Antara Dusta, Kecewa, dan Maaf: Refleksi Menuju Idul Fitri

Oleh: Neneng Hendriyani

 

Sebagai manusia biasa, kita tak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan. Ada kalanya kita berbuat salah dan khilaf sehingga menyakiti sesama, dan ada kalanya kita yang disakiti, baik sengaja maupun tidak sengaja. Rasa sakit dan kecewa akibat terjadinya kesalahan dan kekhilafan sering kali meninggalkan bekas yang bertahan lama; bisa satu hari, satu bulan, satu tahun, bahkan satu windu. Bekas ini muncul begitu saja tanpa basa basi sebagai tanda bahwa kita makhluk fana yang memiliki rasa dan ego. Ketika rasa dan ego bertabrakan dengan kondisi riil, tentu tak mudah bagi kita mengelak dan meniadakan rasa sakit dan kecewa yang timbul dari kesalahan dan kekhilafan yang diperbuat baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Menjelang Idulfitri, kita kembali dihadapkan pada momentum suci yang bukan hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga ajang refleksi diri, introspeksi, dan rekonsiliasi dengan sesama. Memaknai Idulfitri sebagai hari kemenangan atas perang terhadap nafsu selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan membantu kita menengok lebih dalam kondisi rasa dan ego yang kita miliki. Kita tidak hanya perlu memikirkan kembali kesalahan dan kekhilafan yang telah kita lakukan terhadap sesama, namun juga terhadap diri sendiri. Berapa banyak akibat yang terjadi dari kesalahan dan kekhilafan tersebut memengaruhi kualitas kehidupan sosial kita? Berapa banyak tindakan menarik diri yang telah kita lakukan akibat kecewa menahun yang tersimpan dalam hati kita selama ini? Berapa banyak rasa kasih terhadap sesama hilang dari jiwa? Berapa banyak kita terluka? Semua pertanyaan ini bisa menjadi alasan untuk menemukan kembali makna sesungguhnya dari Idulfitri sebagai hari kemenangan terhadap nafsu melalui refleksi yang jujur.

Rerata penyebab kecewa yang muncul akibat kesalahan dan kekhilafan ditimbulkan oleh dusta. Menurut ajaran Islam, dusta adalah salah satu perbuatan yang dapat merusak hubungan antarmanusia. Allah SWT telah memperingatkan dampak buruk dusta dalam Q.S. An-Nahl: 105:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” Sekecil apapun dusta yang dilakukan tetap saja mampu menimbulkan hilangnya kepercayaan dan keharmonisan dalam ruang sosial interaksi kita dengan sesama baik dalam keluarga, persahabatan, maupun masyarakat.

Dalam konteks refleksi menuju Idulfitri, mari kita renungkan kembali sejauh mana kejujuran telah menjadi bagian dari diri kita. Apakah kita pernah berdusta demi keuntungan pribadi, baik secara finansial maupun lainnya? Ataukah kita telah berlaku tidak jujur dalam kehidupan sehari-hari? Jika iya, mari kita bersihkan hati dari sifat dusta dan menggantinya dengan keterbukaan serta kejujuran.

Dari dusta yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja, sekecil apa pun pastilah menimbulkan kekecewaan. Nah, kekecewaan ini  bisa menjadi pintu masuk bagi hadirnya amarah dan kebencian. Meskipun kekecewaan tidak selalu berdampak negatif karena nyatanya kekecewaan dapat menjadi pelajaran berharga yang menguatkan jiwa, kita tetap didorong untuk mengolahnya dengan bijak. Islam mengajarkan kita untuk menerima bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita telah dinasihati oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya: “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani). Jadi, walaupun kita merasa kecewa bukan berarti kita boleh marah dan benci. Untuk itulah, menjelang Idulfitri ini mari kita ingat kembali pernahkah kita membuat orang lain marah? Jika ya, jangan ragu untuk meminta maaf dengan tulus.

Sejatinya kata maaf menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ungkapan permintaan ampun atau penyesalan, yang mampu membawa pembebasan seseorang dari hukuman karena suatu kesalahan. Dengan kata maaf, kita telah mengakui kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan. Dengan kata maaf, kita telah membebaskan diri kita dan orang yang kita sakiti dari rasa kecewa dan luka. Dengan kata maaf, kita melakukan rekonsiliasi terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam Islam, memaafkan dipandang sebagai amalan yang sangat mulia. Allah SWT dalam Q.S. An-Nur: 22 berfirman: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan dan kebesaran hati. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang memaafkan telah melewati banyak sekali perasaan tidak nyaman ketika disakiti, dan dikecewakan. Tak mudah bagi mereka yang disakiti dan dikecewakan memaafkan pelakunya. Rasa ingin membalas perbuatan tersebut sedikit banyak pasti muncul di dalam dirinya, namun mereka meredamnya sedemikian rupa agar tidak dilaksanakan karena tahu bahwa membalas perbuatan salah dan khilaf bukanlah solusi terbaik. Perbuatan tersebut justeru akan membawanya pada rasa sakit yang lebih dalam. Maka, memaafkan dan melepaskan rasa sakit menjadi pilihan yang paling bijak baginya. Ini membuktikan bahwa mereka memiliki pribadi yang baik, dewasa, dan berjiwa ksatria. Dengan memaafkan, mereka telah membuka pintu ketenangan jiwa untuk dirinya sendiri dan juga pelakunya. Dengan tindakan tersebut mereka membebaskan pelaku dari rasa bersalah dan membebaskan dirinya dari dendam dan kecewa yang memberatkan hati.

Untuk itulah, menjelang Idulfitri mari kita berefleksi bersama merenungkan perbuatan kita selama ini. Mari memperbaiki kesalahan yang ada dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih. Mari kita jadikan momen Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki diri sendiri agar lebih baik, lebih jujur, lebih ikhlas, dan lebih pemaaf baik kepada diri sendiri maupun sesama. Pada akhirnya, kita semua akan meraih pembebasan dan kedamaian jiwa yang hanya bisa diperoleh dari jiwa yang merdeka dari praktik dusta, kecewa, dan dendam.

(Bogor, 30 Maret 2025, 07:44 WIB)

Ditulis ulang dari karyaku yang telah diterbitkan di kolom KAJI BERITADISDIK https://beritadisdik.com/news/kaji/antara-dusta–kecewa–dan-maaf–refleksi-menuju-idulfitri 

 

 

Hanya Karena Hape

Oleh Neneng  Hendriyani, M.Pd.

“Gila! Tujuh grup? Itu isinya sama semua?” Tanyanya dengan mata melotot.

Aku jadi merasa serba salah. Mau dijawab iya takut nggak percaya. Mau bilang nggak lah kenyataannya iya. Alah, persetan dengan tanggapannya akhirnya aku menganggukkan kepala dengan tetap memandangnya tajam. Nyeri rasanya ditanya sedemikian rupa seolah aku ini pembohong tingkat dewa.

“Itu semua di satu platform media sosial?” Tanyanya lagi sambil memajukan kepalanya hingga nyaris tinggal dua jengkal jaraknya dengan kepalaku. Benar-benar tak nyaman.

Aku mengangguk. Ini kali dengan membuang pandangan  ke jendela.

Hujan masih berlangsung disertai  angin kencang. Kulihat puluhan kendaraan bermotor masih berjibaku di jalan raya persis di seberang kantor tempat aku duduk saat ini. Entah berapa supir yang mendengus kesal lantaran jalannya dipotong pengendara motor itu seenaknya udelnya sendiri.

Orang di depanku masih terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Ingin rasanya kusiram wajahnya dengan  sisa kopi siang tadi. Sayang, niat jahat itu kukubur dalam-dalam saat tiba-tiba bayangan guru ngajiku muncul di kelopak mata.

Aku segera berdiri. Kutarik kerah bajunya.

“Mau tujuh, delapan, sembilan grup apa urusanmu? Mau ngehang mau nggak itu hapeku. Bukan hapemu. Berhenti mengurus urusanku.”

Dipegangnya kedua tanganku erat. Alhasil cengkeramanku melemah. Biadab! Orang ini makin keterlaluan.

“Apa maumu?”

“Hapus semua grup itu dan cukup sisakan satu saja!” Perintahnya.

“Mengapa kamu sewot banget sih dan memaksaku begitu?” Tanyaku.

“Bila kamu masih mempertahankan semua grup itu yang isinya orang-orang yang sama, buat apa? Kamu hanya menghabiskan waktu untuk membaca chat yang pada intinya sama.”

“Lalu masalahnya apa?” Aku masih bertahan.

“Masalahnya kapan kamu akan membaca dan membalas chatku?” Teriaknya.

Aku terganga! Mungkinkah? Tidak! Pasti tidak! Hati dan otakku terus bicara mengenai sikapnya yang aneh sekali sejak beberapa jam lalu. Ya, dia berubah setelah memeriksa isi hape kentang ini.

“Kok diam?” Selidiknya.

Aku masih menatapnya. Berusaha mencari kemungkinan yang paling mungkin di balik pupilnya yang kecoklatan. Tak ada tanda yang konon katanya tergambar  jelas di sana. Aku menggeleng membayangkan kemungkinan demi kemungkinan yang muncul.

“Berikan hapemu dan biarkan aku memilihkan grup terbaik untuk kau ikuti.”

Aku membiarkannya mengambil hape yang sejak tadi berada tak jauh dari jangkauannya. Percuma menghalangi pikirku.  Aku malas berdebat untuk hal yang tak bermanfaat.

 

(Bogor, 18 Oktober 2022; 19.51 wib)

Di Gerbang Waktu

Jika aku ditanya, adakah cinta sejati? Aku menjawabnya: ada. Yakin sekali aku menjawab ada. Mengapa? Karena cinta sejati hadir tanpa basa-basi. Tak perlu melihat rupa, apalagi asal-usul atau latar belakangnya. Ia hanya peduli pada rasa. Rasa yang mengikat kalbu. Rasa yang hadir karena memang haknya. Rasa ingin membahagiakan dan menjaga. Bukan rasa sebaliknya, yang merusak dan menghancurkan impian.

Di mana cinta sejati hadir? Cinta sejati hadir di hati. Ia mampu melewati hitungan masa. Tak peduli siang atau malam. Tak peduli kering atau hujan. Ia mampu bertahan. Tak terbilang tahun, apalagi hari. Ia mampu bertahan setia di titik di mana ia jatuh cinta pertama kali.

Mungkin kita berpikir bahwa cinta sejati hanya milik rakyat jelata yang tidak dipusingkan soal harga, pajak, dan permasalahan tetek bengek lainnya. Rakyat yang sederhana, yang bisa memeluk cintanya tanpa ragu dan banyak kata. Sebenarnya, cinta sejati bisa menjadi milik semua orang. Tak perlu memandang posisi atau perannya. Namun, bagi para raja, cinta sejati tak semanis madu belantara yang murni. Cinta bagi mereka terkadang adalah siksaan tak berperi. Laksana memegang bara di tangan. Tak mudah digapai dan dimiliki. Cinta yang hanya bisa ditahan di pandangan mata, disimpan di relung hati terdalam. Tak bisa sembarangan diucapkan, apalagi diobral habis-habisan.

Mengapa? Karena raja adalah penguasa. Tanggung jawabnya luar biasa besar. Cinta sejatinya belum tentu mampu membuat negaranya aman dan sejahtera. Ia bisa saja tenggelam dalam cinta dan melupakan rakyatnya. Maka, meninggalkan cinta sejati dalam bentuk nyata adalah solusi terbaik yang ia punya. Menyimpan dan merangkai semua kenangan menjadi satu-satunya pintalan harapan abadi baginya. Karena cinta sejati untuk para raja tak harus dimiliki. Cukup dirasakan dan dipuja dalam doa.

Bagi cinta itu, para raja bisa berkorban banyak hal, kecuali negaranya. Hidup yang sengsara, sepi, dan merana menjadi pilihan tak terhindarkan. Hanya rapalan doa yang mampu membuatnya bertahan, berdiri tegar di singgasananya. Melewati tahun demi tahun, berharap cintanya aman. Cinta yang membuatnya sadar bahwa hidup hanya sebentar. Menitipkannya ke semesta adalah pilihan yang bijak. Sehingga ia bisa menemuinya di suatu masa yang entah kapan. Sungguh.

Cinta sejati memang sering membuat orang buta, gila. Ia mampu membuat seseorang berbuat apa pun demi sang belahan jiwa. Termasuk menjaganya melewati masa yang luar biasa panjangnya. Maka, aku percaya, cinta sejati itu ada. Karena kamu adalah bukti nyata. Sebuah cinta yang tak bernama dari masa yang tak kuingat.

(Bogor, 27 Desember 2024)

Siapa bilang jatuh cinta itu mudah?

Ternyata, jatuh cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Awalnya, kupikir setelah mengenal dan bergaul cukup lama, cinta akan hadir sesuai harapan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Cinta hadir dan tumbuh subur bukan karena hitungan waktu atau banyaknya interaksi yang terjadi di antara kita, melainkan karena adanya chemistry yang kuat antara dua individu, serta kemampuan untuk saling menghargai dan menerima kekurangan masing-masing.

Aku pernah berpikir bahwa ketika sakit hati, kecewa, dan terluka, berlari kepada yang baru akan menyembuhkan segalanya. Hatiku akan terbuka kembali, siap menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ternyata, pikiran naif itu keliru. Terlebih saat kusadari, aku bukanlah yang pertama. Ada orang-orang yang lebih dahulu hadir, menyemai kasih, dan berjalan mesra bersamanya. Mereka bercerita dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan sebagai yang terpilih. Bahkan, ada yang berbisik pelan, meminta agar aku menjauh demi menjaga rapuhnya jiwa yang telah terluka.

Sayangnya, semua nasihat itu kuabaikan. Aku tetap berharap cinta akan hadir setulus dan sehangat matahari pagi. Aku masih menjajaki berbagai kemungkinan untuk tetap bersama, meskipun badai terus menggoyahkan tekadku. Aku yakin bahwa kebersamaan ini akan membawa kebaikan bagi kami berdua.

Namun, pada akhirnya, aku menyadari sesuatu. Berpegangan tangan dan berjalan berdampingan ternyata bukanlah cinta. Itu lebih merupakan upaya saling menjaga, meski aku sendiri bingung apa yang sebenarnya kami jaga. Kepura-puraan menjadi selimut abadi dari interaksi kami. Senyuman manis yang terlihat bukanlah untukku, bukan pula berasal dari hati. Hanya sekadar klise untuk menutupi maksud hati yang entah ditujukan kepada siapa.

Setelah menangis di kamar sempit, di bawah derasnya air yang mengalir, aku memutuskan sesuatu yang membuatku ragu. Kepura-puraan ini adalah sembilu yang terus melukai hati. Mencoba mengobati hati sendiri yang tak jelas bentuk lukanya ternyata sama sulitnya dengan mengobati luka yang ditinggalkan oleh orang sebelumnya. Luka itu memberi dampak besar bagi interaksi kami.

Penampilannya yang memukau, sikapnya yang super ramah, membuatku ragu untuk meragukan perasaannya padaku. Tutur katanya lembut, sorot matanya meyakinkan, genggaman tangannya erat, dan senyumnya tak pernah hilang. Siapa sangka semua itu hanya sandiwara? Di balik sikap manisnya, suara-suara mencicit tetap kudengar. Gestur yang tak nyaman tetap tertangkap netra. Pada akhirnya, tubuhku bereaksi secara alami. Sandiwara pun terus berlanjut. Kata-kata rindu menjadi seperti gincu—hanya topeng. Di balik itu, pisau siap menusuk saat lengah. Parah.

Kesungguhan, ketulusan, penghargaan, dan apresiasi yang kuberikan terasa sia-sia. Waktu, yang sering kupikir sebagai obat mujarab untuk membalut luka, ternyata tidak cukup. Aku sadar, berjalan berdampingan tidak selalu berarti saling memahami dan menjaga. Memberi dan menerima hanya menjadi ilusi yang melayang dalam angan.

Pada akhirnya, cinta yang kucari punah dan binasa. Menjadi yang kedua, ketiga, dan seterusnya bukanlah solusi terbaik untuk menyembuhkan luka. Kembali bernegosiasi dengan yang pertama dan menerima segala kekurangannya justru menjadi obat paling mujarab. Dengan bangga dan bahagia, aku melangkah meninggalkan gerbang. Aku buang kepura-puraan dan berlari menjemput kejujuran.

Aku jujur pada diriku sendiri: aku pernah jatuh cinta, aku pernah bahagia, dan aku pernah kecewa. Namun, aku bangkit dari kekecewaan itu dan kembali merajut kasih. Bahagia ada di dalam benak dan hatiku.

(Bogor, 23 Desember 2024)

#cinta #pura-pura #mataharipagi #kecewa #jatuhcinta

 

Di Lereng Ijen Aku Berdiri

Di Lereng Ijen Aku Berdiri
Oleh Neneng Hendriyani

Berdiri aku di lereng Ijen
Ketika air embun memeluk pasrah tubuh-tubuh pinus
Mencoba mendengar nyanyian purba
Tentang kamu, dia, dan mereka

Kematian adalah sejarah
Melingkari cincin waktu demi kata cinta
Menari di sela bebatuan
Mengecup mimpi dalam setiap tetesnya

Lewat reinkarnasi, aku melihat kau, dia, dan mereka
Di lereng asam, batu-batu terjal,
Tanah bersembunyi
Hawa panas
Cinta pun menggilas

Berdiri aku di lereng Ijen
Ketika air embun memeluk pasrah tubuh-tubuh pinus
Jiwaku meronta,
Gagal moksa

(Bogor, 07 Juni 2024)

Puisi ini lolos kurasi untuk kegiatan Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) 2024 di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia yang diselenggarakan pada 24-26 Oktober 2024.

Terjemahan dalam bahasa Inggris:

On the Slopes of Ijen, I Stand
by Neneng Hendriyani

I stand on the slopes of Ijen,
When the dew’s water embraces the yielding bodies of pines,
Trying to hear the ancient song
About you, him, and them.

Death is history,
Encircling the ring of time with words of love,
Dancing among the rocks,
Kissing dreams in every drop.

Through reincarnation,
I see you, him, and them,
On the acidic slopes, among rugged stones,
The earth hides,
The air is hot,
Love crushes all.

I stand on the slopes of Ijen,
When the dew’s water embraces the yielding bodies of pines,
My soul writhes,
Failing to attain liberation.

(Bogor, June 7, 2024)

#ijen #kawahijen #banyuwangi #jamboresastra #nenenghendriyani #moksa #reinkarnasi

Undangan Jambore Sastra Asia Tenggara 2024

Undangan Jambore Sastra Asia Tenggara 2024 lagi-lagi digelar di Kota Banyuwangi. Ini kali kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Blambangan akan dimulai pada tanggal 24 – 26 Oktober 2024. Pesertanya berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Dilansir dari lampiran surat undangan JSAT 2024 Nomor : 235/DKB/VIII/2024 tanggal 31 Agustus 2024 , berikut ini adalah nama para penyair empat negara yang berhasil lolos kurasi dan berhak menghadiri puncak acara Jambore Sastra Asia Tenggara 2024:

  1. Abd. Sarno Arbara (Magetan Jatim)- Rindu Tanah, Batu dan Airmu
  2. Abdillah Danny (Mojokerto)- Muhriyono
  3. Abdul Halim (Kab Bangkalan)- Cinta Segi Empat Kaldera
  4. Achmad Nadzir (Banyuwangi)- Dalam Kekapan Belerang Purba
  5. Adziah Abd Aziz (Perak Malaysia)- Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu
  6. Aguk Wahyu Nuryadi (Banyuwangi)- Banyu 7 Sumber
  7. Agus Takariyanto (Banyuwangi)- Membaca Batu – Mengigau Batu
  8. Agus Widiey (Yogyakarta)- Di Puncak Ijen
  9. Ahmad Zuawii (Melaka, Malaysia)- Orang Kecil di Kaki Ijen
  10. Akmal Rahman Hanif (Banyuwangi)- Anatomi Tubuh Purba
  11. Ali Satriefendi (Bekasi)- Ijen, Lewat Tengah Malam
  12. Alif Firdaus Rosyidin (Banyuwangi)- Rinonce Kaldera Ijen Purba
  13. Alif Raung Fidaus (Bondowoso)- Apa Kabar Ijen?
  14. Alina Sukesi (Madiun)- Ijen Purba
  15. Ameliyah Shafa (Sumenep)- Di Sela Kabut Purba
  16. Aminatul Hasanah (Sumenep)- Indahnya Menyelimuti Kata
  17. Aminuddin S Gadi (Sumba, Nusa Tenggara Timur)- Ziarah Rindu di Tanah Gandrung
  18. Ananda Fairus D.L (Jember)- Sebongkah Tawa Ijen Mengiringi Seranting
    Nyawa
  19. Anindyabarata (Yogyakarta)- Ijen Purba
  20. Antariksawan Jusuf (Tangerang Selatan)- Katakanlah Hai Ijen
  21. Anto Narasoma (Palembang)- Cintaku Pada Kaldera Kosong,
  22. April Artison (Klungkung Bali)- Di Kaki Gunung Ijen Jejakku Abadi
  23. Arfian Rizky Pratama (Kediri)- Kenangan Kemah Sastra
  24. Ari Basuki (Daerah Istimewa Yogyakarta)- Kawah Ijen Dini Hari
  25. Arif Haiqal Roslan (Selangor, Malaysia)- Izinkan Aku Tuhan
  26. Arif W (Gunung Kidul Yogyakarta)- Di Stasiun Kalisetail
  27. Azizah Mds (Kedah Malaysia)- Banyuwangi
  28. Bagus Likurnianto (Banjarnegara, Jawa Tengah)- Kawah Ijen, Biru Api
  29. Cinta Menyala di Dada Mereka
  30. Baharuddin Amir (Barru, Sulawesi Selatan)- Riwayat Tanah
  31. Bambang Kariyawan Ys (Riau)- Cerita-cerita Edelweis
  32. Bambang Widiatmoko (Bekasi)- Gandrung Kawah Ijen
  33. Barupawati Utamaju Baharum (Kuala Lumpur-Malaysia)- Bicara Sukma Lembah Ijen
  34. Budi Setiawan (Buset) (Purworejo)- Ijen yang Tekun Sendiri
  35. Chiesetiawati (Kuningan, Jawa Barat)- Doa dari Rongga Dada
  36. Chris Triwarseno (Semarang)- Sebuah Pertanyaan Purba
  37. Christiya Dewi Eka (Bekasi)- Janji pada Pukul Waktu Ijen
  38. Citra Sasmita (Bali)- Menyusur Garis Leluhur
  39. Cura Lara_Erli Norafiza Abu Hafiz (Johor Malaysia)- Manusia, Cinta, dan Kawah Ijen
  40. Daviatul Umam (Sumenep)- Melankolia Idjen Purba
  41. Dayangku Mastura (Sabah, Malaysia)- Gunung, Tanah
  42. Denok Ayu Uni Aisandi (Bekasi)- Kawah Ijen: Jiwa Kokoh, Cantik dan
    Tabah
  43. Denting Kemuning (Surabaya)- Lelaki Pemanggul Beban di Lembah Ijen
  44. Devika Nur Baity (Banyuwangi)- Garis Waktu Biru
  45. Dicky Firmanzah (Surabaya)- Tanah, Air, Batu dan Kamu
  46. Dr Muhammad Khairuddin Lim Tanjong (Malim Malaysia)- Setia dan
    Berani
  47. Dr. Dil Froz Jan (Selangor Malaysia)- Kota Tepi Sungai
  48. Dr. Roziah Ramli (Malaysia)- Aku Tidak Mahu Bermimpi Lagi
  49. Dwi S Wibowo (Bali)- Ijen Batukaru
  50. Dwi Tirta (Bondowoso)- Pemandangan Tak Terlupakan
  51. Dyah Dhomi Eko Wulandari (Banyuwangi)- Lontar Ijen Purba
  52. Edi S Febri (Batang, Jawa Tengah)- Kawah Ijen Melukis Kenangan
  53. Eko Wahyu Pratama (Banyuwangi)- Wisarga
  54. Elsa Fatimatus (Jember)- Memori ijen
  55. Emi Suy (Jakarta)- Perjalanan Menempuh Ijen Purba
  56. Endut Ahadiat (Padang)- Kawah Ijen dan Topeng Konah
  57. Erna Winarsih Wiyono (Bogor)- Kidung Ijen
  58. Estu Puji Handayani (Bondowoso Jawa Timur)- Tanah-Mu, Air-Mu, dan
    Batu-Mu
  59. Faidi Rizal Alief (Sumenep)- Tanah, Air, Batu, dan Puisi yang Baru
    Tumbuh
  60. Fatah Yasin Noor (Banyuwangi)- Senja Itu, Paltuding
  61. Ferdi Afrar (Sidoarjo, Jawa Timur)- Kopi dan Kaldera, Wengi Geni
  62. Fileski Walidha Tanjung (Madiun)- Larung Luka
  63. Firman Wally (Ambon)- Menjejaki Purba
  64. Gatot Hariyanto (Banyuwangi)- Ijen Purba Menggugat
  65. Gimien Artekjursi (Banyuwangi)- Pesona Ijen: Sampai Kapan Bertahan?
  66. Gurit Asmara Ruci (Tulungagung)- Menafsir Ulang Isyarat Purba Ijen
  67. Hairul Izuan Mohd Bidin (Kuala Lumpur)- Menggenggam Sekepal
    Belerang
  68. Hanifah Dwi Hermawati (Bondowoso)- Hamparan Sajadah Kaldera Ije
  69. Hanom Ibrahim Lubis- Silir Angin dan Deru Ijen Banyuwangi
  70. Hardjani, S.S. (Banyuwangi, Jatim)- Ijen
  71. Haryatie AB Rahman (Kelantan Malaysia)- Tanah yang Indah
  72. Helmy Khan (Sumenep, Madura)- Tubuh Penambang Lembah Ijen
  73. Herny Nilawati (Banyuwangi)- Singgasana Barong Ider Bumi
  74. I Nyoman Wirata (Denpasar)- Edelweiss Api Biru di Mata Kameramu
  75. Ibna Asnawi (Sumenep)- Telaga Ijen
  76. Ika Permata Hati (Temanggung)- Penambang Belerang dari Tanah
    Blambangan
  77. Ilhamdi Sulaiman (Medan)- Bunga-bunga Api
  78. Imam Akhbar (Medan)- Ijen Purba Mengurai Kisah
  79. Imam Budiman (Jakarta)- Membaca Manakib Ijen Purba
  80. Ina Herdiyana (Sumenep)- Menuju Kawahmu
  81. Indrayanto (Medan)- Kontemplasi di Puncak Ijen Purba
  82. Indri Yuswandari (Blitar Jatim)- Tanah Napas, Batu Jiwa
  83. Irawan Sandhya Wiraatmaja (Tangerang)- Di Sungai Kalipahit
  84. Irna Novia Damayanti (Purbalingga)- Memotret Kawah Ijen
  85. Isbedy Stiawan Zs (Lampung)- Cahaya Candi
  86. Ita Puspita Sari (Sumenep, Madura)- Neurotisme
  87. Izzatul Hikmah (Sumenep)- Ijen dan Sepertiga Malam dalam Diksiku
  88. Jesika Putri Dwiandini (DKI Jakarta)- Amarah Sang Ijen Purba
  89. Juli Prasetya (Banyumas)- Membaca Abad Kekosongan Ijen Purba
  90. Kasdi Kelanis (Sragen)- Kata Temanku
  91. Kasmawati Yakub (Jeneponto, Sulsel)- Hutan Cadas Hitam
  92. Kathirina Susanna Tati (Malaysia)- Keagungan Pencipta Langit dan Bumi, Keindahan Abadi, Harmoni yang Sempurna
  93. Khairul Umam (Sumenep)- Ijen dan Misteri yang Terus Berdengung
  94. Khalil Satta Èlman (Yogyakarta)- Kaldera
  95. Khurin In Noviarani (Gresik, Jawa Timur)- Tak Lekang Waktu
  96. Kurnia Effendi (Jakarta)- Amsal Kesendirian
  97. Lailah Nurdiana (Yogyakarta)- Kaldera Ijen Purba
  98. Leenda Madya (Semarang)- Menggali Harapan di Kawah Sunyi
  99. Litalia Putri (Banyuwangi)- Litani Puan Blambangan
  100. Lutpi Aulia (Sukabumi)- Tanah Jejak Erupsi
  101. M Anton Sulistyo (Jakarta)- Kawah Wurung, Pemandu Wisata
  102. M Firdaus Rahmatullah (Jombang)- Patokan
  103. M. Syahrul Shobirin (Banyuwangi)- Bebatuan Bercerita
  104. Mahendra (Bali)- Blues Ijen, Batu Gunung
  105. Masriyah Misni (Selangor)- Sekras Batu Jalanan
  106. Matroni Muserang (Madura)- Ijen, Tanah Kekasih
  107. Merawati May (Mukomuko, Bengkulu)- Surat Cintamu, Ijen, Ddi Atas Black
    Lava Ijen
  108. Mh. Dzulkarnain (Sumenep, Madura)- Montase Tubuh Ijen
  109. Michael Djayadi (Yogyakarta)- Hikayat Plalangan
  110. Moh. Ghufron Cholid (Sampang)- Subuh di Ijen
  111. Mohamad Saleeh Rahamad (Perak Malaysia)- Lelaki-lelaki Perkasa
    Banyuwangi
  112. Mohammad Saroni (Mojokerto)- Serpihan Surga
  113. Mohd Rosli Bakir (Pontian, Johor, Malaysia)- Lembah Ijen: Tanah, Air dan
    Batu
  114. Momo (Banyuwangi)- Kau yang Berdiri Di saana
  115. Muda Wijaya (Karangasem)- Lelaki Tuna Rungu dan Aku yang Menari di Kawah Ijen
    115. Muhammad Lutfi (Pati)- Wajah Ijen
    116. Muhammad Sheva (Yogyakarta)- Blues untuk Orang-orang Tambang
    117. Muhammad Syamsa (Boyolali)- Biru Purba
    118. Muhsyanur (Wajo, Sulsel)- Refleksi Ijen: Dialektika Eksistensi
    119. Mulyadi J. Amalik (Kota Surabaya)- Ijen dan Gusti Mahacinta
    120. Mundzir (Madura)- Semua tentang Dirimu
    121. Mustain Romli (Probolinggo)- Ijen dan Sejarah Cinta
    122. Muzayyana (Bondowoso)- Misteri Kehidupan di Puncak Ijen Purba
    123. Nabilatul Mu’tabarah (Sumenep, Jatim)- Kehangatan Surga di Ijen
    124. Nanang Suryana (Bogor)- Anatomi Ijen
    125. Nani Asiani (Banyuwangi)- Batu dan Para Nestapa
    126. Neneng Hendriyani (Bogor)- Di Lereng Ijen Aku Berdiri
    127. Neng Lilis Nuraeni (Subang, Jawa Barat)- Ijen dan Kenangan di Saku
    Bajumu
    128. Nor Faizah (Sumenep)- Deskripsi Virtual Lewat Mata
    129. Norasmah Binti Mounojij Noor (Negeri Sembilan)- Keranjang Usang
    130. Nuhbatul Fakhiroh Maulidia (Banyuwangi)- Kaldera
    131. Nunung Noer El (Banyuwangi)- Tapak Tangan Bumi Osing
    132. Nur Komar (Jepara)- Jejak-Jejak Tanah Tua
    133. JOni Hendri Tapung (Kampar, Riau)- Batu-batu yang Timpa Air
    134. Othman Bin Suhot (Singapura)- “Ijen Purba” Tanah, Air, Angin
    135. Qudwatul Imamah (Sumenep)- Kawah Ijen dan Segala Cintanya
    136. Ratih Ayu Puspitasari (Surakarta, Jawa Tengah)- Hikayat Alam Kasmaran
    137. Rayhanun Jannah (Aceh Utara)- Ijen: Si Lanang Desa
    138. Rezqie M. A. Atmanegara (Hulu Sungai Tengah, Kalteng)- Api Biru di
    Belahan Dada Ijen
    139. Riami (Malang)- Lagu Mars Ojek Troli Kawah Ijen
    140. Ridwan (Sukabumi)- Sesajen Ijen
    141. Rini Intama (Tangerang)- Ijen
    142. Rissa Churria (Banyuwangi)- Bumi Osing Tanah Kelahiran
    143. Romi Sastra (Jakarta)- Perjalanan ke Kaldera Purba
    144. Roslina (Sumatera Barat)- Ijen Purba Cinta dan Takdir
    145. Roso Titi Sarkoro (Temanggung)- Membaca Banyuwangi
    146. Rouzil Armiza (Negeri Sembilan Malaysia)- Gunung Ijen: Pesona Api Biru
    147. Rusdi El Umar (Sumenep)- Ijen Berkelopak Rindu
    DEWAN KESENIAN BLAMBANGAN
    (DKB)
    Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 78 Banyuwangi, JawaTimur 68416
    │banyuwangidkb@gmail.com│ www.dkb.or.id
    148. Safiratul Khairoh (Sumenep)- Paras Ijen
    149. Sahar Bin Misron (Kualalumpur)- Kawah
    150. Sahbuddin dg. Palabbi (Jakarta)- Penggali Asa di Tanah Nirwana
    151. Saiful Bahri (Sumenep, Madura, Jawa Timur)- Kabut Waktu
    152. Salimah binti Shamsuddin (Lenggeng, Negeri Sembilan, Malaysia)-
    Impikan Hangat dan Pesona Alam Kaldera Ijen Purba
    153. Salamet Wahedi (Sumenep)- Jendela Hujan
    154. Samsudin Adlawi (Banyuwangi)- Api Surga
    155. Ibnu Din Assingkiri (Pulau Pinang Malaysia)- Aturan yang Sangat Indah
    156. Sapta Arif (Ponorogo)- Perkabungan Kencana Wungu
    157. Sausan Al Ward (Riau)- Batu Tertegun
    158. Selendang Sulaiman (Jakarta)- Setetes Air Pemecah Batu
    159. Setiyo Bardono (Depok)- Setinggi Apapun Mendaki
    160. Shield Sahran (Malaysia)- Sebagian Dariku
    161. Sindah Laili Nurjanah (Kediri)- Puisiku Letupan Ijen Purba
    162. Siti Khalifatur Rahma (Sumenep)- Riwayat Api Bermata Biru
    163. Soekosoroeeee (Purworejo)- Menerka Makna Api Biru
    164. Sri Lestari (Banyuwangi)- Menyisir Laku Tanah Ijen
    165. Sri Utami (Jember)- Tekad
    166. St Muanifah (Banyuwangi)- Sudut Kecil Kawah Ijen
    167. Sugik Muhammad Sahar (Pamekasan, Madura)- Napak Tilas di
    Semenanjung Blambangan
    168. Suhandayana (Surabaya)- Diorama Niskala Ijen Purba
    169. Sukardi Wahyudi (Kukar Kaltim)- Bumi Ibu kepada Air
    170. Sukron Hidayat (Bondowoso)- Kalipait: Bongkahan Cinta Nenek Moyang
    171. Sultan Musa (Samarinda)- Sempuri Ijen Purba
    172. Sunyoto Sutyono (Jember)- Silhuet Kehidupan di Ijen
    173. Supali Kasim (Indramayu)- Di Puncak Pendakian
    174. Sus S. Hardjono (Sragen)- Kawah Ijen Menyala
    175. Suyitno Ethex (Mojokerto)- Puncak Ijen Dini Hari
    176. Syafaat (Banyuwangi)- Pendar Lembah Ijen
    177. Syafaruddin Marpaung (Tanjungbalai)- Langkah di Tanah Belerang Ijen
    178. Syafia Asy Syafaqoh P.S (Bondowoso)- Simfoni Magis Api Biru
    179. Tata Irawati (Kutai Kartanegara)- Sang Giri Ijen nan Elok
    180. Tatan Daniel (Jakarta)- Di Jalan Menuju Ijen
    181. Tengsoe Tjahjono (Malang)- Dolmen
    182. Tirta Baiti (Banyuwangi)- Bencana Berujung Pesona
    183. Tjahjono Widarmanto (Ngawi)- Rahasia Batu
    184. Tri Wulaning Purnami (Sidoarjo Jawa Timur)- Bianglala Ijen Purba, Derap
    Ijen Purba
    185. Tria Achiria (Banten)- Di Ceruk-Ceruk Dinding Kaldera Ijen Purba
    186. Tutut Kismiati (Sidoarjo)- Sebagai Batu
    187. Udi Utama (Depok)- Banyuwangi Memanggil
    DEWAN KESENIAN BLAMBANGAN
    (DKB)
    Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 78 Banyuwangi, JawaTimur 68416
    │banyuwangidkb@gmail.com│ www.dkb.or.id
    188. Uleceny (Sumbawa)- Debu dan Gerimis, Api pada Senjaku
    189. Umie Maisarah (Selangor, Malaysia)- Warisan Dunia
    190. Uswatun Hasanah (Banyuwangi)- Lembah Ijen, Harga Tetes Peluh
    Penambang
    191. Vironika Sri Wahyuningsih (Tangerang, Banten)- Kaldera dan Ibu Bumi
    192. Vito Prasetyo (Malang)- Lanskap Ijen Purba
    193. Wahyu Rizki Kurnaini (Banyuwangi)- Kemuning Berpijar Biru
    194. Warits Rovi (Sumenep)- Ijen yang Tiada Dua
    195. Willy Ana (Depok)- Kabut Ijen
    196. Yeti Chotimah, M.Arts (Banyuwangi)- Hikayat Kelahiran
    197. Yuliani Kumudaswari (Yogyakarta)- Abadi, Kaldera Bercerabut
    198. Zabidi Yakub (Lampung)- Saat Angin Sedang Birahi
    199. Zahwa Jihan Soraya (Banyuwangi)- Surat Tirtaganda
    200. Zickyn Chan (Mojokerto)- Gunung Ijen Purba

Adapun rundown acaranya adalah sebagai berikut:

surat undangan, lampiran dan rundown JSAT 2024 di Banyuwangi 24-26 Oktober 2024

Melejitkan Potensi Diri Sebagai Guru Penulis

Kegiatan ini berlangsung dalam tajuk Webinar Guru Belajar Indramayu Series 80 pada tanggal 7 Mei 2024, pukul 19.30 – 21.30 WIB. Kegiatan ini disiarkan langsung di YouTube https://www.youtube.com/@wisependidikanindonesia berkat kerjasama dengan Pengurus IGI Indramayu, Disdikbud Kab. Indramayu, Wise Pendidikan Indonesia, dan Kombel Samiaji.

Seperti biasa, saya dihubungi oleh admin sekaligus pengurus IGI Indramayu, Haryono, melalui pesan singkat WhatsApp pada tanggal 28 April 2024 untuk mengisi webinar pada tanggal tersebut.

Berbekal pengalaman dan sedikit ilmu hasil comot sana sini, maka pada malam Rabu tepat pukul 19.30 WIB saya pun berbagi praktik baik menjadi Guru Penulis. Kegiatan yang seharusnya ditutup pukul 21.30 WIB pun molor karena antusiasnya peserta dalam sesi tanya jawab seputar penulisan buku.

Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dan sangat mengesankan.

 

Dokumen Penting Calon Pengajar Praktik Angkatan 11

Menjadi bagian dari transformasi pendidikan tanah air adalah sebuah kebanggaan bagi insan pendidikan. Itulah sebabnya, setelah menyelesaikan Program Guru Penggerak tidak sedikit yang berbondong-bondong mengikuti program seleksi pengajar praktik.

Berikut ini dokumen penting terkait Program Pengajar Praktik Angkatan 11.

Surat-Rekrutmen-CGP-A11_tahun-2023_ks_okSurat-Rekrutmen-CPP-A11_tahun-2023_ks_ok 3795_Pengumuman Seleksi Tahap 1 CPP11_Provinsi Riau

3802_Pengumuman-Hasil Seleksi CGP A11 T1-Provinsi Jawa Barat-1 3802_Pengumuman-Hasil Seleksi CGP A11 T1-Provinsi _231229_154032 3802_Pengumuman-Hasil Seleksi CGP A11 T1-Provinsi Riau

Kumpulan Dokumen Berharga Terkait Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7

File-file di bawah ini adalah file penting dalam pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7. Sila unduh bagi yang membutuhkan.

2581 Und. Pelatihan PPGP Angk. 7-PP 2582 Und. Pelatihan PPGP Angk. 7-CGP 2616_Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 CGP_A7 Provinsi Jawa Timur 2665_2022-10-01 3280 – Pengumuman Hasil Seleksi Akademik PPG Daljab Tahun 2022 3515_Pengumuman_Seleksi_Tahap_1_CGP_A8_Jawa Barat 3515_Pengumuman_Seleksi_Tahap_1_CGP_A8_Jawa Tengah JADWAL CGP AK 7  d.-Pengumuman-CPP-thp-3-PGP-A7 Surat_Tugas_CGP_Angkatan_7_KCD_1_19102022_030243_signedSurat_Tugas__Lokakarya_5_CGP_A_7_30052023_082833_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_05072023_102913_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_Bagi_Pengawas_dan_Kepala_Sekolah_06072023_072015_signedSurat_Tugas_Pendampingan_Individu_5_Program_Pendidikan_Guru_Penggerak_PGP_Angkatan_7_22052023_104202_signedSurat_Tugas_PI_6_PGP_Angakatan_7_14062023_120320_signedSurat_Tugas_PP_CGP_A_7_25112022_014342_signedSurat_Tugas_Pendampingan_Individu_1_Program_Pendidikan_Guru_Penggerak_PGP_Angkatan_9_1_07092023_084543_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_Bagi_Pengawas_dan_Kepala_Sekolah_06072023_072015_signedSurat_Tugas__Lokakarya_7_CGP_A_7_05072023_102913_signedsurat lokakarya 7 panen raya 8 juli 2023surat lokakarya 22 oktober 2022_disdik kab bogorsurtug loka 7 disdik  d.-Pengumuman-CPP-thp-3-PGP-A7

Credential Pertamaku di Tahun 2024: St Brigid’s Poem

Mendapatkan sebuah credential dari sebuah instansi pemerintah adalah hal yang sangat membanggakan bagiku pribadi. Ini adalah sebuah pengakuan atas kreativitas yang kulakukan dan ini adalah bukti sebuah aktualisasi diri di bidang sastra. Memang hasilnya tidak sebaik yang pernah kuraih di tahun 2018, 2018, dan 2019 lalu. Namun, ini adalah bukti bahwa aku hanyalah manusia yang pernah mengalami banyak kejutan dalam hidup bahkan pernah merasakan roller coasternya kehidupan.

 

Menulis puisi dengan tema “The Future of Women” memang lumayan berat. Dari kaca mata sastra tidak  bisa seseorang menulis dalam waktu sekejap. Setidaknya ia memerlukan waktu untuk berkontemplasi dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana ia mengartikan wanita itu sendiri dalam sudut pandangnya mempengaruhi bait puisi yang ditulisnya. Bagaimana ia merasakan denyut harapan wanita dan menggelorakannya dalam sebuah puisi juga merupakan tantangan yang luar biasa. Untuk itu salut dan hormat kepada pemenang kompetisi puisi yang diadakan oleh Kedutaan Besar Irlandia untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN.

Anda berhak dapat bintang!