Anak Hebat

“Ma, kok diam aja sih dari tadi?”

Tak ada sahutan. Aku masih berpura-pura tak mendengarnya.

“Ma, Mama marah, ya?” Panik mulai kudengar. Kuintip raut wajahnya. Tak tega.

“Kenapa tadi rumah berantakan, Bang?”

“Oh, itu. Kirain ada apa.” Dia menarik napas. Lega sekali. “Aku tadi habis kerja kelompok di sini. Jadi, ya berantakan. Aku lupa beresin lagi.”

“Sama siapa?”

“Ya, teman-teman sekolah lah. Ada si Maul, Samad, Samud, Fahri, Sandi.”

“Itu teman kelompok belajarmu?”

“Iya. Mereka temen sekelompok aku di SBK.”

“Buat apa tadi dengan mereka sampai berantakan begitu?”

“Buat peta Indonesia, Ma.”

“Siapa yang buat?”

“Ya, bareng-bareng lah buatnya. Aku kan bantu nyediain tempat, gunting, kertas koran, lem. Nah yang bikin bubur kertasnya ya Samad dan Samud. Yang nempelinnya ya si Fahri dan Sandi.” Jelasnya santai seolah semuanya ok.

“Oh, keren banget ya, Kamu. Semua bahan kamu yang nyediain sampai-sampai koleksi koran Mama juga dipakai.” Kataku kesal.

Dia terkekeh. “He he ya maaf. Aku kan nggak tahu kalau itu penting.”

Ih, kesel banget deh. Mau marah, gimana. Nggak marah juga gimana. Aku segera meninggalkannya sendiri di ruang tengah. Kuperiksa lagi korban-korban yang sudah kupisahkan di lokerku. Untunglah masih ada cadangan. Yah, meskipun hanya ada beberapa setidaknya tidak hancur semua dibuat bubur oleh anak-anak.

“Ma, buat apa sih nyimpan koran bekas segala? Mending juga diloakin. Lumayan, kan.” Dia menghampiriku yang masih bengong lantaran bingung kemana harus mencari gantinya.

Kutatap sepasang matanya yang bulat. Setiap kali rasa ingin tahunya muncul kedua matanya membulat.

“Di sana ada tulisan Mama, Bang.” Jawabku sedih. Terbayang betapa susahnya aku mendapatkan koran-koran tersebut. Sebagian besar dikirim oleh kolegaku di Bali. Andai saja mereka tidak mengirimkannya aku pasti tidak punya bukti fisik bahwa aku pernah menulis di salah satu koran lokal Bali.

“Oh. Penting banget ya, Ma?” Tanyanya.

Aku mengangguk. Aku bingung bagaimana menjelaskan kepada anak seusia dia tentang pentingnya koran-koran itu bagiku. Tiba-tiba dia memelukku erat.

“Maafin Abang, ya Ma. Abang nggak tahu itu penting buat Mama.”

Aku memegang bahunya yang berguncang. Kuusap air matanya.

“Sudahlah. Jangan begini. Mama jadi tambah sedih.”

Dia segera melepaskan pelukannya. Ditinggalkannya aku yang masih duduk. Tak lama ia kembali lagi membawa sesuatu di balik punggungnya.

“Ini buat Mama.”

“Ya Allah, Abang. Makasih, ya.” Aku memeluknya erat. Tak kusangka dia telah mengamankan tulisan-tulisanku dari berbagai koran yang kusimpan.

“Dari mana kamu belajar cara mengkliping koran?” Tanyaku.

“Aku belajar dari YouTube. Gimana?”

“Ini sangat keren. Makasih, ya.”

Dibusungkannya dadanya. “Aku gitu loh. Anak pintar” ditepuknya dadanya sendiri. Kuberikan dua jempol kepadanya. Anak yang hebat.

#Day05NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Penakut

Malam kian larut dan sayangnya aku masih terjaga. Kupandangi wajah-wajah yang sedang lelap di hadapanku. Begitu polos, dan bersahaja. Tak ada gurat kecewa tampak di tiap wajah. Mereka begitu menikmati mimpinya masing-masing.
Aku pergi ke dapur. Kujerang sisa jamu tadi sore. Sambil menunggu masak segera kuambil wudu. Hanya Dia yang Mahatahu apa yang sedang kualami. Hanya senyum ceria mereka yang menguatkanku selama ini.
***

(Pixabay)

“Ma, aku nggak mau sekolah, ah.” Tiba-tiba suaranya terdengar begitu keras sehingga papanya yang berada di kamar mandi melongok ke luar. Duh, drama apa lagi nih. Pikirku. Segera kurapikan makanan dan bekal sekolah.

“Ayo, cepat turun semuanya. Sarapan sudah siap.” Teriakku di kaki tangga.

Anak perempuanku bergegas turun dengan ransel dan tas jinjing merah jambu.

“Assalamualaikum, Ma. Masak apa pagi ini?” Sapanya hangat. Sejak kelas tiga sekolah dasar dia memang tinggal di kamar atas. Dia selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama Tere Liye. Tak heran gaya bahasanya agak berbeda dengan anak seusianya.

“Makanan biasa saja, Kak. Hanya dimasak dengan cinta” jawabku sambil membantu anak tengahku menyisir rambutnya yang mulai gondrong.

“Mas, pulang sekolah nanti cukur, ya. Ini sudah panjang.” Kataku.

“Sama siapa?” Tanyanya.

“Sama Papa, ya” jawab Papanya.

Wajahnya cemberut. Impiannya melihat komidi putar di tengah lapangan kelurahan sirna. Aku mesem-mesem melihatnya.

“Mas, ganteng deh kalau lagi begitu.” Godaku. “Awas nanti ada yang kepincut.”

“Alah, paling Syifa item, Ma”, balas Azmy.

“Wow, amit-amit deh. Lu kali yang naksir bukan aku.” Semprotnya.

Seketika meja makan pun ramai dengan adu mulut kedua anak laki-laki yang masih ingusan.

“Ah, berisik!” Kakak sewot. Suaranya naik dua oktaf.

“Ma, aku ijin ya nggak sekolah.” Lagi suara yang paling tidak disukai itu terdengar.

“Kenapa nggak sekolah?” Papa mendelik tajam.

“Ada acara apa di sekolah? Apa guru-guru mau rapat, jadi kelasmu libur?” Tanyaku hati-hati. Takut perang dunia terjadi di meja makan.

Dia menggeleng. Adiknya juga menggeleng ketika kutatap. Aneh.

“Ma, aku nggak enak badan. Pusing.” Adiknya bicara setelah makanan di piringnya habis.

“Coba sini Mama pegang dahimu” Kutempelkan jari jemariku di dahinya. Biasa saja. Hm, aku curiga. Segera kuberanjak meninggalkan meja makan. Kuambil ponsel yang sejak Subuh dicas di atas meja rias. Tak lama setelah diaktifkan puluhan pesan masuk di grup kelas kedua anakku. Astaga ini rupanya yang membuat mereka bertingkah aneh.

“Mama sudah bilang ke Bu Guru kalau kalian tidak perlu diimunisasi. Jadi segera pakai sepatu nanti terlambat ke sekolah.” Perintahku.

Dengan gontai dan saling colek kakak beradik itu segera menenteng tas masing-masing. Mereka memakai sepatu dengan lambat. Terlihat jelas mereka sedang mencari-cari alasan agar tidak perlu ke sekolah. Aku berdiri di tengah pintu. Tak ada pilihan lain, mereka menyambut tangan kananku.

Aku segera masuk dan menutup pintu. Kakak dan papanya baru saja selesai sarapan. Lima menit kemudian mereka berangkat bersama-sama.
***

“Ih, Mama bohong. Sebel. Kenapa nggak bilang aja sih kalau aku sakit jadi nggak ke sekolah tadi?” Rengek kedua jagoan kecil saat kubukakan pintu pagar. Kedua mata mereka merah. Di antara mereka Abang yang paling kelihatan kesal.

“Dasar perempuan. Nyebelin semua. Memang sudah dari sananya, Ken, perempuan itu menyebalkan. Mama, Bu Guru, dokter yang nyuntik Lu tadi, semua menyebalkan.”

Dilemparnya tas sekolah dengan kasarnya. Sementara adiknya masih menangis sesenggukan sambil memegangi lengan kirinya.

“Untung aku kabur tadi, kalau nggak, huh, bisa sakit juga.” Katanya sambil membuka seragamnya.

“Kabur?” Tanyaku. “Kabur gimana?”

“Ya, nggak gimana-gimana. Ya, kabur. Lari.”

“Kok bisa?” Aku masih tak paham.

“Abang kan kuat, Ma. Didorongnya Bu Ros terus mejanya ditendang. Terus, lari.”

“Nggak ada yang bantu pegangin?”

“Tenaga raksasa begitu mana ada yang kuat peganginnya.”

“Iya, Lu seharusnya juga kuat nggak lemah, Ken. Jadi, nggak disuntik dan nangis sepanjang jalan. Bikin malu. Kita tuh laki-laki. Laki-laki itu kuat, nggak cengeng.”

“Alah, Abang aja takut kan disuntik makanya kabur? Gaya pake ngeledek! Sama-sama penakut padahal” Adiknya sewot.

(Bersambung)

#Day04NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Pengalaman Berharga

Tak ada satu pun penghuni rumah yang menyangkal omongannya. Dia memang sudah bisa memasak makanan kesukaannya sejak masih di bangku TK. Goreng telur ceplok, dadar, nasi goreng, nugget, sosis sudah bisa. Pasti bingung, ya. Kok anak seusia itu sudah bisa masak. Aku memang tipe perempuan yang malas masak. Selain itu aku pun paling senang membeli makanan matang yang langsung dikonsumsi keluarga. Aku selalu berangkat pagi dan pulang sore. Anak dititip di penitipan. Kami tiba di rumah sore hari dalam kondisi sama-sama capai. Nah, kebiasaan burukku ini tidak disukai Abang. Dia memaksaku mengajarinya masak agar dia selalu makan kapan pun dia mau tanpa menunggu aku pulang kantor membawakannya makanan.

Seminggu mengajarinya SOP berada di dapur, menyalakan dan mematikan kompor gas dengan aman serta bagaimana caranya memasak barulah aku merasa tenang meninggalkannya di dapur. Tuntutan perutnya yang lumayan lebih banyak dari pada saudara-saudaranya mendorongnya untuk pandai memasak makanan yang enak. Hasilnya semua anggota rumah menyenangi masakannya. Semua sepakat mengatakan masakannya enak.

Kini kembali ke masalah inti. Abang akhirnya membuka sejarah pertamanya di depan kami semua. Bagaimana dia mengajak gadis itu ketemu di lapangan, diberikannya coklat dan es krim lalu dinyatakannya perasaannya dengan malu-malu. Abang begitu lancar bercerita diselingi tawa cekikikannya saat dia merasa malu kepada kami. Lalu bagaimana dia kemudian begitu berapi-api marah tatkala bercerita bagaimana dia ditolak.

“Sialan banget. Tahu, nggak? Es krimnya diambil akunya diejek. Dia bilang aku jelek. Bukan tipenya. Gimana nggak kesel.”

Kami tertawa melihatnya. Dalam hati aku kagum dia berani jujur membicarakan hal yang tidak nyaman baginya di depan kami semua. Dia tidak takut bahwa bisa jadi setelah dia bercerita saudara-saudaranya akan mengejeknya. Dia tak peduli.

“Yah, Lu nggak nyadar kalau Lu emang jelek. Coba sini lihat nih sudah hitam, belo, gendut, hidup lagi.” Adiknya meledek.

“Ah, segini aku lebih ganteng dari pada Lu. Sudah pendek, kurus, cengeng lagi.” Balasnya.

“Ye, meskipun begitu aku mah ganteng. Lihat nih, hidung aku sama dengan Papa. Tinggi. Wew.” Timpal adiknya.

“Nggak usah bawa hidung, ya.” Dia mulai tersinggung. Hidungnya bergerak-gerak. Mengembang dan kian membesar. Adiknya tertawa keras sekali.

“Sudah urus tuh hidung, baru urus cewek.” Kakaknya menasihati.

“Bodo!”

Kutaruh telunjukku di depan bibir. Seketika suasana hening. Aku tersenyum. Kutepuk-tepuk bahunya.

“Sabar. Cinta itu ya begitu. Ada kalanya bikin jantung deg degan karena hepi, ada kalanya juga bikin jantung deg degan karena takut. Nah, karena kamu masih sekolah urusan cinta dipending dulu. Fokus belajar, dulu. Kalau Abang sudah pintar, kerja, dan mandiri jangankan dia yang hari ini nolak kamu, artis Drakor juga pasti tergila-gila padamu.

“Ah, mereka mah beda niat” sergahnya. “Ma, kalau aku sudah pintar, kerja dan kaya aku bisa milih kan mau nikah sama siapa?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku tercengang. Belum sempat kubuka mulutku papanya menjawab. “Iya. Makanya semangat. Belajar yang rajin biar pintar.” Dikedipkanya matanya.
Abang tersenyum. Diciumnya tangan papanya. Dipeluknya aku. Bau matahari masih menempel di tubuh dan puncak kepalanya. Aku bahagia. Dia masih anakku yang bau kencur. Baru main suka-sukaan. Pengalaman pertamanya ini mengajarinya banyak hal yang berguna. Menyerah bukanlah pilihan baginya. Dia harus optimis memandang dirinya sendiri. Dia harus yakin dia bisa. Kedua orang tua hanya berperan sebagai teman bicara. Selebihnya dialah yang memutuskan sendiri. Mana langkah yang mau diambil mana yang tidak. Yang pasti tetap jalin komunikasi dengan anak

(Bersambung)

(Karadenan, 6 November 2020; 10:09 wib)

#Day03NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Mantan Tetangga

“Ya, Allah. Buat siapa makanannya, Bang?” Tanyaku.

“Buat si jantung hati, lah.” Ledek adiknya.

Abang cuma menunduk. Tak berani dia menjawab pertanyaanku. Aku makin penasaran. Kok bisa anak laki-laki pertamaku ini bersikap bodoh seperti itu. Setan apa yang sudah membujuknya hingga dia begitu berani pergi jauh ke tempat di mana arus lalu lintas begitu ramai. Papanya menghela napas panjang. Wajah Abang makin ditekuk. Jelas sekali dia begitu ketakutan. Terakhir kali dia berbuat salah sebuah bilah bambu mendarat berkali-kali di bokongnya. Aku hanya bisa mengusap wajahku. Ngeri membayangkan kejadian itu terulang lagi malam ini.

“Bang, bener itu?” Tanyaku dengan suara yang lemah. Duh, beginilah bila asma mulai menyerang. Setiap kali panik aku pasti kesulitan berbicara. Anggukan lemahnya membuat napasku kian berat.

“Siapa namanya?” Aku makin penasaran ingin tahu siapa anak perempuan yang berhasil membuat anakku segila ini. Bagaimana bisa dia yang penakut bisa begitu berani menantang bahaya di jalan raya?

“Itu, Ma, mantan tetangga kita.” Adiknya bermain teka teki.

“Mantan tetangga? Memang kita punya mantan tetangga?” Aku mulai kesal. Sejak kapan ada mantan tetangga, pikirku dalam hati. Anak-anakku kian berubah rupanya.

“Iya, Ma. Dia anak mantan tetangga. Kan memang mantan tetangga. Kata Mama dulu kalau bekas itu sama dengan mantan. Tuh, waktu kepala sekolahku diganti dengan yang baru Mama bilang nggak boleh bilang bekas kepala sekolah, kan? Harus bilang, mantan kepala sekolah. Nah, tuh cewek anak bekas tetangga kita yang ngontrak depan rumah kita. Nah, berarti mantan tetangga. Iya, kan?” Anak laki-laki keduaku yang kritis menjelaskan panjang lebar.

Aku terbelalak. Sedikit pun tidak menyangkanya. Anak perempuan yang sudah membuat Abang tergila-gila itu adalah anak tetanggaku sendiri. Kulitnya putih mulus. Sepasang matanya sipit. Bibirnya mungil dan merah. Rambutnya pendek sebahu dan berponi. Usianya setahun di atas Abang namun tingginya hanya sebahunya. Dia begitu mungil. Mirip boneka. Sungguh, aku tak menyangka dia tipe perempuan yang dipuja Abang selama ini.

“Kok Abang suka sama dia?” Tanyaku berusaha mengorek keterangannya.

“Dia cakep, Ma.” Akhirnya mulutnya bicara.

“Cakepan juga Syifa.” Kataku meledek.A ku teringat Syifa yang pernah diubernya di lapangan sekolah beberapa minggu lalu.

“Ih, Mama nggak paham perempuan cakep. Dia itu cakep, Ma.” Belanya.

“Apa buktinya dia cakep?” Papanya tiba-tiba bertanya. Anakku gelagapan.Tak sangka papanya memperhatikannya sejak tadi.

“Jantungku deg-degan kalau ketemu dia. Suwer, Pa. Tahu, nggak? Padahal aku sama dia tuh jauh loh. Jauuuh banget. Dia di depan rumahnya, aku di depan lapangan. Kan, jauh tuh. Nah, jantungku sudah nggak keruan dibuatnya. Langsung deg degan, gitu. Kalau ke Syifa sih nggak pernah begitu.” Cerocosnya.

“Menurutmu Mama cakep, nggak?” Selidikku.

“Cakep” jawabnya tegas dan spontan. Aku senang sekali mendengarnya.

“Coba pegang Dada Abang, apa deg degan juga?”

“Ya, nggak lah. Aneh, Mama mah.” Protesnya.

“Loh, tadi katamu dia cakep karena bikin kamu deg degan. Terus kamu juga bilang Mama cakep. Berarti kan kamu juga deg degan lihat Mama.” Kataku masih berusaha meyakinkan diriku bahwa anakku masih bocah ingusan.

“Aduh, Mama. Beda, lah. Mama itu cakep karena mama aku. Kalau dia itu cakep karena … aku suka dia.”

“Suka? Apa itu suka?”

“Ya, suka. Seperti Mama dan Papa.” Ekor matanya melirik ke arah papanya yang masih asyik memegang gawai.

“Memangnya menurutmu Mama dan Papa suka-sukaan?” Tanyaku.

Hm. Aku sepertinya harus segera insyaf. Anak yang sedang berbicara di depanku ini sepertinya sungguh-sungguh sudah berubah. Bukan anak ingusan yang selalu merengek minta dibelikan es krim dan mainan baru tiap kali aku pergi.

“Ma, ih serius deh. Pertanyaanku belum dijawab.” Dia memegang tanganku.

“Yang mana?” Tanyaku kembali lembut.

“Itu soal perempuan itu nyebelin.”

“Apa menurutmu Mama ini menyebalkan? Mama kan perempuan. Apa menurutmu kakakmu juga menyebalkan? Dia pun perempuan.”

“Mama nggak sih. Kalau kakak ya kadang-kadang nyebelin. Tetapi ini bukan soal kalian, Mama. Ini soal perempuan secara umum. Ingat, ya. Umum.” Gayanya seperti anak yang biasa kuhadapi di kelasku saat matanya menantang penjelasanku. Aku tak punya pilihan.

“Perempuan itu makhluk manis, Abang. Sikapnya tergantung sikap Abang kepadanya. Dia pasti menyenangkan kalau Abang juga bersikap menyenangkan.” Jelasku.

“Ah, bohong. Buktinya dia nolak aku padahal aku sudah bela-belain loh naik sepeda belikan dia coklat dan es krim.” Sungutnya.

Spontan kami semua tertawa terpingkal-pingkal. What a sweet boy he is!
“Widiwwww, sweet banget sih, kamu. Anak orang dibelikan es krim dan coklat, aku aja nggak pernah dibelikan.” Kakaknya yang sedari awal acuh tak acuh mulai tak tahan berkomentar.

“Ye, siapa kamu minta dibelikan! Minta saja ke Papa, kamu kan anak kesayangan Papa.” Elaknya.

Aku terperanjat. Jadi selama ini dia menyimpulkan bahwa kakaknya anak kesayangan papanya. Sementara dia bukan. Duh, gusti.

“Ye, seenggaknya aku tuh berguna buat Lu. Sarapan tiap pagi tuh buatan aku. Kalau aku nggak buat apa kamu bisa makan?”

“Hah, itu mah kecil. Lupa, ya sejak TK aku sudah bisa masak nasgor special?” Ledeknya.

(Bersambung)

(Karadenan, 5 November 2020; 10:09 wib)

#Day02NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Pacar Pertama Anakku

Oleh Neneng Hendriyani

Tak biasanya dia mengajakku ngobrol santai malam ini. Matanya berbinar saat serangkaian pertanyaan dia berikan. Aku menatapnya nyaris tak berkedip. Satu tarikan napas menyadarkanku bahwa dia sudah bukan Azmy kecilku yang biasa merengek minta sesuatu. Dia sudah tumbuh remaja. Suaranya sudah mulai berat. Dadanya makin bidang. Rambutnya kian lebat dan hitam. Tubuhnya pun semakin tinggi meninggalkanku di angka keramat, 148cm.

“Ma, dulu waktu Mama sama Papa jadian tuh, gimana?” Tanyanya spontan.

“Gimana apanya, Bang?”

“Ya, gimana caranya, gitu.”

“Kenapa, Bang? Tumben Abang tanya? Ayo, Abang naksir siapa nih?” Godaku. Dia meringis. Senyumnya mengembang.

“Mama kok malah balik nanya sih? Ga seru, ah” protesnya.

“Hm. Gimana, ya? Mama lupa.” Jawabku sekenanya.

“Masa sih lupa. Aneh.” Sungutnya.

“Ya, kan sudah lama.” Elakku. Kutatap wajah suamiku yang diam-diam memperhatikan percakapan kami. Dia hanya tersenyum melihat ekspresi anak laki-laki pertamanya.

“Abang, kalau ada yang Abang naksir bilang saja. Coba kenalkan.” Kataku memecah keheningan.

Azmy diam. Ditatapnya kedua mataku. Dicarinya sesuatu yang bisa membuatnya yakin bahwa aku bisa memberikan kenyamanan yang dibutuhkannya saat itu. Apalagi selain kepercayaan dari seorang ibu. Aku tersenyum. Cukuplah itu membuatnya berani bicara akhirnya.

“Ma, kalau perempuan itu menyebalkan, ya?” Tanyanya lagi.

“Maksudmu? Kamu mau bilang Mama menyebalkan, ya?”

“Mama nggak gitu. Cuma, ah … gimana ya ceritanya aku bingung.” Ditatapnya adiknya yang duduk di sebelahnya.

“Kok, lihat aku?” Tanya adiknya sewot karena merasa jadi terdakwa.

“Ya, kan Lu tahu kejadiannya. Lu aja deh yang cerita ke Mama.” Perintahnya.

“Alah, kebiasaan. Kalau sudah mentok ya begini, nih. Aku lagi yang harus ngomong. Makanya apa-apa tuh dipikir baru dilakukan. Kalau sudah begini kan bingung sendiri.” Katanya panjang lebar.

“Eh, anak bau kencur bawel amat, ya” sergahnya sewot.

“Ya, udah. Iya, iya aku yang cerita. Gini, nih Ma, dengerin, ya. Jadi, Abang tuh habis ditolak cewek.” Jelasnya.

“Hah?! Ditolak! Siapa yang berani nolak anak Mama yang paling ganteng, Mas?” Tanyaku antusias.

“Tuh, kan Mama saja bilang aku paling ganteng” katanya dengan nada tinggi. Jelas sekali ada amarah yang tersimpan di sana. Matanya berkilat.

“Itu, tuh anak tetangga kita, Ma. Dia bilang Abang jelek. Jadi nggak mau jadi pacar Abang.” Adiknya yang baru kelas dua sekolah dasar itu bercerita.

“Kemarin Abang nembak dia. Sudah cape beliin coklat, eh pas nyatain perasaannya malah ditolak. Kasihan.” Cerocosnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Bayangan si cewek yang sedang menolak Abangnya seolah masih membayang dengan jelas.

“Lalu?”

“Ya, Abang sewot. Langsung pergi.”

“Nggak nanya dulu, kenapa nolak?”

“Mana sempat. Kan dia mah pemarah, Ma. Kalau sudah marah ya langsung pergi”.

“Habis gimana nggak marah. Sudah cape nggoseh sepeda ke Indomaret, eh malah ditolak.” Bela si Abang.

“Loh, kamu ke Indomaret depan?” Papanya tiba-tiba ikut nimbrung.

Aku mulai khawatir. Anak laki-laki pertama ini memang sangat pemberani alias nekad. Dia dilarang bawa sepeda ke jalan raya. Tetapi kini kami semua mendengar dia pergi ke Indomaret yang ada di luar komplek perumahan dengan bersepeda.

“Buat apa ke sana? Kan jauh, berbahaya pula?” Jawabku penuh khawatir.

“Ya buat beli es kirim dan coklat, lah.” Jawab si adik.

“Apa?!” Aku dan Papanya kaget.

* Bersambung *
(Karadenan, 4 November 2020; 03:26 wib)
#Day01NovAISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Lomba Pertama


(Hapiah Wardah)

Bagaimana rasanya mendampingi anak lomba? Bagaimana meyakinkan diri bahwa anak yang kini jauh itu bisa mengikuti lomba dengan baik? Bagaimana seorang ibu yang terlanjur “nyemplung” ke dunia aksara ini meyakinkan diri bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?

Sungguh ini adalah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan. Rasanya tak percaya akhirnya aku mendaftarkan buah hatiku mengikuti lomba bahasa dan sastra yang disponsori oleh Badan Bahasa, BJB, BNI, perusahaan air minum, dan perusahaan kosmetik tersebut.

Gadis kecil yang sangat mirip denganku itu memang pecinta novel. Aku membesarkannya dengan tumpukan novel kelas berat untuk anak seusianya. Apa yang aku baca itu lah yang ia baca. Aku tak memilih genre khusus untuknya. Maka tak mengherankan bila ia tumbuh dewasa dengan cepat. Ia banyak belajar dari alur cerita kisah novel-novel sejarah, roman, dan petualangan.

Aku tak pernah mengkhawatirkan pergaulannya selama ini. Karena ia hanya bergaul dengan buku-buku saja di rumah. Memang sangat aneh kedengarannya. Tapi itu lah caraku mendidik dan menjaganya. Ia hanya keluar rumah dengan aku, Papa atau Antenya.

Kini anak yang mulai remaja itu sedang berjihad menghafal kalamullah Al Quran. Di bawah bimbingan para ustazah dan ustaznya aku yakin ia baik-baik saja.

Pun, kini saat aku mencoba menantang diriku sendiri akan kemampuannya aku yakin ia baik-baik saja. Ia yang tak pernah berkata tidak dan menyerah sebelum waktunya tiba itu tertawa sumringah saat aku mengabarinya soal lomba Labasa 2 via gawai ustazahnya. Aku melihat rona bahagia di wajahnya. Wajah yang selalu kurindu tiap waktu.

Dengan segala keterbatasan karena jarak dan fasilitas, aku mengupayakan ia siap mengikuti lomba Labasa 2 ini. Dengan bantuan dan bimbingan Ustazah Mimi dan Ustazah Ita aku yakin ia bisa.

Apapun hasilnya nanti aku menerimanya. Inilah dia putriku. Putri kebanggaan suamiku.

Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahinya di mana pun ia berada.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427579030072&id=1511622608

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218427571749890&id=1511622608

@mpk.osissmafour_
@sman_4cibinong
#labasa2kabumi
#sman4cibinong
#mpk.osissmafour
#labasa2020
#lombabahasadansastra
#smptarnis_official
#Day6AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Najis

Pernah mendengar kata najis? Apa sih artinya? Mengapa banyak orang mengucapkannya baik dengan intonasi sedang hingga berat? Adakah makna di balik lima huruf tersebut? Bagaimana perasaan seseorang ketika mendengar kata itu diucapkan di hadapannya? Bagaimana perasaan orang yang dimaksud dengan kata itu? Berdosakah orang yang mengucapkannya? Burukkah orang yang mendapatkannya? Bingungkah orang yang turut mendengarnya? Lalu bagaimana perasaan orang yang mengucapkannya sendiri? Baik-baik saja kah ia? Jangan-jangan ia mengalami sesuatu yang buruk hingga ia menggunakan kata tersebut untuk meluapkan emosinya.

Ah, aku sendiri tak paham. Yang pasti aku merasa ilfil saat mendengar kata itu diucapkan. Tak peduli kepada siapa kata itu dituju. Juga tak peduli mengapa kata itu dipilihnya untuk mengungkapkan emosi yang ada di dalam dirinya. Aku bahkan tak peduli siapa dia.

Satu yang kuketahui adalah bahwa kata najis bermakna jijik (adjective, kata sifat, kotor atau kotoran yang menghalangi seseorang untuk beribadah kepada Allah SWT (KBBI V).

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 08:32 wib)

#Day5AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Buah Strawberry Pertama


(Dokumentasi pribadi)

Betapa gembiranya saat mendapatkan pemandangan yang sangat menyegarkan mata pagi ini. Wall planter tumbuh subur makmur. Bahkan strawberry yang kupindahkan saat berbunga kini sudah berbuah. Cantik sekali warna buahnya.

Tadinya aku ragu apakah bisa tanaman yang sedang berbunga dan tumbuh subur itu bisa beradaptasi di lahan yang lebih sempit di wall planter. Dengan ukuran kantong planter yang hanya selebar telapak tangan tentu saja sangat minimalis bagi tanaman yang sudah biasa berada di dalam pot. Apalagi dengan media tanam yang sangat ringan seperti sekam bakar ini tambah membuatku berpikir negatif tentang nasib tanaman-tanamanku tersebut.

Di tempat sebelumnya mereka dipeluk hangat oleh campuran tanah yang diberi pupuk baik kompos maupun pupuk kandang. Tak jarang cacing tanah ikut membentuk keluarga di antara campuran media tanamnya dan membuatnya semakin subur.

Sementara di wall planter, mereka hanya dipeluk oleh sesendok sekam bakar yang tak mungkin dihuni cacing. Hanya bermodalkan air hujan, air beras, dan sedikit cairan pupuk lainnya mereka hidup bertahan di sana.

Pagi ini aku melihat daun-daun hijau mereka tumbuh dan mulai terlihat keluar dari kantongnya. Ranting-ranting muda melati dan mawar pun mulai tumbuh. Lidah buaya pun semakin berkembang. Sementara itu, kumpulan anggrek yang juga ditanam di wall planter hanya dengan sisa sabut kelapa, dan arang ikut melambai manja di bawah lindungan dahan mangga. Beberapa hari ke depan aku yakin sekali buah strawberry yang kini masih berwarna jingga masak. Tak lama lagi aku bisa mencicipi nikmatnya buah strawberry tersebut.

(Karadenan, 16 Oktober 2020; 07:17 wib)

#Day4AISEIWritingChallenge
#gareulis_gln_jawabarat
#smafour

Surat Cinta dari YouTube Creator


(Dokumentasi pribadi)

Memiliki channel YouTube sejak tahun 2017 tidak serta merta membuatku jadi youtuber. Keahlian dan kemampuan terbatas yang kumiliki membuatku minder mengisinya. Jadilah channel tersebut nyaris kosong melompong selama tiga tahun.

Hanya ada beberapa video kegiatan yang kuposting di sana. Tujuannya pun sederhana. Hanya sebagai koleksi pribadi dan rekam jejak digital yang jauh dari kata sempurna.

Saat tiba-tiba dirumahkan dan harus mengajar dari rumah pun channel YouTube yang kumiliki masih apa adanya. Nyaris tak ada tambahan berarti. Aku bingung mau diisi dengan apa saat itu.

Semua kegiatan pembelajaran yang kulakukan selama periode Maret hingga Juni 2020 dilakukan via Google classroom.

Mengapa memilih Google classroom? Karena itulah yang aku tahu. Platform lainnya masih buta. Dengan bantuan WhatsApp group yang isinya tak hanya grup peserta didik tapi juga orang tua peserta didik aku berusaha mengkondisikan kelas yang kupegang. Satu demi satu kuarahkan ke Google classroom. Perlahan namun pasti WhatsApp group mulai ditinggalkan dan beralih ke Google classroom semuanya.

Alhamdulillah, hampir tidak ada masalah di sana. Lambat laun semua terbiasa belajar dan berdiskusi di Google classroom. Orang tua peserta didik pun mulai tidak banyak bertanya tentang segala hal yang berkaitan dengan pelajaran anak-anaknya seperti saat masih menggunakan WhatsApp group. Penilaian yang dilakukan pun lebih mudah. Tinggal unggah saja tugas yang akan diberikan di sana. Tidak lupa mengatur waktu pengerjaannya. Peserta didik otomatis mengetahui adanya tugas tersebut. Mereka bisa bertanya apabila kurang paham dengan tugas yang diberikan. Nilai mereka pun mudah diunduh. Mudah bukan?

Hanya saja yang menjadi masalah bagiku saat itu adalah jaringan internet yang kurang lancar. Akibatnya aku terpaksa begadang hingga dini hari hanya untuk memeriksa tugas mereka. Tidak adil rasanya bila hanya menceklis nama dan memberikan mereka nilai berdasarkan tugas yang masuk. Aku terbiasa memberikan feedback atas apa yang sudah mereka kerjakan dan kirimkan. Itu sebabnya mengapa harus begadang. Betapa melelahkan.

Memasuki tahun pelajaran 2020/2021 aku mulai berpikir. Kesulitan yang kuhadapi selama di kelas sebelumnya harus dicarikan solusinya. Tak mungkin rasanya membuat mereka memahami materi yang kuberikan hanya dengan membaca (read by themselves) saja. Bagi yang kebetulan memiliki kemampuan belajar bergaya visual mungkin tidak akan mengalami kesulitan. Bagaimana dengan yang kinestetik dan auditori?

Berangkat dari pemikiran itulah maka aku memberanikan diri membuat video pembelajaran yang kemudian diunggah ke channel YouTube. Dengan mempelajari beberapa tutorial seperti kinemaster, viva video, dan bandicam serta bertanya kepada ahlinya jadilah video pembelajaran perdanaku, Kd. 3.1 Pemaparan Jati Diri untuk SMA Kelas X.


(Dokumentasi pribadi)

Link video tersebut kemudian kukirim ke semua peserta didikku. Mereka antusias sekali. Meskipun belum pernah bertatap muka di sekolah secara langsung mereka tetap bersemangat mempelajari materi yang kuberikan via YouTube.

Tak kusangka video sederhana itu tidak hanya ditonton oleh peserta didikku. Hingga tulisan ini dibuat ada 5.747 orang yang sudah menonton dan mempelajari materinya. Subhanallah. Aku merasa sangat bahagia. Bahagia karena ternyata aku bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat tak hanya untuk peserta didik yang menjadi tanggung jawab langsung tapi juga bagi orang lain yang membutuhkan materi tersebut.

Kini, channel YouTubeku sudah mulai berisi banyak video pembelajaran. Kudedikasikan waktuku untuk membuat materi-materi bahasa Inggris yang kemudian kuunggah di sana.

Harapanku sederhana. Aku ingin video pembelajaran sederhana yang kubuat bermanfaat bagi sesama. Dengan begitu ilmu yang kumiliki bermanfaat.


(dokumentasi pribadi)

Alhamdulillah, 9 Oktober lalu aku mendapat surat cinta dari YouTube Creators. Isinya tentang performa channel YouTubeku selama satu bulan terakhir. Ada tambahan pelanggan sebanyak 29 orang dan 2.387 penayangan dengan jumlah total waktu tonton sebanyak 6.323 menit. Jadi hingga hari ini sudah ada 632 subscriber. Wow, ini sungguh luar biasa bagiku.


(dokumentasi pribadi)

Ini sungguh luar biasa. Semoga ke depannya aku diberikan kesehatan dan kemampuan untuk terus mengunggah video-video pembelajaran berikutnya agar makin banyak orang merasakan manfaat channel YouTubeku.

(Bogor, 10 Oktober 2020)
#Day4AISEIWritingChallenge


BIOGRAFI PENULIS
Neneng Hendriyani, M.Pd, guru Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong dan penulis 11 judul buku ber-ISBN; SMAFOUR in students English writing (mendongkrak motivasi dan kemampuan siswa menulis berbagai teks bahasa inggris) (2020), Albatros (2019), Enrichment Book for XI SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let’s Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017) ini juga menulis esai, artikel dan resensi yang terbit di media massa (koran) lokal Pikiran Rakyat, Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa Banten. Juga menjadi pembimbing siswa dalam menulis buku. Sudah ada 13 judul buku yang dihasilkan oleh siswa binaannya. 2 buku saat masih aktif mengajar di SMK Negeri 1 Cibinong, 11 buku ditulis oleh siswa SMA Negeri 4 Cibinong.

Selain itu juga aktif mengikuti lomba penulisan puisi dengan tema yang ditentukan panitia penyelenggara untuk tingkat nasional dan internasional. Karya yang berhasil lolos seleksi panitia tingkat nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, 2018, antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar Kiri), Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap)

Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi Fikmin Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa (Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati (2020).

Wall Planting: Hiburan Sederhanaku


(Dokumentasi pribadi)

Bekerja dari rumah alias work from home menyisakan kejenuhan dan kepenatan tersendiri bagiku. Betapa tidak. Selama pembelajaran dilaksanakan dari rumah aku harus selalu berkutat dengan gawai pintar, laptop, dan internet.

Sejak pukul lima pagi sudah stay di grup peserta didik sekadar untuk menyapa dan mulai mengingatkan mereka akan jadwal kegiatannya pada hari tersebut. Selanjutnya beraktivitas pagi seperti biasa mengurus kebutuhan anggota keluarga. Lalu dilanjut lagi masuk kelas via zoom pada pukul 10 wib.

Sebenarnya kegiatan mengajar di zoom ini cuma sebentar. Hanya 1,5 jam saja per minggu untuk satu tingkat. Namun, persiapannya yang lama. Yaitu, menyiapkan bahan ajar dan alat tesnya.

Setelah melaksanakan kbm daring aku bisa istirahat sejenak. Sebelum lanjut lagi mengajar di tingkat berikutnya. Masih dengan menggunakan aplikasi zoom tentunya. Barulah 1,5 jam kemudian aku bisa rehat untuk ishoma.

Setelah itu aku menyiapkan tenaga untuk begadang pada malam hari; mengoreksi tugas yang dikirim ke kantong tugas (Google drive).

Mengapa harus begadang? Ya, karena jaringan internet lebih lancar pada malam hari.

Itulah sebabnya aku memilih mengoreksi semua tugas peserta didik malam-malam.
Nah, dalam kondisi di mana otak dan jari jemariku lelah dan tak ingin melakukan apapun aku beralih ke bagian yang paling aku suka. Yaitu, berkebun.

Sebenarnya ini bukan berkebun dalam arti yang sebenarnya. Lahan yang sempit dan ketiadaan pekarangan tidak memungkinkan untukku berkebun dengan leluasa.
Namun demikian, berkat wall planter aku bisa melakukannya. Tinggal pasang wall planter ke dinding tembok, isi sedikit sekam, pupuk kandang, beres.

Tanamannya aku pilih dari koleksi yang sudah ada. Yaitu, melati, mawar, anggrek, begonia, lidah buaya, cabe, strawberry, bayam merah, bayam hijau. Pokoknya apa yang ada sebelumnya ditanam ulang di sana.

Bermain sedikit kotor-kotoran di bawah sinar matahari cukup memberi hiburan tersendiri bagiku selama bekerja dari rumah ini.

Inilah hiburan sederhanaku. Bagaimana denganmu?

(Karadenan, 9 Oktober 2020; 8:04 am)

#Day3AISEIWritingChallenge