WOW, TERNYATA IBU BISA MEWARISKAN LUKA BATINNYA KE ANAKNYA

Oleh Neneng Hendriyani

Siapa bilang trauma, depresi, luka batin hanyalah milik kita pribadi dan tidak memengaruhi hubungan antara kita dengan anggota keluarga?

Orang tua yang kini menjadi orang tua kita dahulunya adalah anak yang juga diasuh, dididik oleh orang tuanya. Pola asuh yang dialaminya ini tanpa disadari memengaruhi pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anaknya sekarang. Di antara pola asuh itu ada yang diterimanya dengan perasaan positif dan tidak sedikit menimbulkan perasaan negatif pada dirinya. Seluruh pengalaman baik dan buruk yang dijalaninya selama pola asuh itu memengaruhi karakter dirinya. Karakter inilah yang kemudian tanpa sadar ikut memengaruhi pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anaknya, yaitu kita.

Ada beberapa ciri di mana anak mendapatkan warisan luka batin dari sang ibu. Yuk, kita cek apakah kita memilikinya dengan menyimak ulasan berikut ini.

Pertama, apabila kita hanya memiliki ibu yang hanya hadir secara fisik dan tidak secara emosional maka sudah pasti kita mendapatkan warisan luka batin sang ibu.

Kedua, umumnya ketika seorang anak terluka, kecewa, atau sedih ia akan mencari sosok yang bisa memberikannya rasa aman dan tenang. Sosok ini biasanya adalah ibunya sendiri. Namun, ketika kita ternyata tidak merasa aman, nyaman, dan tenang berbicara tentang masalah kita kepada ibu kita maka itu tanda atau ciri bahwa kita tidak memiliki ibu secara emosional.

Ibu tidak hadir di saat-saat kita terpuruk, sedih, dan kecewa. Bisa jadi ia sendiri sedang sibuk mengelola batinnya akibat luka yang diterima saat ia kecil dahulu.

Ciri berikutnya adalah kita merasa kurang diapresiasi oleh ibu atas semua prestasi yang kita peroleh. Akibatnya kita menjadi mudah marah, urign-uringan, dan cenderung perfeksionis. Hal ini karena kita berusaha mendapatkan pengakuan, validasi, dan perhatian darinya. Kita berpikir bila kita sempurna maka ibu akan menyayangi dan mengapresiasi kita.

Keempat, normalnya seorang anak akan merasa senang bila berada di dekat sang ibu. Ini bisa dipahami mengingat sebuas-buasnya induk hewan buas ia tidak akan pernah memakan anaknya sendiri. Sayangnya, bagi anak yang memiliki ibu penderita luka batin justeru merasa cemas dan takut bila berdekatan secara fisik dengan sang ibu.

Ciri kelima adalah apabila kita memiliki ibu yang to the point mengatakan bahwa kita harus menanggungnya secara emosional dan finansial. Mungkin pada awalnya kita menganggap bahwa apa yang dikatakannya adalah candaan. Namun, karena seringnya ia mengatakan hal demikian terutama saat emosi maka itu adalah ciri bahwa sang ibu memiliki luka batin serius.

Akibat dari warisan luka batin sang ibu pada umumnya kita sebagai anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa rendah diri, kurang layak, kurang kesadaran emosional, tidak mampu menenangkan diri sendiri, merasa tidak mungkin menjangkau relasi yang hangat dan penuh cinta, serta memiliki kesulitan mempercayai orang lain.

Apabila kita memiliki semua atau sebagian dari ciri-ciri di atas mari kita menyembuhkandiri dari warisan luka batin sang ibu yang kita terima. Caranya dengan berusaha sungguh-sungguh menjadi orang tua bagi diri sendiri. Hal ini bisa kita tempuh dengan memanjakan diri kita sendiri dengan keinginan yang kita miliki saat kita masih kecil. Misalnya, membeli hadiah berupa buku, novel, atau sekadar  menonton di bioskop.

Kita memang dihadapkan pada pilihan yang rumit dan sulit. Menyelesaikan masalah dan luka batin ini sebenarnya menjadi tanggung jawab kita sendiri agar kita tidak ikut pula mewariskannya kepada anak-anak kita. Oleh karena itu, solusinya ada di tangan kita apakah kita ingin lari dari kenyataan bahwa kita tidak memiliki ibu secara utuh baik fisik maupun emosional, ataukah menghadapinya dengan berani mengatakan bahwa kita punya ibu namun ibu tidak hadir bersama kita.

Cara berikutnya yaitu dengan menemui psikolog yang bisa membantu kita meluapkan emosi negatif. Hal ini bisa kita tempuh bila ibu sudah tiada atau sulit ditemui.

Cara lainnya yang bisa ditempuh adalah dengan berusaha empati terhadap luka batin yang dihadapi sang ibu. Memaafkan dirinya dapat menenangkan diri juga.

Nah, apabila semua cara di atas sudah dilakukan namun masih juga merasa cemas dan takut maka sebaiknya menghindar demi tetap menjadi pribadi yang waras. Karena akan sangat sulit  berinteraksi dengan ibu yang toxic dan abusive. Percayalah bahwa di luar sana masih banyak orang yang bisa menjadi ibu bagi kita; mau mendengarkan dan memberikan kita solusi dari masalah yang kita hadapi.

Nah, apakah anda termasuk salah satu anak yang mendapatkan warisan luka batin dari ibu? Semoga setelah membaca ulasan di atas anda dapat mengatasinya dengan baik. Selamat mencoba.***

BENARKAH POSISI DUDUK SISWA MENENTUKAN PRESTASI SISWA?

Oleh Neneng Hendriyani

Maraknya berita mengenai berbagai cerita di hari pertama siswa bersekolah di tahun ajaran baru menggelitik rasa ingin tahu banyak orang. Benarkah posisi tempat duduk siswa menentukan prestasi siswa sehingga banyak orang tua yang berlomba datang lebih pagi demi mendapatkan posisi terbaik bagi buah hatinya?

Rasanya agak sedikit berlebihan bila kita menyaksikan fenomena para ibu yang menyekolahkan anaknya pada setiap tahun ajaran baru. Ada saja ulah yang mereka buat agar posisi terbaik bagi anak mereka tidak berubah di pagi hari pertama sang buah hati datang ke sekolah.

Ada yang menempelkan tas anaknya dengan cara melakbannya di atas meja. Ada juga yang merantai meja dan kursinya agar tidak berpindah tempat. Ada pula yang memakunya, menempelkan nama di atas meja, dan lain sebagainya.

Selintas memang semua itu terkesan berlebihan. Namun bagi orang tua itu adalah upaya nyata yang bisa dilakukan mereka dalam rangka membantu sang anak mendapatkan yang terbaik di sekolah.

Hal ini berkaitan erat dengan hasil penelitian yang dilakukan Penn State Altoona yang menyatakan bahwa siswa yang duduk di barisan depan cenderung mendapat nilai lebih baik dalam ujian sekitar 80%. Sementara barisan tengah 71.6% dan barisan terakhir hanya 68,1%.

Ini wajar mengingat posisi duduk barisan depan dan tengah umumnya lebih dekat dengan guru. Jadi, siswa pasti lebih mudah menangkap suara guru dan dapat berinteraksi langsung dengan guru dibandingkan mereka yang duduk di barisan paling belakang.

Siswa yang memilih posisi duduk di barisan belakang umumnya kurang fokus dengan isi pembelajaran karena mereka merasa bahwa guru hanya aktif berinteraksi dengan siswa yang memilih posisi duduk di barisan depan dan tengah. Mereka asyik mengerjakan tugasnya sendiri atau bermain di tengah proses kegiatan pembelajaran.

Dari apa yang terjadi di dalam kelas maka wajarlah  bila orang tua kemudian berlomba datang lebih awal guna mengamankan posisi duduk anaknya di kelas.***

 

 

PEMBERLAKUAN PEMBATASAN KEGIATAN MASYARAKAT LEVEL 3, LEVEL 2, DAN LEVEL 1 CORONA VIRUS DISEASE 2019 DI WILAYAH JAWA DAN BALI

Tahun 2019, 2020, dan 2021 kita sudah menghadapi pandemi covid19 dengan begitu gigih. Banyak upaya pemerintah yang dilaksanakan untuk menekan jumlah korban Covid19.

Kini pada awal tahun 2022 pemerintah kembali bertekad untuk melindungi masyarakat dari bahaya Covid19. Upaya yang dilakukan lebih humanis dan memihak perekonomian rakyat.

Berikut edaran resmi Pemerintah yang mengatur PEMBERLAKUAN PEMBATASAN KEGIATAN MASYARAKAT
LEVEL 3, LEVEL 2, DAN LEVEL 1 CORONA VIRUS DISEASE 2019
DI WILAYAH JAWA DAN BALI.

 

SALINAN INMENDAGRI NO 01 TAHUN 2022 TENTANG PPKM JAWA BALI

 

Hidup Kembali (Part 1)

“Lahir kembali” sepertinya kok gimana, gitu ya? Apa iya orang hidup bisa lahir kembali? Bagaimana bisa?

Dalam berbagai pandangan agama mana pun sepertinya tak ada ajaran atau paham yang mengatakan bahwa seseorang bisa lahir kembali, terlebih bila yang bersangkutan masih hidup. Hanya agama Hindu dan Budha yang mengenal kelahiran kembali alias reinkarnasi. Itu pun setelah mengalami kematian fisik. Sementara yang dibahas di buku ini adalah kelahiran kembali sebuah jiwa dalam keadaan masih bernapas.

Untuk memahaminya jangan menggunakan bahasa yang sulit, ya. Bagi sebagian orang, kehadiran suatu hal yang begitu mengejutkan bisa menjadi alasannya untuk kembali hidup setelah kehilangan hidup itu sendiri. Bagi sebagiannya lagi justeru sebaliknya. Kehadiran suatu hal malah bisa membuatnya mati dalam hidup. Ia hidup, bernapas, makan, dan minum namun tidak lagi merasakan kenikmatan, kesenangan, dan harapan dalam hidup yang dijalaninya. Ia merasa sudah mati dalam hidupnya. Hari-hari yang dilaluinya hanyalah sekadar mengisi waktu saja. Seringkali orang itu tidak melakukan apapun yang membuat harinya lebih bermakna.

Bagi orang yang lama kehilangan semangat hidup dan membiarkan waktunya berlalu begitu saja bisa tiba-tiba begitu bergairah menghadapi hidup. Inilah yang dinamakan hidup kembali.

Sampai sini paham, kan? Jadi pengertian hidup kembali bukanlah menempati tubuh baru dengan nama baru tetapi lebih kepada pemahaman dan kesiapannya menghadapi kehidupannya setelah peristiwa besar yang membuatnya bagai mayat hidup.

Seperti yang kita ketahui hidup tak selamanya indah dan mudah, berjalan sesuai harapan dan mau kita. Hidup selalu memberikan kejutan di setiap harinya. Ada tawa dan air mata yang saling memilin kisah kita sebagai penghuni dunia yang fana. Kekuatan fisik, mental dan hati seringkali menjadi penentu apakah kita berhasil melalui semua kisah tersebut dengan baik. Tidak semua orang bisa melaluinya dengan lancar dan penuh kerelaan. Banyak yang menolak diam-diam dan kemudian terjebak di lingkaran nestapa. Itulah hidup. Hidup yang mau tak mau harus diterima dan dijalani sebisa kita.

Seperti aku yang juga sama denganmu. Berharap di semua waktu bisa menikmati gelak tawa tanpa adanya banjir air mata yang membuat jiwa merana. Namun siapa lah aku. Hanya seorang hamba yang nasibnya sudah ditetapkan jauh sebelum lahir.

Tak pernah diduga sebelumnya bila benjolan kecil sebesar bulir padi itu lambat laun membesar, bergerak, dan hidup di jaringan tubuh setelah bertahun-tahun lamanya. Aku yang dibesarkan secara sederhana di lingkungan keluarga yang takut dokter tak pernah menduga akan menghabiskan banyak masa muda, waktu, dan harta untuk bisa menghirup udara segar tanpa tekanan dan siksaan.

Ya, peristiwa menakutkan itu terjadi persis ketika aku baru saja melahirkan anak pertama. Perasaan lemas, lelah, letih, lesu, lunglai, letoy, dan loyo menderaku dengan hebatnya hingga aku tak mampu menggerakkan tubuhku sendiri. Setiap hari aku hanya mampu menghabiskan waktu 1 jam untuk bisa beraktivitas. Itu pun segera setelah bangun tidur. Setelah selesai mandi dan berjemur dengan orok aku sudah limbung.

Sepanjang hari aku hanya tidur-tiduran saja di samping orok yang belum bisa membuka matanya. Untuk bangun memperbaiki posisi tubuh pun rasanya susah. Apalagi bila harus ke toilet dan lainnya. Sudah pasti harus dipapah orang rumah.

Empat puluh hari kemudian aku ke RS PMI Bogor. Setelah pemeriksaan intensif dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi pembedahan di bagian payudara kanan. Jantungku kaget bukan kepalang mendengarnya. Mataku melotot saking tak percaya. Lutut pun gemetar hebat. Tuhan, cobaan apa ini?

Kutatap bayi mungil dalam gendongan. Berbagai pikiran buruk menyerangku tiba-tiba. Dokter itu terus saja memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai penyakit yang kuderita. Aku sudah tak konsentrasi dengan apa yang dibicarakannya. Aku membayangkan bagaimana si kecil menyusu nanti. Aku bingung, sedih, takut, juga malu.

Sebagai pasangan muda tentulah seks adalah aktivitas yang tak hanya melibatkan persatuan tubuh tetapi juga perasaan. Bagaimana bisa melakukan pelayanan prima bila aku sendiri merasa tak percaya diri dengan kondisi fisikku sendiri. Mungkin suami tak keberatan dengan hal itu. Tetapi aku? Tidak! Tak mungkin. Batinku menolak keras.

Dengan mata memelas kuminta jeda untuk berpikir. Dokter itu memandangku tanpa perasaan. Mungkin saking banyaknya pasien yang seperti diriku. Menolak operasi karena takut dan cemas. Ya, takut dan cemas akan sesuatu yang tak jelas.

“Terserah, Ibu. Saya hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan sebagai dokter. Keputusan akhir tetap di tangan ibu dan keluarga. Namun demikian pikirkan baik-baik bila suatu hari payudara ibu seperti ini maka keadaan sudah memburuk dan sulit untuk diobati.” Katanya sambil menunjukkan gambar sebuah payudara yang sudah bernanah dan bolong. Aku makin ketakutan. Nyaliku hilang entah ke mana. Aku mencoba mencari kekuatan dengan mengeratkan pelukanku pada sang bayi. Nihil. Aku makin lemas.

Dengan sayu kutinggalkan dokter seorang diri. Di bawah lampu neon aku duduk dan berpikir keras. Aku tak mau mati. Aku juga tak mau dioperasi. Aku takut gagal. Bagaimana bila aku “lewat” di meja operasi? Bagaimana nasib Viviku yang baru 40 hari ini? Oh, Tuhan Yang Mahakuasa berikan pertolonganMu. Bisikku lirih penuh harapan.

Kupandangi lagi hasil rontgen, mamograf, dan sebundel dokumen kesehatan lainnya di samping kursi yang kududuki. Mataku basah lagi. Tiba-tiba sebuah usapan hangat menyentuh kepalaku. Sontak aku mendongak. Wajahnya teduh dengan senyum manis menyapaku. “Jangan takut. Kita akan berusaha yang terbaik. Dede pasti sembuh. Yuk, ke dalam lagi.” Bujuknya. Aku menggeleng kuat-kuat.

Hari itu sepulang dari rumah sakit aku mulai mencatat kronologis penyakit ini. Aku.mencoba mengingat-ingat kapan awal penyakit ini datang dan berkembang biak. Ternyata itu lama sekali kejadiannya. Ya, jauh sebelum aku menikah. Bahkan, jauh sebelum aku lulus kuliah.

Sore itu aku pulang sekolah seperti biasa dengan teman-teman. Sesampainya di rumah aku memburu ibuku yang sedang asyik menonton TV. “Ma, kalau ada benjolan itu normal ga, sih?” Tanyaku. “Eh, tanya apa? Ganti baju dulu sana. Mandi dulu. Bau.” Jawabnya. Aku menurut. Setelah mandi dan mengganti baju aku kembali menanyakan hal yang sama. Dan, ibuku menjawab tidak tahu. Itulah hari pertama aku menyadari ada yang berbeda dengan payudaraku yang baru tumbuh.

Hari-hari berikutnya kulalui dengan biasa. Artinya semua aktivitas normal dilakukan tanpa ada gangguan yang berarti. Demam sedikit ya wajarlah. Mungkin kecapaian karena sekolahnya siang hari dan baru sampai rumah jam lima sore. Aku tak pernah curiga tentang perkembangan benjolan itu yang sebenarnya mulai tumbuh subur di dada kanan.

 

(Bersambung)

(Gedung Tegar Beriman, 10 November 2021; sambil menunggu panggilan donor darah memperingati HUT PGRI ke 76, KORPRI ke 50, HGN 2021)

Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar Bagi Guru dan Peserta Didik

(Neneng Hendriyani)

 

Kata merdeka sejatinya adalah bebas; bebas melakukan yang disukai. Namun, apa jadinya bila bebas di sini ternyata tidak sebebas yang diinginkan? Tentu saja berbagai perasaan negatif muncul dalam berbagai variannya dalam memengaruhi kerja otak yang pada akhirnya membuat kita, guru dan peserta didik, bertanya kembali, sungguhkah merdeka?

Kemerdekaan adalah hak semua orang yang hidup di atas bumi. Ini adalah hak yang melekat dan tidak bisa diganggu gugat. Keberadaannya sama dengan beberapa hak istimewa lainnya yang dimiliki manusia. Yaitu, hak memeroleh pendidikan dan kehidupan yang layak.

Dalam mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak inilah manusia harus mampu meraih kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan bagaimana mereka bisa belajar dan mengajar dengan bebas dan lepas sesuai dengan hati nurani.

Sebagai bagian dari sebuah organisasi besar yang bernama negara, guru dan peserta didik alias siswa memiliki tempat dan kedudukan yang persis sama di hadapan kemerdekaan. Keduanya memiliki hak untuk merdeka dalam melaksanakan segala kehendaknya dalam mencapai tujuan yang mengarah kepada perbaikan diri masing-masing.

Bagi guru, kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam bidang finansial. Bila guru sudah merdeka secara finansial maka ia dapat terjun ke masyarakat dengan sepenuh hati dan jiwa raga. Tanpa keraguan, kekhawatiran akan masa depan keluarga dan dirinya ia siap berjibaku dalam berbagai situasi dan kondisi demi mencerdaskan bangsa.

Bagi peserta didik alias siswa, kemerdekaan adalah bagian di mana mereka bisa bebas memilih untuk memelajari berbagai hal yang mereka sukai dan butuhkan. Jangan paksa mereka memelajari banyak hal yang sebenarnya jauh dari minat dan kebutuhannya. Ibarat seekor burung, haruskah mereka belajar berenang dan melompat? Haruskah mereka belajar beradaptasi akan suhu air alih-alih belajar mengenal perubahan cuaca dan musim?

Selain itu, kemerdekaan bagi peserta didik adalah kemerdekaan di mana mereka bebas belajar kapan pun, di mana pun mereka mau. Jangan batasi lingkungannya dengan menyuruh mereka belajar di dalam ruang tertutup, berbentuk kotak atau persegi panjang. Merdekakanlah mereka dengan membiarkan mereka belajar dari alam sekitarnya. Duduk di atas rumput, di tengah hamparan padi yang menguning, atau di ketinggian lereng gunung akan membuat jiwa mereka tumbuh bersama keberanian, kepercayaan diri, dan pengetahuan mereka yang pastinya berguna bagi kehidupan mereka di kemudian hari.

Teori-teori yang menumpuk di kertas-kertas tua di perpustakaan itu bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan bagi mereka. Mereka memerlukan interaksi antar sesama makhluk hidup agar mereka tumbuh seperti seharusnya. Tanpa interaksi yang hangat mereka sulit menjadi manusia seutuhnya. Rasa minder, gugup, mudah putus asa akan selalu menghantui perkembangan jiwanya yang terkungkung akibat interaksi sosial yang buruk.

Alam dengan segala kandungan misterinya adalah sekolah terbaik bagi mereka. Guru sebagai manusia dewasa adalah partner belajar yang paling tepat dalam mendampingi mereka  menuju kedewasaan dan perbaikan diri. Ketiganya saling terkait satu sama lain. Ketiganya membutuhkan kemerdekaan dalam porsinya masing-masing.

Konsep belajar merdeka yang dicanangkan pemerintah sebenarnya masih jauh dari gambaran merdeka di atas. Namun demikian, setidaknya ini membawa banyak perubahan positif dalam pendidikan. Guru, sebagai ujung tombak, akhirnya memiliki kemerdekaan meskipun hanya sepersekian persen dari arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tanpa perlu memikirkan banyak hal, guru dapat hadir di mana pun sesuai dengan jadwal yang diberikan sekolah masing-masing untuk menyapa dan mengajarkan materi-materi yang diampunya melalui layar berdasarkan kondisi khusus. Ia merdeka dalam menampilkan citra dirinya saat mengajar. Ia merdeka tanpa alas kaki yang sering membuat kakinya tidak nyaman saat di depan kelas. Ia merdeka mengajar dengan pakaian rumahan yang apa adanya. Bahkan ia merdeka dengan sapuan kosmetik yang tipis dan cenderung polos saat menyapa peserta didiknya. Karena pada hakikatnya ia menyadari bahwa semua penampilan lahiriah itu bukanlah hal yang paling penting yang perlu dilakukannya saat berhadapan dengan peserta didiknya. Menyiapkan materi dari berbagai sumber yang berseliweran di sekitarnya, merancang proses pemelajaran yang begitu singkat dengan tetap mempertimbangkan bobot materi pelajaran yang perlu dikuasai peserta didik adalah fokus utamanya sebelum mengaktifkan kamera dan tampil prima di depan layar peserta didiknya. Mereka bebas berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk pelaksanaan belajar mengajar yang lebih baik dan bermutu.

Begitu pun peserta didiknya merdeka menggunakan sarung, celana pendek, atau pakaian lainnya dengan atasan berupa seragam sekolah saat belajar bersama melalui layar komputer atau gawai. Tanpa perlu memikirkan alas kaki, dan sebagainya mereka asyik bersenda gurau bersama guru dan teman-temannya guna merilekskan pikirannya sejenak sebelum masuk ke tahap inti pemelajaran.

Mereka “sesekali” merdeka menyeruput segelas teh atau susu hangat kala mendengarkan presentasi teman-temannya. Sebuah kegiatan yang tidak mungkin mereka lakukan bila mereka belajar di kelas. Mereka merdeka dalam menentukan media apa yang akan digunakannya dalam menyimpan semua materi yang dipelajarinya hari itu. Tak ada lagi paksaan harus menulis semua materi tersebut ke dalam buku. Mereka bisa menangkap layar, menyalin tempel, bahkan mengunduhnya langsung dan menyimpannya di folder-folder komputernya dengan cepat. Ini sungguh sebuah kemudahan yang patut disyukuri. Sangat efektif dan efisien.

Meskipun mereka tetap diberikan tugas baik lisan maupun tulisan yang semuanya harus dikumpulkan secara daring (online) selama Pembelajaran Jarak Jauh ini mereka tetap merdeka dalam menentukan waktu pengerjaannya. Guru hanya perlu menetapkan tenggat waktu pengumpulannya saja. Sisanya peserta didiklah yang memutuskan apakah akan mengerjakan sebelum tenggat waktu tersebut atau sesudahnya. Dengan begitu mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya sendiri. Mereka berlatih untuk siap menerima berbagai resiko dari keputusannya tersebut. Ini adalah hikmah dari kemerdekaan belajar bagi peserta didik.

Ketika penilaian tiba, guru juga memiliki kemerdekaan dalam melaksanakannya. Ia merdeka dalam memilih bentuk evaluasinya. Merdeka memilih platform yang akan digunakannya. Dan, merdeka dalam mengolah hasil evaluasinya tanpa perlu dibebani dengan hanya satu pilihan aplikasi saja.

Dari uraian di atas kita dapat tarik kesimpulan bahwa merdeka belajar, merdeka mengajar bagi guru dan siswa dewasa ini kiranya membuat guru dan siswa merdeka dalam arti yang sebenarnya. Kedua pihak merdeka dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing demi tujuan yang sama-sama mulia, yaitu mengubah seseorang menjadi lebih baik lagi baik akal, pikiran, fisik, dan psikisnya. Kemerdekaan guru baik dalam bidang finansial, maupun bidang lainnya menjadi kunci keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kemerdekaan bagi peserta didik dalam memilih pelajaran yang disukai dan dibutuhkan untuk masa depannya dapat membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar dan membuat mereka lebih mengembangkan potensi dasar yang dimilikinya sejak lahir.

Semoga merdeka belajar merdeka mengajar ini dapat memberikan inspirasi berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, guru dan peserta didik, untuk lebih mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi 2022 mendatang.*)

(Tulisan ini diambil dari tulisanku di buku antologi Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar. Penulis: Neneng Hendriyani, Iso Suwarso, IingFelicia, Sri Mukmini dkk. ISBN :  978-623-6581-27-8. hal 1-6.)

KAMPANYE KINERJA ASN JAWA BARAT: HARI-HARI TERAKHIR MEMENUHI TUGAS

24 Agustus 2021, pukul 08.28 WIB, atasan menginformasikan sebuah tugas yang lumayan membuat dahi berkenyit pagi-pagi. Tugas yang bisa dibilang mudah, namun sukar itu membuat semua pegawai kemudian berusaha memenuhinya sebelum tenggat waktu 29 Agustus 2021. Itulah tugas yang paling membuat jantung berdebar kencang selama perjalanan dinasku di sekolah tersebut. Yaitu membuat video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat.

25 Agustus 2021, berbekal nekad akhirnya selesai juga tugas yang diinstruksikan oleh atasan. Dengan menggunakan Canva for Education, jadilah presentasi sederhana berdurasi cukup singkat tentang Kampanye Kinerja ASN Jawa Baratku. Inilah video teranyar yang kuunggah ke channel youtube Neng Hendri Suparman.

Dalam video tersebut aku menjelaskan tentang kinerja, dan target individu yang hendak dicapai. Bismillahirrahmanirrahim, semoga video Kampanye Kinerja ASN Jawa Barat yang kuunggah sebagai bagian dari tugasku di hari-hari terakhir menuju tenggat waktu tersebut dapat bermanfaat bagi semuanya .

 

(Cibinong, 27 Agustus 2021)

Rindu Pasaman

Rindu Pasaman

Oleh: Neneng Hendriyani

Di Pasaman kumpulan  sawit memanggilku pulang
Lelah jiwa merantau cari segenggam pengalaman
Tertidur di pangkuan nilam membius indra,
lupa janji pada awal kehidupan

Aih, aku rindu Pasaman,
rindu Rao, tanah tumpah darah penuh kenangan
Di mana tambang emasnya menyatukan kita berpuluh-puluh masa yang lalu

Ya, aku rindu Pasamanku, rindu Rao tanah pusaka
Bagian tak terlupa dari Pagaruyung nan merdeka
Bilik istananya mengeja aku punya nama
Saksi bisu tangisanku yang perdana
Di malam yang juita

(Bogor, 03 Februari 2020; 09.34 WIB)

Terjemahan dalam bahasa Inggrisnya:

Longing for Pasaman
by Neneng Hendriyani

In Pasaman, the groves of palm call me home,
My weary soul, wandering in search of a handful of experience,
Falls asleep in the embrace of patchouli, numbing the senses,
Forgetting the promises made at the dawn of life.

Oh, I miss Pasaman,
I miss Rao,
the land of my birth, brimming with memories,
Where its gold mines united us through countless eras past.

Yes, I long for my Pasaman, for Rao, the ancestral land,
An unforgettable part of the free Pagaruyung.
The chambers of its palace spell out my name,
Silent witnesses to my first cries, In the gentle night.

(Bogor, February 3, 2020; 09:34 WIB)

Puisi di atas adalah puisi yang kutulis dalam buku Antologi Puisi: Tanah Kelahiranku yang terbit juni 2021 dengan judul Rindu Pasaman.

Dokumentasi Pribadi

#rindupasaman #tanahrao #nenenghendriyani #bogor #tanahair #indonesia #longing #rindu

KEBAYA BORDIR UNTUK UMAYAH

Kebaya Bordir untuk Umayah
Oleh Neneng Hendriyani

Dokumentasi Pribadi

 

Betapa bangga dan terharunya saat menerima pesan singkat dari Kang Sahaya Santayana pada 12 Agustus 2021 lalu. Beliau mewakili Panitia Antologi Bordir Untuk Umayah, Tasikmalaya. Dalam pesan tersebut diketahui bahwa karyaku dengan judul KEBAYA BORDIR UNTUK UMAYAH berhasil masuk dan lolos kurasi tim kurator yang terdiri atas Acep Zamzam Noor, Sarabunis Mubarok, dan Yusran Arifin.

Dokumentasi Pribadi

Menulis dengan tema yang telah ditetapkan seperti itu bukanlah pengalaman pertama bagiku. Namun demikian, karya yang dihasilkan menjadi pengalaman yang tiada tara. Apalagi karya yang satu ini.  Seumur umur aku baru kali ini menulis tentang bordir. Tak dinyana kerdilnya pengetahuanku tentang bordil membuatku berkenalan dengan karya seni yang luar biasa cantik tersebut. Meskipun tidak keluar sebagai pemenang utama, namun aku bangga bisa menjadi bagian dari 115 Penyair Indonesia yang menulis tentang Bordir Umayah tersebut.

Dokumentasi Pribadi

Umayah adalah seorang pionir bordir yang hidup di Kota Tasikmalaya. Keterangan tentangnya kuketahui setelah buku Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia: Kebaya Bordir Untuk Umayah tersebut tiba di rumah. Dialah perempuan yang begitu ulet memperkenalkan bordir ke mana-mana hingga akhirnya Tasikmalay terkenal sebagai sentra industri bordir Nusantara.

Dokumentasi Pribadi

Berikut ini puisiku yang terdapat pada buku tersebut.

KEBAYA BORDIR UNTUK UMAYAH

Oleh Neneng Hendriyani

Dari jari jemari lentik benang dan kain saling bercumbu
Mengulum senyum harapan, menebar asa kerinduan
Berjanji pada sang waktu
Hidup seindah sulaman sutra
Penuh warna dan hiasan berpadu angan serta impian
Abadi dalam ribuan kehidupan
Penuh cerita tentang bunga jua rayuan di balik selendang sutra
Janji itu digenggam nyata

Kini Umayah telah dewasa
Sulaman dan bordir menjadi napasnya
Di antara tarian jemari nan lentik
benang dan kain saling bercumbu
membentuk kebaya mengulum senyum harapan, menebar asa kerinduan

Berjanji pada sang waktu
Hidup seindah sulaman sutra
Bordir warna dan hiasan berpadu angan serta impian
Abadi dalam ribuan kehidupan
Seperti cinta, indah pada akhirnya

(Bogor, 02 Maret 2020; 18:29 wib)

Terjemahan dalam bahasa Inggris:

EMBROIDERED KEBAYA FOR UMAYAH
by Neneng Hendriyani

From delicate fingers, threads and fabric intertwine tenderly,
Weaving a smile of hope, spreading the longing of aspiration,
Making a promise to time itself:
A life as beautiful as silk embroidery,
Full of colors and adornments, blending dreams and desires,
Eternal through thousands of lives,
Rich with tales of flowers and flirtations behind silk veils.
That promise is held true.

Now Umayah has grown,
Embroidery and stitching become her breath.
Amid the dance of her graceful fingers,
Threads and fabric intertwine tenderly,
Crafting a kebaya that holds a smile of hope, spreading the longing of aspiration.

Making a promise to time itself:
A life as beautiful as silk embroidery,
Embroidered colors and adornments blending dreams and desires,
Eternal through thousands of lives,
Like love, beautiful in the end.

(Bogor, March 2, 2020; 18:29 WIB)

(Buku Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia: Kebaya Bordir Untuk Umayah, ISBN 978-623-96521-2-8, Penerbit Sanggar Golewang Tasikmalaya. 2021. Hal. 118)

#kebayauntukumayah #tasikmalaya #tasik #kebaya #umayah #nenenghendriyani #embroideredkebayara

Google Siteku Untuk Belajar Mengajar Bahasa Inggris

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Pertama kali mendengar google site aku merasa sedikit kaget. Seorang rekan pelatih dari IGI memperkenalkannya jauh sebelum aku sendiri memiliki site tersebut. Melihat karyanya dan bagaimana ia terbantu dalam pelaksanaaan pembelajaran selama PJJ ini membuatku termotivasi membuat hal serupa. Akhirnya dengan berbekal sedikit waktu dan upaya, dengan bimbingan Aries Prasetya, founder Samisanov IGI aku pun belajar mengembangkan google site.

Seluruh administrasi yang kugunakan dalam mengajar pada tingkat X dan XI SMA Tahun Pelajaran 2020-2021 pun aku unggah ke google site tersebut. Tak ketinggalan sejumlah video pembelajaran yang kurancang sendiri pun dengan sedikit malu-malu kutempelkan di sana. Bahkan, bentuk penilaian pun kusimpan pula. Harapannya sederhana. Semoga anak-anak muridku bisa memelajari semua materi pada tahun pelajaran tersebut lebih awal sebelum aku menjelaskannya melalui zoom meeting setiap pekannya. Selain itu, semoga semua administrasi, video pembelajaran, materi, dan soal yang kuunggah pun bisa bermanfaat untuk sesama guru Bahasa Inggris.

setelah membuat google site tersebut aku benar-benar terbantu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Murid-muridku senang karena tidak perlu menunggu lama untuk mengakses materi. Cukup dengan menggunakan ujung jarinya mereka sudah bisa mengakses materi pelajaran lengkap di google site tersebut.

Berikut ini link google siteku. Sila kunjungi dan ambil manfaat positifnya. Salam perjuangan.