pulai Jawa, ia bertemu dengannya di kota Yogya. Ya, Yogya sebuah kota istimewa yang memiliki bangunan indah terbuat dari kayu jati itu telah membuatnya jatuh cinta. Kedua matanya yang hitam dan bulat itu telah menawannya tanpa ia sadari sejak awal bertemu. Senyum manisnya yang malu-malu saat diperkenalkan oleh Sultan telah mencuri miliknya yang paling berharga di sore itu. Siluet wajahnya yang ayu benar-benar menari di pelupuk matanya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Di Ciliwung, ia pun tenggelam.

Udara malam makin dingin menggigit kulit. Kami mulai meninggalkan geladak mencari tempat yang jauh lebih hangat. Setelah menemukan kamar yang sudah dipesan sebelumnya kami berpisah. Sepanjang malam itu aku tidur sendiri di atas selembar kasur yang tipis di atas ranjang besi. Tak ada kipas angin apalagi air conditioner di dalam kamar yang pengap. Namun, aku cukup menikmatinya.

Pagi itu aku bangun setelah matahari naik. Kelelahan naik kereta di sepanjang jalan dari Koningsplein ke  Haven Kanaal rupanya sangat membantu kualitas tidurku yang memang sudah berantakan sejak pertama kali datang di Batavia. Aku masih ingat pertama kali tiba di dramaga ini dua minggu lalu. Sama seperti pagi ini, matahari begitu hangat. Suara-suara teriakan para kuli memecah keheningan dan menarikku turun dari kapal. Beberapa centeng menyambut kedatanganku di bawah kapal. Dengan sigap mereka memindahkan barang bawaanku yang tak seberapa ke atas kereta kuda. Di dalam kereta seorang tentara Belanda tengah asyik menyeruput kopi Arabicanya dengan tenang. Kulitnya cerah khas Eropa, dengan rambut pirang kecokelatan yang tersisir rapi di bawah topi seragamnya. Ada rona merah alami di kedua pipinya yang tirus. Garis rahangnya tegas dengan bibir merahnya yang tipis dengan sedikit senyum. Ia mengenakan seragam tentara Belanda awal abad ke-19, berupa mantel panjang berwarna biru tua dengan kancing logam mengilap, celana putih, serta sepatu bot kulit tinggi yang dipoles rapi. Matanya biru muda, jernih dan tajam, sebiru langit Batavia yang bersih dari asap pabrik. Hidungnya mancung menampilkan sisi ariktokratnya yang kuat. Aku terpana.

Dia menyapaku hangat sambil menawarkan segelas kopi yang baru diseduhnya. “Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.”

Aku menerimanya dengan sedikit ragu. “Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.”

Dia tersenyum. Alamak, senyumnya manis sekali. Hatiku berbunga-bunga. Sejurus kemudian kami sudah larut dalam percakapan. Empat centeng yang tadi menjemputku sudah berjalan mengawal kereta kami yang terus melaju ke arah ibukota.

Catatan:
“Panjenengan mirsani, Jeng? Taksih kangen?” =“Apakah kamu melihatnya, Jeng? Masih rindu?”

“Mboten, Kangmas. Kula namung kepingin weruh apa iku ing kono.” =“Tidak, Kangmas. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di sana.”

“Endah sanget, Kangmas, langitipun.” = “Indah sekali, Kangmas, langitnya.”

“Sami éndahipun kados panjenengan, Diajeng.” = “sama cantiknya denganmu, Diajeng.”

“Als ik haar gisteren had ontmoet, was ze misschien nog hier. Oh nee, ze is weg. Ze is weg, God. Ze is weg.” = “Andai aku menemuinya kemarin, dia mungkin masih di sini. oh tidak, dia pergi. dia pergi Tuhan. dia pergi.”

“Ik ben echt een lafaard.” = “aku benar-benar pengecut.”

“Jeng, waarom heb je niet op me gewacht? Waarom heb je me niet ontmoet? Waarom? Wat heb ik verkeerd gedaan?” = “Jeng, mengapa kamu tidak menungguku? mengapa kamu tidak menemuiku? mengapa?, apa salahku?”

“Hoe was je reis, Jeng? Ik hoop dat je geen enkel ongemak hebt gehad. Kom, drink deze koffie. Laten we meteen naar het hotel gaan zodat je kunt uitrusten.” = Bagaimana perjalananmu, Jeng? Aku harap kamu tidak mengalami ketidaknyamanan apa pun. Ayo, minum kopi ini. Mari kita langsung pergi ke hotel agar kamu bisa beristirahat.

“Best wel vermoeiend. Maar het is oké. Heel erg bedankt.” = cukup melelahkan. Tetapi ok. Terima kasih.

Bionarasi

Neneng Hendriyani, lahir di Bogor, 09 Agustus 1982. Berprofesi sebagai Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini aktif sebagai penulis dan editor berbagai genre. Karyanya pernah dibukukan dalam antologi  Kunanti di Kampar Kiri: Antologi Puisi Penyair Asean, Senyuman Lembah Ijen: Antologi Puisi Nusantara, A Skyful of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018, Ijen Purba: Tanah, Air, Batu (Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara), Layang-layang Tak memilih Tangan: Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara XIII Jakarta, Semesta Jiwa: Antologi Puisi Bertema Spiritualitas, Kebaya Bordir Untuk Umayah (Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia), Teh, Imajinasi, Puisi, Antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, Pandemi Puisi: Antologi Bersama Melawan COVID 19. Saat ini tinggal di Bogor Kode Pos 16913. Instagram Nenghendri53, Facebook/Youtube  Neng Hendri Suparman, E-mail nenghendri@gmail.com, https://nhwork.web.id

Puisi-puisi Neneng Hendriyani

Sore ini tiga puisiku “mejeng” di Pojok TIM, Alhamdulillah. Semuanya diinspirasi latar belakang kegiatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII yang baru saja selesai diselenggarakan di Jakarta, 11-14 September 2025.

Neneng Hendriyani membacakan Puisi “Surat untuk Guru dari Anak Gaza” (foto Yon Bayu Wahyono)


Dengan latar belakang Taman Chairil Anwar, Monas, Jakarta, persis ketika senja datang menyapa, dibantu dua foto jepretan seorang fotografer sekaligus penyair Kedaulatan Rakyat, Latief Noor, ketiga puisi ini berhasil kutulis. Tidak mudah memang menangkap semua gambaran visual dan nonvisual selama penyelenggaraan PPN XIII berlangsung, namun bagiku pribadi mencoba jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, penasaran kan makna puisi-puisi tersebut. Yuk simak.

Sebelumnya sila baca puisi-puisi tersebut di sini ya.

1. “Senja di Kaki Monas”

Monas (Foto Latief Noor)

Tema dan Pesan

Puisi ini tampaknya berbicara tentang masa lalu, identitas seseorang (atau masyarakat) yang melekat pada ruang kota: Jakarta. Ada rasa sejarah dan beban masa lalu (“kisah para demang, Nyai, dan kumpeni”; “jiwa-jiwa tua mengulum getir kehidupan”). Kota sebagai entitas tua yang saksi berbagai kisah, juga simbol impian dan harapan yang kadang terpendam dan kadang terzolimi oleh kenyataan. Ada juga tema pengulangan, bahwa meskipun namanya, wajahnya mungkin berubah, “semua masih sama”.

Suasana & Citraan

  • Warna senja / jingga banyak muncul → suasana senja: nostalgik, agak melankolis.
  • Citra “di balik tembok, di puluhan anak tangga / langkah-langkah kecil, terekam zaman” → kesederhanaan, ruang yang tersembunyi, sejarah yang tak banyak terlihat.
  • “Menari diiring gambang kromong … matinya para jawara” menggabungkan budaya lokal dengan kematian simbolis: permainan budaya vs kemenangan / kehilangan.

Struktur & Gaya Bahasa

  • Puisi terbagi dalam beberapa bait, ada pengulangan (“Jakarta, sungguh tua”; “jiwa-jiwa tua mengulum getir kehidupan”; “di balik tembok…”), yang memperkuat tema pengulangan sejarah dan kondisi yang tetap.
  • Penggunaan bahasa metaforis (“senja makin tua”; “menelan kota”; “jingga kian sempurna terpaku di netra”) yang kuat.
  • Kata-kata lokal (“demang, Nyai, kumpeni”) menambah warna historis / budaya.

Kekuatan

  • Efek emosional yang kuat: pembacanya bisa merasakan beratnya sejarah, nostalgia, dan ketidakpuasan terhadap perubahan yang hanya nama tanpa makna.
  • Citra yang visual dan kuat → mampu membangkitkan imaji kota tua, senja yang melingkupi, dan jiwa-jiwa yang “tua”.
  • Pengulangan efektif untuk menegaskan bahwa meskipun ada perubahan, inti dari pengalaman manusia tetap sama.

Kelemahan

Sebagian metafora sudah cukup kuat, tapi bisa jadi terasa berat kalau pembaca mencari nada yang lebih optimis atau berubah. Beberapa frasa mungkin agak abstrak bagi pembaca yang kurang akrab latar budaya Jakarta / istilah-istilah sejarah lokal.

Karena banyak pengulangan, mungkin ada risiko efeknya menjadi datar jika tidak didukung variasi dalam ritme atau nada.

2. “Kisah Kita”

Kuda Senja (Foto Latief Noor)

Tema dan Pesan

Puisi ini lebih intim dan personal dibanding yang pertama. “Kisah kita” menyiratkan relasi antar individu (atau antara pembicara dan orang lain / kenangan). Tema ingatan, harapan, dan waktu—bagaimana kisah terus memeluk meskipun ada malam dan fajar; memeluk meski tenggelam dalam memori. Ada semacam janji, atau keinginan agar kisah itu tetap utuh, tidak hilang oleh waktu.

Suasana & Citraan

  • Warna “jingga”, “cahaya”, “fajar” → cahaya hangat, harapan, pergantian malam ke pagi.
  • Suasana senja yang romantis, memeluk, bahkan ada “senyum nakal mentari” → ada kelembutan, imaji emosional.
  • Ada rasa keabadian atau perlawanan terhadap peluruhan memori: “memeluk punggung malam hingga fajar menyapa pulang”.

Struktur & Gaya Bahasa

  • Frasa panjang dan aliran yang halus, penggunaan repetisi (“Di kaki senja jingga merona, berarak tersimpan di sudut hati”) dan pengulangan bunyi (“jingga”, “senja”) memberi kekhasan.
  • Penggunaan metafora / personifikasi (“fajar menyapa pulang”, “cahaya memeluk raga”) memperkuat nuansa emosional.
  • Ada kesinambungan antara ruang batin (“memori”) dan alam eksternal (“senja”, “fajar”, “cahaya”).

Kekuatan

  • Sangat kuat dalam membangkitkan suasana batin dan emosi pribadi. Cocok untuk pembaca yang menyukai puisi reflektif dan perasaan.
  • Kesederhanaan bicara “kisah kita” tapi dibungkus imaji yang memikat, tidak terlalu penuh beban budaya sehingga lebih universal.
  • Struktur dan tempo yang flow, tidak terlalu patah.

Kelemahan

  • Bisa jadi terlalu melankolis bagi sebagian pembaca. Bagi yang mencari aksi atau narasi yang “bergerak”, mungkin terasa stagnan.
  • Karena sifatnya sangat emosional dan imajinatif, makna bisa agak kabur atau terlalu banyak terserah pembaca interpretasi; tidak semua pembaca suka interpretasi yang “bebas”.

3. “Di Batas Kota”

Tema dan Pesan

Puisi ini mengangkat tema ruang peralihan—batas antara kota dan pinggiran, antara terang dan gelap, antara harapan dan kenyataan. Ada unsur ketidakpuasan atau pengamatan kritis terhadap perkembangan kota (“kita masih acuh”, “menghitung lampu-lampu yang berpendar di lorong-lorong kota”). Juga tema “keberlanjutan hubungan” dengan alam atau tradisi (“tehyan dimainkan di panggung-panggung kawedanaan”) vs urbanisasi.

Suasana & Citraan

  • Suasana senja (lagi) sebagai latar, suasana menunggu, menggantung. Ada keheningan malam yang dirangsang oleh lampu-lampu dan kegelapan kota.
  • Citra “di batas kota”, “ballast”, “kaki tangga”, “kicau rerumputan” → kontras antara unsur kota dan alam / pedesaan / tradisi.
  • Ada fantasi / ilusi (“fatamorgana”) di mana pengharapan untuk menjadi nyata terasa samar.

Struktur & Gaya Bahasa

  • Pemakaian “kita” sebagai subjek kolektif yang mengamati, memberi rasa inklusi (pembaca ikut melihat, merasakan).
  • Kontras kuat antara ruang (“antara ballast”, “lorong-lorong kota”) dan waktu (senja, malam).
  • Gaya deskriptif tapi juga reflektif: ada pertanyaan tersirat tentang apakah kita masih bisa berpegangan, menjaga terang, tidak kehilangan senja di antara ilusi kota.

Kekuatan

  • Kontras dan ketegangan antara alam / tradisi dan modernitas / kota terasa nyata dan menggugah.
  • Penggunaan simbol yang efektif: batas kota sebagai liminal space, fatamorgana sebagai simbol harapan palsu / harapan yang menjauh.
  • Membangkitkan kesadaran pembaca tentang ruang-ruang yang sering terlewati, tentang apa yang hilang saat kota “bergerak”.

Kelemahan

  • Beberapa metaforanya bisa terlalu umum atau klise, seperti “lampu-lampu yang berpendar”, “harapan terang”. Untuk pembaca puitis, bisa jadi terasa sudah sering dipakai.
  • Kadang penggabungan unsur tradisi dan kota bisa terasa agak tumpang tindih tanpa kedalaman latar (misalnya, “tehyan dimainkan…” – pembaca yang tidak tahu apa “tehyan” mungkin kehilangan konteks).
  • Efek emosinya lebih ke observasi, kurang kepastian resolusi atau tindakan; bagi sebagian pembaca, puisi ini mungkin terasa menggantung.

Kesimpulan Umum

menurut AI ternyata :

  • Neneng Hendriyani mempunyai kekuatan dalam penciptaan suasana: senja, jingga, malam, kota vs ruang tradisional, waktu — semua dipakai dengan baik untuk membangkitkan nostalgia, refleksi diri, harapan, dan melankoli.
  • Gaya bahasanya metaforis dan penuh citraan, membuat puisinya terasa “berwarna” secara visual/emotif.
  • Pengulangan dan simbol kuat dipakai untuk menegaskan tema-tema utama: waktu, perulangan sejarah, kenangan, ruang.

Meskipun ketiganya ditulis berdasarkan latar belakang yang sama, sesungguhnya ketiganya berbeda.


1. Persamaan

  1. Tema Waktu dan Senja
    Ketiganya menggunakan citra senja sebagai latar utama. Senja menjadi simbol transisi: antara terang dan gelap, antara harapan dan kehilangan, antara sejarah dan masa kini. Ini menegaskan konsistensi penyair dalam memakai waktu sebagai medium renungan.
  2. Nada Melankolis dan Reflektif
    Suasana yang dibangun cenderung melankolis, kontemplatif, bahkan kadang getir. Baik ketika membicarakan sejarah Jakarta (Senja di Kaki Monas), cinta personal (Kisah Kita), maupun ruang pinggiran kota (Di Batas Kota), semuanya menyimpan nada perenungan yang dalam.
  3. Gaya Bahasa Metaforis dan Puitis
    Neneng memakai metafora, repetisi, dan personifikasi secara konsisten. Misalnya, “jingga kian sempurna terpaku di netra”, “fajar menyapa pulang”, hingga “fatamorgana merenggut senja”. Gaya ini memberi kekuatan visual sekaligus emosional.
  4. Kehadiran Unsur Lokal / Budaya
    Ada jejak budaya dalam puisi pertama dan ketiga, seperti “gambang kromong”, “tehyan”, “demang, Nyai, kumpeni”. Unsur ini memperkaya makna sekaligus menegaskan identitas lokal.

2. Perbedaan

  1. Ruang dan Subjek
    • Senja di Kaki Monas → ruang sejarah, kota tua, identitas kolektif; subjeknya adalah Jakarta sebagai simbol.
    • Kisah Kita → ruang batin, memori cinta, personal dan intim; subjeknya “aku–kamu”.
    • Di Batas Kota → ruang peralihan kota–pinggiran, simbol keterasingan dan harapan; subjeknya “kita” (kolektif).
  2. Fokus Pesan
    • Senja di Kaki Monas menekankan ketetapan sejarah: kota berubah nama, tapi jiwa tetap sama.
    • Kisah Kita menekankan keabadian cinta/kenangan meskipun waktu berganti.
    • Di Batas Kota menekankan keterasingan dan harapan rapuh di tengah modernitas.
  3. Tingkat Keterjangkauan
    • Kisah Kita lebih universal, mudah dipahami siapa pun karena bicara tentang cinta dan kenangan.
    • Senja di Kaki Monas dan Di Batas Kota lebih kontekstual, butuh pengetahuan sejarah atau budaya Jakarta agar maknanya lebih penuh.

3. Perkembangan Suara Penyair

  • Dalam Senja di Kaki Monas, suara penyair muncul sebagai pengamat sejarah yang kritis.
  • Dalam Kisah Kita, suara itu berubah menjadi pribadi yang lembut dan penuh perasaan.
  • Dalam Di Batas Kota, suara penyair kembali ke ranah sosial, tapi dengan nada kolektif dan reflektif—seolah mengajak pembaca ikut merenungi.

4. Kesimpulan

Ketiga puisi ini membentuk semacam trilogi suasana senja:

  • Senja sebagai saksi sejarah (Monas),
  • Senja sebagai ruang kenangan (Kisah Kita),
  • Senja sebagai batas harapan dan realitas (Di Batas Kota).

Kekuatan utama Neneng Hendriyani adalah pada kemampuan membungkus waktu dan ruang dengan perasaan, menjadikannya simbol yang kaya makna. Perbedaan fokus (sejarah, cinta, sosial) membuat tiap puisi punya wajah sendiri, namun tetap berakar pada gaya puitis yang khas.

Bogor, Lukisan Masa

Bogor, Lukisan Masa
Oleh Neneng Hendriyani

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango:
Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru
mengalir syahdu cerita tempo dulu:
Danau biru tak pernah surut,
Cermin langit tempat rindu berlabuh,
Riak-riak kecil berlarian riang,
Di antara sauh, pedati ditarik pulang

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Di kaki Salak Pangrango, sawah luas menghampar megah,
Tarian angin di padi mengalun ramah,
Gelatik dan Manyar bernyanyi riuh rendah.

Kini, baja dan bata berdiri tegak berlomba
Pabrik-pabrik tumbuh menggantikan hijau ladang
Menyisakan asap sesak dalam kenangan
Jauh di sudut jalan, tetap terasa,
Hangatnya talas Bogor dalam genggaman,
Asap soto mie menari di udara,
Di meja bambu, tradisi tak pernah pudar.

Zaman bergulir, kota berbenah,
Dari Pajajaran ke lampu kota yang tak padam di tengah malam
kujumpai di setiap wajah,
Sisa-sisa sejarah yang tetap benderang dalam ingatan.

Di alun-alun, anggun meliuk,
Selaras kidung Pakuan menyeruak jiwa
Di antara gendang dan suling ku’ terkesima
Rajutan cerita: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, kau hamparan hijau dalam pelukan kabut,
Tetap indah dalam perubahan,
Mengalir seperti Cisadane yang tak berhenti,
Menjaga warisan, menyambut masa depan,
Menjadi rumah bagi hati yang mencari jalan pulang.
(Karadenan, 27 Maret 2025)

Bogor, A Painting of Time
by Neneng Hendriyani

Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
At the foot of Salak and Pangrango: Ciliwung, Cisadane, Cibeet, Kalibaru Flow gently,
carrying tales of old: A blue lake that never recedes,
A mirror of the sky where longing anchors,
Ripples dancing merrily, Amidst anchors,
carts pulled homeward.

Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
At the foot of Salak and Pangrango, vast rice fields stretch grandly,
The wind’s dance in the paddy sings kindly,
Sparrows and weavers chirp in joyful harmony.

Now, steel and brick rise tall, competing,
Factories grow, replacing green fields,
Leaving behind smoke and crowded memories.
Yet, far along the streets, it still lingers— The warmth of Bogor’s taro in hand,
The aroma of soto mie dancing in the air,
At bamboo tables, tradition never fades.

Time rolls on, the city transforms,
From Pajajaran to city lights that never dim at midnight.
In every face I meet, Traces of history still shine brightly in memory.

In the town square, graceful movements sway,
In tune with the Pakuan hymn stirring the soul.
Amidst drums and flutes, I’m captivated,
A woven tale: Kuta Udaya Wangsa!

Bogor, you are a green expanse in the embrace of mist,
Still beautiful amid change,
Flowing like the ceaseless Cisadane, Preserving heritage, embracing the future,
A home for hearts seeking the way back.

(Karadenan, March 27, 2025)

Bogor, Jejak Perlawanan

Bogor, Jejak Perlawanan
Oleh Neneng Hendriyani

Di kota ini, peluru berdesing menembus waktu,
Menggetarkan bumi dalam deru perlawanan,
Memanggil jiwa-jiwa yang rindu kemerdekaan
Dengan dan tanpa seragam,
Bersatu dalam komando perjuangan
Di tengah Tentara Pelajar berdiri tegap,
Mengangkat senapan di tangan yang gemetar,
Bukan karena takut,
Tapi karena cinta pada kota yang harus dibela.

Di Cibinong, sejarah tertulis dalam batu,
Museum perjuangan menjadi saksi,
Ratusan nyawa melayang sebagai bukti
Rakyat Bogor tak pernah sudi dijajah kembali
Darah para syuhada mengalir di setiap lorong,
Mengisahkan keberanian tak pernah padam.

Dulu, di kota ini kita bertempur melawan serdadu,
Kini, perang belum berakhir,
Musuh tak lagi berbaju
Tapi, berselimut kemiskinan dan ketidakadilan
Dimana buruh-buruh berteriak di terik mentari:

Meninju udara menuntut upah layak,
Di pabrik-pabrik yang berdiri megah,
Mereka menukar tenaga dengan harapan,
Lagi, keadilan masih bayang-bayang.

Sekolah-sekolah harusnya menjadi gerbang masa depan,
Bukan tembok tinggi bagi si papa,
Bogor tak boleh berhenti berjuang,
Agar ilmu tak menjadi hak segelintir insan.
Jabatan tak boleh jadi tahta selamanya,
Harus ada batas bagi kekuasaan,

Rakyat? Mereka bukan pion di papan catur,
Bukan remahan roti di piring penguasa
Sungguh! Perjuangan tak berakhir di monumen batu,
Ia hidup di hati yang menolak menyerah,

Bogor, kau tak hanya sekadar kota,
Kau medan juang yang terus membara
Dalam semangat: Kuta Udaya Wangsa!
(Karadenan, 27 Maret 2025

Bogor, Footprints of Resistance
by Neneng Hendriyani

In this city, bullets whistle through time,
Shaking the earth with the roar of resistance,
Calling souls yearning for freedom.
With or without uniforms,
United under the command of struggle.

Amidst it all, the Student Army stands tall,
Raising rifles in trembling hands— Not from fear,
But from love for the city they must defend.

In Cibinong, history is etched in stone,
The museum of struggle bears witness,
Hundreds of lives lost as proof that Bogor’s people will never bow to oppression again.
The blood of martyrs flows through every alley,
Telling tales of courage that never fades.

Once, in this city, we fought against soldiers,
Now, the war is not yet over.
The enemy no longer wears a uniform,
But cloaks itself in poverty and injustice.

Where laborers cry out under the scorching sun,
Punching the air, demanding fair wages,
In the shadow of towering factories,
They trade their strength for hope,
Yet justice remains a distant shadow.

Schools should be gateways to the future,
Not high walls for the poor.
Bogor must never cease its struggle,
So knowledge isn’t a privilege for the few.

Power must not become an eternal throne,
There must be limits to authority.
The people? T
hey are not pawns on a chessboard,
Nor crumbs on the plates of the powerful.

Truly! The struggle doesn’t end at stone monuments,
It lives in hearts that refuse to surrender.
Bogor, you are more than just a city,
You are a battlefield that keeps burning
With the spirit: Kuta Udaya Wangsa!

(Karadenan, March 27, 2025)

Bogor through the Ages

These are my poems I wrote for Buitenzorg a few months ago. Please give your comments after reading them, ok.


Bogor Dari Masa ke Masa
Oleh Neneng Hendriyani

Dulu, Bogor adalah rimba megah,
Tempat para raja menjejak sejarah,
Di bawah panji Pajajaran
Kebijaksanaan mengalir dari balairung istana
Menjaga warisan purwa

Berpuluh-puluh tahun Gunung Salak tegak bersaksi,
Sungai Ciliwung lantang bersuara,
Menyaksikan zaman berputar cepat,
Dari kerajaan, penjajahan, hingga merdeka.

Bogor: subur, membentang
Padi menari di pelukan sawah,
Di ladang dan perbukitan
Petani menaruh jutaan impian
Panen mereka untuk masa depan.

Di perut bumi, tambang berbisik,
Emas, pasir, dan batu berlimpah,
Di tangan besi, roda berputar,
Pabrik-pabrik membangun peradaban.

Jauh di pelosok, terdengar suara palu dan gergaji,
Pengrajin bermain di atas mahoni,
Mengukir Bogor dalam karya nan indah,
Mewariskan seni hingga ke nusantara.

Kini, Bogor tak sekadar kenangan,
Ia tumbuh bersama zaman,
Di punggungnya generasi emas bersinar,
Menuntut ilmu, melangkah ke depan.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
Benteng peradaban tak tergoyahkan,
Maju berdaya, sejahtera bersama,
Satu tekad, satu cita, satu bangsa.
Bogor, bukan sekadar kota,
Tapi rumah bagi jutaan warga
Merekam jejak, merawat harapan
Berjuang untuk masa depan gemilang.
(Karadenan, 27 Maret 2025)

#BOGOR #nenenghendriyani #bogordarimasakemasa #kutaudayawangsa

Bogor Through the Ages
by Neneng Hendriyani

Once, Bogor was a majestic jungle,
Where kings left their mark on history,
Under the banner of Pajajaran,
Wisdom flowed from the palace halls,
Preserving ancient heritage.

For decades, Mount Salak stood witness,
The Ciliwung River sang boldly,
Watching time spin swiftly,
From kingdoms to colonization, to independence.

Bogor: fertile, sprawling,
Rice fields dancing in the embrace of paddies,
In fields and hillsides, Farmers sow millions of dreams,
Their harvests for the future.

Deep in the earth, mines whisper,
Gold, sand, and stone abound,
In iron hands, wheels turn,
Factories build civilization.

Far in the corners, the sound of hammers and saws,
Craftsmen dance with mahogany,
Carving Bogor into beautiful works,
Passing down art across the archipelago.

Now, Bogor is more than memory,
It grows with the times,
On its shoulders, a golden generation shines,
Seeking knowledge, stepping forward.

Bogor, Kuta Udaya Wangsa,
An unshakable fortress of civilization,
Advancing with strength, prospering together,
One resolve, one dream, one nation.

Bogor, not just a city,
But a home for millions of souls,
Recording footprints, nurturing hopes,
Striving for a radiant future.

(Karadenan, March 27, 2025)

#bogorthroughtheages #nenenghendriyani #buitenzorg #poem #bogor #kutaudayawangsa

Surat Untuk Guru dari Anak Gaza

Puisi ini ditulis dalam rangka mengikuti sayembara penulisan puisi bagi para penyair yang tinggal di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan negara ASEAN lainnya dengan tema Persaudaraan dan Perdamaian.

Puisi ini berhasil lolos kurasi dari para kurator kenamaan Indonesia: Ahmadun Yosi Herfanda, Maman S Mahayana, dan Aspahani.

Berikut ini puisinya.

Surat untuk Guru dari Anak Gaza
oleh Neneng Hendriyani

Guru, aku sudah lupa apa itu sekolah
Bagiku suara bom, roket adalah buku yang sudah hapal kubaca
Rentetan senapan, bau mesiu adalah pelajaran harian yang tak pernah libur
Raungan ambulans adalah PR yang tak pernah selesai kuhitung

Guru, apakah masih ada papan tulis di tempatmu?
Di sini, tembok rumah kami retak oleh ambisi Netanyahu
Pensilku patah tertimbun reruntuhan, bukuku bersimbah darah
Tapi lihat! Aku masih menulis — di sini: di mata ini
Lihatlah netraku dalam-dalam, Guru
Baca dan nilailah karangan narasiku tentang ribuan kawan
Meregang nyawa sepulang sekolah, 7 Oktober 2023

Guru, jika esok kau masih mendengar beritaku
Aku ingin belajar tentang damai, bukan strategi perang atau cara bersembunyi
Aku ingin tahu tentang pelangi, bukan warna api setia membakar langit pagi
Tak sanggup menulis narasi deskripsi tentang Gaza
Tapi, dunia harus tahu cerita mereka, bukan cuma bilangan angka di layar kaca
Mereka anak manusia, penuh harap dan cita-cita
Dirampas lewat bedil dan amukan roket direnggut dari pelukan ibunda

Guru, sampaikan pada dunia
Kami rindu sekolah! Kami rindu pelajaran cinta.


(Bogor, 02 Mei 2025)

Versi terjemahannya, ya.

Letter to the Teacher from Gaza’s Children
by Neneng Hendriyani

Teacher, I’ve forgotten what school is like.
To me, the sound of bombs and rockets is the book I’ve memorized by heart.
The rattle of gunfire, the smell of gunpowder, is the daily lesson that never takes a break.
The wail of ambulances is the homework I can never finish counting.

Teacher, is there still a whiteboard where you are?
Here, the walls of our homes are cracked by Netanyahu’s ambitions.
My pencil is broken, buried under rubble; my books are stained with blood.
But look! I’m still writing—here, in these eyes.
Look deep into my eyes,
Teacher. Read and grade my narrative essay about thousands of friends, Losing their lives on their way home from school, October 7, 2023.

Teacher, if tomorrow you still hear news of me,
I wanna learn about peace, not war strategies or how to hide.
I want to know about rainbows, not the colors of flames faithfully burning the morning sky.
I can’t bear to write descriptive narratives about Gaza, But the world must know their stories—not just numbers flickering on a screen.
They are children of humanity, full of hopes and dreams, Stolen by bullets and torn from their mothers’ embrace by rocket fire.

Teacher, tell the world: We miss school! We miss lessons of love.

(Bogor, May 2, 2025)

#gaza #teacher #school #lesson #humanity #PPNXIII #Jakarta #NenengHendriyani #poem #global city

Selaksa Rindu di Cangkir Senja

Selaksa Rindu di Cangkir Senja karyaku ini tercatat sebagai salah satu dari 112 puisi yang ditulis oleh para penyair nasional dan internasional yang berasal dari ASEAN.

Selaksa Rindu di Cangkir Senja
Oleh Neneng Hendriyani

    Di bawah bianglala dalam senja yang kian memikat
    Lintingan daun teh menari di secangkir tanah liat
    Menggeliat, meronta, mencumbu mesra
    Menguar pekat memeluk renta

    Linting demi linting berubah warna
    Menyesap sepi di antara rongga
    Nyanyikan kidung tak bernama
    Sejauh netra memandang kelam

    Lintingan daun teh kian memucat
    Diseduh luruh dalam cinta
    Mengayun lirih di dasar cangkir tua
    Jauh di kaki senja dalam imajinasiku yang buta

    Ya! inilah lintingan teh terakhir kita
    Di bawah bianglala dalam senja yang kian memikat
    Menggeliat, meronta, mencumbu mesra
    Menyulam pusaran menguar pekat peluk jiwa
    Hingga sisa satu kata: kau aku kita!

    (Bogor, 13 Mei 2025)

    Puisi ini kutulis saat berjalan-jalan menikmati sejuknya Pegunungan Teh di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kutulis puisi tersebut dalam bahasa Inggris, ya.

    A Myriad of Longings in the Twilight Cup
    by Neneng Hendriyani

    Beneath the rainbow wheel in the ever-enchanting twilight,
    Tea leaves twirl in a clay cup,
    Swaying, writhing, tenderly caressing,
    Exuding a rich aroma, embracing the weary.

    Leaf by leaf, they change color,
    Sipping solitude in the spaces between,
    Singing an unnamed hymn,
    As far as the eyes gaze into the darkness.

    The tea leaves grow ever paler,
    Steeped and wilting in love,
    Gently swaying at the bottom of an old cup,
    Far at the foot of twilight in my blind imagination.

    Yes! This is our final swirl of tea,
    Beneath the rainbow wheel in the ever-enchanting twilight,
    Swaying, writhing, tenderly caressing,
    Weaving a vortex, exuding a rich embrace of the soul,
    Until only one word remains: you, me, us!

    (Bogor, May 13, 2025)

    #tea #imajinasi #puisi #imagination #Twilight Cup #nenenghendriyani #selaksarindudicangkirsenja #antology #national #international #art #poem #slawi #tegal

    Resume Implementasi Pembelajaran Mendalam Menurut Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2025

    Dokumen Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2025 menyajikan kerangka kerja pembelajaran mendalam untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), jenjang pendidikan dasar, dan menengah. Berikut adalah ringkasan implementasi pembelajaran mendalam berdasarkan dokumen tersebut, disusun agar mudah dipahami, lengkap dengan referensi halaman.

    1. Konsep Pembelajaran Mendalam

    Pembelajaran mendalam dirancang untuk membantu murid mencapai tujuan belajar melalui pengalaman belajar yang bermakna, berpusat pada murid, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi. Pendekatan ini menekankan pemahaman mendalam, motivasi intrinsik, dan pengembangan strategi belajar (Halaman 12-13). Pembelajaran mendalam terdiri dari empat komponen utama:

    • Dimensi Profil Lulusan: Fokus pada pengembangan karakter, kompetensi, dan keterampilan murid untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (Halaman 13).
    • Prinsip Pembelajaran: Pembelajaran berpusat pada murid, kontekstual, dan berkeadilan (Halaman 12, 21).
    • Pengalaman Belajar: Meliputi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan, yang mendorong murid untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman nyata (Halaman 16-18).
    • Asesmen: Mengintegrasikan asesmen formatif dan sumatif untuk memberikan umpan balik yang mendukung proses belajar (Halaman 21, 44-46).

    2. Implementasi Pembelajaran Mendalam

    a. Perencanaan Pembelajaran

    Perencanaan pembelajaran mendalam berfokus pada analisis Capaian Pembelajaran (CP), penyusunan tujuan pembelajaran, dan alur pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid (Halaman 23-33). Langkah-langkahnya meliputi:

    • Analisis CP: Mengidentifikasi kompetensi dan lingkup materi untuk setiap fase pendidikan (Halaman 24-29).
    • Penyusunan Tujuan Pembelajaran: Merumuskan tujuan yang jelas, terukur, dan relevan, misalnya dengan pendekatan backward design (Halaman 31, 41).
    • Perencanaan Asesmen: Mengintegrasikan asesmen formatif untuk memantau perkembangan murid dan asesmen sumatif untuk mengevaluasi capaian akhir (Halaman 34, 44-46).

    b. Pelaksanaan Pembelajaran

    Pelaksanaan pembelajaran mendalam menekankan keterpaduan antara pembelajaran dan asesmen. Pendidik menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan memotivasi murid untuk aktif belajar (Halaman 20, 58). Contoh praktik pedagogis meliputi:

    • Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek atau masalah untuk mendorong pemikiran kritis (Halaman 19).
    • Pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran yang interaktif (Halaman 20).
    • Contoh kegiatan: Pada jenjang SMP, murid menganalisis konsep bilangan bulat melalui permasalahan jual-beli untuk memperkuat literasi finansial (Halaman 116-119).

    c. Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam

    Asesmen dirancang untuk memberikan informasi faktual tentang perkembangan murid, bukan hanya mengukur hasil belajar. Pendekatan asesmen meliputi:

    • Asesmen Formatif: Dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik, seperti observasi, diskusi, atau proyek (Halaman 44-46, 122).
    • Asesmen Sumatif: Mengevaluasi capaian pembelajaran pada akhir periode, misalnya melalui uji kompetensi atau laporan (Halaman 48, 57).
    • Pendekatan Deskripsi Kriteria: Menilai berdasarkan kriteria ketercapaian, seperti “Mulai Memahami”, “Memahami”, atau “Sangat Memahami” (Halaman 49, 51-53).
    • Contoh: Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia (Fase C), murid dinilai berdasarkan kemampuan menulis laporan dengan kriteria yang jelas (Halaman 106).

    d. Pengolahan dan Pelaporan Hasil Asesmen

    Hasil asesmen diolah untuk memberikan gambaran capaian kompetensi murid, baik secara kuantitatif (rentang nilai) maupun kualitatif (deskripsi naratif). Laporan hasil belajar disusun untuk setiap jenjang, mencakup intrakurikuler dan kokurikuler, serta disampaikan kepada orang tua secara periodik (Halaman 60-71, 136-148). Contoh:

    • Rapor PAUD mencakup deskripsi perkembangan motorik dan kemampuan sosial murid (Halaman 136-141).
    • Rapor SMP/SMA mencantumkan nilai mata pelajaran dan catatan ketercapaian kompetensi (Halaman 146-148).

    e. Refleksi dan Tindak Lanjut

    Refleksi dilakukan oleh murid, pendidik, dan kepala sekolah untuk mengevaluasi proses pembelajaran. Tindak lanjut mencakup perbaikan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan hasil asesmen (Halaman 79-80). Contoh refleksi:

    • Murid menggunakan emoji untuk mengekspresikan pemahaman mereka (Halaman 130-131).
    • Pendidik menyesuaikan strategi pengajaran berdasarkan hasil asesmen awal (Halaman 127).

    3. Contoh Implementasi pada Berbagai Jenjang

    • PAUD: Pembelajaran berbasis tema, seperti “Rumahku/Peralatan Dapur”, dengan tujuan mengembangkan kemampuan motorik dan sosial melalui kegiatan bermain (Halaman 109-111).
    • SD: Pembelajaran interdisipliner, seperti mengintegrasikan Bahasa Indonesia dan IPAS untuk menganalisis data dalam bentuk diagram (Halaman 113-114, 108).
    • SMP: Pembelajaran matematika dengan konteks jual-beli untuk mengasah literasi finansial (Halaman 116-119).
    • SMA: Proyek prakarya pengolahan pangan nusantara untuk mengembangkan keterampilan analisis dan presentasi (Halaman 123-134).

    4. Dukungan Teori

    Pembelajaran mendalam didukung oleh teori taksonomi pembelajaran, seperti:

    • Taksonomi SOLO: Mengevaluasi tingkat pemahaman murid dari pre-struktural hingga relasional (Halaman 83).
    • Teori Tighe & Wiggins: Menekankan enam bentuk pemahaman, seperti penjelasan, interpretasi, dan aplikasi (Halaman 86-87).
    • Taksonomi Marzano: Mengklasifikasikan tujuan pembelajaran ke dalam enam level, dari pengambilan informasi hingga pengambilan keputusan (Halaman 88).

    5. Kesimpulan

    Implementasi pembelajaran mendalam berfokus pada pengalaman belajar yang bermakna, asesmen yang mendukung perkembangan murid, dan refleksi untuk perbaikan berkelanjutan. Pendekatan ini memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid, sekaligus mematuhi regulasi pemerintah, seperti Peraturan Menteri No. 0466/HK/2025 (Halaman 11). Dokumen ini menjadi panduan inspiratif bagi pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan kontekstual.